Unconditional Love

Akhir-akhir ini fisik saya sering drop. Mungkin karena hamil semakin besar, badan semakin mudah lelah. Aktivitas domestik sedikit aja seringkali bikin eungap. Nyuci seember doang, atau sekedar masak satu menu masakan, istirahat setelahnya bisa satu-dua jam. Lebay. Hehee ūüėā

Lalu soal makan. Dua kali kontrol ke SpOG terakhir, katanya berat badan janin masih saja kurang. PR besar saya satu: Makan! Yang banyak dan sering, apalagi nggak ada makanan apapun yang dipantang. Susahnya, balik lagi mungkin karena perut yang sudah makin besar, rasanya makan sedikit aja udah kenyang. Selera makan saya juga udah ngga kayak bulan-bulan lalu, yang tiap dua jam udah laper, liat atau denger makanan tertentu bisa tiba-tiba pengen, dan porsi makan bisa ngalah-ngalahin kuli!ūüėā Sekarang rasanya perut gampang penuh. Diisi sedikit udah berasa kenyang, dan gampang eungap kalau makan terlalu banyak.

Bicara soal fisik yang sering drop, mau nggak mau jadi merasa bersalah juga sama Alula. Sejak awal hamil adeknya ini aja, otomatis perhatian yang biasanya fokus untuk dia jadi terbagi. Fisik saya yang drop membuat perhatian saya untuk dia semakin berkurang. Padahal, si calon kakak lagi aktif-aktifnya. Kalau nggak lagi tidur, nggak berhenti yang namanya latihan berdiri dan jalan ke mana-mana, eksplorasi segala hal yang ada di sekitarnya, dan terutama soal kosakatanya yang semakin banyak saja. Bicaranya memang masih jauh dari jelas, tapi celotehnya sudah luar biasa banyak, bahkan seolah sudah mampu merespon balik saat diajak bicara. Nah, kalau dia lagi asyik cerita tapi tak ditanggapi, Alula sudah mulai bisa protes. Ini dia yang sebenarnya butuh perhatian lebih.

Alhamdulillaah.. Alula justru tidak banyak rewel. Sekecil itu sudah mau jadi kakak, ternyata ALLAH begitu memudahkan saya. Saat saya sibuk menyelesaikan perkerjaan domestik, tak jarang dia bisa anteng ditinggal main sendiri di kamarnya. Sesekali tetap saya tengok dan temani main sih.. Atau kadang dia ikutan main di dapur saat saya masak. Keponya luar biasa sih pada apapun yang saya lakukan, tapi masih cukup terkendali. So, tidak terlalu mengganggu laaah.. Biasanya, asalkan saya tak berhenti menanggapi saat dia bicara, suasana tetap aman tanpa rewel2 yang berarti.ūüėČ

Satu hal dari sikap Alula yang sempat membuat saya surprise awalnya adalah responnya kalau melihat perut saya yang besar. Dia otomatis mendekat, mengelus-elus perut saya sambil tersenyum geli atau bahkan tertawa. Bahkan, kadang saya hanya bilang.. “Sini.. Elus-elus adek.. Adeknya kangen looooh sama kakaknya.. Pengen ikutan main..” Seringnya, Alula akan dengan semangat mendekat dan mengelus-elus perut saya.ūüėć

Terima kasih ya Nak.. Entah kamu benar2 paham atau tidak, tapi sikapmu selama ini sangat berarti buat Mama. In syaa ALLAH kamu akan jadi kakak yang hebat dan disayang adik-adikmu kelak.

Mama sayang Alula..ūüėėūüėėūüėė

Advertisements

Pernah merasa gagal menjadi ibu?

Saya pernah.

Dan beberapa waktu lalu, saat sedang down karena merasa demikian, saya membaca artikel ini.
It helps. Meskipun dibumbui nangis bombay dulu sih selesai bacanya. Hehee.. ūüėÄ
Plus berulang kali tetap saja mengatakan maaf pada Alula.

