Pernah merasa gagal menjadi ibu?

Saya pernah.

Dan beberapa waktu lalu, saat sedang down karena merasa demikian, saya membaca artikel ini.
It helps. Meskipun dibumbui nangis bombay dulu sih selesai bacanya. Hehee.. šŸ˜€
Plus berulang kali tetap saja mengatakan maaf pada Alula.

Terima kasih ya Nak.. Mama akan berjuang lebih keras untuk tak sekedar tidak gagal menjadi ibu buat kamu dan adik-adikmu nanti..Ā :’)

-*-*-*-*-

Sejak awal hamil mual hebat, di tengah kehamilan pun sempat beberapa kali pendarahan, dan terpaksa harus menjalani operasi caesar saat persalinan. Kemudian orang-orang sekelilingmu mulai meracau menyalahkan. Bahwa kau kurang ikhtiar, atau tak menjaga kesehatan selama kehamilan, bahkan ada yang bilang kau kurang iman.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil dan persalinan lancar, tapi entah kenapa begitu IMD ASI tak juga mau keluar, bahkan sehari dua hari hingga batas waktu terakhir ASI diberikan. Lalu susu formula pun menjadi alternatif yang terpaksa kau pilih dengan penuh pertimbangan. Tiba-tiba orang yang tak tahu apa-apa menghakimimu sebagai ibu yang tak sempurna karena tak menjalankan amanat Menteri Kesehatan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil, persalinan, hingga menyusui lancar. Tapi kau meninggalkan bayi mungilmu yang baru berusia 3 bulan itu untuk sebuah pekerjaan yang gajinya menjadi sandaran hidup emak bapak di kampung halaman. ASI yang susah payah kau perah demi bayimu itu mereka bilang tak bisa disamakan dengan ASI yang langsung disusukan. Pun ditambah komentar sinis bahwa anak-anak para ibu bekerja adalah anak yang terabaikan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil, persalinan, menyusui mu lancar, kau juga seorang ibu rumah tangga sejati yang menjiwai peran. Tapi kau tak mengilmui MPASI homemade ala-ala WHO atau BLW atau Food Combining yang sedang tenar. Kau lebih memilih membeli MPASI instan yang dijual di pinggir jalan agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu menemani anak bermain dan menstimulasi dengan berbagai kreasi seharian. Lalu berbagai komentar berdatangan akan nilai gizi, rasa, higenitas dan kemasan makanan. Mereka bilang, buat anak kok sembarangan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau ibu baru yang tak tahu centang perenang dunia parenting kekinian. Marah-marah menjadi kegiatan harian saat anak rewel tak keruan. Hingga akhirnya kau dipertemukan dengan pakar parenting terbarukan atau kau membaca buku parenting yang mengagumkan. Lalu kau berkaca diri, menghitung ratusan omelan dan bentakan yang sempat dikeluarkan. Tiba-tiba kau merasakan penyesalan menyesapi setiap ruang di hati dan pikiran.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau sungguh mengikuti setiap postingan pakar parenting kesayangan. Pun membaca berbagai buku parenting yang bertengger rapi di rak buku mu jejer-berjejeran. Tapi kau punya innercild yang belum berhasil kau taklukkan. Hingga bayang kelam pengasuhan masa lalu masih lebih mendominasi setiap perkataan dan perbuatan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau sungguh-sungguh mengerti segala teori parenting, pun semuanya telah kau praktekkan. Tapi anakmu sungguh menguji iman. Kau rasa seakan tak ada teori parenting manapun yang mempan. Padahal kau dan suami telah memberikan sebaik-baik teladan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

***

Hai para ibu kesayangan Tuhan

Pervaginam atau caesar, ASI atau susu formula, bekerja di luar rumah atau ibu rumah tangga, MPASI homemade atau instan, dan berbagai gaya parenting yang diterapkan sungguh tak bisa menjadi ukuran keberhasilan.

Setiap ibu menjalani kisah heroik pengasuhannya sendiri-sendiri. Yang unik, yang berbeda satu sama lain, yang mengagumkan, yang pada saatnya nanti meninggalkan kesan di memori.

