Pernah merasa gagal menjadi ibu?

Saya pernah.

Dan beberapa waktu lalu, saat sedang down karena merasa demikian, saya membaca artikel ini.
It helps. Meskipun dibumbui nangis bombay dulu sih selesai bacanya. Hehee.. ūüėÄ
Plus berulang kali tetap saja mengatakan maaf pada Alula.

Terima kasih ya Nak.. Mama akan berjuang lebih keras untuk tak sekedar tidak gagal menjadi ibu buat kamu dan adik-adikmu nanti..¬†:’)

-*-*-*-*-

Sejak awal hamil mual hebat, di tengah kehamilan pun sempat beberapa kali pendarahan, dan terpaksa harus menjalani operasi caesar saat persalinan. Kemudian orang-orang sekelilingmu mulai meracau menyalahkan. Bahwa kau kurang ikhtiar, atau tak menjaga kesehatan selama kehamilan, bahkan ada yang bilang kau kurang iman.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil dan persalinan lancar, tapi entah kenapa begitu IMD ASI tak juga mau keluar, bahkan sehari dua hari hingga batas waktu terakhir ASI diberikan. Lalu susu formula pun menjadi alternatif yang terpaksa kau pilih dengan penuh pertimbangan. Tiba-tiba orang yang tak tahu apa-apa menghakimimu sebagai ibu yang tak sempurna karena tak menjalankan amanat Menteri Kesehatan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil, persalinan, hingga menyusui lancar. Tapi kau meninggalkan bayi mungilmu yang baru berusia 3 bulan itu untuk sebuah pekerjaan yang gajinya menjadi sandaran hidup emak bapak di kampung halaman. ASI yang susah payah kau perah demi bayimu itu mereka bilang tak bisa disamakan dengan ASI yang langsung disusukan. Pun ditambah komentar sinis bahwa anak-anak para ibu bekerja adalah anak yang terabaikan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil, persalinan, menyusui mu lancar, kau juga seorang ibu rumah tangga sejati yang menjiwai peran. Tapi kau tak mengilmui MPASI homemade ala-ala WHO atau BLW atau Food Combining yang sedang tenar. Kau lebih memilih membeli MPASI instan yang dijual di pinggir jalan agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu menemani anak bermain dan menstimulasi dengan berbagai kreasi seharian. Lalu berbagai komentar berdatangan akan nilai gizi, rasa, higenitas dan kemasan makanan. Mereka bilang, buat anak kok sembarangan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau ibu baru yang tak tahu centang perenang dunia parenting kekinian. Marah-marah menjadi kegiatan harian saat anak rewel tak keruan. Hingga akhirnya kau dipertemukan dengan pakar parenting terbarukan atau kau membaca buku parenting yang mengagumkan. Lalu kau berkaca diri, menghitung ratusan omelan dan bentakan yang sempat dikeluarkan. Tiba-tiba kau merasakan penyesalan menyesapi setiap ruang di hati dan pikiran.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau sungguh mengikuti setiap postingan pakar parenting kesayangan. Pun membaca berbagai buku parenting yang bertengger rapi di rak buku mu jejer-berjejeran. Tapi kau punya innercild yang belum berhasil kau taklukkan. Hingga bayang kelam pengasuhan masa lalu masih lebih mendominasi setiap perkataan dan perbuatan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau sungguh-sungguh mengerti segala teori parenting, pun semuanya telah kau praktekkan. Tapi anakmu sungguh menguji iman. Kau rasa seakan tak ada teori parenting manapun yang mempan. Padahal kau dan suami telah memberikan sebaik-baik teladan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

***

Hai para ibu kesayangan Tuhan

Pervaginam atau caesar, ASI atau susu formula, bekerja di luar rumah atau ibu rumah tangga, MPASI homemade atau instan, dan berbagai gaya parenting yang diterapkan sungguh tak bisa menjadi ukuran keberhasilan.

Setiap ibu menjalani kisah heroik pengasuhannya sendiri-sendiri. Yang unik, yang berbeda satu sama lain, yang mengagumkan, yang pada saatnya nanti meninggalkan kesan di memori.

Setiap ibu memiliki perjuangan dan jalan cerita dalam membersamai anak yang tak sama. Seorang ibu mungkin berhasil menerapkan teori parenting A, tapi bisa jadi teori yang sama tidak bekerja di kondisi keluarga yang berbeda.

