Namanya Kanza, Bukan Kansa

“Kansa..” setelah sekian lama mengantre, akhirnya (sepertinya) nama depan Alula dipanggil.

“Kansa?” ibu petugas puskesmas bagian pendaftaran itu mengulang memastikan saat saya mendekat ke mejanya, menyerahkan nomor urut antrean. Mukanya jutek. Jauh dari kata bersahabat.

“Kanza Bu, pakai Z.” Saya meralat melihatnya menulis nama Kansa di borang rujukan untuk imunisasi.

“Halah! Nggak ngaruh apa2 mbak. Wong cuma buat gini. Nggak buat ijazah atau apa. Salah-salah ya nggak pa-pa. Tetep diimunisasi.” Mukanya masih kecut sambil sibuk menulis di beberapa lembar lain. Tetap saja nama Kansa pakai S yang ditulisnya. 😦

Rasanya kesal. Masih ingin keukeuh protes sekali lagi.
Hoalah Bu.. apa susahnya sih mengganti tulisan nama anak saya dengan benar? Nggak perlu juga tambah ngedumel segala, kan? Kalau nama anak ibu Andika terus ditulis Andita, pasti protes juga kan Bu?
Saya malah ngedumel dalam hati.

Saya urungkan untuk mengulang protes. Mengingat wajah si ibu yang nggak ada ramah-ramahnya sama sekali. Bisa makin panjang malah urusannya kalau saya protes lagi. Saya senyumin aja beliau jutek begitu, kan? Hmm..

Dan benar saja. Karena sejak awal nama yang ditulis salah, di daftar imunisasi, de es te.. de es te.. akhirnya nama Kansa-lah yang tertulis. Bukan nama anak saya. 😦

Mungkin sepele buat sebagian orang.
Tapi bagi saya ini penting. Apa lagi menyangkut nama anak sendiri, yang perumusan dan penentuan namanya saja membutuhkan banyak pemikiran serius. Sarat makna dan doa yang terselip dari “sekedar” namanya itu. Salah satu huruf saja, maknanya akan jauh berubah.

Kanza.
Saya lebih dulu jatuh cinta dengan nama itu, bahkan sebelum kami cari artinya. Sejak nama itu terlintas di pikiran, saya baru bergegas mencari maknanya.
Kanza artinya harta yang tersembunyi. Kami (saya dan suami) menganggap putri kami adalah harta tak ternilai dari ALLAH. Kami berharap ia tumbuh sebagai putri shalihah yang pandai menjaga dirinya, yang sadar sepenuhnya bahwa ia adalah harta tersembunyi, perhiasan yang harus terus dijaga tersembunyi hingga kelak ia menemukan dan ditemukan oleh jodohnya.. suami yang akan turut menjaganya sebagai harta yang tak ternilai.

20170309_084014

Kanza Kamila Dafalula, nama penuh doa yang kami pilihkan untuk Alula

 

Lalu Kansa?
Kata engkong Google sih artinya keturunan.
Bukan arti yang buruk juga memang. Tapi bukan nama itu yang kami sematkan sebagai doa dalam rangkaian nama lengkap Alula.

Hufft.. jadi panjang ya? Hehee.. 🙂

Saya jadi ingat semasa saya SMP dulu. Awal-awal munculnya panggilan Jupe untuk nama saya oleh beberapa teman. Mungkin Zulfah terlalu ribet dilafazkan ya? Lalu muncullah nama Jupe. Waktu itu si mbak artis dengan nama tenar serupa belum banyak dikenal.

Jadilah saya sama sekali tak keberatan dengan nama itu. Bahkan, yang memanggil saya Jupe justru teman-teman yang tergolong akrab. Panggilan itu berlanjut hingga saya SMA (MAN wooooiii.. MAN..), karena beberapa teman SMP saya juga satu SMA MAN dengan saya.

Semakin banyak lah yang memanggil saya dengan nama itu. Malah nama Jupe lebih sering terdengar daripada nama Zulfah. Kalau dulu awalnya hanya teman akrab saja yang memanggil saya demikian, akhirnya justru hanya yang tidak terlalu kenal saya yang masih memanggil dengan nama Zulfah.

