Surat untuk Anak-anakku

[Untuk Alula]

Dear, anak perempuanku..

Akan ada masanya, seorang lelaki shalih mendatangi papamu, memintamu menjadi wanitanya.
Jika saat itu tiba, kamu akan mendapat satu tempat terbaik bersuara.

Wanita senang bicara.
Wanita butuh bicara.
Kamu akan senang bercerita dengan lelakimu.
Menumpah kesah, membagi mimpi.
Memaksa telinganya mendengar segala kisah yang butuh kaubuncah.

Yang perlu kauingat, anak perempuanku..
Laki-laki tak seperti kita.
Ada kalanya ia tak mampu membagi perhatiannya pada dua-tiga laku.
Mendengarkan ceritamu, harus ia lakukan utuh.
Maka kamu harus lebih bersabar, jika ia sedang fokus pada gadgetnya, pada bukunya, pada aktivitasnya..
Jika kamu benar-benar butuh bicara, katakan saja. Lelakimu kelak lelaki yang baik, yang siap memasang telinganya penuh saat wanitanya butuh.

Satu lagi, anak perempuanku..
Lisanmu nanti tak hanya bertanggung jawab untuk dirimu, tapi juga untuk lelakimu.
Ada mesra yang harus dijaga,
ada cela yang harus ditutup sempurna.

Berinteraksi dengan tetangga perlu,
aktif berselancar di dunia maya tak apa,
tapi simpan rapi urusan rumah tangga.
Itu rahasiamu dengan lelakimu. Tak perlu semua orang tahu.
Berbagi boleh, jika ada manfaatnya. Selebihnya, biarlah menjadi ceritamu dengan lelakimu saja.

Semoga kelak kamu akan jadi wanita terbaik untuk lelakimu.
Penjaga terbaik hartanya di dunia,
dan teman terbaik hingga surgaNYA.
-*-*-*-*-

[Untuk Biru]

Dear, anak lelakiku..

Akan ada masanya, kamu meminta seseorang menjadi wanitamu.
Mendatangi papanya, hingga ijab qabul terselenggara.
Jika saat itu tiba, kamu akan menjadi tempat pertamanya berbagi cerita.

Wanita butuh menyuarakan banyak kata.
Tidak sepertimu, atau papamu, yang kadang diam cukup meredam beban yang kamu rasa.
Wanita butuh pendengar, maka jadilah telinga terbaik untuknya.

Simpan sejenak gadgetmu,
letakkan sejenak bukumu,
hentikan sejenak aktivitasmu.
Sempatkan telingamu mendengar utuh satu per satu ujarnya.

Tak perlu melulu kautanggapi,
tak perlu selalu kau beri solusi.
Terkadang wanita hanya butuh untuk tahu bahwa lelakinya peduli,
pada lelahnya memasak dan mencuci,
atau sulitnya menghadapi anak-anak yang sesekali menyulut emosi.
Terkadang wanita hanya butuh untuk tahu,
bahwa lelakinya pun rindu mendengar cerita-cerita sepelenya setiap hari.

Jadilah telinga terbaik untuknya, anakku..
agar kelak wanitamu tak butuh mencari telinga lain di luar sana,
karena keberadaanmu sudah cukup untuknya.

Semoga nanti kamu menjadi lelaki terbaik untuk wanitamu.
Imam terbaik di dunia,
pembimbingnya menuju surga bersama.

Advertisements

Gigi Pertama Alula

Pada umumnya, gigi pertama bayi tumbuh di usia 6-8 bulan. Sebagian malah sudah tumbuh sejak usia 3 bulan, bahkan yang sejak lahir sudah ada giginya juga ada!
Katanya sih begitu.

Tidak pada Alula.

Seperti orang tua lainnya, apalagi untuk anak pertama, saya juga excited sekali menunggu gigi Alula tumbuh.
Sejak memasuki usia 6 bulan dan beberapa kali menunjukkan gejala gusi gatal, atau rewel-rewel tanpa sebab, beberapa kali pula saya berhusnuzhan, “Ooooh.. Alula mau tumbuh gigi yaa”..

Begitu terus, hingga usianya 17 bulan.

