Sejenak Menikmati Kesedihan

#27DaysWritingProject (Day 12)

Postingan kali ini saya ambil dari salah satu materi kajian yang saya peroleh melalui grup Whatsapp. Sayangnya, saya lupa dari grup apa catatan kajian ini. Judul aslinya “Sepuluh Manfaat Kesedihan”, disampaikan oleh Ustadz Cahyadi Takariawan. Seperti biasa, saya tuliskan di sini dengan beberapa perubahan redaksi kalimat yaa.. 🙂

——————————————————–

Setiap manusia selalu berupaya meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Namun, tidak jarang obsesi mencapai derajat bahagia itu justru membuat kita menjadi bersedih.
Saat kesedihan hadir, cobalah untuk mengizinkan diri sejenak menikmatinya. “Jangan bersedih karena kita bersedih”, tapi cobalah untuk mencerna hikmahnya. 🙂

Beberapa alasan mengapa sesekali kita perlu menikmati kesedihan, antara lain:

  1. Orang yang tengah merasakan kesedihan cenderung lebih bisa bersikap empati, tidak egois, dan mampu menjadi pendengar yang baik.
  2. Orang yang tengah sedih cenderung lebih bisa memahami kelemahan dan kekurangan dirinya. Ini penting untuk pintu introspeksi bagi upaya perbaikan diri.
  3. Kesedihan membuat seseorang berpikir lebih mendalam, merasa memerlukan nasehat dan bimbingan orang lain, dan lebih bisa menerima banyak saran/masukan.
  4. Kesedihan membantu seseorang untuk mengenali apa yang penting dan apa yang tidak penting dalam kehidupan, sehingga mampu membuat prioritas dengan lebih baik.
  5. Kesedihan adalah penyeimbang dalam kehidupan seseorang. Kebahagiaan hakiki akan dirasakan oleh orang yang pernah merasakan kesedihan.
  6. Kesedihan memberi kesempatan bagi seseorang untuk bersikap lebih dewasa dan matang dalam kejiwaan. Ia akan menjadi lebih kuat dalam menghadapi benturan dalam kehidupan.
  7. Rasa sedih memberikan ruang bagi kepribadian untuk berkembang. Kepribadian yang terus-menerus berkembang dalam kebaikan menjadi salah satu kunci sukses dalam kehidupan.
  8. Kesedihan adalah sarana untuk lebih mendekat kepada ALLAH, memperbanyak amal ibadah, taubat, dzikir, dan berupaya meningkatkan ketaatan padaNYA.
  9. Kesedihan dapat menghilangkan sifat angkuh dan sombong. Banyak orang berupaya melawan kesedihan, tetapi membuatnya justru tidak rendah hati (tawadhu’).
  10. Kesedihan membantu seseorang untuk lebih mengenal dirinya sendiri, mengenali sisi-sisi emosinya, dan berupaya untuk mengendalikannya secara positif.

Nah.. ternyata kesedihan pun ada positifnya, kan? 🙂
Mari sejenak berikan ruang dalam diri untuk merasakannya.

Wallaahu a’lam bishawab.

Menikmati Momen

Ramadhan udah mau habis. Kemungkinan besar dua malam lagi, gema takbir idul fitri akan mulai terdengar bersahutan di mana-mana. Hari-hari gini pusat perbelanjaan pasti udah makin penuh sama orang-orang yang kejar tayang beli baju Lebaran, atau preparasi bahan masakan untuk diolah jadi menu-menu spesial menyambut hari raya.
Semoga masjid-masjid besar juga nggak kalah penuh sama orang-orang yang berupaya mengoptimalkan i’tikaf di hari-hari terakhir. Masih ada kesempatan satu malam lagi untuk memaksimalkan harap menjemput lailatul qadr yang istimewa itu.

Saya, mungkin juga bersama para wanita yang belum beruntung bisa merasakan puasa (dan tarawih) hari pertama tahun ini, disibukkan oleh hal yang lain.
Harap-harap cemas.
Mudah-mudahan tahun ini disempatkan dulu ikut shalat ied, baru deh dikasih libur shalat lagi. Huhuu.. >_<

Padahal mah harusnya nggak pake acara kuatir atau cemas segala yaa?
Toh bisa dan boleh shalat atau enggak juga ALLAH yang ngasih dan pegang kendali. Hehee.. 😀

Jadi kepikiran kasus-kasus lain yang serupa tapi tak sama nih.

