#1minggu1cerita: karena blogger harus aktif blogging

Ada yang punya blog tapi lama dianggurin tanpa postingan baru?
Ada yang ngaku blogger tapi entah sudah jutaan tahun lamanya ngga aktif blogging?
Ada yang semangat nulis blognya cuma muncul di awal, jadi semua blog post hanya berakhir di draft?
Ada yang butuh dipaksa-paksa dulu, ditagihin melulu, atau ditularin semangat nulis sama orang lain dulu baru bisa keluar ide buat blogging?

Saya ngacung tinggi sambil tutup muka! Hehee.. 😀

-*-*-*-*-

Ini pekan kedua saya ngeblog bareng #1minggu1cerita. Satu komunitas blogger yang secara konsisten memaksa para membernya untuk nulis minimal 1 postingan di tiap pekannya.

1minggu1cerita

#1minggu1cerita berawal dari inisiatif kakak-kakak kece seperti Rahyang, Anil, Guli, Selly, Agustina, Jessis, dan Shelly Asmauliyah pada pertengahan Juni 2014 untuk membentuk komunitas blogger. Tujuannya agar para blogger yang tergabung dalam komunitas ini punya komitmen menulis paling tidak satu cerita dalam satu pekan.
Grup bikinan para founder ini (ceileeeeh.. founder cyiiiin 😛 ) ternyata berhasil memicu kreativitas para member dalam menulis blog. Disatukan dalam komunitas yang memiliki kesamaan minat, menulis, rupanya semakin memudahkan para member untuk konsisten menulis. Lebih jelas tentang #1minggu1cerita dan segala macam update-annya bisa dilihat di sini yaa.. 😉

 

Saya ingat sekali bagaimana awalnya saya terjebak di komunitas ini. Ngga sengaja nemu #1minggu1cerita di Instagram sekitar tahun lalu, dan sukses dibuat tertarik dan penasaran untuk join. So, waktu ada pendaftaran member di akhir Desember kemarin, ikutlah saya daftar. Ngisi data di Google form, lalu katanya akan dihubungi lagi via email dan diajak gabung grup Whatsapp menjelang akhir Januari.

Email cinta dari admin #1minggu1cerita masuk pas saya lagi leyeh-leyeh di Kebonrojo Blitar awal Januari kemarin. Langsung excited dan sumringah bacanya. Ngga sabar segera diinvite ke grup Whatsapp buat ditagihin postingan tiap pekan. Hehee..

Mungkin buat para blogger yang udah rutin nulis, rajin posting dan konsisten ngeblog, ngga penting lagi ikutan komunitas semacam ini.
Tapi buat blogger abal-abal yang ngakunya blogger tapi jarang blogging kayak saya, #1minggu1cerita punya peran yang luar biasa biar saya ngga repot harus selalu bersih-bersih sarang laba-laba dulu tiap kali posting tulisan baru saking lamanya blog ini dianggurin.

Lagipula, #1minggu1cerita ngga cuma berperan memaksa saya menulis tiap pekan, tapi juga bikin saya kenal sama member-member –dan admin– keren yang blognya pada oke punya. Bikin makin semangat blogwalking! 🙂

Yang saya luar biasa salut adalah para adminnya. Sembilan orang admin #1minggu1cerita ini rela meluangkan waktunya buat ngurusin 211 member yang ada. Mulai dari ngirim pesan-pesan cinta via email dan media-media sosial, saling kasih semangat menulis (yang ini sih antarmember juga yaa), baca dan ngasih penilaian buat tulisan member yang sebanyak itu dan pastinya bikin mata jereng kalau pas ada event GAsampai rese’ nagihin yang pada belum setor atau hobi mepet-mepet deadline setoran kayak saya. Ups! >_<

admin

Terima kasih, admin-admin kece!! ^_^ (Ada satu admin baru yang belum dicantumin di sini).

Pekan kedua ini, saya masih betah jadi deadliner nih. Hari terakhir batas waktu setor baru posting. Pekan lalu lebih parah sih.. bener-bener injury time setornya beberapa menit menjelang ganti hari! 😛
Mudah-mudahan, ke depannya saya makin semangat nulisnya. Biar bisa setor di awal pekan kayak member-member rajin lainnya dan ngga keburu ditagihin Bang Phadli. Hehee..

-*-*-*-*-

So..
Tertarik gabung di komunitas #1minggu1cerita seperti saya?
Join aja di periode pendaftaran berikutnya!
Kalau ngga salah, Mei ini mau dibuka lagi looooh..