Setiap ibu memiliki perjuangan dan jalan cerita dalam membersamai anak yang tak sama. Seorang ibu mungkin berhasil menerapkan teori parenting A, tapi bisa jadi teori yang sama tidak bekerja di kondisi keluarga yang berbeda.

Anak yang tak semontok anak lain yang seumuran, tak segesit anak tetangga depan, atau tak sepandai anak temen fesbukan barangkali pernah mengusik pikiran. Tapi ingatlah bu, itu bukan berarti kau ibu yang gagal.

Sungguh menjadi ibu bukanlah kompetisi siapa yang anak nya lebih sehat, lebih pintar, lebih shaleh. Menjadi ibu adalah semua perjalanan yang kau lalui bersama anakmu dengan segala jatuh bangunnya, suka dukanya.

Mungkin kau rindu pada rumah yang selalu rapi. Padahal anakmu sungguh menikmati kesempatan yang kau berikan di setiap sudut rumah yang kau bolehkan menjadi tempat bermain dan bereksplorasi.

Mungkin kau merasa bersalah tak mampu memberikan ASI setiap hari. Padahal anakmu merasa nyaman saja berada dipelukmu sambil kau cium pipinya kanan kiri.

Mungkin kau merasa bodoh tak mengilmui berbagai teori parenting masa kini. Padahal instingmu sebagai ibu dan bonding yang kau bangun dengan bayimu sungguh lebih berarti.

Apapun kekurangan mu sebagai ibu. Bagaimana pun jatuh bangun kau rasakan kala menjadi ibu. Percayalah selalu ada tatapan kagum yang tulus di mata, hati, dan pikiran anakmu.

Yang memerhatikan kekhawatiran mu saat sakit menyerangnya.
Yang memedulikan rasa bersalahmu saat kau pamit berkerja.
Yang memaafkanmu saat kau masih perlu menata hati dan jiwa.
Yang melihatmu jatuh bangun mengurus rumah tangga dan dirinya.
Yang bahagia melihat senyummu merekah indah untuknya.
Yang tuluuuuus mencintaimu apa adanya.

Bangun, dan bangkitlah, ibu.
Hapus air mata dan kesedihanmu.
Buang resah dan khawatir yang ada di hatimu.
Buat segala lelahmu menjadi pahalamu.
Peluuk eraat, ciuum, katakan maaf dan terimakasih pada anakmu.
Dan dengan sungguh-sungguh, bisikkan di telinga anakmu itu
I love you

Because our children don’t need a perfect mom. They need a happy one for happy moms raise happy kids.

(Novika Amelia, dariĀ broadcastĀ salah satu grup parenting diĀ whatsapp)

-*-*-*-*-

Awal hamil Alula, saya memang mengalami mual hebat.Ā Lebay,Ā bisa dibilang. Berat badan turun terus-menerus di awal kehamilan. Sulit sekali makanan masuk, itu pun seringkali diakhiri dengan muntah. Lemas luar biasa hampir tak bisa melakukan apapun, hingga akhirnya suami memasang infus cairan untuk saya di rumah demi nutrisi bisa masuk.

Tapi bukan itu yang membuat saya merasa gagal sebagai ibu.

Jatuh bangun di awal kehamilan terasa tak ada apa-apanya saat ALLAH memudahkan proses persalinan saya saat itu. Alula lahir normal spontan, dengan berat badan normal, sehat, cantik, tidak kurang suatu apapun.
Rumah sakit tempat saya melahirkan memfasilitasi IMD dengan sangat baik, sehingga Alula begitu mudah menyusu sejak pertama kaliĀ rooming in, tanpa perlu dibantu atau diajarkan oleh perawat yang saat itu hadir menawarkan bantuan.
ASI keluar sangat lancar sejak awal. Saya sama sekali tak perlu dirisaukan oleh perlu tidaknya menambah susu formula untuk Alula.
Saya bukanĀ working mom. ALLAH memberi kesempatan bagi saya untuk 100% menemani Alula di rumah dan membersamai tumbuh kembangnya hingga saat ini. Membuat saya sempat memperkenalkan Alula MPASI-MPASI homemadeĀ sejak awal enam bulannya, tanpa perlu membeli MPASI instan di luar.

Mungkin saya tak terlaluĀ updateĀ dengan duniaĀ parentingĀ kekinian.

