Our Moment

Tiap pasangan pasti punya waktu atau momen tertentu yang dianggap spesial. Istimewa untuk satu pasangan, bisa jadi biasa aja untuk pasangan yang lain. Kalau waktu yang dianggap buat sejuta umat mungkin malam Minggu kali yaa.. Kalau malam minggu, alun-alun pasti penuh sama orang pacaran. Hehee.. šŸ˜€

Saya sendiri punya satu momen spesial bareng suami yang pasti buat kebanyakan orang biasa banget. Malah mungkin dianggap aneh. Kayaknya orang-orang disuruh nebak juga ngga bakalan bisa deh. Heu..

Yap.. Motongin kuku suami!šŸ˜…

Hahaa..

Entah sejak kapan, sampai sekarang itu resmi jadi salah satu hobi saya.šŸ˜‚

Jadi, ceritanya dulu tuh awal mulanya saya gatel banget ngomenin kuku-kukunya suami yang menurut saya nggak banget. Dari yang potongannya kependekan, panjang pendeknya nggak seragam sama jari sebelahnya, sampai kuku-kuku jari kaki yang patah-patah atau mulai item-item ngga keurus. Duuuuuh..

Mungkin karena cowok emang ngga segitunya ribet sama urusan manicure pedicure kali yaa.. Hehee..

Lalu saya refleks menawarkan motongin kuku-kukunya untuk pertama kali. Suami juga awalnya agak-agak nolak. Entah karena dulu itungannya masih pengantin baru jadi malu-malu, entah karena emang aneh aja kalau sesepele potong kuku harus dibantuin istri. Tapi karena sayanya keukeuh, mau lah suami saya..

Eh, sekarang mah ketagihan! Bukan cuma suami, saya pun ketagihan motongin kukunya. Saya sampai request kalau tiap Jum’at atau kalau suami mulai ngerasa kukunya kepanjangan, saya diingatkan untuk motongin kukunya. Bahkan sering protes kalau suami malah duluan motong kukunya sendiri.šŸ˜

Gitu deh. Sampai sekarang hal sepele dan remeh temeh ini jadi salah satu momen spesial kami. Kadang, bahkan motongin kuku suami bisa memperbaiki mood saya loh.. Termasuk saat lagi agak bete sama suami.šŸ™ˆšŸ™ˆšŸ™ˆ

Ngga penting ya? Hihii.. Maafkaaaan..šŸ˜‰ Sekedar mau share bahwa ternyata hal sederhana pun bisa jadi istimewa kalau kita menganggapnya demikian. Bagi kami konteksnya sesederhana memotong kuku, mas mbak ibu bapak pembaca mungkin punya momen sederhana lain yang jadi istimewa saat dilakukan bersama pasangan.ā˜ŗ

So.. Apa momen spesialmu?šŸ˜‰

Namanya Kanza, Bukan Kansa

“Kansa..” setelah sekian lama mengantre, akhirnya (sepertinya) nama depan Alula dipanggil.

“Kansa?” ibu petugas puskesmas bagian pendaftaran itu mengulang memastikan saat saya mendekat ke mejanya, menyerahkan nomor urut antrean. Mukanya jutek.Ā Jauh dari kata bersahabat.

“Kanza Bu, pakai Z.” Saya meralat melihatnya menulis nama Kansa di borang rujukan untuk imunisasi.

“Halah! Nggak ngaruh apa2 mbak. Wong cuma buat gini. Nggak buat ijazah atau apa. Salah-salah ya nggak pa-pa. Tetep diimunisasi.” Mukanya masih kecutĀ sambil sibuk menulis di beberapa lembar lain. Tetap saja nama Kansa pakai S yang ditulisnya. šŸ˜¦

Rasanya kesal. Masih ingin keukeuh protes sekali lagi.
Hoalah Bu.. apa susahnya sih mengganti tulisan nama anak saya dengan benar? Nggak perlu juga tambah ngedumel segala, kan? Kalau nama anak ibu Andika terus ditulis Andita, pasti protes juga kan Bu?
Saya malah ngedumel dalam hati.

