Manajemen Rasa

#27DaysWritingProject (Day 2)

Maka jika kau memiliki rasa yang tak biasa, tanyakan pada Sang Pemilik Rasa.
Hanya IA yang tahu pasti, ke mana seharusnya rasamu bermuara..

Beberapa waktu lalu, berbagai media sempat riuh oleh isu LGBT. Pasca legalisasi pernikahan sejenis di Amerika Serikat, ramailah publik dengan pro kontra berkaitan dengan hal tersebut. Saya nggak mau bahas tentang pro kontranya sih..
Isu LGBT yang heboh di media kemarin sempat memperkenalkan saya pada sosok Ustadz Rey, penulis buku Tuhan Tak Pernah Iseng yang didasarkan pengalaman pribadinya. Bagi yang belum mengenal beliau, bisa dibaca di sini.

Mengenal sosok beliau, meskipun hanya dari beberapa broadcast message ataupun artikel di internet, membuat saya memiliki pandangan lain tentang orang-orang dengan orientasi seksual yang tidak pada porsinya. Dulu saya termasuk orang yang mudah men-judge para LGBT adalah mereka yang tidak peduli pada aturan ALLAH, yang tidak mau berupaya keras melawan hasrat seksual menyimpang tersebut dengan cara mendekat pada ALLAH. Hal ini menyebabkan saya dengan mudah memandang sinis pada mereka.

Keberadaan Ustadz Rey membuka mata saya. Orientasi seksual ke arah LGBT pada beberapa orang memang ada, entah karena anomali secara genetisnya, atau kondisi lingkungan yang mengarahkan demikian (atau keduanya).
Bukan berarti saya jadi pro dan membenarkan legalisasi pernikahan LGBT, atau setuju pada kondisi memperturutkan hasrat menjadi LGBTnya. Toh dalam Islam, ALLAH jelas-jelas melaknat hal tersebut.
Hanya saja, saya menjadi tersadar bahwa orientasi seksual yang tidak tepat itu memang hadir pada sebagian orang, dan menjadi ujian tersendiri yang sangat berat dihadapi. Tidak bisa dengan seenaknya saya men-judge orang dengan hasrat seksual ke sesama jenis pasti jauh dari ALLAH. Mereka hanyalah orang-orang yang ALLAH uji dengan nafsu, hasrat, dan rasa yang berbeda.

Berarti ALLAH gak adil dong sama orang-orang yang dikasih hasrat seksual menyimpang?

Pastinya tidak ya.. Masih percaya kan kalau ALLAH Maha Adil? 🙂

Bicara soal ujian dalam bentuk rasa, sebenarnya ALLAH ngasihnya rataaaaa sama semua hambaNYA. Hanya berbeda dalam hal objek dan kadarnya.
Coba deh dipikir-pikir. Semua manusia pasti pernah dititipi rasa cinta, sayang, atau nafsu yang bisa dibilang salah tempat, salah waktu, atau salah sasaran.

Misalnya rasa suka atau cinta pada lawan jenis sebelum disahkan oleh pernikahan..
Mahasiswi yang tiba-tiba naksir sama dosen muda nan ganteng luar biasa..
Atau yang pernah merasa jatuh cinta pada pandangan pertama sama kakak kelas.. (kok berasa FTV? Hehee 😀 )
Rasa kagum dan simpati berlebihan sama teman kerja yang punya prestasi baik..
Udah mau nikah, tau-tau ada orang lain yang mendekat dan punya kualitas lebih baik dari calon istri/suami..
Bahkan untuk yang sudah menikah sekali pun, masih mungkin timbul rasa berbeda pada orang lain kan?

Nah kan? Ujian berbentuk rasa itu ada banyaaaaak sekali ternyata. Dan semua orang pasti mengalaminya.
Yang perlu dipelajari lebih jauh, adalah bagaimana memanage rasa itu.
Apakah segala bentuk rasa yang hadir itu salah? Mungkin iya, tapi ia fitrah. Ia ada, tapi perlu disikapi dan dikelola agar tidak mengarah pada hal yang ALLAH nggak suka. 🙂

Ada yang bilang:

Desire cannot be heal, but it can be controlled.