Lalu, hal itu sampailah ke telinga Bapak. Ternyata, itu menjadi masalah krusial baginya. Apalagi saat itu mbak-mbak artis kontroversial dengan nama serupa juga sudah mulai famous.

“Nama bagus-bagus Zulfah kok mau dipanggil Jupe sih nduk?” protes Bapak.
Tidak hanya sekali beliau menyampaikan itu.
Tidak hanya sekali pula saya justru membela teman-teman saya yang memanggil saya Jupe.
Saat itu, saya merasa Bapak saya lebay. Gitu doang Pak.. saya yang punya nama aja nyaman-nyaman aja kok dipanggil gitu.

Beberapa kali saya ngeyel, akhirnya Bapak tidak pernah lagi mempersoalkan itu.
Sampai sekarang.

Masih banyak yang memanggil saya dengan nama Jupe, dan saya pun masih saja merasa tidak keberatan pada akhirnya. Apalagi Jupe sudah lekat sebagai nama akrab saya. Meskipun sejujurnya saya jauh lebih suka dipanggil Zulfah, sesuai nama saya.

Namun, sejak “insiden Kansa” di puskesmas itu, saya jadi sangat paham bagaimana yang dirasakan Bapak. Nama anaknya yang dengan sepenuh hati sepelik pikiran dirumuskan menjadi rangkaian doa indah dan penuh makna, dengan mudahnya diganti. Dan dianggap sepele.
Luar biasa tak nyaman ternyata rasanya. 😦

Kemudian saya teringat penggalan ayat dalam Al Qur’an, dalam surat Al Hujurat ayat 11, “…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk…”

Mungkin konteksnya berbeda kalau dirunut secara asbaabun nuzul atau kajian tafsirnya. Tapi, sekilas ALLAH memerintahkan kita untuk saling memanggil dengan panggilan yang baik. Panggilan yang disenangi oleh yang dipanggil. Lebih jauh lagi, panggilan yang disenangi oleh orang yang memberikan nama.

Mungkin sampai kapanpun saya tak merasa keberatan dengan panggilan Jupe yang sudah terlanjur melekat. Mungkin Alula kelak juga tak masalah dengan orang-orang yang memanggilnya Kansa pakai S.
Tapi ternyata ada hati-hati yang tidak sepenuhnya rela. Ada Bapak yang merumuskan nama saya, dan saya yang juga sepenuh hati merumuskan nama Alula.

So.. Tidak ada salahnya belajar memanggil seseorang dengan nama yang benar, nama yang baik. Yang menyenangkan bagi telinga siapapun yang mendengar. Dan tentunya, secara tidak langsung terus meng-aamiin-kan doa yang terselip di dalamnya. 🙂

Wallaahu a’lam bishawab.

 

ditulis untuk #1minggu1cerita pekan ke-7, dalam minggu tema “Arti Sebuah Nama”

1minggu1cerita

#1minggu1cerita: karena blogger harus aktif blogging

Ada yang punya blog tapi lama dianggurin tanpa postingan baru?
Ada yang ngaku blogger tapi entah sudah jutaan tahun lamanya ngga aktif blogging?
Ada yang semangat nulis blognya cuma muncul di awal, jadi semua blog post hanya berakhir di draft?
Ada yang butuh dipaksa-paksa dulu, ditagihin melulu, atau ditularin semangat nulis sama orang lain dulu baru bisa keluar ide buat blogging?

Saya ngacung tinggi sambil tutup muka! Hehee.. 😀

-*-*-*-*-

Ini pekan kedua saya ngeblog bareng #1minggu1cerita. Satu komunitas blogger yang secara konsisten memaksa para membernya untuk nulis minimal 1 postingan di tiap pekannya.

