Adaptasi

Beberapa waktu lalu, cuaca di rumah lagi terasa nggak nyaman. Hujan mulai turun, tapi menjelang hujan turun pasti hawanya jadi panas luar biasa. Sangat tidak nyaman bagi kami (saya dan suami), apalagi buat Alula.

Katanya sih, bayi umumnya lebih tahan terhadap udara panas daripada dingin. Tapi tetap saja, dari cuaca sebelumnya yang cukup menyenangkan karena relatif sejuk sekalipun siang hari, tiba-tiba jadi panas yang bikin keringat mengucur deras, Alula jadi lumayan rewel juga. Perlu waktu untuk adaptasi dengan cuaca berbeda.

“Namanya adaptasi emang nggak nyaman,” komentar suami waktu itu.
“Masa’ sih? Adaptasi jadi istri mas nyaman-nyaman aja kok..” saya malah nggombal. 😀

Tapi setelahnya saya jadi mikir juga. Apa iya adaptasi dengan suami pascanikah adalah hal yang nyaman? Kalaupun iya, yang jelas itu adalah proses yang jauh dari kata mudah.

Seperti yang sempat saya singgung sedikit di postingan sebelumnya, saya dan suami adalah dua orang yang bisa dibilang luaaaaar biasa berbeda. Sulit rasanya menemukan satu demi satu persamaan di antara kami dalam hal kesukaan, hobi, karakter, you name it. Dan semakin hari, seiring dengan satu demi satu persamaan di antara kami yang (sangat) perlahan muncul, perbedaan demi perbedaan kami justru makin banyak terungkap. Menuntut adaptasi yang berat bagi masing-masing kami.

Hal paling sederhananya saja soal makanan. Sejak kecil, saya terbiasa menikmati masakan yang minim bumbu, apalagi vetsin. It’s a big no no di keluarga saya. Sayuran paling sering dikonsumsi justru sejenis sayur bening, lalapan, tumisan yang bumbunya cuma bawang-bawangan, atau sayur sop. Suami? Kalau dikasih menu “bening” gitu doang, pasti masih nambah kecap, saos sambal, atau semacamnya. Suami doyannya oseng-oseng dengan tambahan kecap yang kental, sayur-sayur bersantan macam lodeh dkk., atau soto-sotoan.

Udah gitu, suami ternyata sangat nggak suka ikan asin! Padahal, dari kecil saya tumbuh di lingkungan orang-orang yang menganggap nasi panas lauk ikan asin dan sambal terasi adalah menu paling enak sedunia.

Pas awal nikah dulu, saya pernah dengan penuh semangat memasakkan suami salah satu menu andalan dan favorit keluarga saya, asin peda cabe ijo. Waktu itu pas kebetulan suami mau berangkat kerja, jadi saya nggak lihat langsung pas suami makan karena makanannya dibawa sebagai bekal. Tapi setelah tahu suami sangat nggak doyan ikan asin, rasanya guilty banget. Campur sedih. Peda kan asin banget. Kebayang gimana terpaksanya suami ngabisin masakan istrinya waktu itu. Di sisi lain, itu menu favorit saya.. Jelas nggak bakal masak lagi deh.. 😦

Sampai saat ini, memasak buat suami masih jadi tantangan tersendiri bagi saya. Akhirnya saya yang ngikut selera suami sih, meskipun nggak yakin suami beneran menikmati masakannya apa nggak karena menu-menu suami bukan menu yang sering saya masak sehari-hari selama ini. Belum lagi, kalau mood lagi jelek, kadang suka berasa sebal karena nggak bisa lagi menikmati masakan enak versi lidah saya. Hehee..

Itu baru hal sepele soal makanan ya,  yang lain masih banyak! Dan yang pasti membuat proses adaptasi di antara kami nggak pernah mudah. Nggak hanya menguras energi, tapi kadang juga emosi.

Iya, mungkin suami benar. Yang namanya adaptasi itu nggak nyaman. Tapi mudah-mudahan, seiring proses adaptasi yang entah akan usai atau tidak, sinergi di antara kami juga akan semakin kuat dan membuahkan output yang penuh manfaat. Toh kami tak perlu adaptasi soal tujuan pernikahan, in syaa ALLAH masih tetap surga yang jadi mimpi kami bersama. 🙂
Untuk suamiku (yang entah akan membaca ini atau tidak)..
Terima kasih untuk kesabaranmu yang luar biasa menghadapi emosi labilku selama ini..
Menjadi istri buat Mas dan mama buat anak kita adalah proses adaptasi yang nggak pernah mudah.
Terima kasih atas sabar Mas yang nggak pernah habis, atas marah yang nggak pernah Mas tunjukkan, meskipun aku nyebelinnya kebangetan, nuntutnya kebanyakan, dan manjanya nggak ketulungan. Hehee.. 😀
Aku sayang Mas, dan semoga ALLAH terus menuntun dan membersamai kita agar rasa sayang itu tetap berdasar pada cinta kita kepadaNYA.. agar kita nggak hanya bareng-bareng di sini, tapi juga di surgaNYA nanti..♥♥♥

