Tips Menghafal Al Qur’an Dalam Waktu X Tahun – Bagian 5/5: Tactics and Technical Stuffs

Great post nih!
Tips oke buat yang akan memulai, sedang, dan akan terus menghafal Qur’an.. 🙂

ollooo..

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

Jreng!!!!!!!! (seriously, I have to find another sound effects for the opening of my article. X_x) Jumpa lagi sama saya di bagian yang ke-5: Tactics and Technical Stuffs. Di bagian ini saya akan berbagi tips tentang cara menghafalkan Al Qur’an yang saya lakukan. Mungkin (sejujurnya kemungkinan besar) ini bukan cara terbaik untuk menghafalkan Al Qur’an di luar sana, akan tetapi saya memilih untuk menjalankan metoda ini karena metoda ini relatif nyaman untuk saya yang punya keterbatasan di bahasa Arab dan (mirisnya) waktu. Dan alhamdulillah dengan menjalankan metoda ini, saya juga bisa menyerap seoptimal mungkin (dengan segala keterbatasan saya tentunya) kandungan dari Al Qur’an.

I – PREREQUISITE / PRASYARAT

Menurut saya pribadi, ada 2 buah persyaratan yang wajib untuk kita penuhi pada saat kita ingin menghafalkan Al Qur’an:

  1. Pastikan kita sudah bisa mengenali dan membaca huruf dan rangkaian kata Al Qur’an dengan baik.
  2. Pastikan kita sudah…

View original post 4,419 more words

(Terjebak) Euforia ODOJ??

Sudah lebih dari seminggu saya ikutan program ODOJ yang lagi heboh-hebohnya dikampanyekan akhir-akhir ini.
Ada yang belum tau apa itu ODOJ??

ODOJ, atau One Day One Juz adalah program yang didesain untuk memudahkan kita memenuhi target minimal tilawah satu juz per hari. Sistemnya bisa lewat WhatsApp seperti yang saya lakukan, lewat BBM, atau sms. Info lengkap tentang apa dan bagaimana ODOJ bisa disimak di http://onedayonejuz.org/. Biar saya nggak kepanjangan jelasinnyaa.. hehe.. 😀

odoj

Saya sendiri bukan termasuk yang awal-awal gabung program ini sih.. Grup ODOJ saya adalah grup ke 465 untuk akhwat. Jadi, setidaknya sudah ada 30 x 464 akhwat yang duluan gabung di program ini sebelum saya.

Program ini luar biasa menurut saya. Penggagasnya mantap juga mengenalkan sistem semacam ini. Dan kalau dipikir-pikir, in syaa ALLAH pahala buat si penggagas akan terus mengalir seiring dengan semakin banyaknya yang mengikuti program ini. Berapa banyak, coba, saudara-saudari muslim-muslimah yang makin termotivasi tilawah setiap harinya dengan adanya program ini? 🙂

Sebelum ikutan ODOJ, saya sering merasa berat memenuhi target tilawah 1 juz per hari. Sepuluh lembar Al Qur’an rasanya terlalu panjang untuk dibaca, apalagi kalau udah pakai alasan kelelahan akibat padatnya aktivitas setiap hari.
3-4 hari setelah aktif ODOJ, target 1 hari 1 juz terasa jauuuuuuh lebih ringan. Bahkan, lelang juz di grup seringkali terasa sangat menggoda untuk diambil. Apalagi dalam grup ODOJ akhwat akan selalu ada lelang juz tiap harinya. Akan selalu ada minimal 1 dari 30 orang dalam 1 grup yang sedang berhalangan karena siklus bulanan.
Akhirnya, bagi ODOJers, satu juz per hari bukan lagi sekedar menjadi target yang harus dicapai, tapi target minimal. Karena pada kenyataannya, dengan adanya lelang juz, seorang ODOJer bisa membaca 1-5 (atau bahkan lebih) juz per hari. LUAAAAAARRR BIASA!! 🙂

Akan tetapi, di luar segala kelebihan dan kemudahan membiasakan tilawah dengan mengikuti ODOJ tersebut, tampaknya ada hal-hal yang juga harus kita perhatikan dan waspadai. Emang siiih, dengan ikut program ini kita jadi rajin dan terbiasa memperbanyak tilawah. Dengan ikut ODOJ, kita jadi termotivasi untuk berlomba-lomba tilawah lebih banyak. Fastabiqul khairat? Benarkah? Yakin?

Sudah benarkah niat saya dalam tilawah per harinya? Karena ALLAH kah? Dengan niat mendekatkan diri padaNYA kah? Atau sekarang tilawah justru sekedar rutinitas belaka karena harus mencapai target 1 juz per harinya?

