Namanya Kanza, Bukan Kansa

“Kansa..” setelah sekian lama mengantre, akhirnya (sepertinya) nama depan Alula dipanggil.

“Kansa?” ibu petugas puskesmas bagian pendaftaran itu mengulang memastikan saat saya mendekat ke mejanya, menyerahkan nomor urut antrean. Mukanya jutek. Jauh dari kata bersahabat.

“Kanza Bu, pakai Z.” Saya meralat melihatnya menulis nama Kansa di borang rujukan untuk imunisasi.

“Halah! Nggak ngaruh apa2 mbak. Wong cuma buat gini. Nggak buat ijazah atau apa. Salah-salah ya nggak pa-pa. Tetep diimunisasi.” Mukanya masih kecut sambil sibuk menulis di beberapa lembar lain. Tetap saja nama Kansa pakai S yang ditulisnya. 😦

Rasanya kesal. Masih ingin keukeuh protes sekali lagi.
Hoalah Bu.. apa susahnya sih mengganti tulisan nama anak saya dengan benar? Nggak perlu juga tambah ngedumel segala, kan? Kalau nama anak ibu Andika terus ditulis Andita, pasti protes juga kan Bu?
Saya malah ngedumel dalam hati.

Saya urungkan untuk mengulang protes. Mengingat wajah si ibu yang nggak ada ramah-ramahnya sama sekali. Bisa makin panjang malah urusannya kalau saya protes lagi. Saya senyumin aja beliau jutek begitu, kan? Hmm..

Dan benar saja. Karena sejak awal nama yang ditulis salah, di daftar imunisasi, de es te.. de es te.. akhirnya nama Kansa-lah yang tertulis. Bukan nama anak saya. 😦

Mungkin sepele buat sebagian orang.
Tapi bagi saya ini penting. Apa lagi menyangkut nama anak sendiri, yang perumusan dan penentuan namanya saja membutuhkan banyak pemikiran serius. Sarat makna dan doa yang terselip dari “sekedar” namanya itu. Salah satu huruf saja, maknanya akan jauh berubah.

Kanza.
Saya lebih dulu jatuh cinta dengan nama itu, bahkan sebelum kami cari artinya. Sejak nama itu terlintas di pikiran, saya baru bergegas mencari maknanya.
Kanza artinya harta yang tersembunyi. Kami (saya dan suami) menganggap putri kami adalah harta tak ternilai dari ALLAH. Kami berharap ia tumbuh sebagai putri shalihah yang pandai menjaga dirinya, yang sadar sepenuhnya bahwa ia adalah harta tersembunyi, perhiasan yang harus terus dijaga tersembunyi hingga kelak ia menemukan dan ditemukan oleh jodohnya.. suami yang akan turut menjaganya sebagai harta yang tak ternilai.

20170309_084014

Kanza Kamila Dafalula, nama penuh doa yang kami pilihkan untuk Alula

 

Lalu Kansa?
Kata engkong Google sih artinya keturunan.
Bukan arti yang buruk juga memang. Tapi bukan nama itu yang kami sematkan sebagai doa dalam rangkaian nama lengkap Alula.

Hufft.. jadi panjang ya? Hehee.. 🙂

Saya jadi ingat semasa saya SMP dulu. Awal-awal munculnya panggilan Jupe untuk nama saya oleh beberapa teman. Mungkin Zulfah terlalu ribet dilafazkan ya? Lalu muncullah nama Jupe. Waktu itu si mbak artis dengan nama tenar serupa belum banyak dikenal.

Jadilah saya sama sekali tak keberatan dengan nama itu. Bahkan, yang memanggil saya Jupe justru teman-teman yang tergolong akrab. Panggilan itu berlanjut hingga saya SMA (MAN wooooiii.. MAN..), karena beberapa teman SMP saya juga satu SMA MAN dengan saya.

Semakin banyak lah yang memanggil saya dengan nama itu. Malah nama Jupe lebih sering terdengar daripada nama Zulfah. Kalau dulu awalnya hanya teman akrab saja yang memanggil saya demikian, akhirnya justru hanya yang tidak terlalu kenal saya yang masih memanggil dengan nama Zulfah.

Lalu, hal itu sampailah ke telinga Bapak. Ternyata, itu menjadi masalah krusial baginya. Apalagi saat itu mbak-mbak artis kontroversial dengan nama serupa juga sudah mulai famous.

“Nama bagus-bagus Zulfah kok mau dipanggil Jupe sih nduk?” protes Bapak.
Tidak hanya sekali beliau menyampaikan itu.
Tidak hanya sekali pula saya justru membela teman-teman saya yang memanggil saya Jupe.
Saat itu, saya merasa Bapak saya lebay. Gitu doang Pak.. saya yang punya nama aja nyaman-nyaman aja kok dipanggil gitu.

Beberapa kali saya ngeyel, akhirnya Bapak tidak pernah lagi mempersoalkan itu.
Sampai sekarang.

Masih banyak yang memanggil saya dengan nama Jupe, dan saya pun masih saja merasa tidak keberatan pada akhirnya. Apalagi Jupe sudah lekat sebagai nama akrab saya. Meskipun sejujurnya saya jauh lebih suka dipanggil Zulfah, sesuai nama saya.