Jahitan di Dagu

Hayolooo.. udah berapa lama blog ini dibiarkan nganggur? Udah hampir dua bulan yaa?
Hehee..
Maafkan, kemarin-kemarin masih rariweuh seputar pernikahan saya 17 Oktober lalu (dan agenda-agenda setelahnya.. 😀 )
Alhamdulillaah berkat kasih sayang ALLAH dan doa kerabat dan teman-teman shalih/shalihat, serangkaian acaranya berlangsung lancar. 🙂

Hmm.. rasanya buanyaaaaaakk sekali hal yang ingin saya tuangkan di sini. Tak sekedar tentang euforia menikah, tapi beberapa ide tulisan yang selama hampir dua bulan terakhir ini terpaksa tergeletak begitu saja di sudut-sudut otak.
Tapi kali ini, saya ingin sedikit berbagi tentang apa yang dihadapi di awal pernikahan. 🙂

Menjelang hari H, saya banyak bersilaturahim dengan beberapa sahabat. Kebanyakan di antaranya adalah yang sudah lebih dulu menikah.
Tujuannya setidaknya ada 2, mengantarkan undangan dan meminta nasehat.
Nasehat yang paling banyak saya terima adalah seputar kendala yang umumnya dihadapi di awal pernikahan: ADAPTASI.

Yep. Dua insan dengan jenis kelamin berbeda, dari dua keluarga berbeda, dua daerah asal berbeda, dan tentunya dua kepala dengan watak dan kepribadian berbeda dipaksa bersinergi bersama sejak diikrarkannya akad nikah.
Tentu sangat jauh dari kata mudah.
Saya dan suami baru berkenalan April tahun ini. Interaksi di antara kami sangatlah terbatas sebelum menikah. Bisa dibilang, kami sekedar saling menerka watak masing-masing saja, di luar yang tertulis dalam biodata yang saling kami tukar sebelum ta’aruf.

Tuntutan untuk segera saling mengenal membuat kami berupaya terus menggali karakter, sifat, dan kebiasaan masing-masing sejak usai akad nikah hingga detik ini. Dan tahu nggak? Saya sempat stres sendiri karena ternyata.. kami berdua sangat berbeda! Sangat sulit rasanya menemukan persamaan di antara kami.

Suami yang terbiasa santai menghadapi apapun… Saya yang seringnya perfeksionis.
Suami yang suka Naruto dan segala bentuk film Jepang (dan kebanyakan film Asia) yang bagi saya nggak ada seru-serunya sama sekali… Saya yang suka hampir semua jenis film kecuali film Asia. 😛
Suami yang nggak terbiasa minum minuman berwarna jenis apapun…  Saya yang sulit sekali melewatkan satu hari tanpa satu-dua cangkir kopi, ditambah teh dan beberapa minuman lain.
Suami yang adiksi dengan air putih… Saya yang bisa dibilang nggak suka air putih, dan hanya terbiasa minum air putih dingin fresh from refrigerator.
Lalu selera kami terhadap berbagai jenis makanan (dan masakan) yang seringkali bertolak belakang. Nah! PR banget kan buat jadi koki pribadinya? >_<

Maka, ketika pertama kali suami memegang dagu saya dan berkomentar: “Ini bekas jahitan ya?”
Lalu saya jawab: “Iya, waktu kecil pernah dijahit gara-gara kena pinggiran meja.”
Suami bilang lagi: “Aku juga punya loh, jahitan di dagu.” Maafkan Mas, aku lupa alasannya. 😛

There! Kami tertawa bersama. Finally we found our first similarities! Yeay!! ^_^

Mungkin sepele buat kebanyakan orang. Tapi, menemukan satu persamaan kecil di antara kami berdua seolah memberi harapan dan semangat baru.
Kali ini mungkin sebatas jahitan di dagu, tapi seiring perjalanan kami ke depannya nanti, kami yakin akan terus menemukan persamaan demi persamaan lain yang in syaa ALLAH akan menguatkan sinergi di antara kami. 🙂
Setidaknya, persamaan semangat untuk terus berupaya mengolah perbedaan-perbedaan di antara kami menjadi kekuatan tersendiri.

Bismillaah..
Doakan kami ya! Perjalanan kami masiiiih sangat panjang.. 🙂