Monolog: Butuh “Tamparan” Berapa Kali Lagi?

–karena saat menasehati orang lain, sejatinya kita sedang menasehati diri sendiri–

Tamparan pertama

Aku kok ngerasa kosong ya, ngapa-ngapain tuh kayak nggak ada nikmatnya. Padahal kuliah lancar-lancar aja, rizqi juga ngalir-ngalir aja.. kenapa ya?

Lalu satu kalimat meluncur dari mulut saya,

Sholatmu.. “kosong” nggak?

Tamparan kedua

Kak, tau obat anti depresi, nggak?

Satu kalimat terpampang di layar whatsapp saya. Tak perlu waktu lama untuk memahami bahwa “adik” di seberang sana sedang butuh didengarkan. Setidaknya, ia butuh pendengar saat ia menyuarakan bahwa ia sedang ada masalah.

Lalu satu kalimat yang saya ketikkan berikutnya,

Udah coba banyakin baca Qur’an?

Tamparan ketiga

Aku lagi futur, mbak. Rasanya kok males banget ya ngapa-ngapain. Aku inget sih, yang selalu mbak bilang: Yang berat itu mulainya. Tapi ya itu.. berakhir di niat doang. Mau mulai solat kok berat. Mau mulai banyakin doa dan zikir kok berat. …bla…bla,,,bla,,,

Keluhan seorang “adik” yang lain.

Lalu kalimat yang saya ucapkan setelahnya,

Nah, udah tau sendiri kan solusinya? Kita tu sering udah tau solusi dari masalah-masalah kita, tapi butuh orang lain untuk ngasih tau kita. Baru deh kita jalanin solusinya. Yuk ah, kalau nggak dimulai ya nggak akan selesai kan? 🙂

Tamparan keempat

Sendiri menyepi tenggelam dalam renungan
Ada apa aku, seakan ku jauh dari ketenangan
Perlahan kucari mengapa diriku hampa
Mungkin ada salah, mungkin ku tersesat, mungkin dan mungkin lagi..

Oh Tuhan, aku merasa sendiri menyepi
Ingin ku menangis menyesali diri, mengapa terjadi
Sampai kapan ku begini, resah tak bertepi
Kembalikan aku pada cahayaMU yang sempat menyala
benderang di hidupku..

(Edcoustic – Sendiri Menyepi)

Tiba-tiba terngiang lagu ini, satu lagu yang selalu “menampar” saya berkali-kali. 😦

Hari ini, beberapa kali ditempatkan pada posisi mendengarkan masalah-masalah “mereka”.
Mereka bilang, kata-kata saya sering “menampar” mereka. Mengingatkan untuk mengembalikan semua masalah pada Sang Pemberi Kekuatan di atas sana.
Tanpa mereka tahu, ketika itu saya pun merasakan tamparan luar biasa berulang kali. 😦

Membuat saya terdiam, dan merepetisi retorika pada diri sendiri:

Berapa ayat Qur’an yang sudah kulafalkan hari ini?
Berapa banyak sujud yang kupersembahkan untukNYA saja?
Berapa detik waktu yang kuhabiskan untuk zikir menyebut asmaNYA?

Sholatku.. masih “kosong” juga kan?
Jiwaku.. masih jauh dari tenang kan?
Mengapa setiap kuluangkan waktu untukNYA, tak ada kata yang mampu kuucap?
Sudah sebegitu jauhnya kah aku dari Sang Maha Dekat?
Mengapa setiap kuhempaskan diri di atas sajadah, tak setetes pun air mata yang jatuh?
Sebegitu kerasnya kah hati ini di depan IA yang Maha Lembut, Maha Kasih dan Maha Sayang?

Berapa tamparan lagi yang kubutuhkan untuk seutuhnya menghadirkan hati.. hanya untukNYA? 😥

Tarik aku kembali, Ya ALLAH.. sebelum azabMU yang menamparku..
Tarik aku kembali.. sebelum malaikat maut hadiahkan tamparan terakhir untukku.. 😦

Turbulensi

Pernah nggak berada pada kondisi emosi yang luar biasa jungkir balik? Tiba-tiba jadi gampang tersinggung, atau pengen marah-marah tanpa alasan, atau malah nangis berkepanjangan tanpa tahu sebab pastinya?
Mungkin sebagian (besar) wanita akan menjawab pernah, pas PMS. Hehee..

