Because You Deserve Someone Better

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

image

Setiap manusia di dunia pasti pernah mengalami apa yang namanya kegagalan. Gagal ujian, gagal masuk sekolah atau kampus favorit, gagal menjalankan suatu usaha, gagal naik jabatan, gagal membina rumah tangga sampai gagal move on. Eaaaa.

Begitu juga soal pernikahan. Ada yang gagal mempertahankan keutuhan rumah tangga setelah sekian tahun menikah. Ada juga yang gagal di tahap awal sebelum pernikahan itu terjadi. Gagal ketika proses ta’aruf itu berlangsung.

View original post 954 more words

Advertisements

Memaafkan Masa Lalu, Memaknai Hijrah Seutuhnya

Beberapa waktu lalu seorang kawan lama menemui saya dan berkata, “Zulfah, ****** (menyebutkan nama seseorang, yang tak lain adalah mantan pacar saya. Astaghfirullaahal’azhiimAmpuni saya Yaa ALLAH.. 😥 )sekarang pacaran sama ***** yaa? (menyebutkan nama salah seorang teman yang juga saya kenal).”
Saat itu saya cuma tersenyum dan bilang, “Aduuuh.. nggak tau yaa. Hehee..”
Lalu dia tanya lagi, “Emang udah nggak pernah kontakan yaa sama kamu? Kamu nggak penasaran, gitu? Nggak pengen tau kabarnya dia sekarang?”
Lagi-lagi saya tersenyum dan cuma bisa menjawab dalam hati, “Ya kalaupun kontakan ya nggak ngomongin itu lah yaa.. Buat apa juga saya kepo-in hal-hal macem gitu?”

Itu bukan pertama kalinya saya ditanya tentang hal serupa. Mantan pacar yang punya pacar lagi?
Saya bukan sama sekali tak peduli. Jujur, selalu ada kesedihan terselip di hati saya kalau dengar itu.
Bukan sedih karena patah hati sejadi-jadinya gara-gara dia udah bisa move on, trus punya pacar dan kehidupan baru loh yaa..
Bukan sedih karena dia udah “laku”, sementara saya masih betah jadi single happy. Hehee.. 😀
Saya sedih karena itu berarti saya tak cukup bisa menjelaskan alasan saya berhenti memilih pacaran sebagai jalan hidup.
Saya sedih karena itu berarti saya tak cukup mampu membuatnya mengerti bahwa pacaran itu salah.
Saya sedih karena itu berarti saya tak berhasil mengajak dia yang dulu pernah menjadi orang terdekat saya untuk merasakan nikmatnya mengharap cinta ALLAH saja.

Masih kuat di ingatan saya, kata-kata saya yang mengawali berakhirnya masa pacaran saya dengan dia waktu itu.
“Pernah kepikiran nggak, kalau pas kita pacaran… misalnya lagi nonton bareng nih, atau lagi ke pantai berdua aja, terus tau-tau ALLAH nyabut nyawa kita? Terus mati deh kita. Kita pasti masuk neraka kan yaa? Nggak mungkin ke surga?
Pertanyaan sederhana dari mulut saya waktu itu yang membawa saya dan dia pada pemikiran yang lebih jauh.
Bahwa sebenernya kita sama-sama tahu bahwa apa yang kita jalani (pacaran) itu salah. Dosa. ALLAH nggak suka. Bahkan dilarang.
Hingga akhirnya pemikiran-pemikiran itu membuat kita mengakhiri pacaran saat itu (Alhamdulillaahirabbil’aalamiin).

diambil dari timeline photos-nya Page Hijab Alila

diambil dari timeline photos-nya Page Hijab Alila

Sejak berhenti pacaran, saya banyak belajar membenahi diri.
Mulai kembali merenovasi diri yang sudah terlalu banyak cacatnya.
Mulai kembali mendekat pada sahabat-sahabat shalihat saya, yang dulu sempat saya tinggalkan karena malu dan merasa nggak pantas.
Mulai menghadiri kajian-kajian keislaman yang semasa pacaran saya tinggalkan dengan alasan nggak ada waktu. Padahal sebenernya sih karena seringnya saya malu dan tersindir dengan dosa-dosa saya kalau denger materi kajian. Hehee… 😀

Tau nggak? Bahwa hingga saat ini, pernah pacaran tu masih saja meninggalkan berjuta penyesalan yang tak pernah habis saya tangisi.
Se-islami-islami-nya pacaran, tetep aja isinya dosa. Nggak ada berkahnya sama sekali.
Seminimal-minimalnya kontak antara lawan jenis dalam pacaran, selalu ada zina hati dan pikiran yang terlintas hampir di tiap detik, dan sedikit demi sedikit memenuhi hati dengan gumpalan hitam bernama dosa.