Hingga akhirnya..
Alhamdulillaah beberapa waktu lalu, gigi pertama Alula benar-benar tumbuh!
Rasanya lega dan penuh syukur.
Setelah penantian panjaaaaaang. Hehee šŸ˜€

Sejak giginya belum juga tumbuh di usia 8 bulan, saya sempat bertanya kepada beberapa teman dokter gigi, dan mereka bilang “Belum tumbuh sampai 18 bulan itu masih normal kok. Kalau sampai 18 bulan belum tumbuh juga, baru coba ke dokter gigi”.
Makanya, secara pribadi saya cukup tenang. Apalagi, di luar pertumbuhan giginya, perkembangan Alula yang lain tergolong baik. Ia cepat belajar merangkak, merambat, dan berjalan. Kemampuan bicaranya berkembang sangat baik.
In syaa ALLAH tidak ada masalah di tumbuh kembangnya. Hanya perlu lebih sabar menunggu hingga giginya tumbuh.

Nah, yang membuat jadi kepikiran terus justru omongan-omongan orang.
“Giginya mana kok belum tumbuh?”
“Nggak diperiksain ke dokter mbak?”
“Anakku dulu belum 6 bulan udah 2 giginya loh mbak..”
“Itu anaknya mbak **** lebih kecil dari Alula aja giginya udah 4.. Alula mana ini?”
“Kurang kalsium kali anaknya. Ya ibunya nambah suplemen gitu biar tumbuh giginya cepet.”

Errrr..

Saya bukannya nggak aware, ibu-ibu..
Selain berulang kali konsultasi ke teman-teman dokter gigi, saya juga rajin baca-baca tentang ini.
Bahkan, saya sudah mempersiapkan mental jika ternyata gigi Alula memang “berbeda”. Katanya, ada kasus 1 dibanding sekian (jarang banget terjadi) di mana gigi anak benar-benar tidak tumbuh.

Alhamdulillaah sebelum usianya genap 18 bulan, gigi pertamanya benar-benar muncul.. šŸ™‚
Semoga semakin memudahkanmu makan ya Nak.. :-*

Pernah merasa gagal menjadi ibu?

Saya pernah.

Dan beberapa waktu lalu, saat sedang down karena merasa demikian, saya membaca artikel ini.
It helps. Meskipun dibumbui nangis bombay dulu sih selesai bacanya. Hehee.. šŸ˜€
Plus berulang kali tetap saja mengatakan maaf pada Alula.

Terima kasih ya Nak.. Mama akan berjuang lebih keras untuk tak sekedar tidak gagal menjadi ibu buat kamu dan adik-adikmu nanti..Ā :’)

-*-*-*-*-

Sejak awal hamil mual hebat, di tengah kehamilan pun sempat beberapa kali pendarahan, dan terpaksa harus menjalani operasi caesar saat persalinan. Kemudian orang-orang sekelilingmu mulai meracau menyalahkan. Bahwa kau kurang ikhtiar, atau tak menjaga kesehatan selama kehamilan, bahkan ada yang bilang kau kurang iman.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil dan persalinan lancar, tapi entah kenapa begitu IMD ASI tak juga mau keluar, bahkan sehari dua hari hingga batas waktu terakhir ASI diberikan. Lalu susu formula pun menjadi alternatif yang terpaksa kau pilih dengan penuh pertimbangan. Tiba-tiba orang yang tak tahu apa-apa menghakimimu sebagai ibu yang tak sempurna karena tak menjalankan amanat Menteri Kesehatan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil, persalinan, hingga menyusui lancar. Tapi kau meninggalkan bayi mungilmu yang baru berusia 3 bulan itu untuk sebuah pekerjaan yang gajinya menjadi sandaran hidup emak bapak di kampung halaman. ASI yang susah payah kau perah demi bayimu itu mereka bilang tak bisa disamakan dengan ASI yang langsung disusukan. Pun ditambah komentar sinis bahwa anak-anak para ibu bekerja adalah anak yang terabaikan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil, persalinan, menyusui mu lancar, kau juga seorang ibu rumah tangga sejati yang menjiwai peran. Tapi kau tak mengilmui MPASI homemade ala-ala WHO atau BLW atau Food Combining yang sedang tenar. Kau lebih memilih membeli MPASI instan yang dijual di pinggir jalan agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu menemani anak bermain dan menstimulasi dengan berbagai kreasi seharian. Lalu berbagai komentar berdatangan akan nilai gizi, rasa, higenitas dan kemasan makanan. Mereka bilang, buat anak kok sembarangan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau ibu baru yang tak tahu centang perenang dunia parenting kekinian. Marah-marah menjadi kegiatan harian saat anak rewel tak keruan. Hingga akhirnya kau dipertemukan dengan pakar parenting terbarukan atau kau membaca buku parenting yang mengagumkan. Lalu kau berkaca diri, menghitung ratusan omelan dan bentakan yang sempat dikeluarkan. Tiba-tiba kau merasakan penyesalan menyesapi setiap ruang di hati dan pikiran.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau sungguh mengikuti setiap postingan pakar parenting kesayangan. Pun membaca berbagai buku parenting yang bertengger rapi di rak buku mu jejer-berjejeran. Tapi kau punya innercild yang belum berhasil kau taklukkan. Hingga bayang kelam pengasuhan masa lalu masih lebih mendominasi setiap perkataan dan perbuatan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau sungguh-sungguh mengerti segala teori parenting, pun semuanya telah kau praktekkan. Tapi anakmu sungguh menguji iman. Kau rasa seakan tak ada teori parenting manapun yang mempan. Padahal kau dan suami telah memberikan sebaik-baik teladan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

