Nostalgia Bandung Jaman Baheula

Kalau harus bercerita tentang Bandung, mungkin apa yang akan saya tuliskan ini tak lagi relevan dengan Bandung sekarang. Terlalu lama tak melewati hari-hari di kota tercinta itu sebagai rumah, membuat saya yang masih saja keukeuh menganggap Bandung sebagai kampung halaman, tak benar-benar mampu menggambarkan keseruan Bandung saat ini.

minggu-1-2017-tema

Tema kejutan di minggu pertama dari para admin. Padahal udah pernah nulis tentang kampung halaman juga sebelumnya di sini.

So, ketika #1minggu1cerita memaksa saya menuliskan keseruan Bandung, tak ada cara lain selain kembali bernostalgia dengan memori kanak-kanak dan remaja saya tentang Bandung jaman baheula. Biar lah orang lain bilang ini¬†ngga seru. Buat saya, hal-hal ini yang seringkali membuat saya merindukan pulang ke kampung halaman saya itu. ūüôā

SDN Cigugur
Meskipun cuma setahun lebih dikit jadi murid di sini, sekolah ini berkesan sekali buat saya.
Mungkin karena ini satu-satunya pengalaman sekolah di negeri kali yaa.. (MAN Insan Cendekia mah nggak terlalu berasa sekolah negeri. Hehee..)

Letaknya di Bandung¬†coret alias Cimahi. Mudah-mudahan sih ini sekolahnya masih ada ya sampai sekarang. Saya punya mimpi suatu saat akan¬†napak tilas¬†ke sana, ketemu guru-guru jaman kecil. Terutama Bu Kokom, guru satu-satunya yang mengajar saya di kelas 1 SD yang sekelas isinya 60 orang! Satu meja isinya 3-4 orang, duduknya di bangku kayu panjang yang biasa¬†dipake¬†di warung-warung makan tenda. ūüėÄ

Inget Cigugur¬†tuh bikin¬†inget¬†kalau dulu saya cuma bekel¬†uang 300 perak sehari buat pulang pergi naik angkot, becak¬†dan jajan.¬†Duh, ketahuan¬†banget¬†umur berapa ini¬†mah! ūüėõ
200 perak buat naik¬†angkot¬†dan becak dari rumah di Margaasih ke sekolah, sisanya buat jajan dan¬†nabung. Nah, biasanya sih suka sengaja jalan kaki pulangnya biar uang jajannya dobel. ūüėÄ

Taman kecil di tengah Kompleks Pratista Antapani
Naik kelas 2 SD, saya pindah sekolah dan pindah rumah. Pindah sekolah dari Cigugur ke Salman, pindah rumah dari Margaasih ke Antapani.
Hobi saya dulu naik sepeda keliling kompleks sekitar rumah. Nah, salah satu spot favorit buat istirahat sejenak tu di taman kecil ini. Letaknya kalau dulu sih di tengah kompleks Pratista. Dari gerbang Pratista lurus terus, nanti ketemu deh taman kecil bentuknya lingkaran.
Biasanya, sepeda saya parkir di luar taman, lalu saya duduk-duduk santai sambil baca buku atau makan camilan odading, cakue, batagor, atau cilok¬†di sana. ūüôā

Angkernya Puri Pratista
Nah yang ini¬†hoax banget sebenernya.¬†Puri Pratista (gedung serbaguna di kompleks Pratista)¬†nggak¬†ada angker-angkernya¬†acan. Tapi, dulu saya dan beberapa sahabat kecil yang hobi main detektif-detektifan —gara-gara terinspirasi Lima Sekawan dan Trio Detektif—¬†sok-sokan¬†saling bilang kalau¬†liat¬†hantu di sana. Hantu cewek rambut panjang hitam yang¬†nggak¬†kelihatan mukanya. Hahaa..