Saya urungkan untuk mengulang protes. Mengingat wajah si ibu yang nggak ada ramah-ramahnya sama sekali. Bisa makin panjang malah urusannya kalau saya protes lagi. Saya senyumin aja beliau jutek begitu, kan? Hmm..

Dan benar saja. Karena sejak awal nama yang ditulis salah, di daftar imunisasi, de es te.. de es te.. akhirnya nama Kansa-lah yang tertulis. Bukan nama anak saya. šŸ˜¦

Mungkin sepele buat sebagian orang.
Tapi bagi saya ini penting. Apa lagi menyangkut nama anak sendiri, yang perumusan dan penentuan namanya saja membutuhkan banyak pemikiran serius. Sarat makna dan doa yang terselip dari “sekedar” namanya itu. Salah satu huruf saja, maknanya akan jauh berubah.

Kanza.
Saya lebih dulu jatuh cinta dengan nama itu, bahkan sebelum kami cari artinya. Sejak nama ituĀ terlintas di pikiran, saya baru bergegas mencari maknanya.
Kanza artinya harta yang tersembunyi. Kami (saya dan suami) menganggap putri kami adalah harta tak ternilai dari ALLAH. Kami berharap ia tumbuh sebagai putri shalihah yang pandai menjaga dirinya, yang sadar sepenuhnya bahwa ia adalah harta tersembunyi, perhiasan yang harus terus dijaga tersembunyi hingga kelak ia menemukan dan ditemukan oleh jodohnya.. suami yang akan turut menjaganya sebagai harta yang tak ternilai.

20170309_084014

Kanza Kamila Dafalula, nama penuh doa yang kami pilihkan untuk Alula

 

Lalu Kansa?
Kata engkong Google sih artinya keturunan.
Bukan arti yang buruk juga memang. Tapi bukan nama itu yang kami sematkan sebagai doa dalam rangkaian nama lengkap Alula.

Hufft.. jadi panjang ya? Hehee.. šŸ™‚

Saya jadi ingat semasa saya SMP dulu. Awal-awal munculnya panggilan Jupe untuk nama saya oleh beberapa teman. Mungkin Zulfah terlalu ribet dilafazkan ya? Lalu muncullah nama Jupe. Waktu itu siĀ mbak artis dengan nama tenar serupaĀ belum banyak dikenal.

Jadilah saya sama sekali tak keberatan dengan nama itu. Bahkan, yang memanggil saya Jupe justru teman-teman yang tergolong akrab. Panggilan itu berlanjut hingga saya SMA (MAN wooooiii.. MAN..), karena beberapa teman SMP saya juga satu SMAĀ MANĀ dengan saya.

Semakin banyak lah yang memanggil saya dengan nama itu. Malah nama Jupe lebih sering terdengar daripada nama Zulfah.Ā Kalau dulu awalnya hanya teman akrab saja yang memanggil saya demikian, akhirnya justru hanya yang tidak terlalu kenal saya yang masih memanggil dengan nama Zulfah.

Lalu, hal itu sampailah ke telinga Bapak. Ternyata, itu menjadiĀ masalah krusial baginya. Apalagi saat itu mbak-mbak artis kontroversial dengan nama serupa juga sudah mulai famous.

“Nama bagus-bagus Zulfah kok mau dipanggil Jupe sih nduk?” protes Bapak.
Tidak hanya sekali beliau menyampaikan itu.
Tidak hanya sekali pula saya justru membela teman-teman saya yang memanggil saya Jupe.
Saat itu, saya merasa Bapak saya lebay. Gitu doang Pak.. saya yang punya nama aja nyaman-nyaman aja kok dipanggil gitu.

Beberapa kali saya ngeyel, akhirnya Bapak tidak pernah lagi mempersoalkan itu.
Sampai sekarang.