Mungkin sesekali saya marah atau emosi saat kelelahan datang, dan Alula terus saja meminta perhatian saya atas segala tingkah polahnya.

Mungkin saya punyaĀ innerchildĀ yang belum juga berhasil saya taklukkan, sehingga beberapa kali memunculkanĀ sikap dan kata-kata yang tidak tepat untuk Alula.

Tapi, bukan itu semua yang membuat saya pernah merasa gagal menjadi seorang ibu.

Lalu mengapa sayaĀ sempat merasa gagal menjadi seorang ibu?
Untuk Alula?

-*-*-*-*-

Mungkin hal-hal yang ditulis dalam artikel tersebut tidak ada yang secara spesifik menunjukkan rasa gagal saya sebagai ibu.
Tapi, membaca artikel tersebut membuat saya menangis karena sempat merasa gagal menjadi mamanya Alula.

Sebelum punya Alula, bahkan sebelum menikah, saya punya sekian banyak kriteria ideal seorang ibu yang sangat ingin saya wujudkan.

Seorang ibu itu harus cerdas, punya pendidikan tinggi, supaya kelak punya cukup bekal untuk mendidik anak.
Seorang ibu harus punya pendidikan tinggi, supaya kelak anak-anaknya bangga dan punya semangat tinggi untuk menuntut ilmu.
Seorang ibu harus punya pendidikan tinggi, supaya anak-anaknya tidak malu ketika teman-temannyaĀ bertanya tentang orangtuanya.

Saya bahkan tak mampu menyelesaikan studi master saya.

Seorang ibu itu harus kreatif dan terampil dalam banyak hal, sehingga meskipunĀ full timeĀ sebagai ibu rumah tangga, tetap mandiri secara finansial, tidak hanya bergantung pada suami.
Seorang ibu itu harus punya minat dan bakat yang jelas dan bisa dikembangkan, sehingga meskipunĀ full timeĀ mengurus suami dan anak, tetap mampu terus meng-exploreĀ dan mengaktualisasi dirinya dalam bidang yang ia sukai.
Seorang ibu harus punya visi misi hidup yang jelas, mimpi yang terarah, sehingga dapat mendukung suami dan anak-anaknya mencapai cita-cita bersama.

Saya bahkan hingga kini masih sering bingung ditanya soal mimpi. Cita-cita. Hobi yang bisa dikembangkan untuk aktualisasi diri?
Lalu apa yang akan Alula dan adik-adiknya kelak lihat dan contoh dari seorang ibu yang seperti saya
?

Saya mungkin tak banyak mendapat tekanan dari omongan orang yang mengkritik saya sebagai seorang ibu, tapi bertubi-tubi kritik, kecewa dan rasa bersalah yang muncul dari diri saya sendiri rasanya sudah lebih dari cukup membuat saya merasa gagal menjadi seorang ibu.

Alhamdulillaah..Ā artikel Mbak Novika Amelia seolahĀ menamparĀ saya. Menyadarkan saya.
Begitu banyak kemudahan yang ALLAH hadirkan sejak hadirnya Alula di rahim saya.
Putri kecil saya itu tak banyak menyusahkan. Tak pernah sekalipun sakit yang merisaukan. Tak pernah rewel di luar batas wajar, dan relatif mudah ditenangkan.
Ia benar-benar harta yang luar biasa indah bagi keluarga kami.
Seharusnya saya fokus pada rasa syukur atas itu semua.
Tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan mendalam tak berkesudahan atas kegagalan-kegagalan saya pribadi dan ketidakmampuan saya untuk mengatasi kekecewaan terhadap diri sendiri.
Alula masih tetap butuh mama yang bahagia, yang siap menemaninya tumbuh, membimbingnya mencapai shalihah. Menuntunnya menjadi kakak yang baik dan mampu menjadi teladan adik-adiknya kelak.

Saya sangat sadar saya bukan seorang ibu yang sempurna. Sampai kapanpun demikian,
Tapi melihat senyum Alula setiapĀ menyambut kehadiran saya, rasanya saya pun harus selalu siap menjadi seorang ibu yang bahagia.
Untuk Alula.
Dan adik-adiknya.

Because our children don’t need a perfect mom. They need a happy one for happy moms raise happy kids.