Terima kasih ya Nak.. Mama akan berjuang lebih keras untuk tak sekedar tidak gagal menjadi ibu buat kamu dan adik-adikmu nanti..¬†:’)

-*-*-*-*-

Sejak awal hamil mual hebat, di tengah kehamilan pun sempat beberapa kali pendarahan, dan terpaksa harus menjalani operasi caesar saat persalinan. Kemudian orang-orang sekelilingmu mulai meracau menyalahkan. Bahwa kau kurang ikhtiar, atau tak menjaga kesehatan selama kehamilan, bahkan ada yang bilang kau kurang iman.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil dan persalinan lancar, tapi entah kenapa begitu IMD ASI tak juga mau keluar, bahkan sehari dua hari hingga batas waktu terakhir ASI diberikan. Lalu susu formula pun menjadi alternatif yang terpaksa kau pilih dengan penuh pertimbangan. Tiba-tiba orang yang tak tahu apa-apa menghakimimu sebagai ibu yang tak sempurna karena tak menjalankan amanat Menteri Kesehatan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil, persalinan, hingga menyusui lancar. Tapi kau meninggalkan bayi mungilmu yang baru berusia 3 bulan itu untuk sebuah pekerjaan yang gajinya menjadi sandaran hidup emak bapak di kampung halaman. ASI yang susah payah kau perah demi bayimu itu mereka bilang tak bisa disamakan dengan ASI yang langsung disusukan. Pun ditambah komentar sinis bahwa anak-anak para ibu bekerja adalah anak yang terabaikan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil, persalinan, menyusui mu lancar, kau juga seorang ibu rumah tangga sejati yang menjiwai peran. Tapi kau tak mengilmui MPASI homemade ala-ala WHO atau BLW atau Food Combining yang sedang tenar. Kau lebih memilih membeli MPASI instan yang dijual di pinggir jalan agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu menemani anak bermain dan menstimulasi dengan berbagai kreasi seharian. Lalu berbagai komentar berdatangan akan nilai gizi, rasa, higenitas dan kemasan makanan. Mereka bilang, buat anak kok sembarangan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau ibu baru yang tak tahu centang perenang dunia parenting kekinian. Marah-marah menjadi kegiatan harian saat anak rewel tak keruan. Hingga akhirnya kau dipertemukan dengan pakar parenting terbarukan atau kau membaca buku parenting yang mengagumkan. Lalu kau berkaca diri, menghitung ratusan omelan dan bentakan yang sempat dikeluarkan. Tiba-tiba kau merasakan penyesalan menyesapi setiap ruang di hati dan pikiran.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau sungguh mengikuti setiap postingan pakar parenting kesayangan. Pun membaca berbagai buku parenting yang bertengger rapi di rak buku mu jejer-berjejeran. Tapi kau punya innercild yang belum berhasil kau taklukkan. Hingga bayang kelam pengasuhan masa lalu masih lebih mendominasi setiap perkataan dan perbuatan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau sungguh-sungguh mengerti segala teori parenting, pun semuanya telah kau praktekkan. Tapi anakmu sungguh menguji iman. Kau rasa seakan tak ada teori parenting manapun yang mempan. Padahal kau dan suami telah memberikan sebaik-baik teladan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

***

Hai para ibu kesayangan Tuhan

Pervaginam atau caesar, ASI atau susu formula, bekerja di luar rumah atau ibu rumah tangga, MPASI homemade atau instan, dan berbagai gaya parenting yang diterapkan sungguh tak bisa menjadi ukuran keberhasilan.

Setiap ibu menjalani kisah heroik pengasuhannya sendiri-sendiri. Yang unik, yang berbeda satu sama lain, yang mengagumkan, yang pada saatnya nanti meninggalkan kesan di memori.

Setiap ibu memiliki perjuangan dan jalan cerita dalam membersamai anak yang tak sama. Seorang ibu mungkin berhasil menerapkan teori parenting A, tapi bisa jadi teori yang sama tidak bekerja di kondisi keluarga yang berbeda.

