Alarm Kematian

Lagi.
Untuk kesekian kalinya saya diingatkan tentang kematian.
Beberapa waktu lalu, saya mendapat kabar meninggalnya dua orang yang saya kenal.
Keduanya orang tua dari teman saya.
Ayah si A yang meninggal karena usianya yang memang sudah lanjut, dan ibu si B yang meninggal karena kanker.

Awalnya tak banyak yang spesial.

Gambar diambil di sini

Gambar diambil di sini

Sekedar ingat sesaat bahwa kita tak pernah tahu kapan ajal datang menjemput, dan betapa kita tak punya banyak waktu untuk bersiap-siap.
Sekedar merinding dan kagum sesaat saat melihat betapa banyak orang yang hadir menyalatkan jenazah, mengantarnya hingga ke peristirahatan terakhirnya, dan sejenak berpikir berapa banyakkah kelak yang mau menyalatkan dan mengantar jenazah saya ketika giliran saya tiba.
Sekedar sedih sesaat dan bertanya-tanya akan kesiapan saya jika yang “pergi” adalah orang tua saya..

Tapi kali ini ada yang sedikit berbeda.
Melihat kain putih ditutupkan ke tubuh almarhumah saat di rumah sakit kemarin, tiba-tiba membawa ingatan saya pada bocah berusia 11 tahun yang meninggal karena kanker (juga) sekitar dua tahun lalu.
Dimas kecil yang selama dua tahun saya mengenalnya, tak pernah sekali pun mengeluh tentang sakit kepala yang sering ia rasakan. Saya lebih sering melihatnya tersenyum, meskipun wajah pucatnya menunjukkan nyeri yang luar biasa.
Lalu kata-kata ayahnya yang selalu saya ingat sampai sekarang. “Ibunya Dimas dulu ya meninggal karena kanker, nduk. Penyakit itu cuma salah satu jalan menuju kematian kok. Sama seperti menjadi tua. Jadi biasa aja. Ndak ada yang perlu dikeluhkan.
Wong yang masih muda dan sehat aja bisa tiba-tiba mati tanpa tanda-tanda apapun kok. Kalau ALLAH mau manggil, ndak ada yang bisa nolak. Justru yang dikasih tanda berupa penyakit itu yang harus banyak bersyukur, karena bisa lebih sadar untuk terus mempersiapkan kematian. Kita yang sehat ini to malah yang repot?”

Ini yang seringkali kita lupa.

Penyakit, kecelakaan lalu lintas, usia yang menua… hanyalah segelintir jalan menuju kematian yang kita tahu. Kadang, ALLAH memanggil hambaNYA tanpa tanda apapun. Tanpa alarm peringatan apapun.
Bukan satu dua kali kan kita mendengar kabar seseorang yang meninggal begitu saja dalam tidurnya?
Atau seorang pemuda yang tiba-tiba diambil nyawanya ketika sujud dalam shalatnya?
Atau berapa banyak orang yang menemui ajalnya dalam tsunami, gempa bumi, bencana-bencana alam lain yang tak bisa diprediksi kapan datangnya?

Lalu nasihat guru ngaji saya kemarin masih terngiang di telinga,
“Apa sih yang perlu kita persiapkan untuk kematian kita kelak?
Segera mencapai mimpi-mimpi duniawi agar tidak menyesal nanti?
Bagaimana dengan visi-misi ukhrawi? Sudah tercapai semua kah?
Atau jangan-jangan.. tujuan hidup kita selama ini masih sekedar bernilai dunia semua?”

Death pathway

Gambar diambil di sini

 

Wallaahu a’lam bishawab. 

karena saya (mungkin) tak akan pernah siap

Baru saja saya mendapat kabar wafatnya ibu dari salah seorang kakak kelas saya.
Lalu Tes! Refleks saya meneteskan air mata.
Ini bukan pertama kalinya. Beberapa waktu lalu, ketika mendengar kabar duka wafatnya ayah dari seorang kakak kelas saya, saya pun refleks menangis. Pun ketika beberapa hari lalu seorang teman yang ayahnya telah beberapa hari koma mengirimkan pesan singkat ke HP saya, “Teh, Papah udah nggak ada.” Bahkan ketika berita wafatnya seorang legenda srimulat kemarin pertama kali terbaca, air mata saya refleks jatuh.

