Berkata Baik atau Diam

 

“Barangsiapa yang beriman kepada ALLAH dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau hendaklah diam.”
(HR Bukhari – Muslim)

Mungkin bukan satu dua kali kita dengar sabda Rasulullah saw. dalam hadits tersebut. Bahkan kalaupun nggak tau haditsnya, kata-kata “Berkatalah yang baik atau diam” itu udah semacam quote yang sering banget didengar di mana-mana.

Pertanyaannya adalah: Sudahkah kita melakukannya? Mudahkah? Seberapa sulit??

Bagi saya pribadi, pelaksanaan hadits tersebut pada kenyataannya sangat jauh dari kata mudah. Apalagi di masa sekarang ini, saat media “berbicara” tidak lagi sesederhana mulut atau bibir saja. Kita semakin mudah “berbicara” di mana-mana. Media cetak, media elektronik, buku, blog… dan terutama dalam media sosial macem facebook, twitter, dkk. yang semakin “nyaman” dijadikan ajang “berbicara”.

Orang bilang, media sosial atau blog adalah tempat yang pas untuk dijadikan “tempat sampah”. Apapun yang ingin kita utarakan, apapun yang ingin kita “buang”, apapun yang ingin kita lepaskan dari pikiran kita sangat nyaman sekali untuk dituangkan di dalamnya. Jujur saja, awal mula saya membuat akun twitter pun memang untuk berkicau sesuka hati. Tanpa peduli orang mau bilang apa, mau bereaksi apa membaca setiap tweet saya. Twitter berbeda dengan facebook. Mau “ngoceh” nggak penting tiap detik (lebay.. :p ) pun nggak bakal ada yang protes. Namanya juga twitter. Mau ngomel-ngomel, mengumpat atau ngomongin orang #nomention, apapun.. Orang memang nggak berhak protes. Sekali lagi: Ini twitter. Emang diciptakan buat tempat berkicau, koq.. Kalau suka ya Follow, nggak suka tinggal Unfollow atau sekalian aja Block. As simple as that.

Ya. Tadinya saya pun berpikir seperti itu. Bahkan saya suka sebel sama orang yang suka ngurusin tweet orang lain. Yang suka protes kalau ada tweet yang terasa “ganggu”, nggak sopan, nggak manfaat, de es be.. Ribet amat. Kalau nggak suka ya tinggal unfollow aja.
Ya. Tadinya saya juga berpikir begitu. Tadinya.

Sekarang, jujur aja saya pun merasa jadi orang yang ribet. Emang sih, saya nggak terlalu peduli sama tweet orang lain, sama status/komen facebook orang lain. Apalagi kalau saya nggak terlalu kenal orang tersebut. Sekali lagi, kalau nggak suka saya tinggal unfriend/unfollow/block orang tersebut.
Tapi, saya merasa jadi ribet sama diri sendiri.

Balik lagi ke hadits tadi, belakangan ini saya jadi suka kepikiran aja. Sudahkah saya melaksanakan hadits tersebut?

Sudahkah saya menggunakan lisan saya untuk berkata yang baik atau diam?
Sudahkah tweet2 saya berisi “kicauan” yang baik?
Sudahkah status facebook saya memberi manfaat dan maslahat bagi yang membacanya?
Sudahkah jari-jari saya digunakan untuk posting hal-hal baik dalam blog saya?
Dan yang terpenting..
Sudah (mampu)kah saya menahan diri dan mengurungkan niat berbicara, menulis, “berkicau”, update status, mengetik post, dsb. jika hal yang terlintas di pikiran saya untuk “dituangkan” adalah hal yang kurang baik atau tidak ada manfaatnya?

Oke, sekali lagi saya bilang: Saya memang (jadi) ribet. Mungkin bukan satu dua orang yang akan “protes” dan memandang sinis tulisan saya ini. Tapi, melalui tulisan ini saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri dan siapapun yang tidak keberatan diajak merenung sejenak, bahwa sabda Nabi saw. mengenai perkataan yang baik itu tak sesederhana itu. 🙂

Ribet yaa? Tapi.. Ribet di dunia nggak bakal rugi koq.. daripada ribet di akhirat?? ^_^

 

Dengan menuliskannya di sini, saya berharap bisa lebih mengontrol diri saya. Jika suatu saat atau saya pernah “berkata” yang tidak tepat, kurang baik, atau “mengganggu”.. Tolong diingatkan. 🙂

Wallaahu a’lam bishawab.

Jangan Tunda Berbuat Baik!

Siang tadi saya naik motor ke kampus. Di suatu pertigaan jalan, seorang lelaki tua tampak kepayahan mendorong sepeda yang mengangkut barang-barang bekas di atasnya. Jalan itu memang menanjak, pastilah semakin memperberat bebannya mendorong sepeda. Begitu lambatnya beliau mendorong sepeda, sehingga aktivitas beliau menghalangi lalu-lalang kendaraan yang lewat. Saya salah satunya.

Saya harus mencari celah agar motor saya bisa lewat. Terbersit niat sesaat untuk menolong bapak tersebut, tapi saya justru hanya membuka bagian depan helm saya, mengangguk dan tersenyum pada bapak tua itu. Sikap yang tak lama kemudian sangat saya sesali. Mengapa saya tidak menepikan motor sejenak dan menolong beliau mendorong sepedanya?

Beberapa detik kemudian saya memang menepikan motor dan menoleh ke belakang, ke arah bapak tua itu. Ingin kembali dan bergegas menolong, tapi terlambat. Seorang ibu berhati mulia sudah lebih dulu melakukannya. Sekali lagi, saya terlambat.

Kisah ini memang sederhana. Akan tetapi, suatu hal yang akhirnya saya benar-benar pahami adalah penyesalan memang selalu datang belakangan. Pertemuan singkat saya dengan lelaki tua itu sudah terjadi 10 jam lalu. Namun, wajah letih bapak pengumpul barang bekas itu masih terus terbayang di benak saya hingga kini. Seharusnya saya bergegas menolongnya sejak detik pertama niat itu terbersit di pikiran saya siang tadi.

Bagaimanapun, penyesalan tak akan punya makna tanpa hikmah yang bisa kita pelajari. Penyesalan tak akan berarti tanpa suatu bentuk perbaikan diri.

Jangan pernah penyesalan itu datang lagi.
Apapun niat baikmu, lakukan sekarang!
Lakukan segera setelah niat itu terbersit di benakmu!
Sebelum waktu mengambilnya pergi..
Sebelum orang lain mengambil kesempatanmu berbuat baik. Apapun bentuknya. 🙂