Siapa yang mengontrol?
Kita sendiri, dengan terus memohon perlindungan, bantuan, dan kekuatan ALLAH tentunya. 🙂

Karena rasa sepenuhnya milikNYA..
Mudah bagiNYA memutarbalikkan rasa..

Wallaahu a’lam bishawab.

karena saya (mungkin) tak akan pernah siap

Baru saja saya mendapat kabar wafatnya ibu dari salah seorang kakak kelas saya.
Lalu Tes! Refleks saya meneteskan air mata.
Ini bukan pertama kalinya. Beberapa waktu lalu, ketika mendengar kabar duka wafatnya ayah dari seorang kakak kelas saya, saya pun refleks menangis. Pun ketika beberapa hari lalu seorang teman yang ayahnya telah beberapa hari koma mengirimkan pesan singkat ke HP saya, “Teh, Papah udah nggak ada.” Bahkan ketika berita wafatnya seorang legenda srimulat kemarin pertama kali terbaca, air mata saya refleks jatuh.

Sungguh, tak satupun dari mereka yang benar-benar saya kenal dekat. Beberapa di antaranya malah tak pernah saya kenal. Cengengkah saya? Menangisi kematian orang-orang yang tak benar-benar saya kenal?

Ya, mungkin saya memang cengeng.
Tapi saya menangis bukan karena itu.
Saya menangis karena usia-usia mereka yang dipanggil ALLAH tak jauh dari usia Mamah-Bapak. Jika mereka sudah dipanggil ALLAH saat ini, mungkinkah ALLAH pun sudah bersiap memanggil Mamah dan Bapak? 😥
Dan mengingat kedekatan emosional dengan mereka yang baru saja akhir-akhir ini saya maknai sepenuhnya, saya sama sekali jauh dari siap jika itu terjadi.
Saya (mungkin) tak akan pernah siap.

Tau nggak, tiap kali ada kabar duka tentang ayah atau ibu seseorang, yang terbayang adalah kematian Mamah dan Bapak yang mungkin saja sewaktu-waktu datang.
Sungguh, saya nggak akan pernah siap kehilangan mereka.. 😦

Terlintas di benak saya betapa banyak waktu terbuang selama ini, tersia-sia tanpa sempat memaksimalkan bakti pada mereka..
Betapa banyak kecewa mereka atas saya, yang belum sempat saya tutupi dengan rasa bangga atas prestasi yang saya persembahkan untuk mereka..
Betapa banyak umpatan, kemarahan, kedengkian saya pada mereka yang belum sempat saya istighfari dan mohonkan maaf pada mereka..
Betapa banyak luka yang saya torehkan di hati-hati mereka, yang belum sempat saya obati dengan pengabdian sepenuh hati..

Saya masih banyak hutang.
Hutang ketidakhadiran hati untuk mereka selama ini..
Ketidakpedulian saya atas berjuta kasih sayang yang mereka tawarkan selama ini..
Penolakan demi penolakan yang saya lakukan atas peluk dan dekap mereka..
Ucapan cinta dan sayang yang masih sering terasa berat terucap dengan nyata..
Tangis sedih mereka karena saya yang terlampau sering terabaikan begitu saja..
Lantunan doa tak henti dari mulut-mulut mereka yang tak saya sambut dengan doa untuk mereka..

Saya tak mampu membayangkan, jika mereka meninggalkan saya sebelum saya purna menjadi seorang shalihat, lalu doa-doa saya tak mampu mengalirkan pahala amal bagi mereka hingga surga..
Saya tak mampu membayangkan, jika saya menikah dan bukan Bapak yang menikahkan saya, mengucapkan ijab dan berjabat tangan dengan imam baru yang akan menjadi suami saya..
Saya tak mampu membayangkan, jika saya menikah dan bukan Mamah yang duduk di samping saya, menemani saya mendengarkan ijab qabul dengan khidmat..

