Berawal dari 2 Hari Tanpa Kopi

#27DaysWritingProject (Day 27)

Ceritanya, kemarin saya mengikuti semacam konsultasi gizi singkat.
Kata mbak ahli gizinya, konsumsi kopi setiap hari itu nggak masalah. Yang harus diperhatikan adalah harus adanya jarak minimal 1 jam antara konsumsi kopi dengan waktu makan berat (yang tiga kali sehari itu).
Katanya, hal tersebut bisa menyebabkan rendahnya kadar hemoglobin dalam darah.

Sepulang dari konsultasi gizi, saya jadi berpikir ulang tentang waktu-waktu ngopi saya. Niatnya sih ingin menerapkan saran ahli gizi tersebut.
Ternyata nggak mudah. Selama ini saya minum kopi kalau pengen. Seringnya justru sesaat setelah makan.
Nah, karena beberapa kali batal minum kopi setelah makan, akhirnya 2 hari terakhir ini saya absen minum kopi!
Pantas saja 2 hari ini rasanya lebih lesu dari biasanya.
*Padahal bisa aja karena habis imunisasi dan reaksi hormonal siklus bulanan. 😛

Bicara soal kopi, sebenarnya saya agak khawatir juga nih. Pas kakak saya hamil dan menyusui, dokternya melarang konsumsi kopi. Katanya nggak baik bagi janin dan bayi. Nah looo.. kalau saya hamil dan menyusui nanti gimana, doooong? 😦
Kemarin sih pas tanya ke ahli gizinya, dia bilang nggak apa-apa asal tetap ada jarak 1 jam tadi..
Tapi kok saya masih nggak mantap ya. Masih khawatir kalau ternyata kopi memang nggak baik bagi janin.
Udah niat mau googling lebih jauh sejak zaman dahulu kala sebenarnya tentang pantangan kopi ini, tapi sayanya takut.
Takut kalau memang harus pantang kopi suatu saat nanti, dan saya nggak mau. Jadi, mendingan nggak usah tahu dulu aja lah. Melakukan suatu kesalahan yang kita nggak tahu kalau itu salah kan dimaafkan.. *eh* 😛

Jadi kepikiran. Sering nggak sih kita mikir gitu?
Nggak mau tahu soal larangan tertentu, supaya masih bisa terus melakukannya tanpa rasa bersalah.

Misal nih, ada isu tentang ketidakhalalan suatu produk. Karena baru katanya, enggan mencari tahu lebih lanjut demi masih bisa mengkonsumsi produk tersebut.
Atau sengaja nggak banyak baca hukum-hukum Islam, biar kalau melakukan kesalahan nggak dianggap dosa. Kan belum tau?
Atau.. nggak mau belajar banyak biar nggak ada kewajiban menyampaikan dan membagi ilmu yang dimiliki.
Atau.. sengaja nggak mau mempelajari batasan interaksi dengan yang bukan mahram, supaya masih bisa pacaran dengan alasan: “Saya nggak tahu kok kalau pacaran itu dosa. Kan yang dilarang cuma mendekati zina? Pacaran asal nggak aneh-aneh kan jauh dari zina?” Hmm..
Atau.. sengaja nggak mencari tahu tentang fiqih bersuci, supaya masih bebas tayamum kalau pas malas wudlu.
Atau.. sengaja nggak banyak bertanya tentang tata cara shalat, biar masih bisa asal jamak kalau aktivitas harian sedang padat-padatnya.

Padahal jelas-jelas ayat pertama yang ALLAH turunkan saja berbunyi “Iqra’!” Bacalah!
ALLAH memerintahkan kita untuk terus membaca dan belajar.
Nggak boleh bersembunyi di balik ketidaktahuan terus-menerus. 🙂

So.. balik lagi ke soal kopi. Kayaknya saya memang harus belajar lagi. Cari tahu lebih lanjut tentang efek konsumsi kafein saat hamil dan menyusui.
Meskipun status sebagai istri dan ibu masih jadi rahasia ALLAH (mudah-mudahan nggak lama lagi… *eh*), nggak ada salahnya belajar dari sekarang kan? 😉
Biar kalau memang harus pantang minum kopi suatu saat nanti, saya siap. Hehee.. 😀

Wallaahu a’lam bishawab.

Advertisements

Kangen “Dipalak”!

#27DaysWritingProject (Day 14)

Entah siapa yang memulai dan bagaimana awalnya, keluarga kami seringkali melakukan “kriminalisasi” kata.
What?? Maksudnya apa?
Contohnya nih.. bilang “Runa (ponakan saya) aku culik ke atas yaa..” instead of saying: “Runa aku bawa ke atas yaa..”
Atau.. “Ada yang mau malak kopi yang saya bikin?” maksudnya “Ada yang mau minta kopi?”
Atau.. “TVnya aku bunuh nih?” berarti “TVnya aku matiin nih?”