Masih banyak yang memanggil saya dengan nama Jupe, dan saya pun masih saja merasa tidak keberatan pada akhirnya. Apalagi Jupe sudah lekat sebagai nama akrab saya.Ā Meskipun sejujurnya saya jauh lebih suka dipanggil Zulfah, sesuai nama saya.

Namun, sejak “insiden Kansa” di puskesmas itu, saya jadi sangat paham bagaimana yang dirasakan Bapak. Nama anaknya yang dengan sepenuh hati sepelik pikiran dirumuskan menjadi rangkaian doa indah dan penuh makna, dengan mudahnya diganti. Dan dianggap sepele.
Luar biasa tak nyaman ternyata rasanya. šŸ˜¦

Kemudian saya teringat penggalan ayat dalam Al Qur’an, dalam surat Al Hujurat ayat 11, “…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk…”

Mungkin konteksnya berbeda kalau dirunut secaraĀ asbaabun nuzulĀ atau kajian tafsirnya. Tapi, sekilas ALLAH memerintahkan kita untuk saling memanggil dengan panggilan yang baik. Panggilan yang disenangi oleh yang dipanggil. Lebih jauh lagi, panggilan yang disenangi oleh orang yang memberikan nama.

Mungkin sampai kapanpun saya tak merasa keberatan dengan panggilanĀ JupeĀ yang sudah terlanjur melekat. Mungkin Alula kelak juga tak masalah dengan orang-orang yang memanggilnya KansaĀ pakai S.
Tapi ternyata ada hati-hati yang tidak sepenuhnya rela. Ada Bapak yang merumuskan nama saya, dan saya yang juga sepenuh hati merumuskan nama Alula.

So..Ā Tidak ada salahnya belajar memanggil seseorang dengan nama yang benar, nama yang baik. Yang menyenangkan bagi telinga siapapun yang mendengar. Dan tentunya, secara tidak langsung terus meng-aamiin-kan doa yang terselip di dalamnya. šŸ™‚

Wallaahu a’lam bishawab.

 

ditulis untuk #1minggu1cerita pekan ke-7, dalam minggu tema “Arti Sebuah Nama”

1minggu1cerita

#1minggu1cerita: karena blogger harus aktif blogging

Ada yang punya blog tapi lamaĀ dianggurin tanpa postingan baru?
Ada yang ngaku blogger tapi entah sudah jutaan tahun lamanya ngga aktif blogging?
Ada yang semangat nulis blognya cuma muncul di awal, jadi semua blog post hanya berakhir di draft?
Ada yang butuh dipaksa-paksa dulu, ditagihin melulu, atau ditularin semangat nulis sama orang lain dulu baru bisa keluar ide buat blogging?

Saya ngacung tinggi sambil tutup muka! Hehee.. šŸ˜€

-*-*-*-*-

Ini pekan kedua saya ngeblog bareng #1minggu1cerita. Satu komunitas blogger yang secara konsisten memaksa para membernya untuk nulis minimal 1 postingan di tiap pekannya.

1minggu1cerita

#1minggu1cerita berawal dari inisiatifĀ kakak-kakakĀ kece seperti Rahyang, Anil, Guli, Selly, Agustina, Jessis, dan Shelly Asmauliyah pada pertengahan Juni 2014 untuk membentuk komunitas blogger. Tujuannya agar para blogger yang tergabung dalam komunitas iniĀ punya komitmen menulis paling tidakĀ satu cerita dalam satu pekan.
GrupĀ bikinanĀ paraĀ founderĀ ini (ceileeeeh.. founder cyiiiinĀ šŸ˜› ) ternyata berhasil memicu kreativitas para member dalam menulis blog. Disatukan dalam komunitas yang memiliki kesamaan minat, menulis, rupanya semakin memudahkan para memberĀ untuk konsisten menulis. Lebih jelas tentang #1minggu1cerita dan segala macamĀ update-annya bisa dilihat di sini yaa.. šŸ˜‰

 

Saya ingat sekali bagaimana awalnya saya terjebak di komunitas ini. Ngga sengaja nemu #1minggu1cerita di Instagram sekitar tahun lalu, dan sukses dibuat tertarik dan penasaran untuk join. So, waktu ada pendaftaran member di akhir Desember kemarin, ikutlah saya daftar. Ngisi data di Google form, lalu katanya akan dihubungi lagi via email dan diajak gabung grup Whatsapp menjelang akhir Januari.