Misalnya kalau pas kita masbuq ke masjid, imam udah selesai baca al Fatihah.. pasti deh refleks kita lari-lari nggak santai menuju tempat makmum. Pakai mukena secepat kilat, dan sedapat mungkin segera takbiratul ihram sebelum imam rukuk atau i’tidal.
Demi dapet rakaat pertama bareng imam, kadang kita nggak peduli sama tenang dan siapnya hati dan tubuh kita dalam memulai shalat, atau lebih jauh lagi jangan-jangan makmum lain yang udah duluan shalat terganggu sama grusa-grusunya kita ngejar rakaat pertama? 😦
Dulu pernah dapet kajian soal ini juga sih. Kalau nggak salah yang ngisi materi Ust. Aris Munandar. Tentang kesalahan-kesalahan yang sering kita lakukan berkaitan dengan shalat. Salah satunya itu tadi, berlari-lari atau terburu-buru memasuki masjid ketika masbuq.

Hmmm..
Kita tuh seringkali gitu. Punya harapan tertentu dalam hidup kita, berupaya keras meraih harapan itu, tapi suka lupa menikmati prosesnya.
Ingin sekali mencapai suatu titik di masa depan, tapi jadi lalai menikmati setiap momen yang terjadi saat ini.
Padahal, semua yang terjadi dan kita lalui itu pasti sudah terangkum rapi dalam skenarioNYA.
Nggak ada yang bisa kita lakukan untuk membuat masa depan hadir lebih cepat atau sebaliknya.
Kalau emang udah jatahnya libur shalat mah, mau kita cemaskan atau tidak, ya tetep aja nggak bisa ikut shalat ied.
Kalau emang udah keburu telat dateng ke masjid, mending nggak dapet rakaat pertama bareng imam daripada nggak dapet khusyu’nya rakaat pertama gara-gara keburu-buru. Apalagi kalau malah mengganggu jamaah lain.

Nikmati saja saat ini. Maksimalkan momen yang ada untuk jadi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. 🙂
Lagi jatahnya menikmati hari-hari terakhir Ramadhan, optimalkan saja untuk beribadah lebih giat, tilawah lebih banyak, shalat lebih khusyu’.
Ingin ikut i’tikaf tapi kondisi nggak memungkinkan karena disuruh pulang dan ketemu orang tua, nikmati saja. Maksimalkan birrul walidainnya, dan banyak bersyukur. Nggak semua orang bisa merasakan sahur dan buka bersama orang tua dan keluarganya.

Temen-temen seangkatan (bahkan adik kelas) udah pada nikah dan kita belum? Nikmati saja masa-masa single belum ada tuntutan ngurus suami. Puas-puasin ikut kegiatan-kegiatan ekstra sesuka hati, ikut kajian dan seminar sana-sini, jalan-jalan bareng temen-temen.. Belum tentu nanti setelah menikah bisa sebebas itu karena izin suami akan jadi syarat utama, kan? Hehee.. 😀

Yang udah nikah dan belum juga dikasih momongan, nikmati aja. Puas-puasin bikin acara-acara spesial dan pacaran bareng suami (atau istri). Kalau udah ada anak nanti, belum tentu bisa sebebas itu karena waktu kita akan tersita dengan ngurusin anak, kan? 😀

Nah kaaan, ujung-ujungnya nyerempet lagi soal nikah.. 😛

Intinya sih gitu. Nikmati saja momen yang ada saat ini. Lalui dengan senyum, nikmati proses memaksimalkan saat ini menjadi masa depan yang lebih baik.
Toh di waktu yang tepat dan teristimewa nanti, masa depan yang kita harapkan itu pun akan menjadi saat ini. 🙂

Wallaahu a’lam bishawab.

Mau Dapet Apa? Tergantung Niatnya. :)

Mungkin bukan cuma saya yang pernah bertanya-tanya:
Bolehkah kita melakukan sesuatu (amalan akhirat) dengan tujuan dunia?
Misalnya memelihara shalat dluha dengan tujuan ALLAH melancarkan rizqi, bersedekah agar ALLAH menyembuhkan penyakit, berinfaq banyak supaya ALLAH mengembalikannya dalam nominal yang berlipat ganda.. etc.. etc..

Hmm.. sebenernya postingan ini nggak bakal bahas bener2 secara hukumnya sih. Saya belum punya kompetensi yang memadai untuk bicara ranah hukum syariat secara detail. Kalau memang dirasa perlu, silahkan bertanya ke yang lebih ahli. 🙂 Hehe.. ngeles. 😀

Lewat tulisan ini, saya hanya mencoba membagi sudut pandang saya yang sederhana.