***

Hai para ibu kesayangan Tuhan

Pervaginam atau caesar, ASI atau susu formula, bekerja di luar rumah atau ibu rumah tangga, MPASI homemade atau instan, dan berbagai gaya parenting yang diterapkan sungguh tak bisa menjadi ukuran keberhasilan.

Setiap ibu menjalani kisah heroik pengasuhannya sendiri-sendiri. Yang unik, yang berbeda satu sama lain, yang mengagumkan, yang pada saatnya nanti meninggalkan kesan di memori.

Setiap ibu memiliki perjuangan dan jalan cerita dalam membersamai anak yang tak sama. Seorang ibu mungkin berhasil menerapkan teori parenting A, tapi bisa jadi teori yang sama tidak bekerja di kondisi keluarga yang berbeda.

Anak yang tak semontok anak lain yang seumuran, tak segesit anak tetangga depan, atau tak sepandai anak temen fesbukan barangkali pernah mengusik pikiran. Tapi ingatlah bu, itu bukan berarti kau ibu yang gagal.

Sungguh menjadi ibu bukanlah kompetisi siapa yang anak nya lebih sehat, lebih pintar, lebih shaleh. Menjadi ibu adalah semua perjalanan yang kau lalui bersama anakmu dengan segala jatuh bangunnya, suka dukanya.

Mungkin kau rindu pada rumah yang selalu rapi. Padahal anakmu sungguh menikmati kesempatan yang kau berikan di setiap sudut rumah yang kau bolehkan menjadi tempat bermain dan bereksplorasi.

Mungkin kau merasa bersalah tak mampu memberikan ASI setiap hari. Padahal anakmu merasa nyaman saja berada dipelukmu sambil kau cium pipinya kanan kiri.

Mungkin kau merasa bodoh tak mengilmui berbagai teori parenting masa kini. Padahal instingmu sebagai ibu dan bonding yang kau bangun dengan bayimu sungguh lebih berarti.

Apapun kekurangan mu sebagai ibu. Bagaimana pun jatuh bangun kau rasakan kala menjadi ibu. Percayalah selalu ada tatapan kagum yang tulus di mata, hati, dan pikiran anakmu.

Yang memerhatikan kekhawatiran mu saat sakit menyerangnya.
Yang memedulikan rasa bersalahmu saat kau pamit berkerja.
Yang memaafkanmu saat kau masih perlu menata hati dan jiwa.
Yang melihatmu jatuh bangun mengurus rumah tangga dan dirinya.
Yang bahagia melihat senyummu merekah indah untuknya.
Yang tuluuuuus mencintaimu apa adanya.

Bangun, dan bangkitlah, ibu.
Hapus air mata dan kesedihanmu.
Buang resah dan khawatir yang ada di hatimu.
Buat segala lelahmu menjadi pahalamu.
Peluuk eraat, ciuum, katakan maaf dan terimakasih pada anakmu.
Dan dengan sungguh-sungguh, bisikkan di telinga anakmu itu
I love you

Because our children don’t need a perfect mom. They need a happy one for happy moms raise happy kids.

(Novika Amelia, dariĀ broadcastĀ salah satu grup parenting diĀ whatsapp)

-*-*-*-*-

Awal hamil Alula, saya memang mengalami mual hebat.Ā Lebay,Ā bisa dibilang. Berat badan turun terus-menerus di awal kehamilan. Sulit sekali makanan masuk, itu pun seringkali diakhiri dengan muntah. Lemas luar biasa hampir tak bisa melakukan apapun, hingga akhirnya suami memasang infus cairan untuk saya di rumah demi nutrisi bisa masuk.