Soalnya, dulu Puri Pratista jarang dipakai kegiatan warga. Jadi kelihatan agak-agak¬†spooky¬†gitu.¬†Nggak¬†lama setelahnya, Puri Pratista sering dipakai ibu-ibu buat senam¬†gitu. Hilang lah cerita horor yang kami buat-buat sendiri itu. ūüėÄ

Rumah hantu tengah sawah yang ada burung Garuda besarnya
Rumah ini masih ada nggak ya? Terakhir ke sana sih masih ada. Entah kalau sekarang.
Jadi, dulu rumah saya di Antapani tu mewah a.k.a. mepet sawah. Lalu di tengah sawah itu ada satu rumah besar. Nangkring sendirian di tengah sawah.
Dari jauh sih kadang suka lihat ada orang masuk ke rumah itu. Tapi anehnya rumah itu selalu dalam kondisi gelap gulita. Kalau lewat depan rumahnya, akan terlihat patung burung Garuda besar di tengah-tengah rumah.
Emang udah¬†terkenal horor sih kalau rumah yang satu ini. Kata orang-orang banyak¬†penunggunya. Saya sendiri pernah sesekali dengar suara ketawa¬†mirip suara ketawa kuntilanak di tipi-tipi¬†dari arah sawah kalau larut malam. Tapi bisa jadi itu hanya imajinasi saya saja. ūüėõ

Segala macam tukang jual makanan langganan yang lewat depan rumah
Nah, ini juga yang paling sering saya rindukan dari Bandung. Di rumah Antapani dulu, kayaknya tukang jualan jajanan apaaaaaa aja lewat di depan rumah.
Mulai dari¬†uli¬†bakar dan roti-rotian di jam sarapan, tukang sayur (ini sih bukan jajanan yaa? Nggak pernah beli juga..¬†ūüėÄ ), batagor, baso tahu, baso cuankie, baso malang, es cincau, bakpau, es krim keliling, tukang¬†peuyeum, tahu gejrot,¬†sampai tukang jamu yang rajin¬†saya beli! Hahaa.. Apalagi kalau¬†weekend yang dari siang saya bisa¬†mantengin¬†tukang apa aja yang lewat. Saya sampai hafal tuh beda bunyi¬†tong tong, tek tek, tok tok, ting ting,¬†dkk.¬†para tukang jualan itu.

Yang paling langganan sih tukang jamu. Dulu, tukang jamu yang lewat cuma satu. Yang jual suami istri gitu gantian. Atau Bapak-anak ya? Lupa. Jualannya pake sepeda, botol-botol jamunya bersiiiiih banget. Jamunya juga enak.
Karena dulu saya rutin minum jamu yang lewat itu, penjualnya sampai hafal pesanan saya. Nggak perlu pesan lagi, asal saya panggil, langsung dibuatkan jamu paitan sama beras kencur. Kalau lagi siklus bulanan, kadang beras kencurnya saya ganti kunir asem.
Lepas dari Bandung, belum nemu lagi tukang jamu oke yang bisa dijadikan langganan. Hmm..

Rumah Elsa, paling bagus seantero Margaasih ceunah mah
Dulu pas saya TK, ada teman TK saya namanya Elsa. Anaknya cantik, tinggalnya sekomplek tapi beda blok. Kalau mau keluar komplek atau ke pusat perbelanjaan di komplek, pasti lewat depan rumahnya. Hampir setiap yang lewat pasti bakal kagum sama rumahnya.
Sebenarnya hanya rumah tipe 36 baru direnovasi¬†aja sih..¬†tapi mungkin karena dulu rumah-rumah cantik tipe minimalis¬†gitu¬†masih jarang, rumah Elsa ini jadi menonjol banget bagusnya. ūüôā