ALLAH..
Aku tahu tak baik memohon atas perpanjangan usia..
Harusnya aku meminta keberkahan atas berapapun usia yang Kau beri kan, Ya ALLAH?
Tapi untuk kali ini, izinkan aku memohon panjangkan usia Mamah-Bapak..
Izinkan aku memohon panjangkan usiaku..
Izinkan aku lebih sempurna dalam memaknai kehadiran mereka..
Izinkan aku untuk seutuhnya menghadirkan hati untuk mereka..

Izinkan aku untuk sepenuhnya siap kehilangan (atau meninggalkan) mereka,
sebelum Kau panggil siapapun kami menghadapMU.

Ramadhan-Syawal Teristimewa

Ada yang berbeda di Ramadhan dan Syawal tahun ini.
ALLAH Yang MahaLuarBiasa membuat saya mendapatkan makna berbeda yang tak pernah saya alami dan rasakan sebelumnya. 🙂

Tahun ini ALLAH “memaksa” saya untuk memaksimalkan peran saya sebagai adik bagi kakak saya, sebagai kakak bagi adik saya, dan sebagai anak Mamah dan Bapak.

Saya nggak bisa uraikan secara rinci momen-momen berharga saya bersama mereka Ramadhan-Syawal ini..
Karena momen yang saya rasa luar biasa, bagi kebanyakan orang mungkin terasa tak ada artinya.
Sebaliknya, momen yang bagi saya biasa saja, mungkin justru dianggap istimewa bagi kebanyakan orang.

Saya cuma mau bilang:
Ibu, ayah, kakak, dan adik yang ALLAH titipkan buat kita di dunia ini adalah yang terbaik bagi kita. Seburuk apapun ia atau mereka di mata kita.
Mencintai dan menyayangi mereka adalah kewajiban kita dan hak mereka, dan kita harus memaksimalkan upaya itu.
Sampaikan dengan ucapan jika mampu.
Jika tidak, tunjukkan dengan perbuatan. Atau setidaknya dengan kiriman doa kebaikan yang selalu kita panjatkan untuk mereka.

Saya pun masih berupaya keras melakukannya. 🙂

 

ALLAH, bimbing aku untuk terus menunjukkan cinta itu kepada mereka dengan lebih nyata..–

 

our scene(s)

Untuk kesekian kalinya dalam beberapa waktu belakangan ini, air mata saya tertumpah karena teringat orang tua.

Tentang Mamah

Air wudhu selalu membasahimu
Ayat suci slalu dikumandangkan
Suara lembut penuh keluh dan kesah
Berdoa untuk putra-putrinya..
(Sakha – Ibu)

Mengingatmu selalu mengingatkanku pada berjuta salahku padamu, Mah. Terutama tentang satu hal: harapku atas ibu yang lain selain Mamah, karena merasa terlalu terkekang dengan banyaknya “aturan”mu atasku.

Nggak boleh nginep di rumah teman saat SD-SMP dulu.. Harus pulang cepat dari sekolah.. Nggak boleh jalan-jalan selepas jadwal ekskul.. Harus ini, harus itu.. Nggak boleh ininggak boleh itu.. Banyak sekali aturan Mamah di mataku saat itu.

Baru belakangan ini aku sadar makna aturan-aturanmu atasku, Mah. Kau hanya ingin yang terbaik untukku. Kau hanya ingin mendidikku menjadi muslimah yang baik, menyiapkanku menjadi calon istri dan ibu yang baik suatu saat nanti.. Menjadi..sepertimu..

Maafkan aku karena terlambat menyadari niat baikmu, Mah.
Maafkan karena sering membuatmu menangis karena sikapku.
Terima kasih karena kau tak henti bersabar atas sikapku.
Maafkan, maafkan, maafkan..

 

Tentang Bapak

Aku hanya memanggilmu, Ayah..
di saat ku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu, Ayah..
jika aku tlah jauh darimu
(Seventeen – Ayah)

Mengingatmu selalu mengingatkanku pada suatu malam di rumah kita di Bandung, Pak. Entah Bapak masih mengingatnya atau tidak. Tapi, entah kenapa momen itu selalu terputar kembali di benakku pada detik pertama aku teringat Bapak.