Tapi bukan itu yang membuat saya merasa gagal sebagai ibu.

Jatuh bangun di awal kehamilan terasa tak ada apa-apanya saat ALLAH memudahkan proses persalinan saya saat itu. Alula lahir normal spontan, dengan berat badan normal, sehat, cantik, tidak kurang suatu apapun.
Rumah sakit tempat saya melahirkan memfasilitasi IMD dengan sangat baik, sehingga Alula begitu mudah menyusu sejak pertama kaliĀ rooming in, tanpa perlu dibantu atau diajarkan oleh perawat yang saat itu hadir menawarkan bantuan.
ASI keluar sangat lancar sejak awal. Saya sama sekali tak perlu dirisaukan oleh perlu tidaknya menambah susu formula untuk Alula.
Saya bukanĀ working mom. ALLAH memberi kesempatan bagi saya untuk 100% menemani Alula di rumah dan membersamai tumbuh kembangnya hingga saat ini. Membuat saya sempat memperkenalkan Alula MPASI-MPASI homemadeĀ sejak awal enam bulannya, tanpa perlu membeli MPASI instan di luar.

Mungkin saya tak terlaluĀ updateĀ dengan duniaĀ parentingĀ kekinian.

Mungkin sesekali saya marah atau emosi saat kelelahan datang, dan Alula terus saja meminta perhatian saya atas segala tingkah polahnya.

Mungkin saya punyaĀ innerchildĀ yang belum juga berhasil saya taklukkan, sehingga beberapa kali memunculkanĀ sikap dan kata-kata yang tidak tepat untuk Alula.

Tapi, bukan itu semua yang membuat saya pernah merasa gagal menjadi seorang ibu.

Lalu mengapa sayaĀ sempat merasa gagal menjadi seorang ibu?
Untuk Alula?

-*-*-*-*-

Mungkin hal-hal yang ditulis dalam artikel tersebut tidak ada yang secara spesifik menunjukkan rasa gagal saya sebagai ibu.
Tapi, membaca artikel tersebut membuat saya menangis karena sempat merasa gagal menjadi mamanya Alula.

Sebelum punya Alula, bahkan sebelum menikah, saya punya sekian banyak kriteria ideal seorang ibu yang sangat ingin saya wujudkan.

Seorang ibu itu harus cerdas, punya pendidikan tinggi, supaya kelak punya cukup bekal untuk mendidik anak.
Seorang ibu harus punya pendidikan tinggi, supaya kelak anak-anaknya bangga dan punya semangat tinggi untuk menuntut ilmu.
Seorang ibu harus punya pendidikan tinggi, supaya anak-anaknya tidak malu ketika teman-temannyaĀ bertanya tentang orangtuanya.

Saya bahkan tak mampu menyelesaikan studi master saya.

Seorang ibu itu harus kreatif dan terampil dalam banyak hal, sehingga meskipunĀ full timeĀ sebagai ibu rumah tangga, tetap mandiri secara finansial, tidak hanya bergantung pada suami.
Seorang ibu itu harus punya minat dan bakat yang jelas dan bisa dikembangkan, sehingga meskipunĀ full timeĀ mengurus suami dan anak, tetap mampu terus meng-exploreĀ dan mengaktualisasi dirinya dalam bidang yang ia sukai.
Seorang ibu harus punya visi misi hidup yang jelas, mimpi yang terarah, sehingga dapat mendukung suami dan anak-anaknya mencapai cita-cita bersama.

Saya bahkan hingga kini masih sering bingung ditanya soal mimpi. Cita-cita. Hobi yang bisa dikembangkan untuk aktualisasi diri?
Lalu apa yang akan Alula dan adik-adiknya kelak lihat dan contoh dari seorang ibu yang seperti saya
?

Saya mungkin tak banyak mendapat tekanan dari omongan orang yang mengkritik saya sebagai seorang ibu, tapi bertubi-tubi kritik, kecewa dan rasa bersalah yang muncul dari diri saya sendiri rasanya sudah lebih dari cukup membuat saya merasa gagal menjadi seorang ibu.