Sungguh, tak satupun dari mereka yang benar-benar saya kenal dekat. Beberapa di antaranya malah tak pernah saya kenal. Cengengkah saya? Menangisi kematian orang-orang yang tak benar-benar saya kenal?

Ya, mungkin saya memang cengeng.
Tapi saya menangis bukan karena itu.
Saya menangis karena usia-usia mereka yang dipanggil ALLAH tak jauh dari usia Mamah-Bapak. Jika mereka sudah dipanggil ALLAH saat ini, mungkinkah ALLAH pun sudah bersiap memanggil Mamah dan Bapak? 😥
Dan mengingat kedekatan emosional dengan mereka yang baru saja akhir-akhir ini saya maknai sepenuhnya, saya sama sekali jauh dari siap jika itu terjadi.
Saya (mungkin) tak akan pernah siap.

Tau nggak, tiap kali ada kabar duka tentang ayah atau ibu seseorang, yang terbayang adalah kematian Mamah dan Bapak yang mungkin saja sewaktu-waktu datang.
Sungguh, saya nggak akan pernah siap kehilangan mereka.. 😦

Terlintas di benak saya betapa banyak waktu terbuang selama ini, tersia-sia tanpa sempat memaksimalkan bakti pada mereka..
Betapa banyak kecewa mereka atas saya, yang belum sempat saya tutupi dengan rasa bangga atas prestasi yang saya persembahkan untuk mereka..
Betapa banyak umpatan, kemarahan, kedengkian saya pada mereka yang belum sempat saya istighfari dan mohonkan maaf pada mereka..
Betapa banyak luka yang saya torehkan di hati-hati mereka, yang belum sempat saya obati dengan pengabdian sepenuh hati..

Saya masih banyak hutang.
Hutang ketidakhadiran hati untuk mereka selama ini..
Ketidakpedulian saya atas berjuta kasih sayang yang mereka tawarkan selama ini..
Penolakan demi penolakan yang saya lakukan atas peluk dan dekap mereka..
Ucapan cinta dan sayang yang masih sering terasa berat terucap dengan nyata..
Tangis sedih mereka karena saya yang terlampau sering terabaikan begitu saja..
Lantunan doa tak henti dari mulut-mulut mereka yang tak saya sambut dengan doa untuk mereka..

Saya tak mampu membayangkan, jika mereka meninggalkan saya sebelum saya purna menjadi seorang shalihat, lalu doa-doa saya tak mampu mengalirkan pahala amal bagi mereka hingga surga..
Saya tak mampu membayangkan, jika saya menikah dan bukan Bapak yang menikahkan saya, mengucapkan ijab dan berjabat tangan dengan imam baru yang akan menjadi suami saya..
Saya tak mampu membayangkan, jika saya menikah dan bukan Mamah yang duduk di samping saya, menemani saya mendengarkan ijab qabul dengan khidmat..

ALLAH..
Aku tahu tak baik memohon atas perpanjangan usia..
Harusnya aku meminta keberkahan atas berapapun usia yang Kau beri kan, Ya ALLAH?
Tapi untuk kali ini, izinkan aku memohon panjangkan usia Mamah-Bapak..
Izinkan aku memohon panjangkan usiaku..
Izinkan aku lebih sempurna dalam memaknai kehadiran mereka..
Izinkan aku untuk seutuhnya menghadirkan hati untuk mereka..

Izinkan aku untuk sepenuhnya siap kehilangan (atau meninggalkan) mereka,
sebelum Kau panggil siapapun kami menghadapMU.