Oke.. kayaknya sih saya yang paling sering.. 😛
Maafkan saya telah merusak kosakata sesuka hati..

Tapi ya gitu. Akhirnya kami lebih sering menggunakan kata-kata “kriminal” tersebut dalam percakapan sehari-hari. Lebih akrab di telinga. Hehee..

Bicara soal palak-memalak, udah jadi kebiasaan adik saya meminta minuman yang saya buat.
Karena saya adalah orang yang paling nggak doyan air putih di antara seantero penghuni rumah, jadilah saya yang paling sering membuat atau membeli minuman berwarna. Misalnya kopi, coklat, es jeruk, es jeruk nipis, dsb. Yang paling wajib sih jelas kopi, yaa.. 🙂

Nah, adik saya ini tergolong yang jarang banget minum. Kalau orang-orang umumnya sering seret kalau belum minum setelah makan, dia jarang sekali merasa begitu. Bahkan, seringkali dia lupa apakah sudah minum atau belum.
Makanya, kalau pas kami makan bareng, saya suka ngajakin dia minum juga setelah makanan kami habis. Yang paling sering terjadi adalah dia malak minuman saya yang biasanya berwarna itu. 🙂

Saking terbiasanya dipalak, kadang saya justru merasa aneh kalau dalam sehari dia nggak minta minuman saya.
Ada yang kurang gitu rasanya.
Secangkir kopi kadang terasa terlalu banyak, karena biasanya sepertiganya jadi jatah dia. 😀

Seperti satu hari ini.
Sejak pagi tidak makan di rumah, jadi tidak ada kesempatan saya membuat minuman yang menggoda selera adik saya.
Kami sama-sama baru pulang selepas jam sembilan tadi, dan dia sudah mengantuk. Akhirnya kopi yang saya buat nggak laku dipalak olehnya.

Hmm.. Entah ya..
Kalau suatu saat nanti kami jarang bertemu dan tidak tinggal satu rumah, mungkin kebiasaan dipalak ini akan jadi satu momen yang paling saya rindukan. 🙂

Kopi: Adiksi dan Sugesti

#27DaysWritingProject (Day 6)

Kalau ditanya tentang hal-hal yang paling menggambarkan diri saya, saya akan menjawab salah satunya adalah kopi.
Teman-teman dan kerabat saya juga hafal sekali kayaknya dengan minuman favorit saya itu.
Tiap ke rumah Tante di Tangerang, Bulek atau nenek di Solo, pasti akan keluar tuh kata-kata: “Kalau mau ngopi ambil sendiri di dapur yaa kayak biasa..” atau “Mau minum apa? Kalau Mbak Zulfah pasti kopi yaa?”
Ketemu teman lama atau saudara yang udah lama nggak ketemu, pertanyaan apa kabar biasanya ditambah dengan, “Masih suka ngopi?”
Hehee.. 😀

Entah sejak kapan saya menjadi sangat menggemari minuman sarat kafein itu. Kalau tidak salah ingat, kebiasaan minum kopi ini awalnya karena saya sering mengalami migrain. Pada kadar tertentu kan, kafein dapat membantu menghilangkan sakit kepala akibat migrain.
Sekarang sih, migrain ataupun tidak, rasanya saya tak bisa melewati satu hari tanpa kopi. 🙂

coffee-break-43388

Beberapa orang menenggak kafein demi memaksa matanya tetap segar dan siap diajak begadang. Banyak tugas lah, harus lembur lah.. Kopi umumnya juga dikenal sebagai teman terbaik bagi orang-orang yang mau ronda keliling kampung, jaga malam di perkantoran atau rumah sakit, dan sebagainya.
Saya justru seringkali minum kopi sesaat sebelum tidur dengan alasan sederhana. Pengen aja. Atau.. malam ini belum minum kopi. Kurang afdol kalau belum ngopi. 😀

Sugesti sih sebenarnya. Secara teori kan kafein memang membuat metabolisme tubuh lebih kencang, meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Jadi, minum kopi biar nyenyak tidur tuh nggak ada teorinya.
Tapi ya gitu. Kebiasaan minum kopi setiap hari membuat saya merasa aneh kalau melewatkan satu hari tanpa kopi. Jadi, kalau seharian belum minum kopi sementara sudah waktunya tidur, saya suka kepikiran dan malah nggak bisa tidur. Hahaa.. 😀

Ada yang addict sama kopi juga seperti saya? 🙂

Hmm.. adiksi tidak apa, yang penting tahu batas.
Saat ini, saya juga selalu membatasi konsumsi kopi maksimal 2 cangkir sehari. Sebenarnya, batasan amannya bisa lebih dari itu sih..
Tapi saya tahu diri. Untuk yang tidak terlalu doyan dan cenderung minim konsumsi air putihnya seperti saya, kebanyakan minuman “berwarna” bisa berakibat buruk bagi kesehatan. 🙂

Lagipula, apapun yang berlebihan tidak baik kan? 🙂

Wallaahu a’lam bishawab.