Anak yang tak semontok anak lain yang seumuran, tak segesit anak tetangga depan, atau tak sepandai anak temen fesbukan barangkali pernah mengusik pikiran. Tapi ingatlah bu, itu bukan berarti kau ibu yang gagal.

Sungguh menjadi ibu bukanlah kompetisi siapa yang anak nya lebih sehat, lebih pintar, lebih shaleh. Menjadi ibu adalah semua perjalanan yang kau lalui bersama anakmu dengan segala jatuh bangunnya, suka dukanya.

Mungkin kau rindu pada rumah yang selalu rapi. Padahal anakmu sungguh menikmati kesempatan yang kau berikan di setiap sudut rumah yang kau bolehkan menjadi tempat bermain dan bereksplorasi.

Mungkin kau merasa bersalah tak mampu memberikan ASI setiap hari. Padahal anakmu merasa nyaman saja berada dipelukmu sambil kau cium pipinya kanan kiri.

Mungkin kau merasa bodoh tak mengilmui berbagai teori parenting masa kini. Padahal instingmu sebagai ibu dan bonding yang kau bangun dengan bayimu sungguh lebih berarti.

Apapun kekurangan mu sebagai ibu. Bagaimana pun jatuh bangun kau rasakan kala menjadi ibu. Percayalah selalu ada tatapan kagum yang tulus di mata, hati, dan pikiran anakmu.

Yang memerhatikan kekhawatiran mu saat sakit menyerangnya.
Yang memedulikan rasa bersalahmu saat kau pamit berkerja.
Yang memaafkanmu saat kau masih perlu menata hati dan jiwa.
Yang melihatmu jatuh bangun mengurus rumah tangga dan dirinya.
Yang bahagia melihat senyummu merekah indah untuknya.
Yang tuluuuuus mencintaimu apa adanya.

Bangun, dan bangkitlah, ibu.
Hapus air mata dan kesedihanmu.
Buang resah dan khawatir yang ada di hatimu.
Buat segala lelahmu menjadi pahalamu.
Peluuk eraat, ciuum, katakan maaf dan terimakasih pada anakmu.
Dan dengan sungguh-sungguh, bisikkan di telinga anakmu itu
I love you

Because our children don’t need a perfect mom. They need a happy one for happy moms raise happy kids.

(Novika Amelia, dari broadcast salah satu grup parenting di whatsapp)

-*-*-*-*-

Awal hamil Alula, saya memang mengalami mual hebat. Lebay, bisa dibilang. Berat badan turun terus-menerus di awal kehamilan. Sulit sekali makanan masuk, itu pun seringkali diakhiri dengan muntah. Lemas luar biasa hampir tak bisa melakukan apapun, hingga akhirnya suami memasang infus cairan untuk saya di rumah demi nutrisi bisa masuk.

Tapi bukan itu yang membuat saya merasa gagal sebagai ibu.

Jatuh bangun di awal kehamilan terasa tak ada apa-apanya saat ALLAH memudahkan proses persalinan saya saat itu. Alula lahir normal spontan, dengan berat badan normal, sehat, cantik, tidak kurang suatu apapun.
Rumah sakit tempat saya melahirkan memfasilitasi IMD dengan sangat baik, sehingga Alula begitu mudah menyusu sejak pertama kali rooming in, tanpa perlu dibantu atau diajarkan oleh perawat yang saat itu hadir menawarkan bantuan.
ASI keluar sangat lancar sejak awal. Saya sama sekali tak perlu dirisaukan oleh perlu tidaknya menambah susu formula untuk Alula.
Saya bukan working mom. ALLAH memberi kesempatan bagi saya untuk 100% menemani Alula di rumah dan membersamai tumbuh kembangnya hingga saat ini. Membuat saya sempat memperkenalkan Alula MPASI-MPASI homemade sejak awal enam bulannya, tanpa perlu membeli MPASI instan di luar.

Mungkin saya tak terlalu update dengan dunia parenting kekinian.

Mungkin sesekali saya marah atau emosi saat kelelahan datang, dan Alula terus saja meminta perhatian saya atas segala tingkah polahnya.

