Etika Mengunggah Foto

Postingan keren Mbak Tjetje yang perlu dibaca nih.. 🙂
Mari biasakan “saring sebelum sharing”..

Ailtje Ni Diomasaigh

Semenjak kehadiran media sosial dan telephone genggam pintar, fotografi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita (dan seringkali diasosiasikan dengan hobi mahal), berubah menjadi hobi yang bisa diakses semua orang. Fotografi menjadi media untuk berbagi, tak hanya momen baik dalam hidup, tetapi juga momen yang penuh kesedihan, dari kelahiran, kesakitan, hingga kematian. Sayangnya kemudahan mengambil foto tidak dibarengi dengan etika untuk menghormati orang lain.

Kelahiran di banyak negara, atau bahkan semua negara, dirayakan sebagai momen yang membahagiakan. Bagi orang tua baru (maupun tante baru seperti saya), mengabadikan setiap momen dan membaginya di sosial media kemudian menjadi hobi baru. Tak ada yang salah dengan berbagi foto bayi-bayi paling lucu sedunia tersebut, asal gak terlalu sering dan gak bikin orang muak, tetapi seperti pernah dibahas Mbak Yoyen disini, hobi baru ini membuat lahirnya sharent, sharing parent. Menurut pendapat saya, ada kecenderungan orang tua jaman sekarang kebablasan dalam mengunggah foto anaknya…

View original post 705 more words

Advertisements

Mengapa Menulis?

Bagi saya, menulis adalah proses melegakan pikiran. Manusia diciptakan dengan kerja otak yang luar biasa, yang membuat pikirannya penuh dengan hal-hal yang perlu diutarakan.
Ada yang senang menyampaikannya melalui ucapan,
Ada yang suka menyampaikannya melalui diskusi bersama orang lain,
Ada yang nyaman menyampaikannya melalui proses monolog pribadi (seperti saya, pada kondisi-kondisi tertentu),

Ada pula yang memilih menyampaikannya lewat tulisan.

Gambar diambil di sini.

Gambar diambil di sini.

Saya ingat sekali seorang guru bahasa Indonesia saya ketika SD dulu pernah menyarankan kami untuk selalu menyimpan pulpen (atau pensil) dan notes kecil di dalam saku, agar ke manapun kita pergi, dua benda sederhana itu selalu terbawa.
Untuk apa?
Untuk menuliskan pikiran-pikiran kita.
Menuliskan lintasan-lintasan kata yang tercetus begitu saja, frasa-frasa sederhana yang jika dikembangkan dapat menjadi sajak yang purna, atau kalimat-kalimat penuh makna yang tak sengaja kita dengar dan perlu segera dituliskan agar tak mudah terlupa.

Perkembangan teknologi informasi semakin memudahkan kita menuangkan pikiran-pikiran kita secara instan.
Tak perlu lagi membawa notes kecil atau pulpen pun, selalu ada handphone dengan berbagai macam media menulis di dalamnya. Tak sebatas aplikasi notes atau teks, tapi juga berbagai media penyampai pesan ataupun media sosial yang sangat mewadahi kita dalam bersuara melalui tulisan.
Saya punya teman yang sangat aktif menyampaikan quotes yang didengarnya melalui status singkat di BBM, Whatsapp, atau LINE. Kalau panjang, coba aja cek status Facebooknya. Jadi kalau pas mengikuti kajian atau seminar tertentu bareng beliau, nggak usah kuatir ketinggalan mencatat kata-kata pentingnya. Quote spesial yang kita dengar pasti masih bisa kita baca ulang lewat status-statusnya. Hehee.. 😀

Saya sangat bersyukur dengan adanya berbagai media sosial maupun platform blog yang memiliki kekhasan masing-masing, sehingga saya bisa memanfaatkannya untuk menulis sesuai kebutuhan.
Twitter, misalnya, untuk menuangkan pikiran-pikiran singkat yang sering terlintas tiba-tiba.
Kalau pikiran-pikiran panjang yang perlu disampaikan, ada banyak platform blog yang bisa dipilih untuk menyampaikannya.
Wordpress ini pun spesial bagi saya, karena tak semua pemikiran saya disampaikan di sini. Blog ini saya khususkan untuk pemikiran-pemikiran yang bisa saya gunakan sebagai cermin bagi diri sendiri.
Bukan sekedar kata-kata yang terlintas saja, tapi harus punya makna. Harus ada manfaat yang bisa diperoleh dari menuliskan (atau membaca) isi blog ini.
Setidaknya, manfaat bagi saya sendiri.

Seperti yang saya tuliskan di pembuka blog ini: …media berkaca dalam putaran masa…
Ya, blog ini memang saya buat untuk itu. Sebagai media saya berkaca.
Mengingatkan tentang hal-hal yang seharusnya saya lakukan,
Mengingatkan untuk meninggalkan hal-hal yang ingin (dan harus) saya hindari,
Merekam pengalaman-pengalaman yang telah saya pelajari hikmahnya, sehingga bisa menjadi pengingat di kemudian hari.

Jadi, kalau blog ini lama nganggur, lama saya biarkan tanpa tulisan,
Boleh banget loooh saya diingatkan.
Karena bisa jadi, itu adalah saat-saat saya malas berkaca, malas berintrospeksi..
Saat-saat saya malas mengambil pelajaran dari hari-hari yang saya lalui..
Saat-saat saya butuh sekali “ditampar” dengan teguran dan nasehat. 🙂

Gambar diambil di sini.

Gambar diambil di sini.

Semoga tulisan ini pun, dapat menjadi penyemangat saya untuk terus menulis! ^_^