Our Moment

Tiap pasangan pasti punya waktu atau momen tertentu yang dianggap spesial. Istimewa untuk satu pasangan, bisa jadi biasa aja untuk pasangan yang lain. Kalau waktu yang dianggap buat sejuta umat mungkin malam Minggu kali yaa.. Kalau malam minggu, alun-alun pasti penuh sama orang pacaran. Hehee.. 😀

Saya sendiri punya satu momen spesial bareng suami yang pasti buat kebanyakan orang biasa banget. Malah mungkin dianggap aneh. Kayaknya orang-orang disuruh nebak juga ngga bakalan bisa deh. Heu..

Yap.. Motongin kuku suami!😅

Hahaa..

Entah sejak kapan, sampai sekarang itu resmi jadi salah satu hobi saya.😂

Jadi, ceritanya dulu tuh awal mulanya saya gatel banget ngomenin kuku-kukunya suami yang menurut saya nggak banget. Dari yang potongannya kependekan, panjang pendeknya nggak seragam sama jari sebelahnya, sampai kuku-kuku jari kaki yang patah-patah atau mulai item-item ngga keurus. Duuuuuh..

Mungkin karena cowok emang ngga segitunya ribet sama urusan manicure pedicure kali yaa.. Hehee..

Lalu saya refleks menawarkan motongin kuku-kukunya untuk pertama kali. Suami juga awalnya agak-agak nolak. Entah karena dulu itungannya masih pengantin baru jadi malu-malu, entah karena emang aneh aja kalau sesepele potong kuku harus dibantuin istri. Tapi karena sayanya keukeuh, mau lah suami saya..

Eh, sekarang mah ketagihan! Bukan cuma suami, saya pun ketagihan motongin kukunya. Saya sampai request kalau tiap Jum’at atau kalau suami mulai ngerasa kukunya kepanjangan, saya diingatkan untuk motongin kukunya. Bahkan sering protes kalau suami malah duluan motong kukunya sendiri.😁

Gitu deh. Sampai sekarang hal sepele dan remeh temeh ini jadi salah satu momen spesial kami. Kadang, bahkan motongin kuku suami bisa memperbaiki mood saya loh.. Termasuk saat lagi agak bete sama suami.🙈🙈🙈

Ngga penting ya? Hihii.. Maafkaaaan..😉 Sekedar mau share bahwa ternyata hal sederhana pun bisa jadi istimewa kalau kita menganggapnya demikian. Bagi kami konteksnya sesederhana memotong kuku, mas mbak ibu bapak pembaca mungkin punya momen sederhana lain yang jadi istimewa saat dilakukan bersama pasangan.☺

So.. Apa momen spesialmu?😉

Adaptasi

Beberapa waktu lalu, cuaca di rumah lagi terasa nggak nyaman. Hujan mulai turun, tapi menjelang hujan turun pasti hawanya jadi panas luar biasa. Sangat tidak nyaman bagi kami (saya dan suami), apalagi buat Alula.

Katanya sih, bayi umumnya lebih tahan terhadap udara panas daripada dingin. Tapi tetap saja, dari cuaca sebelumnya yang cukup menyenangkan karena relatif sejuk sekalipun siang hari, tiba-tiba jadi panas yang bikin keringat mengucur deras, Alula jadi lumayan rewel juga. Perlu waktu untuk adaptasi dengan cuaca berbeda.

“Namanya adaptasi emang nggak nyaman,” komentar suami waktu itu.
“Masa’ sih? Adaptasi jadi istri mas nyaman-nyaman aja kok..” saya malah nggombal. 😀

Tapi setelahnya saya jadi mikir juga. Apa iya adaptasi dengan suami pascanikah adalah hal yang nyaman? Kalaupun iya, yang jelas itu adalah proses yang jauh dari kata mudah.

Seperti yang sempat saya singgung sedikit di postingan sebelumnya, saya dan suami adalah dua orang yang bisa dibilang luaaaaar biasa berbeda. Sulit rasanya menemukan satu demi satu persamaan di antara kami dalam hal kesukaan, hobi, karakter, you name it. Dan semakin hari, seiring dengan satu demi satu persamaan di antara kami yang (sangat) perlahan muncul, perbedaan demi perbedaan kami justru makin banyak terungkap. Menuntut adaptasi yang berat bagi masing-masing kami.