Salman Al Farisi: Kerinduan yang tak akan ada habisnya
Mungkin ini yang paling saya rindukan dari Bandung. Sekolah yang paling meninggalkan kesan mendalam di hati saya. Tentang kegiatan harian di sana, program-programnya, ekstrakurikulernya, bangunannya, dan terutama guru-gurunya.
Di sini saya merasakan kedekatan luar biasa antara guru dan murid, antara guru dan orang tua murid.. yang rasanya belum pernah saya temukan di sekolah lain.
Saya merasakan sekolah di MAN Insan Cendekia yang saya dan para alumni akui sangat akrab antar guru-muridnya. Tapi bagi saya, untuk urusan itu¬†Salman masih juaranya! ūüôā
Duh.. kalau cerita tentang Salman, rasanya bakal panjang kali lebar kali tinggi ini¬†mah.¬†Next time¬†saya cerita lagi¬†aja¬†ya.. Ngga¬†bakal cukup di satu postingan! ūüėČ

Daarut Tauhiid, dan kenangan berkesan bersama BIM 11 di Muslimah Center
Bicara soal Bandung, rasanya tak lengkap kalau tak menyebut Daarut Tauhiid. Dari jaman DT belum sebesar sekarang, masjidnya belum senyaman sekarang, dan unit-unit usahanya belum sebanyak dan seberkembang ini, saya sudah berulang kali merasakan nikmatnya tinggal sesaat di sana. Beberapa kali ikut pesantren kilat yang diadakan tiap tahun, lalu ikut pesantren keluarga sakinah kerjasama DT dengan Telkom, dan yang terakhir adalah ikut Bimbingan Intensif Muslimah (BIM) selama 40 hari di Muslimah Center DT sekitar 6 tahun lalu.

Saya melihat sekali perubahan AaGym yang dulu senang dengan publikasi media, lalu menghilang sejenak dan kembali dengan kajian-kajian tauhidnya yang sederhana tapi mengena.
Lalu kesan mendalam tentang DT saya dapatkan saat mengikuti BIM angkatan 11. Tinggal di sana selama 40 hari bersama teman-teman shalihah dan merasakan suasana DT yang luar biasa nyaman dan kondusif, membuat saya tak mungkin tak merindukan DT. Sulit rasanya menemukan lingkungan sepewe DT di tempat lain.
Belum lagi deretan tukang¬†bandros, gehu jeletot, dan jajanan khas lain yang juga membuat perut saya kangen!! ūüėÄ

Sederet kuliner Bandung jaman baheula yang memorable
Tadinya mau saya bahas satu per satu nih kulinernya. Tapi apa daya, jari¬†udah pegel. Next¬†time¬†kalau niat¬†saya cerita lagi yaa.. hihii.. ūüėČ

Ada ayam goreng Jl. Indramayu yang enak banget dan jadi favorit keluarga.
Ada yoghurt Cisangkuy plus batagor di depannya yang selalu jadi langganan mampir tiap pulang tryout ujian nasional jaman kelas tiga SMP.
Ada Baso Mandeep yang sampai sekarang masih jadi baso paling enak versi lidah saya. Dulu sih masih warung tenda¬†gitu doang¬†bentuknya,¬†sampingan¬†sama warung soto. Kalau sekarang¬†mah udah¬†jadi restoran sendiri yaa? ūüôā

Dan.. Ada nasi timbel Istiqomah!! Ini nih yang saya kangen¬†pisaaaaaan. Beberapa kali ke Bandung¬†nggak¬†sempat mampir. Eh, masih ada kan ya? Dulu sih jualnya masih¬†pake¬†mobil¬†doang¬†di depan SD Istiqomah. Saya suka makannya di kursi depan mobilnya, atau dibawa ke mobil pribadi. Nasi timbel ini adalah nasi timbel paling¬†memorable¬†enaknya di otak dan perut saya.. ūüôā

 

Sebenarnya, kalau bicara Bandung sih buanyaaaaaaak¬†banget¬†rasanya yang masih ingin saya tulis. Tapi berhubung ini udah¬†mepet deadlinenya #1minggu1cerita (ah banyak alasan pisan kamu, Zulfah! ūüėõ ),¬†saya sudahi dulu lah ya ceritanya. Maafkan belum sempat¬†hunting-hunting¬†foto untuk melengkapi ilustrasi tulisan.

minggu-1-2017

Lagi ikutan ini nih biar blognya¬†nggak¬†berdebu. Hihii.. ūüėČ

Terima kasih admin-admin kece #1minggu1cerita yang sudah memaksa saya menulis tentang kampung halaman tersayang, membuat saya kembali memutar memori menyenangkan jaman¬†baheula. ūüôā
Semoga saya nggak bolos nulis tiap minggu ya setahun ke depan. Semangat blogging! 