1minggu1cerita

#1minggu1cerita berawal dari inisiatif kakak-kakak kece seperti Rahyang, Anil, Guli, Selly, Agustina, Jessis, dan Shelly Asmauliyah pada pertengahan Juni 2014 untuk membentuk komunitas blogger. Tujuannya agar para blogger yang tergabung dalam komunitas ini punya komitmen menulis paling tidak satu cerita dalam satu pekan.
Grup bikinan para founder ini (ceileeeeh.. founder cyiiiin 😛 ) ternyata berhasil memicu kreativitas para member dalam menulis blog. Disatukan dalam komunitas yang memiliki kesamaan minat, menulis, rupanya semakin memudahkan para member untuk konsisten menulis. Lebih jelas tentang #1minggu1cerita dan segala macam update-annya bisa dilihat di sini yaa.. 😉

 

Saya ingat sekali bagaimana awalnya saya terjebak di komunitas ini. Ngga sengaja nemu #1minggu1cerita di Instagram sekitar tahun lalu, dan sukses dibuat tertarik dan penasaran untuk join. So, waktu ada pendaftaran member di akhir Desember kemarin, ikutlah saya daftar. Ngisi data di Google form, lalu katanya akan dihubungi lagi via email dan diajak gabung grup Whatsapp menjelang akhir Januari.

Email cinta dari admin #1minggu1cerita masuk pas saya lagi leyeh-leyeh di Kebonrojo Blitar awal Januari kemarin. Langsung excited dan sumringah bacanya. Ngga sabar segera diinvite ke grup Whatsapp buat ditagihin postingan tiap pekan. Hehee..

Mungkin buat para blogger yang udah rutin nulis, rajin posting dan konsisten ngeblog, ngga penting lagi ikutan komunitas semacam ini.
Tapi buat blogger abal-abal yang ngakunya blogger tapi jarang blogging kayak saya, #1minggu1cerita punya peran yang luar biasa biar saya ngga repot harus selalu bersih-bersih sarang laba-laba dulu tiap kali posting tulisan baru saking lamanya blog ini dianggurin.

Lagipula, #1minggu1cerita ngga cuma berperan memaksa saya menulis tiap pekan, tapi juga bikin saya kenal sama member-member –dan admin– keren yang blognya pada oke punya. Bikin makin semangat blogwalking! 🙂

Yang saya luar biasa salut adalah para adminnya. Sembilan orang admin #1minggu1cerita ini rela meluangkan waktunya buat ngurusin 211 member yang ada. Mulai dari ngirim pesan-pesan cinta via email dan media-media sosial, saling kasih semangat menulis (yang ini sih antarmember juga yaa), baca dan ngasih penilaian buat tulisan member yang sebanyak itu dan pastinya bikin mata jereng kalau pas ada event GAsampai rese’ nagihin yang pada belum setor atau hobi mepet-mepet deadline setoran kayak saya. Ups! >_<

admin

Terima kasih, admin-admin kece!! ^_^ (Ada satu admin baru yang belum dicantumin di sini).

Pekan kedua ini, saya masih betah jadi deadliner nih. Hari terakhir batas waktu setor baru posting. Pekan lalu lebih parah sih.. bener-bener injury time setornya beberapa menit menjelang ganti hari! 😛
Mudah-mudahan, ke depannya saya makin semangat nulisnya. Biar bisa setor di awal pekan kayak member-member rajin lainnya dan ngga keburu ditagihin Bang Phadli. Hehee..

-*-*-*-*-

So..
Tertarik gabung di komunitas #1minggu1cerita seperti saya?
Join aja di periode pendaftaran berikutnya!
Kalau ngga salah, Mei ini mau dibuka lagi looooh..

Semangat menulis! 🙂

 

Nostalgia Bandung Jaman Baheula

Kalau harus bercerita tentang Bandung, mungkin apa yang akan saya tuliskan ini tak lagi relevan dengan Bandung sekarang. Terlalu lama tak melewati hari-hari di kota tercinta itu sebagai rumah, membuat saya yang masih saja keukeuh menganggap Bandung sebagai kampung halaman, tak benar-benar mampu menggambarkan keseruan Bandung saat ini.

minggu-1-2017-tema

Tema kejutan di minggu pertama dari para admin. Padahal udah pernah nulis tentang kampung halaman juga sebelumnya di sini.