 

Wallaaahu a’lam bishshawab.

Advertisements

Namanya Kanza, Bukan Kansa

“Kansa..” setelah sekian lama mengantre, akhirnya (sepertinya) nama depan Alula dipanggil.

“Kansa?” ibu petugas puskesmas bagian pendaftaran itu mengulang memastikan saat saya mendekat ke mejanya, menyerahkan nomor urut antrean. Mukanya jutek.Ā Jauh dari kata bersahabat.

“Kanza Bu, pakai Z.” Saya meralat melihatnya menulis nama Kansa di borang rujukan untuk imunisasi.

“Halah! Nggak ngaruh apa2 mbak. Wong cuma buat gini. Nggak buat ijazah atau apa. Salah-salah ya nggak pa-pa. Tetep diimunisasi.” Mukanya masih kecutĀ sambil sibuk menulis di beberapa lembar lain. Tetap saja nama Kansa pakai S yang ditulisnya. šŸ˜¦

Rasanya kesal. Masih ingin keukeuh protes sekali lagi.
Hoalah Bu.. apa susahnya sih mengganti tulisan nama anak saya dengan benar? Nggak perlu juga tambah ngedumel segala, kan? Kalau nama anak ibu Andika terus ditulis Andita, pasti protes juga kan Bu?
Saya malah ngedumel dalam hati.

Saya urungkan untuk mengulang protes. Mengingat wajah si ibu yang nggak ada ramah-ramahnya sama sekali. Bisa makin panjang malah urusannya kalau saya protes lagi. Saya senyumin aja beliau jutek begitu, kan? Hmm..

Dan benar saja. Karena sejak awal nama yang ditulis salah, di daftar imunisasi, de es te.. de es te.. akhirnya nama Kansa-lah yang tertulis. Bukan nama anak saya. šŸ˜¦

Mungkin sepele buat sebagian orang.
Tapi bagi saya ini penting. Apa lagi menyangkut nama anak sendiri, yang perumusan dan penentuan namanya saja membutuhkan banyak pemikiran serius. Sarat makna dan doa yang terselip dari “sekedar” namanya itu. Salah satu huruf saja, maknanya akan jauh berubah.

Kanza.
Saya lebih dulu jatuh cinta dengan nama itu, bahkan sebelum kami cari artinya. Sejak nama ituĀ terlintas di pikiran, saya baru bergegas mencari maknanya.
Kanza artinya harta yang tersembunyi. Kami (saya dan suami) menganggap putri kami adalah harta tak ternilai dari ALLAH. Kami berharap ia tumbuh sebagai putri shalihah yang pandai menjaga dirinya, yang sadar sepenuhnya bahwa ia adalah harta tersembunyi, perhiasan yang harus terus dijaga tersembunyi hingga kelak ia menemukan dan ditemukan oleh jodohnya.. suami yang akan turut menjaganya sebagai harta yang tak ternilai.

20170309_084014

Kanza Kamila Dafalula, nama penuh doa yang kami pilihkan untuk Alula

 

Lalu Kansa?
Kata engkong Google sih artinya keturunan.
Bukan arti yang buruk juga memang. Tapi bukan nama itu yang kami sematkan sebagai doa dalam rangkaian nama lengkap Alula.

Hufft.. jadi panjang ya? Hehee.. šŸ™‚

Saya jadi ingat semasa saya SMP dulu. Awal-awal munculnya panggilan Jupe untuk nama saya oleh beberapa teman. Mungkin Zulfah terlalu ribet dilafazkan ya? Lalu muncullah nama Jupe. Waktu itu siĀ mbak artis dengan nama tenar serupaĀ belum banyak dikenal.

Jadilah saya sama sekali tak keberatan dengan nama itu. Bahkan, yang memanggil saya Jupe justru teman-teman yang tergolong akrab. Panggilan itu berlanjut hingga saya SMA (MAN wooooiii.. MAN..), karena beberapa teman SMP saya juga satu SMAĀ MANĀ dengan saya.

Semakin banyak lah yang memanggil saya dengan nama itu. Malah nama Jupe lebih sering terdengar daripada nama Zulfah.Ā Kalau dulu awalnya hanya teman akrab saja yang memanggil saya demikian, akhirnya justru hanya yang tidak terlalu kenal saya yang masih memanggil dengan nama Zulfah.