Email cinta dari admin #1minggu1cerita masuk pas saya lagi leyeh-leyeh di Kebonrojo Blitar awal Januari kemarin. Langsung excited dan sumringah bacanya. Ngga sabar segera diinvite ke grup Whatsapp buat ditagihin postingan tiap pekan. Hehee..

Mungkin buat para blogger yang udah rutin nulis, rajin posting dan konsisten ngeblog, ngga penting lagi ikutan komunitas semacam ini.
Tapi buat blogger abal-abal yang ngakunya blogger tapi jarang blogging kayak saya, #1minggu1cerita punya peran yang luar biasa biar saya ngga repot harus selalu bersih-bersih sarang laba-laba dulu tiap kali posting tulisan baru saking lamanya blog ini dianggurin.

Lagipula, #1minggu1cerita ngga cuma berperan memaksa saya menulis tiap pekan, tapi juga bikin saya kenal sama member-member –dan admin– keren yang blognya pada oke punya. Bikin makin semangat blogwalking! šŸ™‚

Yang saya luar biasa salut adalah para adminnya. Sembilan orang admin #1minggu1cerita ini rela meluangkan waktunya buat ngurusin 211 member yang ada. Mulai dari ngirim pesan-pesan cinta via email dan media-media sosial, saling kasih semangat menulis (yang ini sih antarmember juga yaa), baca dan ngasih penilaian buat tulisan memberĀ yang sebanyak itu dan pastinya bikin mata jerengĀ kalau pas adaĀ event GA,Ā sampai rese’ nagihin yang pada belum setor atau hobi mepet-mepet deadline setoran kayak saya. Ups! >_<

admin

Terima kasih, admin-admin kece!! ^_^ (Ada satu admin baru yangĀ belumĀ dicantuminĀ di sini).

Pekan kedua ini, saya masih betah jadiĀ deadliner nih. Hari terakhir batas waktu setor baruĀ posting. Pekan lalu lebih parah sih..Ā bener-benerĀ injury timeĀ setornya beberapa menit menjelang ganti hari! šŸ˜›
Mudah-mudahan, ke depannya saya makin semangatĀ nulisnya. Biar bisa setor di awal pekanĀ kayakĀ member-memberĀ rajin lainnyaĀ dan ngga keburu ditagihin Bang Phadli. Hehee..

-*-*-*-*-

So..
TertarikĀ gabung di komunitas #1minggu1cerita seperti saya?
JoinĀ ajaĀ di periode pendaftaran berikutnya!
KalauĀ nggaĀ salah, Mei ini mau dibuka lagiĀ looooh..

Semangat menulis! šŸ™‚

 

Nostalgia Bandung Jaman Baheula

Kalau harus bercerita tentang Bandung, mungkin apa yang akan saya tuliskan ini tak lagi relevan dengan Bandung sekarang. Terlalu lama tak melewati hari-hari di kota tercinta itu sebagai rumah, membuat saya yang masih saja keukeuh menganggap Bandung sebagai kampung halaman, tak benar-benar mampu menggambarkan keseruan Bandung saat ini.

minggu-1-2017-tema

Tema kejutan di minggu pertama dari para admin. Padahal udah pernah nulis tentang kampung halaman juga sebelumnya di sini.