So, ketika #1minggu1cerita memaksa saya menuliskan keseruan Bandung, tak ada cara lain selain kembali bernostalgia dengan memori kanak-kanak dan remaja saya tentang Bandung jaman baheula. Biar lah orang lain bilang ini ngga seru. Buat saya, hal-hal ini yang seringkali membuat saya merindukan pulang ke kampung halaman saya itu. 🙂

SDN Cigugur
Meskipun cuma setahun lebih dikit jadi murid di sini, sekolah ini berkesan sekali buat saya.
Mungkin karena ini satu-satunya pengalaman sekolah di negeri kali yaa.. (MAN Insan Cendekia mah nggak terlalu berasa sekolah negeri. Hehee..)

Letaknya di Bandung coret alias Cimahi. Mudah-mudahan sih ini sekolahnya masih ada ya sampai sekarang. Saya punya mimpi suatu saat akan napak tilas ke sana, ketemu guru-guru jaman kecil. Terutama Bu Kokom, guru satu-satunya yang mengajar saya di kelas 1 SD yang sekelas isinya 60 orang! Satu meja isinya 3-4 orang, duduknya di bangku kayu panjang yang biasa dipake di warung-warung makan tenda. 😀

Inget Cigugur tuh bikin inget kalau dulu saya cuma bekel uang 300 perak sehari buat pulang pergi naik angkot, becak dan jajan. Duh, ketahuan banget umur berapa ini mah! 😛
200 perak buat naik angkot dan becak dari rumah di Margaasih ke sekolah, sisanya buat jajan dan nabung. Nah, biasanya sih suka sengaja jalan kaki pulangnya biar uang jajannya dobel. 😀

Taman kecil di tengah Kompleks Pratista Antapani
Naik kelas 2 SD, saya pindah sekolah dan pindah rumah. Pindah sekolah dari Cigugur ke Salman, pindah rumah dari Margaasih ke Antapani.
Hobi saya dulu naik sepeda keliling kompleks sekitar rumah. Nah, salah satu spot favorit buat istirahat sejenak tu di taman kecil ini. Letaknya kalau dulu sih di tengah kompleks Pratista. Dari gerbang Pratista lurus terus, nanti ketemu deh taman kecil bentuknya lingkaran.
Biasanya, sepeda saya parkir di luar taman, lalu saya duduk-duduk santai sambil baca buku atau makan camilan odading, cakue, batagor, atau cilok di sana. 🙂

Angkernya Puri Pratista
Nah yang ini hoax banget sebenernya. Puri Pratista (gedung serbaguna di kompleks Pratista) nggak ada angker-angkernya acan. Tapi, dulu saya dan beberapa sahabat kecil yang hobi main detektif-detektifan —gara-gara terinspirasi Lima Sekawan dan Trio Detektif— sok-sokan saling bilang kalau liat hantu di sana. Hantu cewek rambut panjang hitam yang nggak kelihatan mukanya. Hahaa..

Soalnya, dulu Puri Pratista jarang dipakai kegiatan warga. Jadi kelihatan agak-agak spooky gitu. Nggak lama setelahnya, Puri Pratista sering dipakai ibu-ibu buat senam gitu. Hilang lah cerita horor yang kami buat-buat sendiri itu. 😀

Rumah hantu tengah sawah yang ada burung Garuda besarnya
Rumah ini masih ada nggak ya? Terakhir ke sana sih masih ada. Entah kalau sekarang.
Jadi, dulu rumah saya di Antapani tu mewah a.k.a. mepet sawah. Lalu di tengah sawah itu ada satu rumah besar. Nangkring sendirian di tengah sawah.
Dari jauh sih kadang suka lihat ada orang masuk ke rumah itu. Tapi anehnya rumah itu selalu dalam kondisi gelap gulita. Kalau lewat depan rumahnya, akan terlihat patung burung Garuda besar di tengah-tengah rumah.
Emang udah terkenal horor sih kalau rumah yang satu ini. Kata orang-orang banyak penunggunya. Saya sendiri pernah sesekali dengar suara ketawa mirip suara ketawa kuntilanak di tipi-tipi dari arah sawah kalau larut malam. Tapi bisa jadi itu hanya imajinasi saya saja. 😛