Sudah benarkah niat saya dalam tilawah per harinya? Bergegas menyelesaikan jatah juz per hari demi berlomba-lomba mengambil tawaran lelang juz dalam grup? Untuk siapa? Karena apa? Yakin, karena ALLAH? Bukan sekedar demi mencapai khatam jama’i yang HARUS dicapai grup setiap harinya? Atau bahkan agar terlihat “baik” di depan teman-teman 1 grup?

Terlalu sibukkah saya tilawah, sehingga lupa bahwa Al Qur’an punya hak yang lain selain dibaca? Bahwa ia pun butuh dihafalkan ayat-ayatnya, ditadaburi dengan mempelajari tafsirnya, diajarkan kepada yang lain, diamalkan dalam akhlaq?
Ketika satu hari berhasil membaca lebih dari satu juz, berapa ayat tambahan yang berhasil saya hafalkan? Berapa ayat yang sempat saya tadaburi? Berapa ayat yang membekas dalam hati dan ingatan saya untuk selanjutnya diamalkan?

Sudah baikkah bacaan Qur’an saya? Sibuk mencapai target sekian juz per hari… tapi ingatkah saya untuk juga mempelajari tahsin untuk menyempurnakan bacaan saya?

Adakah amanah lain yang terkesampingkan karena saya terlalu sibuk tilawah setiap harinya? Adakah hak orang lain yang terlupakan karena saya terlalu mementingkan tilawah sebanyak-banyaknya setiap harinya?

Setidaknya, itu adalah beberapa pertanyaan yang akhirnya sering saya tanyakan terlebih dahulu pada diri saya sendiri sebelum memulai tilawah setiap harinya. Ada kekhawatiran bahwa saya terjebak dalam euforia ODOJ, hingga terlupa akan niat awal saya mengikuti program ini.

Kenapa saya jadi terpikir menuliskan ini?

Beberapa waktu lalu saya menonton video kajian di suatu tempat. Tampak di sana sang ustadz yang sedang menjelaskan materi kajian, lalu ketika kamera menyorot ke arah “penikmat” kajian, terlihat beberapa di antaranya justru sibuk tilawah. Jelas sekali terlihat bibir mereka melafalkan ayat-ayat Qur’an di tangan mereka. Bukan hanya satu-dua orang. Mungkin sekilas biasa saja. Atau bahkan ada yang menganggapnya positif. Keren yaa.. tilawah everywhere.. muraja’ah everywhere.. Hmm..
Tapi, entah kenapa menurut saya agak nggak pas aja. Bukankah ada hak ustadz sebagai pembicara untuk didengarkan dan diperhatikan?

Saya lalu merefleksikan terhadap diri saya sendiri. Sepertinya saya pun pernah melakukannya. Saat materi kajian yang saya datangi dirasa tak seru lagi, saat sudah memasuki sesi tanya-jawab, saya pun pernah mencari kesibukan lain seperti itu. Entah tilawah Qur’an, entah ngutak-atik ponsel.. Salahkah saya karena lupa menghargai orang lain? Bagaimana kalau saya yang berada di posisi pembicara dan orang-orang justru sibuk tilawah atau melakukan hal lain karena malas mendengarkan apa yang sedang saya coba sampaikan? Astaghfirullaah.

Tiba-tiba saya keingetan ODOJ aja. Jangan-jangan.. demi mengejar target tilawah harian, saya mengesampingkan hak-hak orang lain?? Jangan-jangan.. ada yang salah dengan niat saya??

Lewat tulisan ini, saya tidak bermaksud menuduh atau berprasangka buruk terhadap teman-temin/saudara-saudari yang ikutan ODOJ looooh.. Saya hanya bermaksud bercermin, lebih ke arah mengingatkan diri sendiri. Bahwa masalah niat adalah hal utama yang perlu jadi perhatian setiap kita akan melakukan sesuatu. Karena sebaik apapun amalan yang kita lakukan, jika niatnya salah, bisa jadi justru berakhir pada dosa.

Yuuk.. sama-sama luruskan niat kita. Tidak ada salahnya memperbarui niat kita setiap harinya, agar ODOJ dapat memberi manfaat yang terus mengalir sampai ke surga. Bukan sekedar menjadi rutinitas yang berakhir sia-sia, atau bahkan tabungan dosa karena niat yang tak semestinya. 🙂

Bismillaaah.. Tetap semangat tilawah yaa..!!
Semoga semangat tilawah ini juga menjadi awal semangat untuk terus berkontribusi bagi umat!! 🙂

Wallaahu a’lam bishawab.