Hal paling sederhananya saja soal makanan. Sejak kecil, saya terbiasa menikmati masakan yang minim bumbu, apalagi vetsin. It’s a big no no di keluarga saya. Sayuran paling sering dikonsumsi justru sejenis sayur bening, lalapan, tumisan yang bumbunya cuma bawang-bawangan, atau sayur sop. Suami? Kalau dikasih menu “bening” gitu doang, pasti masih nambah kecap, saos sambal, atau semacamnya. Suami doyannya oseng-oseng dengan tambahan kecap yang kental, sayur-sayur bersantan macam lodeh dkk., atau soto-sotoan.

Udah gitu, suami ternyata sangat nggak suka ikan asin! Padahal, dari kecil saya tumbuh di lingkungan orang-orang yang menganggap nasi panas lauk ikan asin dan sambal terasi adalah menu paling enak sedunia.

Pas awal nikah dulu, saya pernah dengan penuh semangat memasakkan suami salah satu menu andalan dan favorit keluarga saya, asin peda cabe ijo. Waktu itu pas kebetulan suami mau berangkat kerja, jadi saya nggak lihat langsung pas suami makan karena makanannya dibawa sebagai bekal. Tapi setelah tahu suami sangat nggak doyan ikan asin, rasanya guilty banget. Campur sedih. Peda kan asin banget. Kebayang gimana terpaksanya suami ngabisin masakan istrinya waktu itu. Di sisi lain, itu menu favorit saya.. Jelas nggak bakal masak lagi deh.. 😦

Sampai saat ini, memasak buat suami masih jadi tantangan tersendiri bagi saya. Akhirnya saya yang ngikut selera suami sih, meskipun nggak yakin suami beneran menikmati masakannya apa nggak karena menu-menu suami bukan menu yang sering saya masak sehari-hari selama ini. Belum lagi, kalau mood lagi jelek, kadang suka berasa sebal karena nggak bisa lagi menikmati masakan enak versi lidah saya. Hehee..

Itu baru hal sepele soal makanan ya,  yang lain masih banyak! Dan yang pasti membuat proses adaptasi di antara kami nggak pernah mudah. Nggak hanya menguras energi, tapi kadang juga emosi.

Iya, mungkin suami benar. Yang namanya adaptasi itu nggak nyaman. Tapi mudah-mudahan, seiring proses adaptasi yang entah akan usai atau tidak, sinergi di antara kami juga akan semakin kuat dan membuahkan output yang penuh manfaat. Toh kami tak perlu adaptasi soal tujuan pernikahan, in syaa ALLAH masih tetap surga yang jadi mimpi kami bersama. 🙂
Untuk suamiku (yang entah akan membaca ini atau tidak)..
Terima kasih untuk kesabaranmu yang luar biasa menghadapi emosi labilku selama ini..
Menjadi istri buat Mas dan mama buat anak kita adalah proses adaptasi yang nggak pernah mudah.
Terima kasih atas sabar Mas yang nggak pernah habis, atas marah yang nggak pernah Mas tunjukkan, meskipun aku nyebelinnya kebangetan, nuntutnya kebanyakan, dan manjanya nggak ketulungan. Hehee.. 😀
Aku sayang Mas, dan semoga ALLAH terus menuntun dan membersamai kita agar rasa sayang itu tetap berdasar pada cinta kita kepadaNYA.. agar kita nggak hanya bareng-bareng di sini, tapi juga di surgaNYA nanti..♥♥♥

Jahitan di Dagu

Hayolooo.. udah berapa lama blog ini dibiarkan nganggur? Udah hampir dua bulan yaa?
Hehee..
Maafkan, kemarin-kemarin masih rariweuh seputar pernikahan saya 17 Oktober lalu (dan agenda-agenda setelahnya.. 😀 )
Alhamdulillaah berkat kasih sayang ALLAH dan doa kerabat dan teman-teman shalih/shalihat, serangkaian acaranya berlangsung lancar. 🙂