Alhamdulillaah..Ā artikel Mbak Novika Amelia seolahĀ menamparĀ saya. Menyadarkan saya.
Begitu banyak kemudahan yang ALLAH hadirkan sejak hadirnya Alula di rahim saya.
Putri kecil saya itu tak banyak menyusahkan. Tak pernah sekalipun sakit yang merisaukan. Tak pernah rewel di luar batas wajar, dan relatif mudah ditenangkan.
Ia benar-benar harta yang luar biasa indah bagi keluarga kami.
Seharusnya saya fokus pada rasa syukur atas itu semua.
Tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan mendalam tak berkesudahan atas kegagalan-kegagalan saya pribadi dan ketidakmampuan saya untuk mengatasi kekecewaan terhadap diri sendiri.
Alula masih tetap butuh mama yang bahagia, yang siap menemaninya tumbuh, membimbingnya mencapai shalihah. Menuntunnya menjadi kakak yang baik dan mampu menjadi teladan adik-adiknya kelak.

Saya sangat sadar saya bukan seorang ibu yang sempurna. Sampai kapanpun demikian,
Tapi melihat senyum Alula setiapĀ menyambut kehadiran saya, rasanya saya pun harus selalu siap menjadi seorang ibu yang bahagia.
Untuk Alula.
Dan adik-adiknya.

Because our children don’t need a perfect mom. They need a happy one for happy moms raise happy kids.

 

Wallaaahu a’lam bishshawab.

Sabtu bersama Alula

Heiii.. I’m back! šŸ™‚
Hehee.. udah kayak apaan aja.

Setelah dormansi berkepanjangan di masa-masa kehamilan, menjelang dan setelah melahirkan kemarin, akhirnya posting di sini lagi nih.
Sooo many things to tell, actually. Sampai bingung rasanya mau cerita tentang yang mana dulu.

Jadi ceritanya, pas menjelang lebaran dan tahu film Sabtu bersama Bapak (yang novelnya adalah favorit saya) bakal tayang di bioskop, saya semangat sekali mau nonton. Tahu sih.. HPL saya juga sekitar sepekan setelah Lebaran dan sangat mungkin maju, tapi mengingat sampai hari H Lebaran belum juga merasa kontraksi, tadinya saya (dan adik saya) masih semangat 45 mengajak mamah bapak sekeluarga nonton bareng.
Well.. tapi akhirnya nggak jadi. Pada khawatir bayi di perut saya tiba-tiba minta keluar kali ya.. hehee..

Kekecewaan nggak jadi-jadi nonton akhirnya hilang setelah tanggal 16 Juli lalu saya resmi jadi ibu.
I’m officially a Mom! Yeaay.. alhamdulillaaah.. šŸ™‚
Sedikit cerita, tiga hari sebelum HPL tiba-tiba SpOG saya keukeuh banget si bayi harus segera keluar. Padahal kondisi bayi dkk dalam rahim saya masih baik. Katanya udah mepet HPL, mending dikeluarkan saat kondisi masih baik. Karena kontraksi belum juga muncul, pilihannya cuma dua: coba diinduksi, atau mau langsung caesar.
Duh, rasanya bingung dan agak kesal sama dokternya. Masih ingin sekali lahiran normal soalnya. Lagipula, alasan SpOGnya maksa segera dilahirkan kok rasanya kurang kuat ya? Bukannya kalau anak pertama tu wajar telat-telat sedikit dari HPL asal kondisi janin dkk dalam rahim masih baik? Malah kalau saya baca-baca, lahir di minggu ke 41 (maksimal 42) juga masih aman.

Untungnya, SpOG lain yang saya kunjungi hari berikutnya untuk mendapatkan second opinion sangat menenangkan.
“Nggak papa Bu.. santai aja. Belum HPL juga kan? Kondisinya masih bagus semua kok. Kita coba tunggu kontraksinya aja ya.. masih memungkinkan bisa lahir normal kok. Kalau nggak kontraksi lagi sampai Senin (HPL+3) baru kita ketemu lagi..”

Alhamdulillaah nggak harus menunggu Senin untuk merasakan sensasi kontraksi alias mules-mules luar biasa itu.
Sabtu tanggal 16 pagi, jam 3.30 pas Mamah lagi sahur, tiba-tiba saya mules-mules. Suami saya pas lagi jaga malam di RS. Karena masih ragu itu kontraksi atau bukan, saya nggak langsung cerita ke mamah atau ngabarin suami.