Anak yang tak semontok anak lain yang seumuran, tak segesit anak tetangga depan, atau tak sepandai anak temen fesbukan barangkali pernah mengusik pikiran. Tapi ingatlah bu, itu bukan berarti kau ibu yang gagal.

Sungguh menjadi ibu bukanlah kompetisi siapa yang anak nya lebih sehat, lebih pintar, lebih shaleh. Menjadi ibu adalah semua perjalanan yang kau lalui bersama anakmu dengan segala jatuh bangunnya, suka dukanya.

Mungkin kau rindu pada rumah yang selalu rapi. Padahal anakmu sungguh menikmati kesempatan yang kau berikan di setiap sudut rumah yang kau bolehkan menjadi tempat bermain dan bereksplorasi.

Mungkin kau merasa bersalah tak mampu memberikan ASI setiap hari. Padahal anakmu merasa nyaman saja berada dipelukmu sambil kau cium pipinya kanan kiri.

Mungkin kau merasa bodoh tak mengilmui berbagai teori parenting masa kini. Padahal instingmu sebagai ibu dan bonding yang kau bangun dengan bayimu sungguh lebih berarti.

Apapun kekurangan mu sebagai ibu. Bagaimana pun jatuh bangun kau rasakan kala menjadi ibu. Percayalah selalu ada tatapan kagum yang tulus di mata, hati, dan pikiran anakmu.

Yang memerhatikan kekhawatiran mu saat sakit menyerangnya.
Yang memedulikan rasa bersalahmu saat kau pamit berkerja.
Yang memaafkanmu saat kau masih perlu menata hati dan jiwa.
Yang melihatmu jatuh bangun mengurus rumah tangga dan dirinya.
Yang bahagia melihat senyummu merekah indah untuknya.
Yang tuluuuuus mencintaimu apa adanya.

Bangun, dan bangkitlah, ibu.
Hapus air mata dan kesedihanmu.
Buang resah dan khawatir yang ada di hatimu.
Buat segala lelahmu menjadi pahalamu.
Peluuk eraat, ciuum, katakan maaf dan terimakasih pada anakmu.
Dan dengan sungguh-sungguh, bisikkan di telinga anakmu itu
I love you

Because our children don’t need a perfect mom. They need a happy one for happy moms raise happy kids.

(Novika Amelia, dari broadcast salah satu grup parenting di whatsapp)

-*-*-*-*-

Awal hamil Alula, saya memang mengalami mual hebat. Lebay, bisa dibilang. Berat badan turun terus-menerus di awal kehamilan. Sulit sekali makanan masuk, itu pun seringkali diakhiri dengan muntah. Lemas luar biasa hampir tak bisa melakukan apapun, hingga akhirnya suami memasang infus cairan untuk saya di rumah demi nutrisi bisa masuk.

Tapi bukan itu yang membuat saya merasa gagal sebagai ibu.

Jatuh bangun di awal kehamilan terasa tak ada apa-apanya saat ALLAH memudahkan proses persalinan saya saat itu. Alula lahir normal spontan, dengan berat badan normal, sehat, cantik, tidak kurang suatu apapun.
Rumah sakit tempat saya melahirkan memfasilitasi IMD dengan sangat baik, sehingga Alula begitu mudah menyusu sejak pertama kali rooming in, tanpa perlu dibantu atau diajarkan oleh perawat yang saat itu hadir menawarkan bantuan.
ASI keluar sangat lancar sejak awal. Saya sama sekali tak perlu dirisaukan oleh perlu tidaknya menambah susu formula untuk Alula.
Saya bukan working mom. ALLAH memberi kesempatan bagi saya untuk 100% menemani Alula di rumah dan membersamai tumbuh kembangnya hingga saat ini. Membuat saya sempat memperkenalkan Alula MPASI-MPASI homemade sejak awal enam bulannya, tanpa perlu membeli MPASI instan di luar.

Mungkin saya tak terlalu update dengan dunia parenting kekinian.

Mungkin sesekali saya marah atau emosi saat kelelahan datang, dan Alula terus saja meminta perhatian saya atas segala tingkah polahnya.

Mungkin saya punya innerchild yang belum juga berhasil saya taklukkan, sehingga beberapa kali memunculkan sikap dan kata-kata yang tidak tepat untuk Alula.

Tapi, bukan itu semua yang membuat saya pernah merasa gagal menjadi seorang ibu.

Lalu mengapa saya sempat merasa gagal menjadi seorang ibu?
Untuk Alula?