Semangat menulis! 🙂

 

(Ngaku) Blogger tapi Nggak Ngeblog

Ini semacam pengakuan “dosa” sih.. 😀
Masa’ postingan terakhir di blog ini udah November taun lalu??
Hwaaaa.. maafkan sayaaa.. para pembaca..!! 😦
Kayak banyak yang mantengin blog kamu aja sih, Zulfah.. 😛

Jadi ceritanyaaa.. dari kemaren-kemaren (kemaren November maksudnya..) saya emang kebanyakan alasan nggak update2 blog. Banyak kerjaan lah.. masih sibuk adaptasi pascanikah lah.. lanjut adaptasi dengan hadirnya kehidupan baru di perut saya lah.. riweuh pindahan ke kontrakan lah.. di kontrakan nggak ada wifi lah.. de es be.. de es be..
Intinya sih emang saya aja yang kebanyakan alasan.
Sibuk atau enggak kan relatif. Lagian sesibuk-sibuknya, kalau emang niat ngeblog mah bisa-bisa aja kan?

Makin malu lagi saya sejak gabung di Komunitas Blogger Ikatan Alumni Insan Cendekia (IAIC). Gimana enggak? Ngaku blogger dan gabung komunitas, tapi sejak awal gabung blognya malah dibiarkan nganggur! Huks.. 😥
Aktifnya cuma nyumbang tulisan di buku perdana komunitas aja. Ntar saya cerita banyak tentang bukunya ya.. sekalian promosi siapa tau ada yang mau order. Hihii 😉

Jadiii sebenarnya postingan kali ini nggak penting-penting amat buat dibaca. Tapi penting banget buat saya. Setidaknya jadi lecutan semangat untuk serius kembali menulis. 🙂
Suami aja udah (entah sejak kapan) nyuruh saya rajin nulis lagi. Sayanya aja yang banyak excuse.

Bismillaaah.. Ide-ide tulisan di benak saya udah banyak juga nih.
Mungkin saya perlu challenge diri sendiri lagi kayak taun lalu, biar ide-ide itu segera tertuang di sini. 🙂

Semangat menulis!!
Keep blogging, keep writing.. 🙂

 

27 Minus Banyaaaak..!!

#27DaysWritingProject (Day 27)

Nggak terasa, ternyata sudah menginjak hari ke-27 sejak launching #27DaysWritingProject.
So.. this is the last day.
Dan ternyata saya masih jauh dari kata berhasil. Banyak nggak konsistennya nih.. 😦
Belum sukses nulis tiap hari, belum sukses juga memenuhi target minimal 27 postingan dalam 27 hari.
Postingan ini aja baru yang ke-20 selama 27 hari ini. Huks..

Tapi positifnya, upaya menchallenge diri sendiri ini cukup sukses membuat saya lebih aktif menulis. 🙂
Kangen ngeblog kalau sehari aja absen, atau setidaknya jadi lebih rajin menjelajah ke “tetangga-tetangga sebelah” dan sesekali meninggalkan jejak. Hehee.. 😀
Jadi kenal banyak penulis yang sangat aktif dan menginspirasi, jadi semakin banyak belajar juga akhirnya.
Alhamdulillaaah. 🙂

Kayaknya tipe-tipe saya ini memang harus sering menchallenge diri sendiri semacam ini deh. Kalau nggak ada deadline, kalau nggak ada paksaan, konsistensi dalam melakukan sesuatunya sering kalah sama malas! Hmm..

Semoga ke depannya saya semakin semangat memenuhi blog ini dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat yaa teman-temin..
Doakan saya!! 🙂

Setelah ini.. bikin self challenge apa lagi yaa? 😉

Welcoming 27: #27DaysWritingProject (Day 1)

Setelah beberapa tahun terakhir nggak menganggap ulang tahun sebagai hari yang perlu dirayakan atau dianggap spesial, jadi lah hari ini pun awalnya saya anggap biasa aja.
Sampai tiba-tiba saya tersadar. Udah dua puluh tujuh tahun. Dan ngerasa belum ngapa-ngapain sebagai manusia. Masih gini-gini aja. Huuukkks.. 😦

Gambar diambil dari sini.

Gambar diambil dari sini.

Kalau mau bicara soal penyesalan, kayaknya nggak akan ada habisnya.
Dua puluh tujuh tahun. Terlalu banyak mimpi yang belum (diupayakan) tercapai, terlalu banyak harap yang belum (diupayakan) terwujud, dan terlalu minim manfaat yang sudah dibagi untuk orang lain.
Dua puluh tujuh tahun. Makin tua secara fisik, tapi makin sedikit jatah usia di dunia.
Dua puluh tujuh tahun.. dan makin merasa kerdil dan nggak ada apa-apanya.