Mungkin saya punya innerchild yang belum juga berhasil saya taklukkan, sehingga beberapa kali memunculkan sikap dan kata-kata yang tidak tepat untuk Alula.

Tapi, bukan itu semua yang membuat saya pernah merasa gagal menjadi seorang ibu.

Lalu mengapa saya sempat merasa gagal menjadi seorang ibu?
Untuk Alula?

-*-*-*-*-

Mungkin hal-hal yang ditulis dalam artikel tersebut tidak ada yang secara spesifik menunjukkan rasa gagal saya sebagai ibu.
Tapi, membaca artikel tersebut membuat saya menangis karena sempat merasa gagal menjadi mamanya Alula.

Sebelum punya Alula, bahkan sebelum menikah, saya punya sekian banyak kriteria ideal seorang ibu yang sangat ingin saya wujudkan.

Seorang ibu itu harus cerdas, punya pendidikan tinggi, supaya kelak punya cukup bekal untuk mendidik anak.
Seorang ibu harus punya pendidikan tinggi, supaya kelak anak-anaknya bangga dan punya semangat tinggi untuk menuntut ilmu.
Seorang ibu harus punya pendidikan tinggi, supaya anak-anaknya tidak malu ketika teman-temannya bertanya tentang orangtuanya.

Saya bahkan tak mampu menyelesaikan studi master saya.

Seorang ibu itu harus kreatif dan terampil dalam banyak hal, sehingga meskipun full time sebagai ibu rumah tangga, tetap mandiri secara finansial, tidak hanya bergantung pada suami.
Seorang ibu itu harus punya minat dan bakat yang jelas dan bisa dikembangkan, sehingga meskipun full time mengurus suami dan anak, tetap mampu terus meng-explore dan mengaktualisasi dirinya dalam bidang yang ia sukai.
Seorang ibu harus punya visi misi hidup yang jelas, mimpi yang terarah, sehingga dapat mendukung suami dan anak-anaknya mencapai cita-cita bersama.

Saya bahkan hingga kini masih sering bingung ditanya soal mimpi. Cita-cita. Hobi yang bisa dikembangkan untuk aktualisasi diri?
Lalu apa yang akan Alula dan adik-adiknya kelak lihat dan contoh dari seorang ibu yang seperti saya
?

Saya mungkin tak banyak mendapat tekanan dari omongan orang yang mengkritik saya sebagai seorang ibu, tapi bertubi-tubi kritik, kecewa dan rasa bersalah yang muncul dari diri saya sendiri rasanya sudah lebih dari cukup membuat saya merasa gagal menjadi seorang ibu.

Alhamdulillaah.. artikel Mbak Novika Amelia seolah menampar saya. Menyadarkan saya.
Begitu banyak kemudahan yang ALLAH hadirkan sejak hadirnya Alula di rahim saya.
Putri kecil saya itu tak banyak menyusahkan. Tak pernah sekalipun sakit yang merisaukan. Tak pernah rewel di luar batas wajar, dan relatif mudah ditenangkan.
Ia benar-benar harta yang luar biasa indah bagi keluarga kami.
Seharusnya saya fokus pada rasa syukur atas itu semua.
Tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan mendalam tak berkesudahan atas kegagalan-kegagalan saya pribadi dan ketidakmampuan saya untuk mengatasi kekecewaan terhadap diri sendiri.
Alula masih tetap butuh mama yang bahagia, yang siap menemaninya tumbuh, membimbingnya mencapai shalihah. Menuntunnya menjadi kakak yang baik dan mampu menjadi teladan adik-adiknya kelak.

Saya sangat sadar saya bukan seorang ibu yang sempurna. Sampai kapanpun demikian,
Tapi melihat senyum Alula setiap menyambut kehadiran saya, rasanya saya pun harus selalu siap menjadi seorang ibu yang bahagia.
Untuk Alula.
Dan adik-adiknya.

Because our children don’t need a perfect mom. They need a happy one for happy moms raise happy kids.