Pernah baca (atau bahkan hafal) hadits arba’in nomer 1 tentang niat kan? 🙂

Berkaca dari hadits tersebut, setiap amal kita akan dinilai (dan dibalas) tergantung pada niatnya. 🙂
Pemikiran sederhana saya mengartikannya begini: Kalau kita shalat karena ingin kaya, kita akan kaya. Kalau kita sedekah karena ingin disembuhkan penyakit, kita akan sembuh. Kalau kita berinfaq karena ingin dibalikin infaq kita dengan nominal berlipat ganda, ya itulah yang akan kita dapat. Tapi.. HANYA itu. 🙂

Coba kita ubah niatnya jadi yang lebih “mahal”. Shalat biar kaya, biar cepet dapet jodoh, biar makin disayang orang tua. Hasilnya? In syaa ALLAH kita akan dapet 3 hal itu!! 🙂 Atau mau di”naikkin” lagi level niatnya? Coba pikirkan suatu kenikmatan duniawi termahal, dan niatkan shalat kita untuk hal tersebut. Bakal dapet deh.. Hehe.. 😀 Tapi sekali lagi, HANYA itu yang kita dapet.

Sekilas sih enak banget yaa..? Betapa beruntungnya, kita bisa dapetin apa aja yang kita mau dengan (sekedar) melakukan satu amalan akhirat. Tapi tapi tapiii.. coba deh dipikir lagi. Benarkah dengan tujuan “berbau” duniawi (sebanyak apapun) dalam niat kita, kita beruntung??

Ternyata, nggak juga.

Coba bandingkan jika kita meniatkan amal kita untuk akhirat. Untuk ALLAH. Kita shalat dengan niat untuk ALLAH semata. Apa yang akan kita dapat? In syaa ALLAH kita akan makin dicintai ALLAH. Berhentikah sampai di sana? Tentu tidak!! Kalau ALLAH udah cinta sama kita, ALLAH bakal ngasih apapun yang kita mau. (Sekedar) “bekal” untuk mengantar ke surga? Pahala? Berbagai nikmat duniawi? Apa sih yang nggak ALLAH kasih kalau ridlaNYA udah berhasil kita raih? Apa sih yang nggak ALLAH kasih kalau cintaNYA udah tercurah untuk kita? 🙂 Malah dapet semua kan, tu? 🙂

Jadi, manakah yang lebih menguntungkan? Hehe.. ^_^

Oke, mungkin penjabaran pemikiran sederhana saya ini terkesan abstrak. Nggak riil. Bicara soal pahala atau niat untuk akhirat kan ghaib banget. Nggak bisa dilihat. Belum bisa dirasakan. Tapi, bukankah nikmat ALLAH juga gak semuanya bersifat inderawi? Bukankah nikmat-nikmat duniawi hanya keciiiiiil sekali nilainya dibandingkan nikmat-nikmatNYA yang masih “abstrak” di akhirat nanti?

Tapiii.. Bukankah itu berarti kita justru sangat merugi jika niat-niat dalam amalan kita hanya bervisi duniawi?

Pengetahuan manusia itu kecil banget. Kalaupun semua ilmu yang semua manusia miliki digabungin jadi satu, dilipatgandakan sejuta kali, tetep aja nilainya cuma setetes air di samudra kalau dibandingin dengan ilmu ALLAH. Atau malah lebih kecil lagi dari itu.

Jadi, kalau saya mikirnya, kenapa kita masih sering bervisi duniawi dalam niat-niat kita, itu karena manusia taunya cuma itu. Cuma tau kalau kaya itu enak, makanya minta kaya. Cuma tau kalau sehat itu nikmat, makanya minta sehat. 🙂 Belum tahu (dan ngerasain) kalau pahala itu nikmatnya ngalah-ngalahin nikmat duniawi, jadinya nggak minta pahala. 😀

Ilmu (inderawi) kita tentang kenikmatan itu masih sebatas duniawi, makanya kita “cuma” minta itu. 🙂

Kalau ada yang masih bertanya: Jadi, hukumnya boleh apa nggak melakukan amalan akhirat dengan niat duniawi? Saya sendiri belum tahu jawabannya. Lebih tepatnya, nggak berani ngasih jawaban boleh atau nggak. (Hehe..nyesel yaa baca postingan ini? 😀 )

Tapi setidaknya, jadi mikir dari segi mana yang lebih menguntungkan, kan? Pilih bervisi duniawi atau ukhrawi? 🙂

Wallaahu a’lam bishawab.

 

*sekedar pemikiran sederhana dari seseorang yang ilmunya masih sangat sederhana*