Hmm.. rasanya buanyaaaaaakk sekali hal yang ingin saya tuangkan di sini. Tak sekedar tentang euforia menikah, tapi beberapa ide tulisan yang selama hampir dua bulan terakhir ini terpaksa tergeletak begitu saja di sudut-sudut otak.
Tapi kali ini, saya ingin sedikit berbagi tentang apa yang dihadapi di awal pernikahan. 🙂

Menjelang hari H, saya banyak bersilaturahim dengan beberapa sahabat. Kebanyakan di antaranya adalah yang sudah lebih dulu menikah.
Tujuannya setidaknya ada 2, mengantarkan undangan dan meminta nasehat.
Nasehat yang paling banyak saya terima adalah seputar kendala yang umumnya dihadapi di awal pernikahan: ADAPTASI.

Yep. Dua insan dengan jenis kelamin berbeda, dari dua keluarga berbeda, dua daerah asal berbeda, dan tentunya dua kepala dengan watak dan kepribadian berbeda dipaksa bersinergi bersama sejak diikrarkannya akad nikah.
Tentu sangat jauh dari kata mudah.
Saya dan suami baru berkenalan April tahun ini. Interaksi di antara kami sangatlah terbatas sebelum menikah. Bisa dibilang, kami sekedar saling menerka watak masing-masing saja, di luar yang tertulis dalam biodata yang saling kami tukar sebelum ta’aruf.

Tuntutan untuk segera saling mengenal membuat kami berupaya terus menggali karakter, sifat, dan kebiasaan masing-masing sejak usai akad nikah hingga detik ini. Dan tahu nggak? Saya sempat stres sendiri karena ternyata.. kami berdua sangat berbeda! Sangat sulit rasanya menemukan persamaan di antara kami.

Suami yang terbiasa santai menghadapi apapun… Saya yang seringnya perfeksionis.
Suami yang suka Naruto dan segala bentuk film Jepang (dan kebanyakan film Asia) yang bagi saya nggak ada seru-serunya sama sekali… Saya yang suka hampir semua jenis film kecuali film Asia. 😛
Suami yang nggak terbiasa minum minuman berwarna jenis apapun…  Saya yang sulit sekali melewatkan satu hari tanpa satu-dua cangkir kopi, ditambah teh dan beberapa minuman lain.
Suami yang adiksi dengan air putih… Saya yang bisa dibilang nggak suka air putih, dan hanya terbiasa minum air putih dingin fresh from refrigerator.
Lalu selera kami terhadap berbagai jenis makanan (dan masakan) yang seringkali bertolak belakang. Nah! PR banget kan buat jadi koki pribadinya? >_<

Maka, ketika pertama kali suami memegang dagu saya dan berkomentar: “Ini bekas jahitan ya?”
Lalu saya jawab: “Iya, waktu kecil pernah dijahit gara-gara kena pinggiran meja.”
Suami bilang lagi: “Aku juga punya loh, jahitan di dagu.” Maafkan Mas, aku lupa alasannya. 😛

There! Kami tertawa bersama. Finally we found our first similarities! Yeay!! ^_^

Mungkin sepele buat kebanyakan orang. Tapi, menemukan satu persamaan kecil di antara kami berdua seolah memberi harapan dan semangat baru.
Kali ini mungkin sebatas jahitan di dagu, tapi seiring perjalanan kami ke depannya nanti, kami yakin akan terus menemukan persamaan demi persamaan lain yang in syaa ALLAH akan menguatkan sinergi di antara kami. 🙂
Setidaknya, persamaan semangat untuk terus berupaya mengolah perbedaan-perbedaan di antara kami menjadi kekuatan tersendiri.

Bismillaah..
Doakan kami ya! Perjalanan kami masiiiih sangat panjang.. 🙂

Because You Deserve Someone Better

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

image

Setiap manusia di dunia pasti pernah mengalami apa yang namanya kegagalan. Gagal ujian, gagal masuk sekolah atau kampus favorit, gagal menjalankan suatu usaha, gagal naik jabatan, gagal membina rumah tangga sampai gagal move on. Eaaaa.