Segala macam tukang jual makanan langganan yang lewat depan rumah
Nah, ini juga yang paling sering saya rindukan dari Bandung. Di rumah Antapani dulu, kayaknya tukang jualan jajanan apaaaaaa aja lewat di depan rumah.
Mulai dari uli bakar dan roti-rotian di jam sarapan, tukang sayur (ini sih bukan jajanan yaa? Nggak pernah beli juga.. 😀 ), batagor, baso tahu, baso cuankie, baso malang, es cincau, bakpau, es krim keliling, tukang peuyeum, tahu gejrot, sampai tukang jamu yang rajin saya beli! Hahaa.. Apalagi kalau weekend yang dari siang saya bisa mantengin tukang apa aja yang lewat. Saya sampai hafal tuh beda bunyi tong tong, tek tek, tok tok, ting ting, dkk. para tukang jualan itu.

Yang paling langganan sih tukang jamu. Dulu, tukang jamu yang lewat cuma satu. Yang jual suami istri gitu gantian. Atau Bapak-anak ya? Lupa. Jualannya pake sepeda, botol-botol jamunya bersiiiiih banget. Jamunya juga enak.
Karena dulu saya rutin minum jamu yang lewat itu, penjualnya sampai hafal pesanan saya. Nggak perlu pesan lagi, asal saya panggil, langsung dibuatkan jamu paitan sama beras kencur. Kalau lagi siklus bulanan, kadang beras kencurnya saya ganti kunir asem.
Lepas dari Bandung, belum nemu lagi tukang jamu oke yang bisa dijadikan langganan. Hmm..

Rumah Elsa, paling bagus seantero Margaasih ceunah mah
Dulu pas saya TK, ada teman TK saya namanya Elsa. Anaknya cantik, tinggalnya sekomplek tapi beda blok. Kalau mau keluar komplek atau ke pusat perbelanjaan di komplek, pasti lewat depan rumahnya. Hampir setiap yang lewat pasti bakal kagum sama rumahnya.
Sebenarnya hanya rumah tipe 36 baru direnovasi aja sih.. tapi mungkin karena dulu rumah-rumah cantik tipe minimalis gitu masih jarang, rumah Elsa ini jadi menonjol banget bagusnya. 🙂

Salman Al Farisi: Kerinduan yang tak akan ada habisnya
Mungkin ini yang paling saya rindukan dari Bandung. Sekolah yang paling meninggalkan kesan mendalam di hati saya. Tentang kegiatan harian di sana, program-programnya, ekstrakurikulernya, bangunannya, dan terutama guru-gurunya.
Di sini saya merasakan kedekatan luar biasa antara guru dan murid, antara guru dan orang tua murid.. yang rasanya belum pernah saya temukan di sekolah lain.
Saya merasakan sekolah di MAN Insan Cendekia yang saya dan para alumni akui sangat akrab antar guru-muridnya. Tapi bagi saya, untuk urusan itu Salman masih juaranya! 🙂
Duh.. kalau cerita tentang Salman, rasanya bakal panjang kali lebar kali tinggi ini mahNext time saya cerita lagi aja ya.. Ngga bakal cukup di satu postingan! 😉

Daarut Tauhiid, dan kenangan berkesan bersama BIM 11 di Muslimah Center
Bicara soal Bandung, rasanya tak lengkap kalau tak menyebut Daarut Tauhiid. Dari jaman DT belum sebesar sekarang, masjidnya belum senyaman sekarang, dan unit-unit usahanya belum sebanyak dan seberkembang ini, saya sudah berulang kali merasakan nikmatnya tinggal sesaat di sana. Beberapa kali ikut pesantren kilat yang diadakan tiap tahun, lalu ikut pesantren keluarga sakinah kerjasama DT dengan Telkom, dan yang terakhir adalah ikut Bimbingan Intensif Muslimah (BIM) selama 40 hari di Muslimah Center DT sekitar 6 tahun lalu.