Namun, sejak “insiden Kansa” di puskesmas itu, saya jadi sangat paham bagaimana yang dirasakan Bapak. Nama anaknya yang dengan sepenuh hati sepelik pikiran dirumuskan menjadi rangkaian doa indah dan penuh makna, dengan mudahnya diganti. Dan dianggap sepele.
Luar biasa tak nyaman ternyata rasanya. 😦

Kemudian saya teringat penggalan ayat dalam Al Qur’an, dalam surat Al Hujurat ayat 11, “…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk…”

Mungkin konteksnya berbeda kalau dirunut secara asbaabun nuzul atau kajian tafsirnya. Tapi, sekilas ALLAH memerintahkan kita untuk saling memanggil dengan panggilan yang baik. Panggilan yang disenangi oleh yang dipanggil. Lebih jauh lagi, panggilan yang disenangi oleh orang yang memberikan nama.

Mungkin sampai kapanpun saya tak merasa keberatan dengan panggilan Jupe yang sudah terlanjur melekat. Mungkin Alula kelak juga tak masalah dengan orang-orang yang memanggilnya Kansa pakai S.
Tapi ternyata ada hati-hati yang tidak sepenuhnya rela. Ada Bapak yang merumuskan nama saya, dan saya yang juga sepenuh hati merumuskan nama Alula.

So.. Tidak ada salahnya belajar memanggil seseorang dengan nama yang benar, nama yang baik. Yang menyenangkan bagi telinga siapapun yang mendengar. Dan tentunya, secara tidak langsung terus meng-aamiin-kan doa yang terselip di dalamnya. 🙂

Wallaahu a’lam bishawab.

 

ditulis untuk #1minggu1cerita pekan ke-7, dalam minggu tema “Arti Sebuah Nama”

1minggu1cerita

Pake Polisi Biar (Nggak) Macet??

Sebagai orang (yang tinggal di) Indonesia, kayaknya udah nggak aneh kalau tiba-tiba banyak ditemukan polisi yang sibuk ngatur jalan. Lalu tak lama setelahnya, lewatlah iring-iringan orang-orang berduit yang menggunakan jasa polisi untuk memperlancar aktivitasnya di jalan. Entah itu petinggi pemerintahan macem presiden, menteri, dsb., artis, partai tertentu yang lagi kampanye, orang-orang penting yang entah apa sebutannya, sampai klub mobil mewah yang lagi konvoi keliling. Seperti yang saya temui siang tadi.

konvoi polisi

Bisa bayangin dong, gimana rasanya pas panas terik hujan badai di siang bolong trus kena macet konyol cuma demi nungguin pawai macem gitu lewat? Lengkap dengan iring-iringan polisi dan sirinenya yang tambah bikin dongkol orang yang jadi berasa “ngantri” di jalan umum??

Syukur alhamdulillaah-nya, saya tadi sih cukup berhasil mengatasi rasa sebel itu. Banyak Beberapa pengendara lain terlihat pada pasang tampang emosi sambil ngomel-ngomel, mencet klakson super ribut, bahkan ada yang sampai mengacungkan jari tengahnya ke arah para pengemudi Lamborghini dari ibukota negara yang ikut pawai. Sebenernya saya juga sebel sih.. Baru pulang, perut keroncongan, terik matahari bikin makin pusing… Rasanya tu ingin segera sampai rumah menyantap baso yang baru dibeli. (Hehe.. 😀 ) Eh, terpaksa harus nunggu lama demi iring-iringan orang-orang berduit yang bahkan bukan dari kota sendiri. Udah menuh-menuhin jalanan Jogja, bikin macet pula!!

Syukurlah ALLAH mengingatkan saya untuk beristighfar. Dan kemudian justru bikin saya mikir. Oke lah sekarang saya marah, saya kesel. Rasanya nggak banget deh merugikan orang lain cuma demi kenikmatan pribadi kayak orang-orang berduit dan punya kedudukan macam itu. Tapi nanti, ketika suatu saat saya menjadi orang yang “berduit”, orang yang punya kedudukan, masihkah saya punya pemikiran yang sama? Idealisme yang sama? Kepekaan yang sama terhadap hak orang lain? Atau kelak saya justru bersikap seperti “mereka” yang tadi saya kecam?

Nggak usah jauh-jauh lah.. Kalau suatu saat saya punya acara besar, resepsi pernikahan misalnya. Lalu saya menyewa mobil pengantin. Apakah saya akan tergoda untuk “menyewa” polisi untuk mengiringi rombongan mobil pengantin saya demi lancarnya perjalanan menuju tempat resepsi? Atau jangan-jangan.. tanpa sadar dulu-dulu saya udah pernah melakukannya? Saat resepsi saudara, tante, om, kerabat saya yang lain? Bukankah saya juga sudah “merampas” hak orang lain?

Jadi, kalau suatu waktu kita merasa dirugikan dengan iring-iringan konvoi semacam itu, mungkin lebih baik kita berdoa saja. “Yaa ALLAH, jika kelak saya punya harta/kedudukan yang lebih di atas orang lain, jangan biarkan saya mengabaikan hak-hak orang lain.”
Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok, kelak, nanti.
Lagipula, kalau kita sekedar marah, ngomel, dan emosi, bukankah kita malah nambah dosa juga? Justru dirugikan dua kali, kan? 🙂

 

Buat bapak-bapak polisi yang terhormat: Moga rajin ngatur jalannya nggak cuma kalau lagi ada iring-iringan orang penting & berduit lewat aja yaa Pak.. 😀