Hati-hati Jebakan Riya’ Terselubung!

#27DaysWritingProject (Day 3)

Kali ini saya ingin menyampaikan salah satu artikel dari whatsapp Grup Bimbingan Islam. Judul aslinya “Riya Terselubung”, diambil dari materi kajian oleh Ustadz Firanda Andirja. Redaksional atau pemilihan katanya agak saya ubah sih.. tapi in syaa ALLAH tidak mengubah isi materi kajiannya. Moga manfaat yaa.. 🙂

————————————-

Syetan tak akan berhenti berusaha membuat amalan anak Adam tidak bernilai di sisi ALLAH. Salah satunya adalah menjerumuskan manusia dalam berbagai bentuk riya’, yang seringkali tak disadari. Bentuk-bentuk riya’ ini sangat halus dan terselubung. So, kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak di dalamnya!

  • Riya’ Tipe 1:

Seseorang menceritakan keburukan orang lain, misalnya tentang pelitnya orang lain, malas shalat malamnya, dsb., dengan maksud agar yang mendengar tahu bahwa ia tidak seperti itu.
Pendengar akan menyimpulkan bahwa ia adalah orang yang dermawan, rajin shalat malam, dsb. Secara tersirat, ia ingin para pendengar mengetahui akan amal ibadahnya.

Tipe pertama ini adalah riya’ terselubung yang paling buruk. Kenapa? Karena ia telah terjerumus dalam dua dosa yang merupakan dosa besar, yaitu dosa ghibah dan dosa riya’. Demi memamerkan keshalihannya, ia mengumbar aib saudaranya sendiri.

  • Riya’ Tipe 2:

Seseorang menceritakan nikmat dan karunia yang banyak yang ALLAH berikan padanya, tetapi dengan maksud agar pendengar tahu bahwa ia adalah seorang yang shalih. Dengan demikian, ia berhak dimuliakan oleh ALLAH dengan memberikan karunia yang banyak padanya.

  • Riya’ Tipe 3:

Seseorang memuji gurunya dengan pujian yang luar biasa agar ia pun terkena imbas pujian tersebut. Menjadi murid seorang guru yang luar biasa hebat adalah sesuatu yang hebat juga, kan?
Pada hakikatnya, ia sedang berusaha memuji dirinya sendiri. Bahkan, terkadang ia memuji dirinya secara langsung tanpa disadari. Misalnya dengan mengatakan, “Ustadz Fulan itu luaaar biasa ilmunya, sangat tinggi mengalahkan ustadz-ustadz lain. Alhamdulillaah saya telah menimba ilmunya tersebut selama sekian tahun…”

  • Riya’ Tipe 4:

Seseorang merendahkan diri, tapi dalam upaya untuk riya’, agar dipuji bahwa ia adalah seorang yang mudah merendah, seorang yang low profile. Inilah yang disebut dengan “Merendahkan diri demi meninggikan mutu”.

  • Riya’ Tipe 5:

Seseorang menyatakan kegembiraan akan keberhasilan dakwah. Misalnya banyaknya orang yang menghadiri kajian, atau banyaknya orang yang mendapatkan hidayah dan sadar. Akan tetapi, sebenarnya ia berniat menunjukkan bahwa keberhasilan tersebut semata-mata karena kepandaian dan keterampilannya dalam berdakwah.

  • Riya’ Tipe 6:

Seseorang menyebutkan bahwa orang-orang yang menentang atau menyelisihinya mendapatkan musibah. Ia ingin menjelaskan bahwa ia adalah wali ALLAH, sehingga siapapun yang mengganggunya akan disiksa atau diazab oleh ALLAH.
Ini adalah bentuk tazkiyah (merekomendasi) diri sendiri yang terselubung.

  • Riya’ Tipe 7:

Seseorang menunjukkan dan memamerkan kedekatannya terhadap para da’i/ustadz, seolah-olah dengan kedekatan tersebut ia adalah orang yang shalih dan disenangi para ustadz.
Padahal kemuliaan di sisi ALLAH bukan diukur dari dekatnya seseorang terhadap ustadz ataupun orang berilmu, tetapi dari tingkat ketaqwaannya.