-*-*-*-*-

Mungkin hal-hal yang ditulis dalam artikel tersebut tidak ada yang secara spesifik menunjukkan rasa gagal saya sebagai ibu.
Tapi, membaca artikel tersebut membuat saya menangis karena sempat merasa gagal menjadi mamanya Alula.

Sebelum punya Alula, bahkan sebelum menikah, saya punya sekian banyak kriteria ideal seorang ibu yang sangat ingin saya wujudkan.

Seorang ibu itu harus cerdas, punya pendidikan tinggi, supaya kelak punya cukup bekal untuk mendidik anak.
Seorang ibu harus punya pendidikan tinggi, supaya kelak anak-anaknya bangga dan punya semangat tinggi untuk menuntut ilmu.
Seorang ibu harus punya pendidikan tinggi, supaya anak-anaknya tidak malu ketika teman-temannya bertanya tentang orangtuanya.

Saya bahkan tak mampu menyelesaikan studi master saya.

Seorang ibu itu harus kreatif dan terampil dalam banyak hal, sehingga meskipun full time sebagai ibu rumah tangga, tetap mandiri secara finansial, tidak hanya bergantung pada suami.
Seorang ibu itu harus punya minat dan bakat yang jelas dan bisa dikembangkan, sehingga meskipun full time mengurus suami dan anak, tetap mampu terus meng-explore dan mengaktualisasi dirinya dalam bidang yang ia sukai.
Seorang ibu harus punya visi misi hidup yang jelas, mimpi yang terarah, sehingga dapat mendukung suami dan anak-anaknya mencapai cita-cita bersama.

Saya bahkan hingga kini masih sering bingung ditanya soal mimpi. Cita-cita. Hobi yang bisa dikembangkan untuk aktualisasi diri?
Lalu apa yang akan Alula dan adik-adiknya kelak lihat dan contoh dari seorang ibu yang seperti saya
?

Saya mungkin tak banyak mendapat tekanan dari omongan orang yang mengkritik saya sebagai seorang ibu, tapi bertubi-tubi kritik, kecewa dan rasa bersalah yang muncul dari diri saya sendiri rasanya sudah lebih dari cukup membuat saya merasa gagal menjadi seorang ibu.

Alhamdulillaah.. artikel Mbak Novika Amelia seolah menampar saya. Menyadarkan saya.
Begitu banyak kemudahan yang ALLAH hadirkan sejak hadirnya Alula di rahim saya.
Putri kecil saya itu tak banyak menyusahkan. Tak pernah sekalipun sakit yang merisaukan. Tak pernah rewel di luar batas wajar, dan relatif mudah ditenangkan.
Ia benar-benar harta yang luar biasa indah bagi keluarga kami.
Seharusnya saya fokus pada rasa syukur atas itu semua.
Tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan mendalam tak berkesudahan atas kegagalan-kegagalan saya pribadi dan ketidakmampuan saya untuk mengatasi kekecewaan terhadap diri sendiri.
Alula masih tetap butuh mama yang bahagia, yang siap menemaninya tumbuh, membimbingnya mencapai shalihah. Menuntunnya menjadi kakak yang baik dan mampu menjadi teladan adik-adiknya kelak.

Saya sangat sadar saya bukan seorang ibu yang sempurna. Sampai kapanpun demikian,
Tapi melihat senyum Alula setiap menyambut kehadiran saya, rasanya saya pun harus selalu siap menjadi seorang ibu yang bahagia.
Untuk Alula.
Dan adik-adiknya.

Because our children don’t need a perfect mom. They need a happy one for happy moms raise happy kids.

 

Wallaaahu a’lam bishshawab.

Bahagia

#27DaysWritingProject (Day 7)

Gambar diambil dari sini.

Gambar diambil dari sini.

Aku bertanya pada si buta tentang bahagia,
ia bilang bahagia itu sederhana
Sesederhana rona senja di batas cakrawala
Sesederhana gemintang menyulap gulita menjadi cahaya
Sesederhana tak harus berkawan gelap di tiap detiknya
Sesederhana senyum ibunda, yang tak hanya teraba, tapi juga tertangkap mata

Aku bertanya pada si tuli tentang bahagia,
ia bilang bahagia itu sederhana
Sesederhana deru yang riuh saat ombak tiba
Sesederhana berisik alarm pagi hari yang membuat terjaga
Sesederhana tangis bayi terlahir ke dunia
Sesederhana gema azan di seluruh penjuru kota
Sesederhana tawa anak-cucu, yang tak hanya katanya, tapi juga terdengar telinga