Saya melihat sekali perubahan AaGym yang dulu senang dengan publikasi media, lalu menghilang sejenak dan kembali dengan kajian-kajian tauhidnya yang sederhana tapi mengena.
Lalu kesan mendalam tentang DT saya dapatkan saat mengikuti BIM angkatan 11. Tinggal di sana selama 40 hari bersama teman-teman shalihah dan merasakan suasana DT yang luar biasa nyaman dan kondusif, membuat saya tak mungkin tak merindukan DT. Sulit rasanya menemukan lingkungan sepewe DT di tempat lain.
Belum lagi deretan tukang bandros, gehu jeletot, dan jajanan khas lain yang juga membuat perut saya kangen!! 😀

Sederet kuliner Bandung jaman baheula yang memorable
Tadinya mau saya bahas satu per satu nih kulinernya. Tapi apa daya, jari udah pegel. Next time kalau niat saya cerita lagi yaa.. hihii.. 😉

Ada ayam goreng Jl. Indramayu yang enak banget dan jadi favorit keluarga.
Ada yoghurt Cisangkuy plus batagor di depannya yang selalu jadi langganan mampir tiap pulang tryout ujian nasional jaman kelas tiga SMP.
Ada Baso Mandeep yang sampai sekarang masih jadi baso paling enak versi lidah saya. Dulu sih masih warung tenda gitu doang bentuknya, sampingan sama warung soto. Kalau sekarang mah udah jadi restoran sendiri yaa? 🙂

Dan.. Ada nasi timbel Istiqomah!! Ini nih yang saya kangen pisaaaaaan. Beberapa kali ke Bandung nggak sempat mampir. Eh, masih ada kan ya? Dulu sih jualnya masih pake mobil doang di depan SD Istiqomah. Saya suka makannya di kursi depan mobilnya, atau dibawa ke mobil pribadi. Nasi timbel ini adalah nasi timbel paling memorable enaknya di otak dan perut saya.. 🙂

 

Sebenarnya, kalau bicara Bandung sih buanyaaaaaaak banget rasanya yang masih ingin saya tulis. Tapi berhubung ini udah mepet deadlinenya #1minggu1cerita (ah banyak alasan pisan kamu, Zulfah! 😛 ), saya sudahi dulu lah ya ceritanya. Maafkan belum sempat hunting-hunting foto untuk melengkapi ilustrasi tulisan.

minggu-1-2017

Lagi ikutan ini nih biar blognya nggak berdebu. Hihii.. 😉

Terima kasih admin-admin kece #1minggu1cerita yang sudah memaksa saya menulis tentang kampung halaman tersayang, membuat saya kembali memutar memori menyenangkan jaman baheula. 🙂
Semoga saya nggak bolos nulis tiap minggu ya setahun ke depan. Semangat blogging! 

Ah.. saya rindu Bandung!! >_<

 

 

 

Adaptasi

Beberapa waktu lalu, cuaca di rumah lagi terasa nggak nyaman. Hujan mulai turun, tapi menjelang hujan turun pasti hawanya jadi panas luar biasa. Sangat tidak nyaman bagi kami (saya dan suami), apalagi buat Alula.

Katanya sih, bayi umumnya lebih tahan terhadap udara panas daripada dingin. Tapi tetap saja, dari cuaca sebelumnya yang cukup menyenangkan karena relatif sejuk sekalipun siang hari, tiba-tiba jadi panas yang bikin keringat mengucur deras, Alula jadi lumayan rewel juga. Perlu waktu untuk adaptasi dengan cuaca berbeda.

“Namanya adaptasi emang nggak nyaman,” komentar suami waktu itu.
“Masa’ sih? Adaptasi jadi istri mas nyaman-nyaman aja kok..” saya malah nggombal. 😀

Tapi setelahnya saya jadi mikir juga. Apa iya adaptasi dengan suami pascanikah adalah hal yang nyaman? Kalaupun iya, yang jelas itu adalah proses yang jauh dari kata mudah.