Saya pun begitu. Setidaknya satu kali dalam sebulan, saya merasakannya.
Terutama yang terakhir: Nangis berkepanjangan tanpa tahu sebab pastinya. Dan itu selalu kejadian satu hari menjelang masa-masa peluruhan dinding rahim itu. Mungkin tipe PMS tiap orang emang otentik kali ya? 😀

Gambar diambil dari sini

Gambar diambil dari sini

Dulu-dulu sih saya merasa terganggu dengan kondisi ini. Tiba-tiba nangis lama tanpa sebab kan capek. Bahkan biasanya berhenti nangisnya pun karena kecapekan, lalu ketiduran. Duh, nggak oke banget kan ya?
Tapi belakangan ini, saya jadi menikmatinya. Bahkan kadang saya merindukannya.
Kok bisa??

Iya, karena tangisan (yang awalnya) tanpa sebab ini akan mengantar saya untuk mengingat dosa,
mengingat kesedihan karena mimpi-mimpi yang belum terwujud,
mengingat hal-hal yang sering lupa saya lakukan untuk orang tua,
mengingat banyaknya khilaf pada orang-orang yang menyayangi saya,
mengingat rakaat demi rakaat shalat yang hampa tanpa nyawa,
mengingat sujud-sujud singkat yang tak lagi punya makna,
mengingat zikir dan doa yang tak pasti dipanjatkan pada SIAPA,

mengingat betapa jauh jiwa ini meninggalkanNYA.

 

Tips Menghafal Al Qur’an Dalam Waktu X Tahun – Bagian 5/5: Tactics and Technical Stuffs

Great post nih!
Tips oke buat yang akan memulai, sedang, dan akan terus menghafal Qur’an.. 🙂

ollooo..

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

Jreng!!!!!!!! (seriously, I have to find another sound effects for the opening of my article. X_x) Jumpa lagi sama saya di bagian yang ke-5: Tactics and Technical Stuffs. Di bagian ini saya akan berbagi tips tentang cara menghafalkan Al Qur’an yang saya lakukan. Mungkin (sejujurnya kemungkinan besar) ini bukan cara terbaik untuk menghafalkan Al Qur’an di luar sana, akan tetapi saya memilih untuk menjalankan metoda ini karena metoda ini relatif nyaman untuk saya yang punya keterbatasan di bahasa Arab dan (mirisnya) waktu. Dan alhamdulillah dengan menjalankan metoda ini, saya juga bisa menyerap seoptimal mungkin (dengan segala keterbatasan saya tentunya) kandungan dari Al Qur’an.

I – PREREQUISITE / PRASYARAT

Menurut saya pribadi, ada 2 buah persyaratan yang wajib untuk kita penuhi pada saat kita ingin menghafalkan Al Qur’an:

  1. Pastikan kita sudah bisa mengenali dan membaca huruf dan rangkaian kata Al Qur’an dengan baik.
  2. Pastikan kita sudah…

View original post 4,419 more words

Because You Deserve Someone Better

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

image

Setiap manusia di dunia pasti pernah mengalami apa yang namanya kegagalan. Gagal ujian, gagal masuk sekolah atau kampus favorit, gagal menjalankan suatu usaha, gagal naik jabatan, gagal membina rumah tangga sampai gagal move on. Eaaaa.

Begitu juga soal pernikahan. Ada yang gagal mempertahankan keutuhan rumah tangga setelah sekian tahun menikah. Ada juga yang gagal di tahap awal sebelum pernikahan itu terjadi. Gagal ketika proses ta’aruf itu berlangsung.

