karena saya (mungkin) tak akan pernah siap

Baru saja saya mendapat kabar wafatnya ibu dari salah seorang kakak kelas saya.
Lalu Tes! Refleks saya meneteskan air mata.
Ini bukan pertama kalinya. Beberapa waktu lalu, ketika mendengar kabar duka wafatnya ayah dari seorang kakak kelas saya, saya pun refleks menangis. Pun ketika beberapa hari lalu seorang teman yang ayahnya telah beberapa hari koma mengirimkan pesan singkat ke HP saya, “Teh, Papah udah nggak ada.” Bahkan ketika berita wafatnya seorang legenda srimulat kemarin pertama kali terbaca, air mata saya refleks jatuh.

Sungguh, tak satupun dari mereka yang benar-benar saya kenal dekat. Beberapa di antaranya malah tak pernah saya kenal. Cengengkah saya? Menangisi kematian orang-orang yang tak benar-benar saya kenal?

Ya, mungkin saya memang cengeng.
Tapi saya menangis bukan karena itu.
Saya menangis karena usia-usia mereka yang dipanggil ALLAH tak jauh dari usia Mamah-Bapak. Jika mereka sudah dipanggil ALLAH saat ini, mungkinkah ALLAH pun sudah bersiap memanggil Mamah dan Bapak? 😥
Dan mengingat kedekatan emosional dengan mereka yang baru saja akhir-akhir ini saya maknai sepenuhnya, saya sama sekali jauh dari siap jika itu terjadi.
Saya (mungkin) tak akan pernah siap.

Tau nggak, tiap kali ada kabar duka tentang ayah atau ibu seseorang, yang terbayang adalah kematian Mamah dan Bapak yang mungkin saja sewaktu-waktu datang.
Sungguh, saya nggak akan pernah siap kehilangan mereka.. 😦

Terlintas di benak saya betapa banyak waktu terbuang selama ini, tersia-sia tanpa sempat memaksimalkan bakti pada mereka..
Betapa banyak kecewa mereka atas saya, yang belum sempat saya tutupi dengan rasa bangga atas prestasi yang saya persembahkan untuk mereka..
Betapa banyak umpatan, kemarahan, kedengkian saya pada mereka yang belum sempat saya istighfari dan mohonkan maaf pada mereka..
Betapa banyak luka yang saya torehkan di hati-hati mereka, yang belum sempat saya obati dengan pengabdian sepenuh hati..

Saya masih banyak hutang.
Hutang ketidakhadiran hati untuk mereka selama ini..
Ketidakpedulian saya atas berjuta kasih sayang yang mereka tawarkan selama ini..
Penolakan demi penolakan yang saya lakukan atas peluk dan dekap mereka..
Ucapan cinta dan sayang yang masih sering terasa berat terucap dengan nyata..
Tangis sedih mereka karena saya yang terlampau sering terabaikan begitu saja..
Lantunan doa tak henti dari mulut-mulut mereka yang tak saya sambut dengan doa untuk mereka..

Saya tak mampu membayangkan, jika mereka meninggalkan saya sebelum saya purna menjadi seorang shalihat, lalu doa-doa saya tak mampu mengalirkan pahala amal bagi mereka hingga surga..
Saya tak mampu membayangkan, jika saya menikah dan bukan Bapak yang menikahkan saya, mengucapkan ijab dan berjabat tangan dengan imam baru yang akan menjadi suami saya..
Saya tak mampu membayangkan, jika saya menikah dan bukan Mamah yang duduk di samping saya, menemani saya mendengarkan ijab qabul dengan khidmat..

ALLAH..
Aku tahu tak baik memohon atas perpanjangan usia..
Harusnya aku meminta keberkahan atas berapapun usia yang Kau beri kan, Ya ALLAH?
Tapi untuk kali ini, izinkan aku memohon panjangkan usia Mamah-Bapak..
Izinkan aku memohon panjangkan usiaku..
Izinkan aku lebih sempurna dalam memaknai kehadiran mereka..
Izinkan aku untuk seutuhnya menghadirkan hati untuk mereka..

Izinkan aku untuk sepenuhnya siap kehilangan (atau meninggalkan) mereka,
sebelum Kau panggil siapapun kami menghadapMU.

Advertisements

Jadi Anak Tunggal?

Menghitung hari..
Dua hari menjelang keberangkatan kembali ke Jogja. Kembali ke rutinitas semula yang selama meliburkan diri ditinggalkan sejenak.
Dua hari menjelang kembali ke dunia “nyata”. Berjuang dengan penelitian tesis, mengurus kos titipan Mamah yang kedatangan penghuni-penghuni baru di tahun ajaran baru, bantu Mamah-Bapak-Abang jagain kakak yang lagi hamil enam bulan, etc…etc…
Kembali berpisah rumah dengan Mamah-Bapak. 😦

Kalau dulu sih yaa.. mungkin rasanya tak akan seberat ini.
Dulu, waktu komunikasi dengan Mamah-Bapak tak sebaik ini.
Dulu, waktu saya masih sebegitu tertutupnya terhadap anggota keluarga sendiri.
Dulu, waktu saya masih jauh lebih menikmati “kesendirian” di Jogja tanpa pantauan Mamah-Bapak.