Mencoba tidur lagi sampai subuh ternyata sudah tidak bisa. Mules-mulesnya muncul tiap 10-15 menit sekali. Akhirnya, pas shalat subuh saya cerita ke mamah. Pas mulai muncul flek juga.
Rasa mulesnya sakiiiiit, tapi I’m too excited soalnya memang itu yang lama ditunggu-tunggu muncul. šŸ™‚
Lepas shalat subuh, saya jalan-jalan pagi lagi bareng Mamah seperti hari-hari sebelumnya. “Memancing” agar kontraksinya semakin intens dan segera bukaan.

Singkat cerita, setelah mulai ashar saya akhirnya ke rumah sakit dan masih bukaan 1, selepas isya mulai bukaan 4-5, akhirnya si kakak lahir juga lewat persalinan normal jam 21.28. Alhamdulillaah.

Rasanya luar biasa bahagia dan penuh syukur.
Kata perawat yang membantu saya lahiran, dari 5 bayi yang lahir hampir bersamaan dengan kakak, hanya kakak yang lahir lewat persalinan normal. Selebihnya SC.
Pas lihat kakak keluar dari rahim saya pasca mengejan berulang kali yang rasanya luar biasa itu, saya dan suami speechless. Nggak nangis, nggak bisa ngomong apa-apa. Kami hanya saling melihat satu sama lain. Entah. Rasanya campur aduk. Bahagia luar biasa, haru, lega karena kakak lahir sehat dan selamat.. semua jadi satu.
Saya cuma sempat bilang sama suami: “Nggak kapok kok Mas.” Kakak bakal punya banyak adik. In syaa ALLAH. Hehee.. šŸ˜€

Jadilah hari itu menjadi Sabtu bersama Alula (panggilan yang kami berikan untuk kakak, artinya pertama).
Nggak jadi nonton Sabtu bersama Bapak nggak pa-pa deh.. Sabtu bersama Alula lebih precious! šŸ™‚

Lima Minggu Lagi..!! ā™„ā™„ā™„

Salah satu hal yang membuat saya ngeh kalau blog ini kelamaan nganggur adalah ukuran perut yang semakin besar. Hehee..
Coba aja diinget-inget, sejak nikah tahun lalu dan nggak lama setelahnya hamil.. sampai perut saya sebesar ini.. berapa kali saya bikin postingan baru?
Rasanya bisa dihitung jari. šŸ˜€

Well.. dan ternyata tinggal 5 pekan lagi menuju HPL. Duh.. perasaan baru kemaren deh saya nunjukin hasil testpack positif ke suami..

Saya ingat sekali saat dua garis merah itu muncul dengan jelas untuk pertama kalinya di testpack yang saya gunakan. Saat itu sekitar 2,5 pekan sejak pernikahan kami.
Rasanya luar biasa campur aduk. Senang bukan main (karena kami memang ingin segera punya anak), bingung, kaget, disertai pertanyaan-pertanyaan berulang yang muncul di kepala:
Siap nggak sih saya dapet amanah ini?
Eh.. ini beneran ya? Cepet banget ALLAH ngasihnya..
Hmm.. suami bakal bilang apa ya?

Sekarang pun rasanya tak jauh beda. Luar biasa campur aduk juga.
Tiap saat suami ngelus-elus perut saya sambil ngajak ngobrol “kakak”, pertanyaan berulang itu hadir kembali:
“Siapkah kami menjadi mama dan papa buat kakak nanti?”
Kalau saya tanya ke suami, biasanya dia hanya senyum atau tertawa kecil sambil bilang: “Siap nggak siap tetep harus siap kan?”
Sepertinya yang kami rasakan sama.
Campur aduk.
Super excited dengan akan hadirnya anggota baru di keluarga kecil kami, luar biasa bahagia karena punya anak (yang juga cucu pertama mertua) adalah hal yang memang kami nanti-nantikan, tapi juga ada perasaan takut dan khawatir tidak bisa jadi mama-papa terbaik buat anak kami nantinya.

Hmm.. tapi kayaknya hampir semua calon orang tua anak pertama merasakan hal yang sama kan ya? šŸ˜‰

5 minggu menjelang HPL..
Doakan kami yaa.. agar bisa menyambut kehadiran “malaikat” kecil kami dengan sebaik-baiknya..
Doakan agar segalanya dimudahkan dan dilancarkan.. dan kehadirannya kelak dapat menjadi berkah yang luar biasa.. šŸ™‚