View original post 954 more words

karena saya (mungkin) tak akan pernah siap

Baru saja saya mendapat kabar wafatnya ibu dari salah seorang kakak kelas saya.
Lalu Tes! Refleks saya meneteskan air mata.
Ini bukan pertama kalinya. Beberapa waktu lalu, ketika mendengar kabar duka wafatnya ayah dari seorang kakak kelas saya, saya pun refleks menangis. Pun ketika beberapa hari lalu seorang teman yang ayahnya telah beberapa hari koma mengirimkan pesan singkat ke HP saya, “Teh, Papah udah nggak ada.” Bahkan ketika berita wafatnya seorang legenda srimulat kemarin pertama kali terbaca, air mata saya refleks jatuh.

Sungguh, tak satupun dari mereka yang benar-benar saya kenal dekat. Beberapa di antaranya malah tak pernah saya kenal. Cengengkah saya? Menangisi kematian orang-orang yang tak benar-benar saya kenal?

Ya, mungkin saya memang cengeng.
Tapi saya menangis bukan karena itu.
Saya menangis karena usia-usia mereka yang dipanggil ALLAH tak jauh dari usia Mamah-Bapak. Jika mereka sudah dipanggil ALLAH saat ini, mungkinkah ALLAH pun sudah bersiap memanggil Mamah dan Bapak? 😥
Dan mengingat kedekatan emosional dengan mereka yang baru saja akhir-akhir ini saya maknai sepenuhnya, saya sama sekali jauh dari siap jika itu terjadi.
Saya (mungkin) tak akan pernah siap.

Tau nggak, tiap kali ada kabar duka tentang ayah atau ibu seseorang, yang terbayang adalah kematian Mamah dan Bapak yang mungkin saja sewaktu-waktu datang.
Sungguh, saya nggak akan pernah siap kehilangan mereka.. 😦

Terlintas di benak saya betapa banyak waktu terbuang selama ini, tersia-sia tanpa sempat memaksimalkan bakti pada mereka..
Betapa banyak kecewa mereka atas saya, yang belum sempat saya tutupi dengan rasa bangga atas prestasi yang saya persembahkan untuk mereka..
Betapa banyak umpatan, kemarahan, kedengkian saya pada mereka yang belum sempat saya istighfari dan mohonkan maaf pada mereka..
Betapa banyak luka yang saya torehkan di hati-hati mereka, yang belum sempat saya obati dengan pengabdian sepenuh hati..

Saya masih banyak hutang.
Hutang ketidakhadiran hati untuk mereka selama ini..
Ketidakpedulian saya atas berjuta kasih sayang yang mereka tawarkan selama ini..
Penolakan demi penolakan yang saya lakukan atas peluk dan dekap mereka..
Ucapan cinta dan sayang yang masih sering terasa berat terucap dengan nyata..
Tangis sedih mereka karena saya yang terlampau sering terabaikan begitu saja..
Lantunan doa tak henti dari mulut-mulut mereka yang tak saya sambut dengan doa untuk mereka..

Saya tak mampu membayangkan, jika mereka meninggalkan saya sebelum saya purna menjadi seorang shalihat, lalu doa-doa saya tak mampu mengalirkan pahala amal bagi mereka hingga surga..
Saya tak mampu membayangkan, jika saya menikah dan bukan Bapak yang menikahkan saya, mengucapkan ijab dan berjabat tangan dengan imam baru yang akan menjadi suami saya..
Saya tak mampu membayangkan, jika saya menikah dan bukan Mamah yang duduk di samping saya, menemani saya mendengarkan ijab qabul dengan khidmat..

ALLAH..
Aku tahu tak baik memohon atas perpanjangan usia..
Harusnya aku meminta keberkahan atas berapapun usia yang Kau beri kan, Ya ALLAH?
Tapi untuk kali ini, izinkan aku memohon panjangkan usia Mamah-Bapak..
Izinkan aku memohon panjangkan usiaku..
Izinkan aku lebih sempurna dalam memaknai kehadiran mereka..
Izinkan aku untuk seutuhnya menghadirkan hati untuk mereka..

Izinkan aku untuk sepenuhnya siap kehilangan (atau meninggalkan) mereka,
sebelum Kau panggil siapapun kami menghadapMU.