  • Riya’ Tipe 8:

Seseorang berpoligami, lalu memamerkannya. Jika berkenalan dengan orang lain, ia menyebutkan bahwa istrinya ada 2 atau 3 atau 4. Ia berdalih ingin menyiarkan sunnah, tetapi ternyata dalam hatinya berniat pamer.
Poligami adalah bentuk ibadah, maka memamerkannya termasuk dalam riya’.

Semoga ALLAH melindungi kita dari bentuk-bentuk jebakan riya’ terselubung tersebut.
Tak perlu kita menuduh orang lain terjerumus dalam riya’, tetapi tujuan kita adalah untuk bermuhasabah dan mengoreksi diri sendiri.
Hanya kepada ALLAH lah tempat memohon hidayah dan taufiq.

————————————-

Bagi saya pribadi, riya’ adalah satu bentuk dosa yang tergolong sulit dikenali. Kenapa? Karena riya’ adalah sepenuhnya permainan hati. Seringkali saya sulit mendeteksi ketika ia hadir, meskipun hanya selintas.
Saya membagi artikel ini agar kita lebih berhati-hati aja sih.. jangan sampai niat baik kita melakukan ibadah tertentu malah tidak tercapai karena pahalanya habis oleh dosa riya’.

Tapi hati-hati juga.. jangan karena terlalu khawatir terjebak riya, kita malah meninggalkan berbuat baik.
Fudhail bin ‘Iyadh dalam Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah pernah berkata, “Meninggalkan amalan karena manusia termasuk riya’ dan beramal karena manusia termasuk syirik.” Lebih jelasnya bisa dibaca di sini.
Duh, yang nyerempet-nyerempet urusan hati ini emang susah yaa? Hehee.. 😀

Wallaahu a’lam bishawab.
Semoga ALLAH selalu menuntun langkah kita ke arah kebaikan. Aamiin. 🙂

Mau Dapet Apa? Tergantung Niatnya. :)

Mungkin bukan cuma saya yang pernah bertanya-tanya:
Bolehkah kita melakukan sesuatu (amalan akhirat) dengan tujuan dunia?
Misalnya memelihara shalat dluha dengan tujuan ALLAH melancarkan rizqi, bersedekah agar ALLAH menyembuhkan penyakit, berinfaq banyak supaya ALLAH mengembalikannya dalam nominal yang berlipat ganda.. etc.. etc..

Hmm.. sebenernya postingan ini nggak bakal bahas bener2 secara hukumnya sih. Saya belum punya kompetensi yang memadai untuk bicara ranah hukum syariat secara detail. Kalau memang dirasa perlu, silahkan bertanya ke yang lebih ahli. 🙂 Hehe.. ngeles. 😀

Lewat tulisan ini, saya hanya mencoba membagi sudut pandang saya yang sederhana.

Pernah baca (atau bahkan hafal) hadits arba’in nomer 1 tentang niat kan? 🙂

Berkaca dari hadits tersebut, setiap amal kita akan dinilai (dan dibalas) tergantung pada niatnya. 🙂
Pemikiran sederhana saya mengartikannya begini: Kalau kita shalat karena ingin kaya, kita akan kaya. Kalau kita sedekah karena ingin disembuhkan penyakit, kita akan sembuh. Kalau kita berinfaq karena ingin dibalikin infaq kita dengan nominal berlipat ganda, ya itulah yang akan kita dapat. Tapi.. HANYA itu. 🙂

Coba kita ubah niatnya jadi yang lebih “mahal”. Shalat biar kaya, biar cepet dapet jodoh, biar makin disayang orang tua. Hasilnya? In syaa ALLAH kita akan dapet 3 hal itu!! 🙂 Atau mau di”naikkin” lagi level niatnya? Coba pikirkan suatu kenikmatan duniawi termahal, dan niatkan shalat kita untuk hal tersebut. Bakal dapet deh.. Hehe.. 😀 Tapi sekali lagi, HANYA itu yang kita dapet.

Sekilas sih enak banget yaa..? Betapa beruntungnya, kita bisa dapetin apa aja yang kita mau dengan (sekedar) melakukan satu amalan akhirat. Tapi tapi tapiii.. coba deh dipikir lagi. Benarkah dengan tujuan “berbau” duniawi (sebanyak apapun) dalam niat kita, kita beruntung??

Ternyata, nggak juga.