Sekarang rasanya jauh berbeda.
Kepulangan saya ke Cirebon pun, ditambah memperpanjang waktu stay di sini memang saya rencanakan sejak jauh hari karena saya ingin berlama-lama menghabiskan waktu dengan Mamah-Bapak. Membayar hutang “ketidakhadiran” saya selama ini sedikit demi sedikit.
Biasanya kalau Lebaran kami lebih banyak ngumpul di rumah Jogja, karena toh keluarga besar Mamah biasanya ngumpul di Solo, nggak jauh dari Jogja.
Tapi kali ini lain. Saya ingin lebih lama menghabiskan waktu dengan mereka. 🙂

Liburan Ramadhan-Syawal ini, bisa dibilang saya lebih sering jadi anak tunggalnya Mamah-Bapak.
Gimana enggak? Kumpul lengkap sama adik, kakak dan abang ipar cuma pas Lebaran hari ke-4. Kumpul berempat sama adik cukup lama sih..dari H-1 Lebaran sampai H+5. Selebihnya, sejak H-5 sampai dua hari ke depan saya lebih sering cuma bertiga sama Mamah-Bapak. 🙂

Kalau dulu nih yaa.. saya nggak mungkin betah berlama-lama dengan mereka. Yang ada malah canggung. Nggak banyak yang bisa dilakukan dengan nyaman. (Terutama) di masa-masa saya pacaran dan (selalu) backstreet, saya lebih sering diam kalau bareng mereka. Yaa.. namanya juga nyembunyiin sesuatu, pasti nggak berani banyak cerita secara terbuka, takut keceplosan. Apalagi, selalu ada rasa nggak nyaman yang menyertai.

Sekarang, 24 jam sehari rasanya kurang.
Liburan di Cirebon ini memang saya rencanakan untuk banyak belajar dari mereka. Banyak belajar masak dari Mamah, dan belajar nyetir mobil sama Bapak. Tapi di luar itu, yang terpenting adalah belajar hidup dari mereka.

Jadi anak tunggal mereka kali ini, membuat saya semakin menyadari satu hal: Betapa ALLAH Maha Baik me”minjam”kan saya orang tua sebaik mereka..
..yang hampir tak pernah absen bangun malam untuk shalat..
..yang selalu merasa ada yang miss kalau meninggalkan shalat dhuha di pagi hari..
..yang (hampir) selalu punya jawaban tiap kali saya bertanya soal (ilmu) agama..
..yang selalu mengajarkan dan membiasakan hidup secukupnya dan jauh dari kata mewah, tapi selalu punya simpanan untuk pendidikan/kesehatan anak-anaknya..
..yang selalu sederhana dalam keseharian, tapi selalu punya sesuatu untuk diberikan pada orang lain yang membutuhkan..
..yang sangat peduli pada kondisi ketiga putrinya yang tinggal jauh dari mereka..

Mamah..
..yang nggak pernah absen dzikir pagi-sore..
..yang nggak pernah balas menaikkan suaranya dan hanya diam saat saya kesal dan meninggikan suara padanya..
..yang sering tidur larut karena masih asyik membaca tafsir, atau menyiapkan materi kajian untuk ibu-ibu kompleks..
..yang hingga kini masih menjadi sosok istri dan ibu panutan luar biasa di mata saya..

Bapak..
..yang telah banyak sekali menurunkan egonya dan berubah dari Bapak yang dulu sering mendahulukan emosi dan keinginannya, menjadi Bapak yang lebih mendahulukan “suara” istri dan anak-anaknya..
..yang tak pernah ragu meminta kritik dari istri dan anak-anaknya..
..yang selalu penuh persiapan kalau untuk urusan istri dan anak-anaknya..
..yang hingga kini masih menjadi sosok imam keluarga ideal dan luar biasa di mata saya..

Alhamdulillaah I have them. :)

Alhamdulillaah I have them. 🙂

Menjadi anak tunggal mereka kali ini, rasanya apapun yang saya lakukan tak akan mampu membalas segala kebaikan mereka.
Semoga ALLAH selalu menjaga mereka dengan penjagaan teristimewa-NYA.
Semoga ALLAH selalu memberikan yang terbaik dan membalas berjuta kebaikan mereka berkali-kali lipat! 🙂

 

ALLAH, izinkan aku untuk terus berupaya menjadi yang terbaik bagi mereka..–

Ramadhan-Syawal Teristimewa

Ada yang berbeda di Ramadhan dan Syawal tahun ini.
ALLAH Yang MahaLuarBiasa membuat saya mendapatkan makna berbeda yang tak pernah saya alami dan rasakan sebelumnya. 🙂

Tahun ini ALLAH “memaksa” saya untuk memaksimalkan peran saya sebagai adik bagi kakak saya, sebagai kakak bagi adik saya, dan sebagai anak Mamah dan Bapak.