Aku juga tidak ingat sepenuhnya apa yang terjadi malam itu. Yang aku ingat, malam itu kau marah padaku karena suatu hal yang kulakukan, yang hanya mampu “kujawab” dengan diam dan menangis. Berulang kali kau minta penjelasan atas sikapku, tapi aku tak kunjung bicara. Lalu kau pergi, dan aku meneruskan tangis panjangku di kursi bambu panjang di ruang tamu.

Lama di sana sendiri, dan tiba-tiba kau datang dan langsung memelukku, Pak. Lama. Tanpa sepatah kata pun terucap, membuat tangisku makin deras. Lalu kau akhirnya bicara: “Apa kamu sebegitu takutnya sama Bapak sampai kamu nggak bisa bilang apa-apa, Nak? Maafkan Bapak, yaa..”

Malam itu kita menangis bersama, Pak. Kau tak pernah mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu padaku malam itu. Tanyamu saat kau marah, pun saat kau menangis. Karena hingga tangis kita berakhir malam itu, aku tak mengatakan apapun selain anggukan keras menahan tangis saat kau ucapkan kata maaf.

Aku yang seharusnya minta maaf karena membuatmu merasa seperti itu..
Maafkan aku, Pak..

Untuk Mamah-Bapak

Always love you all coz ALLAH..:*

Terima kasih untuk cinta dan sayang yang tak pernah habis untukku
Tak peduli betapapun buruk sikapku padamu, kau selalu berusaha ada.
Terima kasih untuk tiap bait doa yang kaupanjatkan untuk kebaikanku,
meskipun aku kerap lupa menyebut namamu usai sholatku.

Maafkan karena terlalu lambat ku hadirkan hati ini untukmu..
Tapi aku janji,
mulai sekarang hati kita tak akan pernah terpisah lagi. InsyaaALLAH.

 

Pilihan untuk Memilih

Ternyata.. kasih sayang ALLAH itu besar banget yaa buat manusia??
DIA selalu memberikan kesempatan pada kita untuk memilih.
Tidak seperti malaikatNYA yang dicipta untuk terus taat dan menghamba, tanpa sekalipun diberi kesempatan memilih untuk melakukan sebaliknya.
Tidak pula seperti iblis yang sejak memilih untuk mengajak manusia pada keburukan dan durhaka pada ALLAH, sama sekali tidak diberi kesempatan untuk memilih kembali taat padaNYA.
ALLAH sayang banget sama kita.
Dari awal kita lahir ke dunia, kita dikasih banyak sekali kesempatan untuk memilih.
Bahkan, DIA juga ngasih kita gambaran konsekuensi dari semua bentuk pilihan yang kita pilih.
Kita bebas memilih untuk taat atau justru membangkang pada aturanNYA,,
Kita bebas memilih untuk berniat baik atau berniat buruk,,
Kita bebas memilih untuk tersenyum menghadapi semua cobaan hidup, atau justru menangis dan menyesalinya,,
Kita bebas memilih untuk mencintai siapapun dan apapun yang kita mau..
Ratusan, ribuan, jutaan, bahkan milyaran pilihan lain yang selalu hadir dalam hidup kita.. nikmat memilih itu tak terhitung jumlahnya!! 🙂
Kalaupun kita pernah salah memilih,,ALLAH selalu memberi kesempatan kedua..bahkan ketiga atau keseratus sekalipun untuk memilih lagi..!! 🙂
Subhaaanallaah,, ALLAH Maha Baik yaa?? 🙂
Lebih jauh lagi..
ALLAH selalu ada saat kita berada di puncak kebingungan kita memilih..
ALLAH selalu standby kapanpun dan di manapun kita ingin bertemu dan memohon petunjukNYA..
Dan lagi-lagi..DIA Maha Baik untuk memberikan petunjuk dan jalanNYA..
DIA selalu ada..untuk memilihkan yang terbaik buat kita jika kita memasrahkan semua pada kehendakNYA..
Bahkan ketika kita merasa lelah untuk memilih..
ALLAH Maha Baik untuk selalu siap menjadi tempat menggantungkan segala harap kita..

ALLAH..
Bantu aku memilih..
Pilihkan yang terbaik menurut ilmu-Mu..
🙂