So, ketika #1minggu1cerita memaksa saya menuliskan keseruan Bandung, tak ada cara lain selain kembali bernostalgia dengan memori kanak-kanak dan remaja saya tentang Bandung jaman baheula. Biar lah orang lain bilang iniĀ ngga seru. Buat saya, hal-hal ini yang seringkali membuat saya merindukan pulang ke kampung halaman saya itu. šŸ™‚

SDN Cigugur
Meskipun cuma setahunĀ lebih dikit jadi murid di sini, sekolah ini berkesan sekali buat saya.
Mungkin karena ini satu-satunya pengalaman sekolah di negeri kali yaa.. (MAN Insan Cendekia mah nggak terlalu berasa sekolah negeri. Hehee..)

Letaknya di BandungĀ coret alias Cimahi. Mudah-mudahan sih ini sekolahnya masih ada ya sampai sekarang. Saya punya mimpi suatu saat akanĀ napak tilasĀ ke sana, ketemu guru-guru jaman kecil. Terutama Bu Kokom, guru satu-satunya yang mengajar saya di kelas 1 SD yang sekelas isinya 60 orang! Satu meja isinya 3-4 orang, duduknya di bangku kayu panjang yang biasaĀ dipakeĀ di warung-warung makan tenda. šŸ˜€

Inget CigugurĀ tuh bikinĀ ingetĀ kalau dulu saya cuma bekelĀ uang 300 perak sehari buat pulang pergi naik angkot, becakĀ dan jajan.Ā Duh, ketahuanĀ bangetĀ umur berapa iniĀ mah! šŸ˜›
200 perak buat naikĀ angkotĀ dan becak dari rumah di Margaasih ke sekolah, sisanya buat jajan danĀ nabung. Nah, biasanya sih suka sengaja jalan kaki pulangnya biar uang jajannya dobel. šŸ˜€

Taman kecil di tengah Kompleks Pratista Antapani
Naik kelas 2 SD, saya pindah sekolah dan pindah rumah. Pindah sekolah dari Cigugur ke Salman, pindah rumah dari Margaasih ke Antapani.
Hobi saya dulu naik sepeda keliling kompleks sekitarĀ rumah. Nah, salah satuĀ spotĀ favorit buat istirahat sejenakĀ tuĀ di taman kecil ini. LetaknyaĀ kalau dulu sihĀ di tengah kompleks Pratista. Dari gerbang Pratista lurus terus, nanti ketemu deh taman kecil bentuknya lingkaran.
Biasanya, sepeda saya parkir di luar taman, lalu saya duduk-duduk santai sambil baca buku atau makan camilan odading, cakue, batagor, atau cilokĀ di sana. šŸ™‚

Angkernya Puri Pratista
Nah yang iniĀ hoax banget sebenernya.Ā Puri Pratista (gedung serbaguna di kompleks Pratista)Ā nggakĀ ada angker-angkernyaĀ acan. Tapi, dulu saya dan beberapa sahabat kecil yang hobi main detektif-detektifan —gara-gara terinspirasi Lima Sekawan dan Trio Detektif—Ā sok-sokanĀ saling bilang kalauĀ liatĀ hantu di sana. Hantu cewek rambut panjang hitam yangĀ nggakĀ kelihatan mukanya. Hahaa..

Soalnya, dulu Puri Pratista jarang dipakai kegiatan warga. Jadi kelihatan agak-agakĀ spookyĀ gitu.Ā NggakĀ lama setelahnya, Puri Pratista sering dipakai ibu-ibu buat senamĀ gitu. Hilang lah cerita horor yang kami buat-buat sendiri itu. šŸ˜€

Rumah hantu tengah sawah yang ada burung Garuda besarnya
Rumah ini masih adaĀ nggakĀ ya? Terakhir ke sana sih masih ada. Entah kalau sekarang.
Jadi, dulu rumah saya di AntapaniĀ tu mewahĀ a.k.a.Ā mepet sawah. Lalu di tengah sawah itu ada satu rumah besar.Ā NangkringĀ sendirian di tengah sawah.
Dari jauh sih kadang suka lihat ada orang masuk ke rumah itu. Tapi anehnyaĀ rumah itu selalu dalam kondisi gelap gulita. Kalau lewat depan rumahnya, akan terlihat patung burung Garuda besar di tengah-tengah rumah.
Emang udahĀ terkenal horor sih kalau rumah yang satu ini. Kata orang-orang banyakĀ penunggunya. Saya sendiri pernah sesekali dengar suara ketawaĀ mirip suara ketawa kuntilanak di tipi-tipiĀ dari arah sawah kalau larut malam. Tapi bisa jadi itu hanya imajinasi saya saja. šŸ˜›