Begitu juga soal pernikahan. Ada yang gagal mempertahankan keutuhan rumah tangga setelah sekian tahun menikah. Ada juga yang gagal di tahap awal sebelum pernikahan itu terjadi. Gagal ketika proses ta’aruf itu berlangsung.

View original post 954 more words

Memaafkan Masa Lalu, Memaknai Hijrah Seutuhnya

Beberapa waktu lalu seorang kawan lama menemui saya dan berkata, “Zulfah, ****** (menyebutkan nama seseorang, yang tak lain adalah mantan pacar saya. Astaghfirullaahal’azhiimAmpuni saya Yaa ALLAH.. 😥 )sekarang pacaran sama ***** yaa? (menyebutkan nama salah seorang teman yang juga saya kenal).”
Saat itu saya cuma tersenyum dan bilang, “Aduuuh.. nggak tau yaa. Hehee..”
Lalu dia tanya lagi, “Emang udah nggak pernah kontakan yaa sama kamu? Kamu nggak penasaran, gitu? Nggak pengen tau kabarnya dia sekarang?”
Lagi-lagi saya tersenyum dan cuma bisa menjawab dalam hati, “Ya kalaupun kontakan ya nggak ngomongin itu lah yaa.. Buat apa juga saya kepo-in hal-hal macem gitu?”

Itu bukan pertama kalinya saya ditanya tentang hal serupa. Mantan pacar yang punya pacar lagi?
Saya bukan sama sekali tak peduli. Jujur, selalu ada kesedihan terselip di hati saya kalau dengar itu.
Bukan sedih karena patah hati sejadi-jadinya gara-gara dia udah bisa move on, trus punya pacar dan kehidupan baru loh yaa..
Bukan sedih karena dia udah “laku”, sementara saya masih betah jadi single happy. Hehee.. 😀
Saya sedih karena itu berarti saya tak cukup bisa menjelaskan alasan saya berhenti memilih pacaran sebagai jalan hidup.
Saya sedih karena itu berarti saya tak cukup mampu membuatnya mengerti bahwa pacaran itu salah.
Saya sedih karena itu berarti saya tak berhasil mengajak dia yang dulu pernah menjadi orang terdekat saya untuk merasakan nikmatnya mengharap cinta ALLAH saja.

Masih kuat di ingatan saya, kata-kata saya yang mengawali berakhirnya masa pacaran saya dengan dia waktu itu.
“Pernah kepikiran nggak, kalau pas kita pacaran… misalnya lagi nonton bareng nih, atau lagi ke pantai berdua aja, terus tau-tau ALLAH nyabut nyawa kita? Terus mati deh kita. Kita pasti masuk neraka kan yaa? Nggak mungkin ke surga?
Pertanyaan sederhana dari mulut saya waktu itu yang membawa saya dan dia pada pemikiran yang lebih jauh.
Bahwa sebenernya kita sama-sama tahu bahwa apa yang kita jalani (pacaran) itu salah. Dosa. ALLAH nggak suka. Bahkan dilarang.
Hingga akhirnya pemikiran-pemikiran itu membuat kita mengakhiri pacaran saat itu (Alhamdulillaahirabbil’aalamiin).

diambil dari timeline photos-nya Page Hijab Alila

diambil dari timeline photos-nya Page Hijab Alila

Sejak berhenti pacaran, saya banyak belajar membenahi diri.
Mulai kembali merenovasi diri yang sudah terlalu banyak cacatnya.
Mulai kembali mendekat pada sahabat-sahabat shalihat saya, yang dulu sempat saya tinggalkan karena malu dan merasa nggak pantas.
Mulai menghadiri kajian-kajian keislaman yang semasa pacaran saya tinggalkan dengan alasan nggak ada waktu. Padahal sebenernya sih karena seringnya saya malu dan tersindir dengan dosa-dosa saya kalau denger materi kajian. Hehee… 😀

Tau nggak? Bahwa hingga saat ini, pernah pacaran tu masih saja meninggalkan berjuta penyesalan yang tak pernah habis saya tangisi.
Se-islami-islami-nya pacaran, tetep aja isinya dosa. Nggak ada berkahnya sama sekali.
Seminimal-minimalnya kontak antara lawan jenis dalam pacaran, selalu ada zina hati dan pikiran yang terlintas hampir di tiap detik, dan sedikit demi sedikit memenuhi hati dengan gumpalan hitam bernama dosa.