Saya bersyukur ALLAH menyadarkan saya untuk berhenti berupaya menjemput cinta dengan cara yang IA tak suka.
Saya bersyukur ALLAH mengingatkan saya untuk mulai berupaya menjemput cinta dengan cara mencintaiNYA dengan lebih sempurna.
Dan saya bahagia. 🙂

Tapi bagaimanapun, penyesalan itu menyakitkan.
Saya sendiri hingga kini belum bisa move on dari rasa sakit setiap mengingat masa-masa pacaran saya.
Mengingat betapa banyak waktu terbuang percuma untuk sekedar ngobrol atau telfonan sama pacar, padahal harusnya waktu itu bisa dipakai buat special date sama ALLAH.
Betapa setiap bangun tidur, yang teringat adalah ambil HP dan membangunkan pacar… padahal harusnya segera berdoa, ambil wudhu dan shalat fajar.
Betapa banyak waktu terbuang untuk nonton berdua, jalan-jalan berdua… tanpa tersisa waktu untuk sekedar hadir ke majelis ta’lim sekali sepekan.
Betapa minimnya komunikasi dengan orangtua karena malu dan takut ketahuan pacaran, malah justru intens sekali komunikasi dengan pacar.
Betapa banyaknya angan-angan tentang masa depan dengan si pacar, sampai terlupa bahwa masa depan sesungguhnya adalah surga atau neraka.
Betapa banyaknya waktu yang dihabiskan untuk menumpuk dosa…
Betapa tak tersisanya waktu untuk mengisi tabungan pahala…
Astaghfirullaahal’azhiim. 😥
Dan hingga kini, saya masih sangat keras berupaya memaafkan masa lalu saya sendiri, untuk fokus hijrah ke arah masa depan yang lebih baik.

Kalau menurut buku Jodoh Dunia Akhirat-nya Fufu sama Canun (ada yang pernah baca?), mungkin salah satu alasan kenapa saya masih belum dipertemukan dengan jodoh saya hingga saat ini adalah karena saya belum juga selesai di tahap cleansing. Belum tuntas saya memaafkan masa lalu saya, sehingga belum siap menjemput masa depan. 😦

 

“Kamu kenapa sih nggak pacaran lagi aja? Gimana mau dapet jodoh kalau milih single terus?”
“Padahal kalau kamu mau pacaran lagi, pasti kamu udah nikah deh sekarang..”
“Nggak sepi tuh hidup kamu, betah amat sih jadi jomblo?”
“Lo sok-sok-an deh. Bilang mau jemput jodoh dengan jalan nggak pacaran, buktinya sampai sekarang lo belum nikah juga?”

Beberapa ucapan teman-teman yang pernah mengenal saya sebagai orang yang punya prinsip pacaran untuk menikah.
Dan lagi-lagi, saya tersenyum.

Saya yakin kok, ALLAH sudah menyiapkan seseorang untuk jadi imam saya suatu saat nanti.
IA jauh lebih tahu siapa, dan kapan waktu terbaik untuk menyatukan kami kelak.
IA jauh lebih tahu kapan saya sudah pantas untuk menjadi seorang istri,
pun kapan jodoh saya sudah pantas menjadi suami saya.
Jelas-jelas ALLAH melarang pacaran. Maka sudah pasti, jodoh terbaik saya hanya bisa dijemput bukan dengan jalan pacaran.
Kalau sampai sekarang saya masih sendiri, saya tinggal berkaca sama diri sendiri. Berarti ALLAH menilai saya belum pantas. Saya masih harus terus berupaya keras memantaskan diri terlebih dulu.
ALLAH masih memberi kesempatan pada saya dan dia untuk terus memperbaiki dan memantaskan diri, untuk terus saling berkirim doa, agar kelak kami sama-sama pantas menjemput cinta yang ALLAH titipkan di hati-hati kami.
Kalau sampai sekarang beberapa laki-laki yang “datang” masih saja dirasa kurang baik, kurang shalih, kurang siap menjadi imam saya… berarti saya juga masih kurang baik, kurang shalihat, dan kurang siap menerima seorang pemimpin baru di hidup saya. Bukankah jodoh kita adalah cerminan diri kita sendiri? 🙂

