Etika Mengunggah Foto

Postingan keren Mbak Tjetje yang perlu dibaca nih.. 🙂
Mari biasakan “saring sebelum sharing”..

Ailtje Ni Diomasaigh

Semenjak kehadiran media sosial dan telephone genggam pintar, fotografi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita (dan seringkali diasosiasikan dengan hobi mahal), berubah menjadi hobi yang bisa diakses semua orang. Fotografi menjadi media untuk berbagi, tak hanya momen baik dalam hidup, tetapi juga momen yang penuh kesedihan, dari kelahiran, kesakitan, hingga kematian. Sayangnya kemudahan mengambil foto tidak dibarengi dengan etika untuk menghormati orang lain.

Kelahiran di banyak negara, atau bahkan semua negara, dirayakan sebagai momen yang membahagiakan. Bagi orang tua baru (maupun tante baru seperti saya), mengabadikan setiap momen dan membaginya di sosial media kemudian menjadi hobi baru. Tak ada yang salah dengan berbagi foto bayi-bayi paling lucu sedunia tersebut, asal gak terlalu sering dan gak bikin orang muak, tetapi seperti pernah dibahas Mbak Yoyen disini, hobi baru ini membuat lahirnya sharent, sharing parent. Menurut pendapat saya, ada kecenderungan orang tua jaman sekarang kebablasan dalam mengunggah foto anaknya…

View original post 705 more words

Advertisements

Berkata Baik atau Diam

 

“Barangsiapa yang beriman kepada ALLAH dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau hendaklah diam.”
(HR Bukhari – Muslim)

Mungkin bukan satu dua kali kita dengar sabda Rasulullah saw. dalam hadits tersebut. Bahkan kalaupun nggak tau haditsnya, kata-kata “Berkatalah yang baik atau diam” itu udah semacam quote yang sering banget didengar di mana-mana.

Pertanyaannya adalah: Sudahkah kita melakukannya? Mudahkah? Seberapa sulit??

Bagi saya pribadi, pelaksanaan hadits tersebut pada kenyataannya sangat jauh dari kata mudah. Apalagi di masa sekarang ini, saat media “berbicara” tidak lagi sesederhana mulut atau bibir saja. Kita semakin mudah “berbicara” di mana-mana. Media cetak, media elektronik, buku, blog… dan terutama dalam media sosial macem facebook, twitter, dkk. yang semakin “nyaman” dijadikan ajang “berbicara”.

Orang bilang, media sosial atau blog adalah tempat yang pas untuk dijadikan “tempat sampah”. Apapun yang ingin kita utarakan, apapun yang ingin kita “buang”, apapun yang ingin kita lepaskan dari pikiran kita sangat nyaman sekali untuk dituangkan di dalamnya. Jujur saja, awal mula saya membuat akun twitter pun memang untuk berkicau sesuka hati. Tanpa peduli orang mau bilang apa, mau bereaksi apa membaca setiap tweet saya. Twitter berbeda dengan facebook. Mau “ngoceh” nggak penting tiap detik (lebay.. :p ) pun nggak bakal ada yang protes. Namanya juga twitter. Mau ngomel-ngomel, mengumpat atau ngomongin orang #nomention, apapun.. Orang memang nggak berhak protes. Sekali lagi: Ini twitter. Emang diciptakan buat tempat berkicau, koq.. Kalau suka ya Follow, nggak suka tinggal Unfollow atau sekalian aja Block. As simple as that.

Ya. Tadinya saya pun berpikir seperti itu. Bahkan saya suka sebel sama orang yang suka ngurusin tweet orang lain. Yang suka protes kalau ada tweet yang terasa “ganggu”, nggak sopan, nggak manfaat, de es be.. Ribet amat. Kalau nggak suka ya tinggal unfollow aja.
Ya. Tadinya saya juga berpikir begitu. Tadinya.

Sekarang, jujur aja saya pun merasa jadi orang yang ribet. Emang sih, saya nggak terlalu peduli sama tweet orang lain, sama status/komen facebook orang lain. Apalagi kalau saya nggak terlalu kenal orang tersebut. Sekali lagi, kalau nggak suka saya tinggal unfriend/unfollow/block orang tersebut.
Tapi, saya merasa jadi ribet sama diri sendiri.

Balik lagi ke hadits tadi, belakangan ini saya jadi suka kepikiran aja. Sudahkah saya melaksanakan hadits tersebut?

Sudahkah saya menggunakan lisan saya untuk berkata yang baik atau diam?
Sudahkah tweet2 saya berisi “kicauan” yang baik?
Sudahkah status facebook saya memberi manfaat dan maslahat bagi yang membacanya?
Sudahkah jari-jari saya digunakan untuk posting hal-hal baik dalam blog saya?
Dan yang terpenting..
Sudah (mampu)kah saya menahan diri dan mengurungkan niat berbicara, menulis, “berkicau”, update status, mengetik post, dsb. jika hal yang terlintas di pikiran saya untuk “dituangkan” adalah hal yang kurang baik atau tidak ada manfaatnya?

Oke, sekali lagi saya bilang: Saya memang (jadi) ribet. Mungkin bukan satu dua orang yang akan “protes” dan memandang sinis tulisan saya ini. Tapi, melalui tulisan ini saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri dan siapapun yang tidak keberatan diajak merenung sejenak, bahwa sabda Nabi saw. mengenai perkataan yang baik itu tak sesederhana itu. 🙂

Ribet yaa? Tapi.. Ribet di dunia nggak bakal rugi koq.. daripada ribet di akhirat?? ^_^

 

Dengan menuliskannya di sini, saya berharap bisa lebih mengontrol diri saya. Jika suatu saat atau saya pernah “berkata” yang tidak tepat, kurang baik, atau “mengganggu”.. Tolong diingatkan. 🙂

Wallaahu a’lam bishawab.