Saya bersyukur ALLAH menyadarkan saya untuk berhenti berupaya menjemput cinta dengan cara yang IA tak suka.
Saya bersyukur ALLAH mengingatkan saya untuk mulai berupaya menjemput cinta dengan cara mencintaiNYA dengan lebih sempurna.
Dan saya bahagia. 🙂

Tapi bagaimanapun, penyesalan itu menyakitkan.
Saya sendiri hingga kini belum bisa move on dari rasa sakit setiap mengingat masa-masa pacaran saya.
Mengingat betapa banyak waktu terbuang percuma untuk sekedar ngobrol atau telfonan sama pacar, padahal harusnya waktu itu bisa dipakai buat special date sama ALLAH.
Betapa setiap bangun tidur, yang teringat adalah ambil HP dan membangunkan pacar… padahal harusnya segera berdoa, ambil wudhu dan shalat fajar.
Betapa banyak waktu terbuang untuk nonton berdua, jalan-jalan berdua… tanpa tersisa waktu untuk sekedar hadir ke majelis ta’lim sekali sepekan.
Betapa minimnya komunikasi dengan orangtua karena malu dan takut ketahuan pacaran, malah justru intens sekali komunikasi dengan pacar.
Betapa banyaknya angan-angan tentang masa depan dengan si pacar, sampai terlupa bahwa masa depan sesungguhnya adalah surga atau neraka.
Betapa banyaknya waktu yang dihabiskan untuk menumpuk dosa…
Betapa tak tersisanya waktu untuk mengisi tabungan pahala…
Astaghfirullaahal’azhiim. 😥
Dan hingga kini, saya masih sangat keras berupaya memaafkan masa lalu saya sendiri, untuk fokus hijrah ke arah masa depan yang lebih baik.

Kalau menurut buku Jodoh Dunia Akhirat-nya Fufu sama Canun (ada yang pernah baca?), mungkin salah satu alasan kenapa saya masih belum dipertemukan dengan jodoh saya hingga saat ini adalah karena saya belum juga selesai di tahap cleansing. Belum tuntas saya memaafkan masa lalu saya, sehingga belum siap menjemput masa depan. 😦

 

“Kamu kenapa sih nggak pacaran lagi aja? Gimana mau dapet jodoh kalau milih single terus?”
“Padahal kalau kamu mau pacaran lagi, pasti kamu udah nikah deh sekarang..”
“Nggak sepi tuh hidup kamu, betah amat sih jadi jomblo?”
“Lo sok-sok-an deh. Bilang mau jemput jodoh dengan jalan nggak pacaran, buktinya sampai sekarang lo belum nikah juga?”

Beberapa ucapan teman-teman yang pernah mengenal saya sebagai orang yang punya prinsip pacaran untuk menikah.
Dan lagi-lagi, saya tersenyum.

Saya yakin kok, ALLAH sudah menyiapkan seseorang untuk jadi imam saya suatu saat nanti.
IA jauh lebih tahu siapa, dan kapan waktu terbaik untuk menyatukan kami kelak.
IA jauh lebih tahu kapan saya sudah pantas untuk menjadi seorang istri,
pun kapan jodoh saya sudah pantas menjadi suami saya.
Jelas-jelas ALLAH melarang pacaran. Maka sudah pasti, jodoh terbaik saya hanya bisa dijemput bukan dengan jalan pacaran.
Kalau sampai sekarang saya masih sendiri, saya tinggal berkaca sama diri sendiri. Berarti ALLAH menilai saya belum pantas. Saya masih harus terus berupaya keras memantaskan diri terlebih dulu.
ALLAH masih memberi kesempatan pada saya dan dia untuk terus memperbaiki dan memantaskan diri, untuk terus saling berkirim doa, agar kelak kami sama-sama pantas menjemput cinta yang ALLAH titipkan di hati-hati kami.
Kalau sampai sekarang beberapa laki-laki yang “datang” masih saja dirasa kurang baik, kurang shalih, kurang siap menjadi imam saya… berarti saya juga masih kurang baik, kurang shalihat, dan kurang siap menerima seorang pemimpin baru di hidup saya. Bukankah jodoh kita adalah cerminan diri kita sendiri? 🙂