Seperti yang sempat saya singgung sedikit di postingan sebelumnya, saya dan suami adalah dua orang yang bisa dibilang luaaaaar biasa berbeda. Sulit rasanya menemukan satu demi satu persamaan di antara kami dalam hal kesukaan, hobi, karakter, you name it. Dan semakin hari, seiring dengan satu demi satu persamaan di antara kami yang (sangat) perlahan muncul, perbedaan demi perbedaan kami justru makin banyak terungkap. Menuntut adaptasi yang berat bagi masing-masing kami.

Hal paling sederhananya saja soal makanan. Sejak kecil, saya terbiasa menikmati masakan yang minim bumbu, apalagi vetsin. It’s a big no no di keluarga saya. Sayuran paling sering dikonsumsi justru sejenis sayur bening, lalapan, tumisan yang bumbunya cuma bawang-bawangan, atau sayur sop. Suami? Kalau dikasih menu “bening” gitu doang, pasti masih nambah kecap, saos sambal, atau semacamnya. Suami doyannya oseng-oseng dengan tambahan kecap yang kental, sayur-sayur bersantan macam lodeh dkk., atau soto-sotoan.

Udah gitu, suami ternyata sangat nggak suka ikan asin! Padahal, dari kecil saya tumbuh di lingkungan orang-orang yang menganggap nasi panas lauk ikan asin dan sambal terasi adalah menu paling enak sedunia.

Pas awal nikah dulu, saya pernah dengan penuh semangat memasakkan suami salah satu menu andalan dan favorit keluarga saya, asin peda cabe ijo. Waktu itu pas kebetulan suami mau berangkat kerja, jadi saya nggak lihat langsung pas suami makan karena makanannya dibawa sebagai bekal. Tapi setelah tahu suami sangat nggak doyan ikan asin, rasanya guilty banget. Campur sedih. Peda kan asin banget. Kebayang gimana terpaksanya suami ngabisin masakan istrinya waktu itu. Di sisi lain, itu menu favorit saya.. Jelas nggak bakal masak lagi deh.. 😦

Sampai saat ini, memasak buat suami masih jadi tantangan tersendiri bagi saya. Akhirnya saya yang ngikut selera suami sih, meskipun nggak yakin suami beneran menikmati masakannya apa nggak karena menu-menu suami bukan menu yang sering saya masak sehari-hari selama ini. Belum lagi, kalau mood lagi jelek, kadang suka berasa sebal karena nggak bisa lagi menikmati masakan enak versi lidah saya. Hehee..

Itu baru hal sepele soal makanan ya,  yang lain masih banyak! Dan yang pasti membuat proses adaptasi di antara kami nggak pernah mudah. Nggak hanya menguras energi, tapi kadang juga emosi.

Iya, mungkin suami benar. Yang namanya adaptasi itu nggak nyaman. Tapi mudah-mudahan, seiring proses adaptasi yang entah akan usai atau tidak, sinergi di antara kami juga akan semakin kuat dan membuahkan output yang penuh manfaat. Toh kami tak perlu adaptasi soal tujuan pernikahan, in syaa ALLAH masih tetap surga yang jadi mimpi kami bersama. 🙂
Untuk suamiku (yang entah akan membaca ini atau tidak)..
Terima kasih untuk kesabaranmu yang luar biasa menghadapi emosi labilku selama ini..
Menjadi istri buat Mas dan mama buat anak kita adalah proses adaptasi yang nggak pernah mudah.
Terima kasih atas sabar Mas yang nggak pernah habis, atas marah yang nggak pernah Mas tunjukkan, meskipun aku nyebelinnya kebangetan, nuntutnya kebanyakan, dan manjanya nggak ketulungan. Hehee.. 😀
Aku sayang Mas, dan semoga ALLAH terus menuntun dan membersamai kita agar rasa sayang itu tetap berdasar pada cinta kita kepadaNYA.. agar kita nggak hanya bareng-bareng di sini, tapi juga di surgaNYA nanti..♥♥♥