 

Wallaaahu a’lam bishshawab.

Hujan, aku tak selalu jatuh cinta

tumblr_nqoeru0nqr1uzdtkgo1_500

Mencintai hujan, pasaran katanya.

Katanya lagi,
Sudah terlalu banyak orang yang mengaku mencintai hujan,
tapi wajah berubah muram saat mendung berulang menggelayut sehingga jemuran tak kunjung kering.
Mengaku mencintai hujan,
tapi kesal saat turunnya hujan menunda rencana bepergian yang sudah lama dinantikan.
Mengaku mencintai hujan,
tapi menunda kepulangan karena enggan berbasah-basah saat hujan tiba di akhir jam kerja.
Mengaku mencintai hujan,
tapi tetap saja ngedumel tak berkesudahan saat kaki dan outfit of the day kesayangan terkotori becek jalanan.
Mengaku mencintai hujan,
tapi sebal luar biasa saat dinding-dinding rumah basah oleh rembesan, lantai tergenang air akibat hujan, membuat lelah mengepel berulang kali.

Namun, apapun katanya, saya tetap mengaku mencintai hujan.

Bagi saya, mencintai bukan berarti selalu menyukai segala hal tentangnya. Mencintai tak berarti tanpa benci sesekali.

Mencintai hujan berarti selalu menemukan alasan untuk jatuh hati berkali-kali,
pada petrichor.. kolaborasi minyak tetumbuhan dan aktivitas actinomycetes yang tak pernah usai dirindukan..
pada rintik yang menetes perlahan di dedaunan..
pada deras dan gemuruh yang menyamarkan air mata, membuat duka tak lagi sendiri. Ada semesta yang menemani..
pada pejamnya mata dalam gerimis yang mendamaikan diri..
pada bahagia tanpa kata saat menyengaja berbasah-basah dalam rinainya..

20160218103927

Karena hujan bukanlah Pencipta, ia hanya yang dicipta
Maka ia tak sempurna.
Ada sisi yang membuatnya sesekali ditakuti, sesekali dibenci, sesekali disalahkan..
Selama kamu masih menemukan alasan untuk jatuh hati berkali-kali padanya,
kamu tetap mencintainya.

*_*_*_*

Seperti itulah kita mencintai manusia.
Ayah, ibu, suami, istri, anak, kakak, adik, sahabat, teman..
Siapapun itu.

Mencintai mereka bukan berarti menyukai segala hal tentangnya.
Mencintai mereka bukan berarti dengan mudah menerima kekurangannya.
Karena seperti hujan, ia pun hanya yang dicipta.
Tak sempurna, selalu ada sisi yang berbeda denganmu. Selalu ada hal yang tak sesuai dengan harapmu.
Tapi selama kamu masih menemukan alasan untuk jatuh hati berkali-kali,
kamu tetap mencintainya.

untuk #1minggu1cerita, setelah tiga kali absen..^_^v

Manajemen Rasa

#27DaysWritingProject (Day 2)

Maka jika kau memiliki rasa yang tak biasa, tanyakan pada Sang Pemilik Rasa.
Hanya IA yang tahu pasti, ke mana seharusnya rasamu bermuara..

Beberapa waktu lalu, berbagai media sempat riuh oleh isu LGBT. Pasca legalisasi pernikahan sejenis di Amerika Serikat, ramailah publik dengan pro kontra berkaitan dengan hal tersebut. Saya nggak mau bahas tentang pro kontranya sih..
Isu LGBT yang heboh di media kemarin sempat memperkenalkan saya pada sosok Ustadz Rey, penulis buku Tuhan Tak Pernah Iseng yang didasarkan pengalaman pribadinya. Bagi yang belum mengenal beliau, bisa dibaca di sini.