Ada yang pernah nanya juga:
“Emang sejak lo nggak pacaran gitu, lo nggak pernah jatuh cinta gitu? Lo nggak pernah patah hati kalau liat yang lo sayang pacaran lagi… atau nikah sama orang lain?”

Hmm.. saya juga manusia lah.. Rasa suka, kagum, simpati, sayang, bahkan cinta sama seseorang (lawan jenis) itu fitrah. Beberapa kali menyukai seseorang, beberapa kali patah hati… wajar, kan?
Hanya saja, saya pun berulang kali mengembalikan rasa padaNYA. Selalu mempertanyakan rasa yang hadir padaNYA. Standar lah… memohon jika memang jodoh, maka dekatkan. Jika bukan, maka jauhkan.
Terus-menerus memohon petunjukNYA agar tidak memperturutkan rasa di jalan yang tidak IA ridlai.
Nggak pacaran kan bukan otomatis mengamankan hati dari zina? Maka jika ada rasa tak semestinya yang hadir, selayaknya kita mohon perlindunganNYA saja. Lebih intens mendekatiNYA, agar dijauhkan dari rasa yang tak seharusnya kita punya.
Menyukai seseorang dan patah hati karena ternyata belum atau bukan jodoh saya? Pernah. Sakitkah rasanya? Sangat. Tapi jika dengan demikian saya jadi lebih intens mendekat padaNYA, lebih betah berlama-lama menangis dan curhat di hadapanNYA, maka saya tak keberatan. Rasa sakit yang sama (bahkan mungkin lebih menyiksa) dengan patah hati saat jaman pacaran, tapi kali ini in syaa ALLAH berbuah pahala. 🙂

gambar diambil dari bacotanghaley.blogspot.com

gambar diambil dari bacotanghaley.blogspot.com

Terakhir nih yaa.. masih ada yang suka nanya sama saya:
“Lo nggak kangen pacaran? Nggak pernah kepikiran sama sekali buat pacaran lagi?”

Untuk yang ini, saya mantep bilang: Nggak! Saya maunya pacaran sama suami saya aja, nanti setelah nikah! Hehee.. 😀

So… Buat yang nggak pernah pacaran, bersyukurlah! Kamu nggak perlu buang-buang banyak waktu untuk menangisi masa lalu, atau berupaya keras menghapus memori tentang dosa-dosa menduakan cintaNYA.
Nah, buat yang masih pacaran, putusin aja deh pacarnya! Toh kalau emang jodoh mah, ALLAH kelak akan menyatukan kalian lagi dengan cara yang jauuuuuuhhh lebih baik dan istimewa! 🙂
Yang punya hati kita kan ALLAH. IA yang Maha Membolak-balik Rasa. Kalau ALLAH nggak ridla, bisa aja kan sekarang sayang-sayangan pas pacaran, ntar pas nikah tau-tau ALLAH bikin jadi saling benci? Na’uudzubillaahi min dzaalik.
Yang masih single happy kayak saya, atau yang pacaran tapi mau hijrah jadi single happy kayak saya, yuk puas-puasin pedekate sama ALLAH, puas-puasin berupaya menjemput cintaNYA, dan terus berupaya memaafkan masa lalu dan hijrah seutuhnya agar kelak IA kasih kita jodoh terbaik yang mencintai kita karenaNYA, dengan cara terbaik dan teristimewa. 🙂

Wallaahu a’lam bishawab.

gambar diambil dari nanahidupku28.blogspot.com

gambar diambil dari nanahidupku28.blogspot.com