Ah.. saya rindu Bandung!! >_<

 

 

 

Kangen “Dipalak”!

#27DaysWritingProject (Day 14)

Entah siapa yang memulai dan bagaimana awalnya, keluarga kami seringkali melakukan “kriminalisasi” kata.
What?? Maksudnya apa?
Contohnya nih.. bilang “Runa (ponakan saya) aku culik ke atas yaa..”¬†instead of saying: “Runa aku bawa ke atas yaa..”
Atau.. “Ada yang mau malak kopi¬†yang saya bikin?” maksudnya “Ada yang mau minta kopi?”
Atau.. “TVnya aku bunuh¬†nih?” berarti “TVnya aku matiin nih?”

Oke.. kayaknya sih saya yang paling sering..¬†ūüėõ
Maafkan saya telah merusak kosakata sesuka hati..

Tapi ya gitu. Akhirnya kami lebih sering menggunakan kata-kata “kriminal” tersebut dalam percakapan sehari-hari. Lebih akrab di telinga. Hehee..

Bicara soal palak-memalak, udah jadi kebiasaan adik saya meminta minuman yang saya buat.
Karena saya adalah orang yang paling nggak doyan air putih di antara seantero penghuni rumah, jadilah saya yang paling sering membuat atau membeli minuman berwarna. Misalnya kopi, coklat, es jeruk, es jeruk nipis, dsb. Yang paling wajib sih jelas kopi, yaa.. ūüôā

Nah, adik saya ini tergolong yang jarang banget minum. Kalau orang-orang umumnya sering seret kalau belum minum setelah makan, dia jarang sekali merasa begitu. Bahkan, seringkali dia lupa apakah sudah minum atau belum.
Makanya, kalau pas kami makan bareng,¬†saya suka¬†ngajakin dia minum juga setelah makanan kami habis. Yang paling sering terjadi adalah dia¬†malak¬†minuman saya yang biasanya berwarna itu. ūüôā

Saking terbiasanya dipalak, kadang saya justru merasa aneh kalau dalam sehari dia nggak minta minuman saya.
Ada yang kurang gitu rasanya.
Secangkir kopi kadang terasa terlalu banyak, karena biasanya sepertiganya jadi¬†jatah¬†dia. ūüėÄ

Seperti satu hari ini.
Sejak pagi tidak makan di rumah, jadi tidak ada kesempatan saya membuat minuman yang menggoda selera adik saya.
Kami sama-sama baru pulang selepas jam sembilan tadi, dan dia sudah mengantuk. Akhirnya kopi yang saya buat nggak laku dipalak olehnya.

Hmm.. Entah ya..
Kalau suatu saat nanti kami jarang bertemu dan tidak tinggal satu rumah, mungkin kebiasaan¬†dipalak¬†ini akan jadi satu momen yang paling saya rindukan. ūüôā

Pluviophile

#27DaysWritingProject (Day 10)

Hujan, aku rindu..
Rintik yang membisik
gerimis tipis-tipis
deras menghempas
Apapun lakonmu, aku rindu..

Hujan seringkali terasa seperti teman.
Memberi sensasi menenangkan dan membuat nyaman.
Menyisakan aroma petrikor indah di tanah basah saat ia beranjak pergi.
Menyamarkan tangis saat deras menghampiri.
Mengingatkan kuasa ILAHI saat gemuruh petir, gelegar halilintar dan banjir menitipkan resah dan takut dalam diri.

Hmm.. rasanya sudah lama tanah Jogja tidak terbasahi hujan.
Kangen.
Kapan ya hujan turun lagi?

Ada yang juga merindukan hujan seperti saya? ūüôā