Mengenal sosok beliau, meskipun hanya dari beberapa broadcast message ataupun artikel di internet, membuat saya memiliki pandangan lain tentang orang-orang dengan orientasi seksual yang tidak pada porsinya. Dulu saya termasuk orang yang mudah men-judge para LGBT adalah mereka yang tidak peduli pada aturan ALLAH, yang tidak mau berupaya keras melawan hasrat seksual menyimpang tersebut dengan cara mendekat pada ALLAH. Hal ini menyebabkan saya dengan mudah memandang sinis pada mereka.

Keberadaan Ustadz Rey membuka mata saya. Orientasi seksual ke arah LGBT pada beberapa orang memang ada, entah karena anomali secara genetisnya, atau kondisi lingkungan yang mengarahkan demikian (atau keduanya).
Bukan berarti saya jadi pro dan membenarkan legalisasi pernikahan LGBT, atau setuju pada kondisi memperturutkan hasrat menjadi LGBTnya. Toh dalam Islam, ALLAH jelas-jelas melaknat hal tersebut.
Hanya saja, saya menjadi tersadar bahwa orientasi seksual yang tidak tepat itu memang hadir pada sebagian orang, dan menjadi ujian tersendiri yang sangat berat dihadapi. Tidak bisa dengan seenaknya saya men-judge orang dengan hasrat seksual ke sesama jenis pasti jauh dari ALLAH. Mereka hanyalah orang-orang yang ALLAH uji dengan nafsu, hasrat, dan rasa yang berbeda.

Berarti ALLAH gak adil dong sama orang-orang yang dikasih hasrat seksual menyimpang?

Pastinya tidak ya.. Masih percaya kan kalau ALLAH Maha Adil? ūüôā

Bicara soal ujian dalam bentuk rasa, sebenarnya ALLAH ngasihnya rataaaaa sama semua hambaNYA. Hanya berbeda dalam hal objek dan kadarnya.
Coba deh dipikir-pikir. Semua manusia pasti pernah dititipi rasa cinta, sayang, atau nafsu yang bisa dibilang salah tempat, salah waktu, atau salah sasaran.

Misalnya rasa suka atau cinta pada lawan jenis sebelum disahkan oleh pernikahan..
Mahasiswi yang tiba-tiba naksir sama dosen muda nan ganteng luar biasa..
Atau yang pernah merasa jatuh cinta pada pandangan pertama sama kakak kelas.. (kok berasa FTV? Hehee ūüėÄ )
Rasa kagum dan simpati berlebihan sama teman kerja yang punya prestasi baik..
Udah mau nikah, tau-tau ada orang lain yang mendekat dan punya kualitas lebih baik dari calon istri/suami..
Bahkan untuk yang sudah menikah sekali pun, masih mungkin timbul rasa berbeda pada orang lain kan?

Nah kan? Ujian berbentuk rasa itu ada banyaaaaak sekali ternyata. Dan semua orang pasti mengalaminya.
Yang perlu dipelajari lebih jauh, adalah bagaimana memanage rasa itu.
Apakah segala bentuk rasa yang hadir itu salah? Mungkin iya, tapi ia fitrah. Ia ada, tapi perlu disikapi dan dikelola agar tidak mengarah pada hal yang ALLAH nggak suka. ūüôā

Ada yang bilang:

Desire cannot be heal, but it can be controlled.

Siapa yang mengontrol?
Kita sendiri, dengan terus memohon perlindungan, bantuan, dan kekuatan ALLAH tentunya. ūüôā

Karena rasa sepenuhnya milikNYA..
Mudah bagiNYA memutarbalikkan rasa..

Wallaahu a’lam bishawab.

Because You Deserve Someone Better

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

image

Setiap manusia di dunia pasti pernah mengalami apa yang namanya kegagalan. Gagal ujian, gagal masuk sekolah atau kampus favorit, gagal menjalankan suatu usaha, gagal naik jabatan, gagal membina rumah tangga sampai gagal move on. Eaaaa.

Begitu juga soal pernikahan. Ada yang gagal mempertahankan keutuhan rumah tangga setelah sekian tahun menikah. Ada juga yang gagal di tahap awal sebelum pernikahan itu terjadi. Gagal ketika proses ta’aruf itu berlangsung.

View original post 954 more words