Coba bandingkan jika kita meniatkan amal kita untuk akhirat. Untuk ALLAH. Kita shalat dengan niat untuk ALLAH semata. Apa yang akan kita dapat? In syaa ALLAH kita akan makin dicintai ALLAH. Berhentikah sampai di sana? Tentu tidak!! Kalau ALLAH udah cinta sama kita, ALLAH bakal ngasih apapun yang kita mau. (Sekedar) “bekal” untuk mengantar ke surga? Pahala? Berbagai nikmat duniawi? Apa sih yang nggak ALLAH kasih kalau ridlaNYA udah berhasil kita raih? Apa sih yang nggak ALLAH kasih kalau cintaNYA udah tercurah untuk kita? 🙂 Malah dapet semua kan, tu? 🙂

Jadi, manakah yang lebih menguntungkan? Hehe.. ^_^

Oke, mungkin penjabaran pemikiran sederhana saya ini terkesan abstrak. Nggak riil. Bicara soal pahala atau niat untuk akhirat kan ghaib banget. Nggak bisa dilihat. Belum bisa dirasakan. Tapi, bukankah nikmat ALLAH juga gak semuanya bersifat inderawi? Bukankah nikmat-nikmat duniawi hanya keciiiiiil sekali nilainya dibandingkan nikmat-nikmatNYA yang masih “abstrak” di akhirat nanti?

Tapiii.. Bukankah itu berarti kita justru sangat merugi jika niat-niat dalam amalan kita hanya bervisi duniawi?

Pengetahuan manusia itu kecil banget. Kalaupun semua ilmu yang semua manusia miliki digabungin jadi satu, dilipatgandakan sejuta kali, tetep aja nilainya cuma setetes air di samudra kalau dibandingin dengan ilmu ALLAH. Atau malah lebih kecil lagi dari itu.

Jadi, kalau saya mikirnya, kenapa kita masih sering bervisi duniawi dalam niat-niat kita, itu karena manusia taunya cuma itu. Cuma tau kalau kaya itu enak, makanya minta kaya. Cuma tau kalau sehat itu nikmat, makanya minta sehat. 🙂 Belum tahu (dan ngerasain) kalau pahala itu nikmatnya ngalah-ngalahin nikmat duniawi, jadinya nggak minta pahala. 😀

Ilmu (inderawi) kita tentang kenikmatan itu masih sebatas duniawi, makanya kita “cuma” minta itu. 🙂

Kalau ada yang masih bertanya: Jadi, hukumnya boleh apa nggak melakukan amalan akhirat dengan niat duniawi? Saya sendiri belum tahu jawabannya. Lebih tepatnya, nggak berani ngasih jawaban boleh atau nggak. (Hehe..nyesel yaa baca postingan ini? 😀 )

Tapi setidaknya, jadi mikir dari segi mana yang lebih menguntungkan, kan? Pilih bervisi duniawi atau ukhrawi? 🙂

Wallaahu a’lam bishawab.

 

*sekedar pemikiran sederhana dari seseorang yang ilmunya masih sangat sederhana*

Tanya-Jawab Aqidah

Mushola Apung SPs UGM, 27 September 2012
(Ust Awan Abdullah)

Beberapa pertanyaan yang sering muncul dalam diskusi antar agama mengenai kebenaran aqidah Islam:

Tanya:
Di antara sekian banyak agama yang ada, ALLAH adalah satu-satunya Tuhan yang tidak berani atau seolah gak pede menampakkan diriNYA. Coba saja lihat Tuhan2 agama lain yang bisa dengan mudah dilihat secara kasat mata. Jangan-jangan wajah ALLAH buruk sekali, ya?

Jawab:
ALLAH bukan tidak pede, Tuhan agama lain saja yang ke-pede-an, seolah tak punya wibawa. Kalau ALLAH menampakkan diri, wujudNYA akan dibanding-bandingkan dengan hamba/makhlukNYA. Lagipula, ALLAH Maha Suci, tak pantas untuk turun ke bumi yang jauh dari kesucian karena kemaksiatan makhluk. ALLAH “mahal” sekali, sehingga tidak sembarangan dapat dilihat begitu saja oleh makhlukNYA. Selain itu, agar ALLAH tidak mudah dihinakan. 🙂

Tanya:
Semua agama menyatakan bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan mereka. Lalu, apa buktinya bahwa ALLAH-lah yang benar-benar Pencipta alam semesta ini, bukan Tuhan2 agama lain?