Segala macam tukang jual makanan langganan yang lewat depan rumah
Nah, ini juga yang paling sering saya rindukan dari Bandung. Di rumah Antapani dulu,Ā kayaknyaĀ tukang jualan jajananĀ apaaaaaaĀ ajaĀ lewat di depan rumah.
Mulai dariĀ uliĀ bakar dan roti-rotian di jam sarapan, tukang sayur (ini sih bukan jajanan yaa? Nggak pernah beli juga..Ā šŸ˜€ ), batagor, baso tahu, baso cuankie, baso malang, es cincau, bakpau, es krim keliling, tukangĀ peuyeum, tahu gejrot,Ā sampai tukang jamu yang rajinĀ saya beli! Hahaa.. Apalagi kalauĀ weekend yang dari siang saya bisaĀ mantenginĀ tukang apa aja yang lewat. Saya sampai hafal tuh beda bunyiĀ tong tong, tek tek, tok tok, ting ting,Ā dkk.Ā para tukang jualan itu.

Yang palingĀ langganan sih tukang jamu. Dulu, tukang jamu yang lewat cuma satu. Yang jual suami istri gituĀ gantian.Ā Atau Bapak-anak ya? Lupa. Jualannya pakeĀ sepeda, botol-botol jamunya bersiiiiih banget. Jamunya juga enak.
Karena dulu saya rutin minum jamu yang lewat itu, penjualnya sampai hafal pesanan saya.Ā NggakĀ perlu pesan lagi, asal saya panggil, langsung dibuatkan jamuĀ paitan sama beras kencur. Kalau lagi siklus bulanan, kadang beras kencurnya saya ganti kunir asem.
Lepas dari Bandung, belumĀ nemuĀ lagi tukang jamu oke yang bisa dijadikan langganan. Hmm..

Rumah Elsa, paling bagus seantero Margaasih ceunah mah
Dulu pas saya TK, ada teman TK saya namanya Elsa. Anaknya cantik, tinggalnya sekomplek tapi beda blok. Kalau mau keluar komplek atau ke pusat perbelanjaan di komplek, pasti lewat depan rumahnya. Hampir setiap yang lewat pasti bakal kagum sama rumahnya.
Sebenarnya hanya rumah tipe 36 baru direnovasiĀ aja sih..Ā tapi mungkin karena dulu rumah-rumah cantik tipe minimalisĀ gituĀ masih jarang, rumah Elsa ini jadi menonjol banget bagusnya. šŸ™‚

Salman Al Farisi: Kerinduan yang tak akan ada habisnya
Mungkin ini yang paling saya rindukan dari Bandung. Sekolah yang paling meninggalkanĀ kesan mendalam di hati saya. Tentang kegiatan harian di sana, program-programnya, ekstrakurikulernya, bangunannya, dan terutama guru-gurunya.
Di sini saya merasakan kedekatan luar biasa antara guru dan murid, antara guru dan orang tua murid.. yang rasanya belum pernah saya temukan di sekolah lain.
Saya merasakan sekolah di MAN Insan Cendekia yang saya dan para alumni akui sangat akrab antar guru-muridnya. Tapi bagi saya, untuk urusan ituĀ Salman masih juaranya! šŸ™‚
Duh.. kalau cerita tentang Salman, rasanya bakal panjang kali lebar kali tinggi iniĀ mah.Ā Next timeĀ saya cerita lagiĀ ajaĀ ya.. NggaĀ bakal cukup di satu postingan! šŸ˜‰