Aku bertanya pada si bisu tentang bahagia,
ia bilang bahagia itu sederhana
Sesederhana mengucap salam saat bertemu kerabat
Sesederhana bernyanyi lagu kebangsaan di upacara bendera
Sesederhana berbagi nada dalam paduan suara
Sesederhana teriak sekuat tenaga saat sesak menyapa
Sesederhana mengatakan cinta, yang tak hanya isyarat, tapi juga terucap kata

Mereka bertanya padaku tentang bahagia
Mereka benar, bahagia itu sederhana
Sesederhana mampu menatap, mendengar dan bicara
Sesederhana syukur atas apa yang ada
Sesederhana rasa cukup tanpa perlu banyak meminta
Sesederhana meyakini adaNYA, yang tak pernah hadirkan luka tanpa penawarnya
Sesederhana percaya skenario indahNYA, bahwa apapun akan tiba tepat pada waktunya.

—————————————

Bahagia itu sederhana,
Sesederhana berpartisipasi dalam¬†event giveaway¬†untuk pertama kalinya dan berkesempatan mendapatkan hal-hal sederhana yang membuat pembuat¬†giveaway¬†bahagia.. ūüôā
Semoga tulisan sederhana ini pun dapat membuat pembaca bahagia yaa.. ūüėČ

Gambar diambil dari sini.

Gambar diambil dari sini.

Tulisan ini diikutsertakan dalam WS Very First Giveaway Mbak WienSantika..
Yang belum ikutan, masih bisa ikutan nih sampai besok tanggal 14 Agustus 2015.. ūüôā

Menikmati Momen

Ramadhan udah mau habis. Kemungkinan besar dua malam lagi, gema takbir idul fitri akan mulai terdengar bersahutan di mana-mana. Hari-hari gini pusat perbelanjaan pasti udah makin penuh sama orang-orang yang kejar tayang beli baju Lebaran, atau preparasi bahan masakan untuk diolah jadi menu-menu spesial menyambut hari raya.
Semoga masjid-masjid besar juga nggak kalah penuh sama orang-orang yang berupaya mengoptimalkan¬†i’tikaf di hari-hari terakhir. Masih ada kesempatan satu malam lagi untuk memaksimalkan harap menjemput lailatul qadr yang istimewa itu.

Saya, mungkin juga bersama para wanita yang belum beruntung bisa merasakan puasa (dan tarawih) hari pertama tahun ini, disibukkan oleh hal yang lain.
Harap-harap cemas.
Mudah-mudahan tahun ini disempatkan dulu ikut shalat ied, baru deh dikasih libur shalat lagi. Huhuu.. >_<

Padahal mah harusnya nggak pake acara kuatir atau cemas segala yaa?
Toh bisa dan boleh shalat atau enggak juga ALLAH yang ngasih dan pegang kendali. Hehee.. ūüėÄ

Jadi kepikiran kasus-kasus lain yang serupa tapi tak sama nih.

Misalnya kalau pas kita masbuq ke masjid, imam udah selesai baca al Fatihah.. pasti deh refleks kita lari-lari nggak santai menuju tempat makmum. Pakai mukena secepat kilat, dan sedapat mungkin segera takbiratul ihram sebelum imam rukuk atau i’tidal.
Demi dapet rakaat pertama bareng imam, kadang kita nggak peduli sama tenang dan siapnya hati dan tubuh kita dalam memulai shalat, atau lebih jauh lagi jangan-jangan makmum lain yang udah duluan shalat terganggu sama¬†grusa-grusunya kita ngejar rakaat pertama? ūüė¶
Dulu pernah dapet kajian soal ini juga sih. Kalau nggak salah yang ngisi materi Ust. Aris Munandar. Tentang kesalahan-kesalahan yang sering kita lakukan berkaitan dengan shalat. Salah satunya itu tadi, berlari-lari atau terburu-buru memasuki masjid ketika masbuq.

Hmmm..
Kita tuh seringkali gitu. Punya harapan tertentu dalam hidup kita, berupaya keras meraih harapan itu, tapi suka lupa menikmati prosesnya.
Ingin sekali mencapai suatu titik di masa depan, tapi jadi lalai menikmati setiap momen yang terjadi saat ini.
Padahal, semua yang terjadi dan kita lalui itu pasti sudah terangkum rapi dalam skenarioNYA.
Nggak ada yang bisa kita lakukan untuk membuat masa depan hadir lebih cepat atau sebaliknya.
Kalau emang udah jatahnya libur shalat mah, mau kita cemaskan atau tidak, ya tetep aja nggak bisa ikut shalat ied.
Kalau emang udah keburu telat dateng ke masjid, mending nggak dapet rakaat pertama bareng imam daripada nggak dapet khusyu’nya rakaat pertama gara-gara keburu-buru. Apalagi kalau malah mengganggu jamaah lain.