Jawab:
Setiap agama meyakini Tuhannya adalah Pencipta alam semesta berdasarkan kitab suci masing-masing. Di setiap kitab suci agama akan tercantum bahwa Tuhan (yang diyakini oleh tiap agama) adalah Pencipta alam semesta. Dengan demikian, untuk menentukan Tuhan mana yang sebenarnya menciptakan alam semesta, yang harus dilakukan adalah verifikasi terhadap kebenaran kitab suci tiap agama. Manakah kitab suci yang benar-benar merupakan ciptaan Tuhan?
Al Quran adalah satu-satunya kitab suci yang terjaga keasliannya dari masa ke masa. Gak percaya? Coba saja cek ayat per ayat dalam Al Quran dari jaman baheula sampai sekarang. Dari mulai Quran di Indonesia, di Arab, di Perancis, di Timor Leste.. adakah satu ayat pun yang berbeda? Adakah satu kata pun yang berbeda? Al Quran adalah satu-satunya kitab yang tidak kenal kata ketinggalan jaman atau gak sesuai jaman lagi. Isi Quran selalu sesuai dengan kehidupan masa kapan pun.
Satu bukti bahwa Quran dapat terjaga adalah bahwa ayat-ayat Quran dapat dihafal dengan “bahasa” yang sama oleh siapapun. Coba panggil para “petinggi agama” dari tiap agama dan suruh lafalkan 10 ayat saja dalam kitab suci agama masing-masing. Islam akan dengan mudah melafalkannya. Agama lain?

Tanya:
ALLAH kan Maha Kuasa. Lalu, untuk apa DIA menciptakan malaikat untuk membantunya? Memangnya tidak mampu melakukan segalanya sendiri?

Jawab:
Justru malaikat diciptakan sebagai salah satu bukti kekuasaan ALLAH dan menunjukkan kreativitas penciptaan yang luar biasa. ALLAH menciptakan banyak sekali malaikat dengan tugas-tugas spesifik yang berbeda, kan? Selain itu, malaikat diciptakan sebagai saksi perbuatan manusia (Raqib-Atid). Jadi, ketika manusia dibacakan catatan perbuatannya di akhirat kelak, ada saksi-saksi yang juga turut hadir dalam “pengadilan” ALLAH.

Tanya:
Dalam Islam, wanita dilarang menjadi pemimpin. Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Kok sepertinya Islam adalah agama gender ya? Terlalu membela laki-laki dan mengesampingkan hak-hak wanita?

Jawab:
Ah, kata siapa? Hanya orang-orang yang belum mengerti Islam yang berkata demikian. Justru Islam adalah satu-satunya agama yang sangat memperhatikan kesetaraan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan dalam segala aspeknya. Sifat dan karakter laki-laki dan perempuan memang pada dasarnya berbeda. Sudah dibuktikan dari sisi science maupun psikologis kan? Jadi, ada hak dan kewajiban yang berbeda di antara keduanya, disesuaikan dengan sifat dasar masing-masing. Adil bukan berarti harus setara dalam semua aspek yang sama, kan? Adil adalah “mengambil bagian” sesuai porsi masing-masing. 🙂

Tanya:
Islam itu lucu. Iblis (syetan) diancam akan masuk neraka, padahal dia terbuat dari api dan neraka juga isinya api. Bagaimana iblis akan takut oleh ancaman itu? Jelas saja iblis tidak kapok-kapok menyesatkan manusia, toh masa depannya sudah jelas –> masuk neraka dan kembali ke api.

Jawab:
Coba tampar pipimu sendiri dengan keras. Sakit, kan? Bukankah tangan (untuk menampar) dan pipi (yang ditampar) sama-sama terbuat dari kulit? Tapi kok tetap menghasilkan sensasi sakit? Karena meskipun sama-sama kulit, struktur dan kadarnya berbeda. 🙂
Sama halnya dengan iblis (dari api) yang masuk neraka (yang berisi api). Struktur dan kadar api kuning yang membentuk iblis (dan jin) berbeda dengan api hitam pengisi neraka. Maka, tentu saja iblis akan tetap merasa sangat kesakitan dan tersiksa dalam neraka. 🙂

Wallaahu a’lam bishawab.