Ada yang pernah nanya juga:
“Emang sejak lo nggak pacaran gitu, lo nggak pernah jatuh cinta gitu? Lo nggak pernah patah hati kalau liat yang lo sayang pacaran lagi… atau nikah sama orang lain?”

Hmm.. saya juga manusia lah.. Rasa suka, kagum, simpati, sayang, bahkan cinta sama seseorang (lawan jenis) itu fitrah. Beberapa kali menyukai seseorang, beberapa kali patah hati… wajar, kan?
Hanya saja, saya pun berulang kali mengembalikan rasa padaNYA. Selalu mempertanyakan rasa yang hadir padaNYA. Standar lah… memohon jika memang jodoh, maka dekatkan. Jika bukan, maka jauhkan.
Terus-menerus memohon petunjukNYA agar tidak memperturutkan rasa di jalan yang tidak IA ridlai.
Nggak pacaran kan bukan otomatis mengamankan hati dari zina? Maka jika ada rasa tak semestinya yang hadir, selayaknya kita mohon perlindunganNYA saja. Lebih intens mendekatiNYA, agar dijauhkan dari rasa yang tak seharusnya kita punya.
Menyukai seseorang dan patah hati karena ternyata belum atau bukan jodoh saya? Pernah. Sakitkah rasanya? Sangat. Tapi jika dengan demikian saya jadi lebih intens mendekat padaNYA, lebih betah berlama-lama menangis dan curhat di hadapanNYA, maka saya tak keberatan. Rasa sakit yang sama (bahkan mungkin lebih menyiksa) dengan patah hati saat jaman pacaran, tapi kali ini in syaa ALLAH berbuah pahala. 🙂

gambar diambil dari bacotanghaley.blogspot.com

gambar diambil dari bacotanghaley.blogspot.com

Terakhir nih yaa.. masih ada yang suka nanya sama saya:
“Lo nggak kangen pacaran? Nggak pernah kepikiran sama sekali buat pacaran lagi?”

Untuk yang ini, saya mantep bilang: Nggak! Saya maunya pacaran sama suami saya aja, nanti setelah nikah! Hehee.. 😀

So… Buat yang nggak pernah pacaran, bersyukurlah! Kamu nggak perlu buang-buang banyak waktu untuk menangisi masa lalu, atau berupaya keras menghapus memori tentang dosa-dosa menduakan cintaNYA.
Nah, buat yang masih pacaran, putusin aja deh pacarnya! Toh kalau emang jodoh mah, ALLAH kelak akan menyatukan kalian lagi dengan cara yang jauuuuuuhhh lebih baik dan istimewa! 🙂
Yang punya hati kita kan ALLAH. IA yang Maha Membolak-balik Rasa. Kalau ALLAH nggak ridla, bisa aja kan sekarang sayang-sayangan pas pacaran, ntar pas nikah tau-tau ALLAH bikin jadi saling benci? Na’uudzubillaahi min dzaalik.
Yang masih single happy kayak saya, atau yang pacaran tapi mau hijrah jadi single happy kayak saya, yuk puas-puasin pedekate sama ALLAH, puas-puasin berupaya menjemput cintaNYA, dan terus berupaya memaafkan masa lalu dan hijrah seutuhnya agar kelak IA kasih kita jodoh terbaik yang mencintai kita karenaNYA, dengan cara terbaik dan teristimewa. 🙂

Wallaahu a’lam bishawab.

gambar diambil dari nanahidupku28.blogspot.com

gambar diambil dari nanahidupku28.blogspot.com