Nikmati saja saat ini. Maksimalkan momen yang ada untuk jadi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. ūüôā
Lagi jatahnya menikmati hari-hari terakhir Ramadhan, optimalkan saja untuk beribadah lebih giat, tilawah lebih banyak, shalat lebih khusyu’.
Ingin ikut i’tikaf tapi kondisi nggak memungkinkan karena disuruh pulang dan ketemu orang tua, nikmati saja. Maksimalkan¬†birrul walidainnya, dan banyak bersyukur. Nggak semua orang bisa merasakan sahur dan buka bersama orang tua dan keluarganya.

Temen-temen seangkatan (bahkan adik kelas) udah pada nikah dan¬†kita belum? Nikmati saja masa-masa¬†single¬†belum ada tuntutan ngurus suami. Puas-puasin ikut kegiatan-kegiatan ekstra sesuka hati, ikut kajian dan seminar sana-sini, jalan-jalan bareng temen-temen.. Belum tentu nanti setelah menikah bisa sebebas itu karena izin suami akan jadi syarat utama, kan? Hehee.. ūüėÄ

Yang udah nikah dan belum juga dikasih momongan, nikmati aja. Puas-puasin bikin acara-acara spesial dan pacaran bareng suami (atau istri). Kalau udah ada anak nanti, belum tentu bisa sebebas itu karena waktu kita akan tersita dengan ngurusin anak, kan? ūüėÄ

Nah kaaan, ujung-ujungnya nyerempet lagi soal nikah.. ūüėõ

Intinya sih gitu. Nikmati saja momen yang ada saat ini. Lalui dengan senyum, nikmati proses memaksimalkan saat ini menjadi masa depan yang lebih baik.
Toh di waktu yang tepat dan teristimewa nanti, masa depan yang kita harapkan itu pun akan menjadi saat ini. ūüôā

Wallaahu a’lam bishawab.

Simple Way to Get Happiness

Mushola Apung SPs UGM, 21 Maret 2013
(Ust. Murwantoko – dosen prodi Perikanan UGM)

Kualitas suatu hal harus dilihat secara komprehensif berdasarkan keseluruhan komponen yang terkandung di dalamnya. Jadi, untuk menilai apakah seorang manusia dikatakan bahagia atau tidak, harus ditinjau dari kualitas keseluruhan komponen manusia itu sendiri.

Secara umum, manusia tersusun atas 3 komponen utama:

  1. Jasad
  2. Akal
  3. Hati / Ruh

Nah, untuk mencapai tingkatan yang disebut “bahagia”, satu-satunya jalan adalah dengan memenuhi hak-hak ketiga komponen tersebut. Baik jasad, akal, maupun hati/ruh harus diberi “makan” sesuai proporsinya masing-masing. Sebagai contoh: makanan sehat dan istirahat yang cukup sebagai hak bagi jasad, ilmu yang bermanfaat sebagai hak bagi akal, serta¬†dzikrullah¬†dan kesibukan mengkaji ayat-ayatNYA sebagai hak bagi hati/ruh.

Namun, untuk mencapai taraf “bahagia”, umumnya aspek hati/ruh lebih membutuhkan banyak perhatian dalam pemenuhan “hak”nya. ūüôā

Selain itu, pada dasarnya kunci kebahagiaan terletak pada “penyandaran” diri (pemasrahan sepenuhnya) pada Yang Maha Kuat. Hendaknya kita selalu berprasangka baik pada ALLAH, yakin bahwa apapun yang DIA berikan untuk kita pastilah yang terbaik. ūüôā

Salah satu indikator kebahagiaan adalah adanya rasa puas. Puas bukan berarti segala impian kita terwujud, tapi lebih pada kepuasan (merasa syukur) atas segala hal yang kita miliki. Kepuasan akan tercapai ketika kita berupaya maksimal untuk mencapai suatu tujuan dengan mengerahkan segala potensi yang kita miliki.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bahagia dunia-akhirat, serta mampu membahagiakan orang lain.

Wallaahu a’lam bishawab.