Tapi postingan kali ini nggak mau lama-lama bahas soal penyesalan sih.. hehee.. 😀
Bicara angka 27, jadi kepikiran juga tentang betapa seringnya saya bikin blog ini nganggur.
Makin jarang aja saya nulis, padahal rasanya ide di otak kadang sampai ngantri minta dituangkan dalam tulisan. Sayanya aja yang males. 😛
Belum lagi koneksi internet di rumah tu sering banget errornya. Lengkap sudah kemalasan saya.
Padahal (lagi-lagi) itu cuma alasan saya aja sih. Kalau sudah diniatkan nulis, pasti bisa kok.. 🙂

Nah, makanya hari ini saya mau coba challenge diri sendiri.
Mulai hari ini sampai 27 hari ke depan, saya akan nulis minimal 1 postingan per hari.
Doakan saya bisa konsisten menulis yaa..
Dan mudah-mudahan, ini bisa jadi salah satu langkah perbaikan diri saya agar lebih produktif dan bermanfaat bagi orang lain juga. Aamiin. 😉

Gambar diambil dari sini.

Gambar diambil dari sini.

Doakan saya yaa teman-temiiin..!! (ala benteng Takeshi) 😀 😀 😀

Mengapa Menulis?

Bagi saya, menulis adalah proses melegakan pikiran. Manusia diciptakan dengan kerja otak yang luar biasa, yang membuat pikirannya penuh dengan hal-hal yang perlu diutarakan.
Ada yang senang menyampaikannya melalui ucapan,
Ada yang suka menyampaikannya melalui diskusi bersama orang lain,
Ada yang nyaman menyampaikannya melalui proses monolog pribadi (seperti saya, pada kondisi-kondisi tertentu),

Ada pula yang memilih menyampaikannya lewat tulisan.

Gambar diambil di sini.

Gambar diambil di sini.

Saya ingat sekali seorang guru bahasa Indonesia saya ketika SD dulu pernah menyarankan kami untuk selalu menyimpan pulpen (atau pensil) dan notes kecil di dalam saku, agar ke manapun kita pergi, dua benda sederhana itu selalu terbawa.
Untuk apa?
Untuk menuliskan pikiran-pikiran kita.
Menuliskan lintasan-lintasan kata yang tercetus begitu saja, frasa-frasa sederhana yang jika dikembangkan dapat menjadi sajak yang purna, atau kalimat-kalimat penuh makna yang tak sengaja kita dengar dan perlu segera dituliskan agar tak mudah terlupa.

Perkembangan teknologi informasi semakin memudahkan kita menuangkan pikiran-pikiran kita secara instan.
Tak perlu lagi membawa notes kecil atau pulpen pun, selalu ada handphone dengan berbagai macam media menulis di dalamnya. Tak sebatas aplikasi notes atau teks, tapi juga berbagai media penyampai pesan ataupun media sosial yang sangat mewadahi kita dalam bersuara melalui tulisan.
Saya punya teman yang sangat aktif menyampaikan quotes yang didengarnya melalui status singkat di BBM, Whatsapp, atau LINE. Kalau panjang, coba aja cek status Facebooknya. Jadi kalau pas mengikuti kajian atau seminar tertentu bareng beliau, nggak usah kuatir ketinggalan mencatat kata-kata pentingnya. Quote spesial yang kita dengar pasti masih bisa kita baca ulang lewat status-statusnya. Hehee.. 😀

Saya sangat bersyukur dengan adanya berbagai media sosial maupun platform blog yang memiliki kekhasan masing-masing, sehingga saya bisa memanfaatkannya untuk menulis sesuai kebutuhan.
Twitter, misalnya, untuk menuangkan pikiran-pikiran singkat yang sering terlintas tiba-tiba.
Kalau pikiran-pikiran panjang yang perlu disampaikan, ada banyak platform blog yang bisa dipilih untuk menyampaikannya.
Wordpress ini pun spesial bagi saya, karena tak semua pemikiran saya disampaikan di sini. Blog ini saya khususkan untuk pemikiran-pemikiran yang bisa saya gunakan sebagai cermin bagi diri sendiri.
Bukan sekedar kata-kata yang terlintas saja, tapi harus punya makna. Harus ada manfaat yang bisa diperoleh dari menuliskan (atau membaca) isi blog ini.
Setidaknya, manfaat bagi saya sendiri.

Seperti yang saya tuliskan di pembuka blog ini: …media berkaca dalam putaran masa…
Ya, blog ini memang saya buat untuk itu. Sebagai media saya berkaca.
Mengingatkan tentang hal-hal yang seharusnya saya lakukan,
Mengingatkan untuk meninggalkan hal-hal yang ingin (dan harus) saya hindari,
Merekam pengalaman-pengalaman yang telah saya pelajari hikmahnya, sehingga bisa menjadi pengingat di kemudian hari.

Jadi, kalau blog ini lama nganggur, lama saya biarkan tanpa tulisan,
Boleh banget loooh saya diingatkan.
Karena bisa jadi, itu adalah saat-saat saya malas berkaca, malas berintrospeksi..
Saat-saat saya malas mengambil pelajaran dari hari-hari yang saya lalui..
Saat-saat saya butuh sekali “ditampar” dengan teguran dan nasehat. 🙂

Gambar diambil di sini.

Gambar diambil di sini.

Semoga tulisan ini pun, dapat menjadi penyemangat saya untuk terus menulis! ^_^