Saya nggak bisa uraikan secara rinci momen-momen berharga saya bersama mereka Ramadhan-Syawal ini..
Karena momen yang saya rasa luar biasa, bagi kebanyakan orang mungkin terasa tak ada artinya.
Sebaliknya, momen yang bagi saya biasa saja, mungkin justru dianggap istimewa bagi kebanyakan orang.

Saya cuma mau bilang:
Ibu, ayah, kakak, dan adik yang ALLAH titipkan buat kita di dunia ini adalah yang terbaik bagi kita. Seburuk apapun ia atau mereka di mata kita.
Mencintai dan menyayangi mereka adalah kewajiban kita dan hak mereka, dan kita harus memaksimalkan upaya itu.
Sampaikan dengan ucapan jika mampu.
Jika tidak, tunjukkan dengan perbuatan. Atau setidaknya dengan kiriman doa kebaikan yang selalu kita panjatkan untuk mereka.

Saya pun masih berupaya keras melakukannya. 🙂

 

ALLAH, bimbing aku untuk terus menunjukkan cinta itu kepada mereka dengan lebih nyata..–

 

our scene(s)

Untuk kesekian kalinya dalam beberapa waktu belakangan ini, air mata saya tertumpah karena teringat orang tua.

Tentang Mamah

Air wudhu selalu membasahimu
Ayat suci slalu dikumandangkan
Suara lembut penuh keluh dan kesah
Berdoa untuk putra-putrinya..
(Sakha – Ibu)

Mengingatmu selalu mengingatkanku pada berjuta salahku padamu, Mah. Terutama tentang satu hal: harapku atas ibu yang lain selain Mamah, karena merasa terlalu terkekang dengan banyaknya “aturan”mu atasku.

Nggak boleh nginep di rumah teman saat SD-SMP dulu.. Harus pulang cepat dari sekolah.. Nggak boleh jalan-jalan selepas jadwal ekskul.. Harus ini, harus itu.. Nggak boleh ini, nggak boleh itu.. Banyak sekali aturan Mamah di mataku saat itu.

Baru belakangan ini aku sadar makna aturan-aturanmu atasku, Mah. Kau hanya ingin yang terbaik untukku. Kau hanya ingin mendidikku menjadi muslimah yang baik, menyiapkanku menjadi calon istri dan ibu yang baik suatu saat nanti.. Menjadi..sepertimu..

Maafkan aku karena terlambat menyadari niat baikmu, Mah.
Maafkan karena sering membuatmu menangis karena sikapku.
Terima kasih karena kau tak henti bersabar atas sikapku.
Maafkan, maafkan, maafkan..

 

Tentang Bapak

Aku hanya memanggilmu, Ayah..
di saat ku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu, Ayah..
jika aku tlah jauh darimu
(Seventeen – Ayah)

Mengingatmu selalu mengingatkanku pada suatu malam di rumah kita di Bandung, Pak. Entah Bapak masih mengingatnya atau tidak. Tapi, entah kenapa momen itu selalu terputar kembali di benakku pada detik pertama aku teringat Bapak.

Aku juga tidak ingat sepenuhnya apa yang terjadi malam itu. Yang aku ingat, malam itu kau marah padaku karena suatu hal yang kulakukan, yang hanya mampu “kujawab” dengan diam dan menangis. Berulang kali kau minta penjelasan atas sikapku, tapi aku tak kunjung bicara. Lalu kau pergi, dan aku meneruskan tangis panjangku di kursi bambu panjang di ruang tamu.

Lama di sana sendiri, dan tiba-tiba kau datang dan langsung memelukku, Pak. Lama. Tanpa sepatah kata pun terucap, membuat tangisku makin deras. Lalu kau akhirnya bicara: “Apa kamu sebegitu takutnya sama Bapak sampai kamu nggak bisa bilang apa-apa, Nak? Maafkan Bapak, yaa..”

Malam itu kita menangis bersama, Pak. Kau tak pernah mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu padaku malam itu. Tanyamu saat kau marah, pun saat kau menangis. Karena hingga tangis kita berakhir malam itu, aku tak mengatakan apapun selain anggukan keras menahan tangis saat kau ucapkan kata maaf.

Aku yang seharusnya minta maaf karena membuatmu merasa seperti itu..
Maafkan aku, Pak..

Untuk Mamah-Bapak

Always love you all coz ALLAH..:*

Terima kasih untuk cinta dan sayang yang tak pernah habis untukku
Tak peduli betapapun buruk sikapku padamu, kau selalu berusaha ada.
Terima kasih untuk tiap bait doa yang kaupanjatkan untuk kebaikanku,
meskipun aku kerap lupa menyebut namamu usai sholatku.

Maafkan karena terlalu lambat ku hadirkan hati ini untukmu..
Tapi aku janji,
mulai sekarang hati kita tak akan pernah terpisah lagi. InsyaaALLAH.