Lima Minggu Lagi..!! ♥♥♥

Salah satu hal yang membuat saya ngeh kalau blog ini kelamaan nganggur adalah ukuran perut yang semakin besar. Hehee..
Coba aja diinget-inget, sejak nikah tahun lalu dan nggak lama setelahnya hamil.. sampai perut saya sebesar ini.. berapa kali saya bikin postingan baru?
Rasanya bisa dihitung jari. 😀

Well.. dan ternyata tinggal 5 pekan lagi menuju HPL. Duh.. perasaan baru kemaren deh saya nunjukin hasil testpack positif ke suami..

Saya ingat sekali saat dua garis merah itu muncul dengan jelas untuk pertama kalinya di testpack yang saya gunakan. Saat itu sekitar 2,5 pekan sejak pernikahan kami.
Rasanya luar biasa campur aduk. Senang bukan main (karena kami memang ingin segera punya anak), bingung, kaget, disertai pertanyaan-pertanyaan berulang yang muncul di kepala:
Siap nggak sih saya dapet amanah ini?
Eh.. ini beneran ya? Cepet banget ALLAH ngasihnya..
Hmm.. suami bakal bilang apa ya?

Sekarang pun rasanya tak jauh beda. Luar biasa campur aduk juga.
Tiap saat suami ngelus-elus perut saya sambil ngajak ngobrol “kakak”, pertanyaan berulang itu hadir kembali:
“Siapkah kami menjadi mama dan papa buat kakak nanti?”
Kalau saya tanya ke suami, biasanya dia hanya senyum atau tertawa kecil sambil bilang: “Siap nggak siap tetep harus siap kan?”
Sepertinya yang kami rasakan sama.
Campur aduk.
Super excited dengan akan hadirnya anggota baru di keluarga kecil kami, luar biasa bahagia karena punya anak (yang juga cucu pertama mertua) adalah hal yang memang kami nanti-nantikan, tapi juga ada perasaan takut dan khawatir tidak bisa jadi mama-papa terbaik buat anak kami nantinya.

Hmm.. tapi kayaknya hampir semua calon orang tua anak pertama merasakan hal yang sama kan ya? 😉

5 minggu menjelang HPL..
Doakan kami yaa.. agar bisa menyambut kehadiran “malaikat” kecil kami dengan sebaik-baiknya..
Doakan agar segalanya dimudahkan dan dilancarkan.. dan kehadirannya kelak dapat menjadi berkah yang luar biasa.. 🙂

Berawal dari 2 Hari Tanpa Kopi

#27DaysWritingProject (Day 27)

Ceritanya, kemarin saya mengikuti semacam konsultasi gizi singkat.
Kata mbak ahli gizinya, konsumsi kopi setiap hari itu nggak masalah. Yang harus diperhatikan adalah harus adanya jarak minimal 1 jam antara konsumsi kopi dengan waktu makan berat (yang tiga kali sehari itu).
Katanya, hal tersebut bisa menyebabkan rendahnya kadar hemoglobin dalam darah.

Sepulang dari konsultasi gizi, saya jadi berpikir ulang tentang waktu-waktu ngopi saya. Niatnya sih ingin menerapkan saran ahli gizi tersebut.
Ternyata nggak mudah. Selama ini saya minum kopi kalau pengen. Seringnya justru sesaat setelah makan.
Nah, karena beberapa kali batal minum kopi setelah makan, akhirnya 2 hari terakhir ini saya absen minum kopi!
Pantas saja 2 hari ini rasanya lebih lesu dari biasanya.
*Padahal bisa aja karena habis imunisasi dan reaksi hormonal siklus bulanan. 😛

Bicara soal kopi, sebenarnya saya agak khawatir juga nih. Pas kakak saya hamil dan menyusui, dokternya melarang konsumsi kopi. Katanya nggak baik bagi janin dan bayi. Nah looo.. kalau saya hamil dan menyusui nanti gimana, doooong? 😦
Kemarin sih pas tanya ke ahli gizinya, dia bilang nggak apa-apa asal tetap ada jarak 1 jam tadi..
Tapi kok saya masih nggak mantap ya. Masih khawatir kalau ternyata kopi memang nggak baik bagi janin.
Udah niat mau googling lebih jauh sejak zaman dahulu kala sebenarnya tentang pantangan kopi ini, tapi sayanya takut.
Takut kalau memang harus pantang kopi suatu saat nanti, dan saya nggak mau. Jadi, mendingan nggak usah tahu dulu aja lah. Melakukan suatu kesalahan yang kita nggak tahu kalau itu salah kan dimaafkan.. *eh* 😛

Jadi kepikiran. Sering nggak sih kita mikir gitu?
Nggak mau tahu soal larangan tertentu, supaya masih bisa terus melakukannya tanpa rasa bersalah.

Misal nih, ada isu tentang ketidakhalalan suatu produk. Karena baru katanya, enggan mencari tahu lebih lanjut demi masih bisa mengkonsumsi produk tersebut.
Atau sengaja nggak banyak baca hukum-hukum Islam, biar kalau melakukan kesalahan nggak dianggap dosa. Kan belum tau?
Atau.. nggak mau belajar banyak biar nggak ada kewajiban menyampaikan dan membagi ilmu yang dimiliki.
Atau.. sengaja nggak mau mempelajari batasan interaksi dengan yang bukan mahram, supaya masih bisa pacaran dengan alasan: “Saya nggak tahu kok kalau pacaran itu dosa. Kan yang dilarang cuma mendekati zina? Pacaran asal nggak aneh-aneh kan jauh dari zina?” Hmm..
Atau.. sengaja nggak mencari tahu tentang fiqih bersuci, supaya masih bebas tayamum kalau pas malas wudlu.
Atau.. sengaja nggak banyak bertanya tentang tata cara shalat, biar masih bisa asal jamak kalau aktivitas harian sedang padat-padatnya.

Padahal jelas-jelas ayat pertama yang ALLAH turunkan saja berbunyi “Iqra’!” Bacalah!
ALLAH memerintahkan kita untuk terus membaca dan belajar.
Nggak boleh bersembunyi di balik ketidaktahuan terus-menerus. 🙂

So.. balik lagi ke soal kopi. Kayaknya saya memang harus belajar lagi. Cari tahu lebih lanjut tentang efek konsumsi kafein saat hamil dan menyusui.
Meskipun status sebagai istri dan ibu masih jadi rahasia ALLAH (mudah-mudahan nggak lama lagi… *eh*), nggak ada salahnya belajar dari sekarang kan? 😉
Biar kalau memang harus pantang minum kopi suatu saat nanti, saya siap. Hehee.. 😀

Wallaahu a’lam bishawab.