Daarut Tauhiid, dan kenangan berkesan bersama BIM 11 di Muslimah Center
Bicara soal Bandung, rasanya tak lengkap kalau tak menyebut Daarut Tauhiid. Dari jaman DT belum sebesar sekarang, masjidnya belum senyaman sekarang, dan unit-unit usahanya belum sebanyak dan seberkembang ini, saya sudah berulang kali merasakan nikmatnyaĀ tinggal sesaatĀ di sana. Beberapa kali ikut pesantren kilat yang diadakan tiap tahun, lalu ikut pesantren keluarga sakinah kerjasama DT dengan Telkom, dan yang terakhir adalah ikut Bimbingan Intensif Muslimah (BIM) selama 40 hari di Muslimah Center DT sekitar 6 tahun lalu.

Saya melihat sekali perubahan AaGym yang dulu senang dengan publikasi media, lalu menghilang sejenak dan kembali dengan kajian-kajian tauhidnya yang sederhana tapi mengena.
Lalu kesan mendalam tentang DT saya dapatkan saat mengikuti BIM angkatan 11. Tinggal di sana selama 40 hari bersama teman-teman shalihah dan merasakan suasana DT yang luar biasa nyaman dan kondusif, membuat saya tak mungkin tak merindukan DT. Sulit rasanya menemukan lingkungan sepeweĀ DT di tempat lain.
Belum lagi deretan tukangĀ bandros, gehu jeletot, dan jajanan khas lain yang juga membuat perut saya kangen!! šŸ˜€

Sederet kuliner Bandung jaman baheula yangĀ memorable
Tadinya mau saya bahas satu per satu nih kulinernya. Tapi apa daya, jariĀ udah pegel. NextĀ timeĀ kalau niatĀ saya cerita lagi yaa.. hihii.. šŸ˜‰

Ada ayam goreng Jl. Indramayu yang enakĀ bangetĀ dan jadi favorit keluarga.
AdaĀ yoghurtĀ Cisangkuy plus batagor di depannya yang selalu jadi langganan mampir tiap pulangĀ tryoutĀ ujian nasional jaman kelas tiga SMP.
Ada Baso Mandeep yang sampai sekarang masih jadi baso paling enak versi lidah saya. Dulu sih masih warung tendaĀ gitu doangĀ bentuknya,Ā sampinganĀ sama warung soto. Kalau sekarangĀ mah udahĀ jadi restoran sendiri yaa? šŸ™‚

Dan.. Ada nasi timbel Istiqomah!! Ini nih yang saya kangenĀ pisaaaaaan. Beberapa kali ke BandungĀ nggakĀ sempat mampir. Eh, masih ada kan ya? Dulu sih jualnya masihĀ pakeĀ mobilĀ doangĀ di depan SD Istiqomah. Saya suka makannya di kursi depan mobilnya, atau dibawa ke mobil pribadi. Nasi timbel ini adalah nasi timbel palingĀ memorableĀ enaknya di otak dan perut saya.. šŸ™‚

 

Sebenarnya, kalau bicara Bandung sih buanyaaaaaaakĀ bangetĀ rasanya yang masih ingin saya tulis. Tapi berhubung ini udahĀ mepet deadlinenya #1minggu1cerita (ah banyak alasan pisan kamu, Zulfah! šŸ˜› ),Ā saya sudahi dulu lah ya ceritanya. Maafkan belum sempatĀ hunting-huntingĀ foto untuk melengkapi ilustrasi tulisan.

minggu-1-2017

Lagi ikutan ini nih biar blognyaĀ nggakĀ berdebu. Hihii.. šŸ˜‰

Terima kasih admin-admin kece #1minggu1cerita yang sudah memaksa saya menulis tentang kampung halaman tersayang, membuat saya kembali memutar memori menyenangkan jamanĀ baheula. šŸ™‚
Semoga sayaĀ nggak bolos nulisĀ tiap minggu ya setahun ke depan. SemangatĀ blogging!Ā 

Ah.. saya rindu Bandung!! >_<