Lalu, hal itu sampailah ke telinga Bapak. Ternyata, itu menjadiĀ masalah krusial baginya. Apalagi saat itu mbak-mbak artis kontroversial dengan nama serupa juga sudah mulai famous.

“Nama bagus-bagus Zulfah kok mau dipanggil Jupe sih nduk?” protes Bapak.
Tidak hanya sekali beliau menyampaikan itu.
Tidak hanya sekali pula saya justru membela teman-teman saya yang memanggil saya Jupe.
Saat itu, saya merasa Bapak saya lebay. Gitu doang Pak.. saya yang punya nama aja nyaman-nyaman aja kok dipanggil gitu.

Beberapa kali saya ngeyel, akhirnya Bapak tidak pernah lagi mempersoalkan itu.
Sampai sekarang.

Masih banyak yang memanggil saya dengan nama Jupe, dan saya pun masih saja merasa tidak keberatan pada akhirnya. Apalagi Jupe sudah lekat sebagai nama akrab saya.Ā Meskipun sejujurnya saya jauh lebih suka dipanggil Zulfah, sesuai nama saya.

Namun, sejak “insiden Kansa” di puskesmas itu, saya jadi sangat paham bagaimana yang dirasakan Bapak. Nama anaknya yang dengan sepenuh hati sepelik pikiran dirumuskan menjadi rangkaian doa indah dan penuh makna, dengan mudahnya diganti. Dan dianggap sepele.
Luar biasa tak nyaman ternyata rasanya. šŸ˜¦

Kemudian saya teringat penggalan ayat dalam Al Qur’an, dalam surat Al Hujurat ayat 11, “…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk…”

Mungkin konteksnya berbeda kalau dirunut secaraĀ asbaabun nuzulĀ atau kajian tafsirnya. Tapi, sekilas ALLAH memerintahkan kita untuk saling memanggil dengan panggilan yang baik. Panggilan yang disenangi oleh yang dipanggil. Lebih jauh lagi, panggilan yang disenangi oleh orang yang memberikan nama.

Mungkin sampai kapanpun saya tak merasa keberatan dengan panggilanĀ JupeĀ yang sudah terlanjur melekat. Mungkin Alula kelak juga tak masalah dengan orang-orang yang memanggilnya KansaĀ pakai S.
Tapi ternyata ada hati-hati yang tidak sepenuhnya rela. Ada Bapak yang merumuskan nama saya, dan saya yang juga sepenuh hati merumuskan nama Alula.

So..Ā Tidak ada salahnya belajar memanggil seseorang dengan nama yang benar, nama yang baik. Yang menyenangkan bagi telinga siapapun yang mendengar. Dan tentunya, secara tidak langsung terus meng-aamiin-kan doa yang terselip di dalamnya. šŸ™‚

Wallaahu a’lam bishawab.

 

ditulis untuk #1minggu1cerita pekan ke-7, dalam minggu tema “Arti Sebuah Nama”

1minggu1cerita

(Ngaku) Blogger tapi Nggak Ngeblog

Ini semacam pengakuan “dosa” sih.. šŸ˜€
Masa’ postingan terakhir di blog ini udah November taun lalu??
Hwaaaa.. maafkan sayaaa.. para pembaca..!! šŸ˜¦
Kayak banyak yang mantengin blog kamu aja sih, Zulfah.. šŸ˜›

Jadi ceritanyaaa.. dari kemaren-kemaren (kemaren November maksudnya..) saya emang kebanyakan alasan nggak update2 blog. Banyak kerjaan lah.. masih sibuk adaptasi pascanikah lah.. lanjut adaptasi dengan hadirnya kehidupan baruĀ di perut saya lah..Ā riweuhĀ pindahan ke kontrakan lah.. di kontrakan nggak ada wifi lah.. de es be.. de es be..
Intinya sih emang saya aja yang kebanyakan alasan.
Sibuk atau enggak kan relatif. Lagian sesibuk-sibuknya, kalau emang niat ngeblog mah bisa-bisa aja kan?

Makin malu lagi saya sejak gabung di Komunitas Blogger Ikatan Alumni Insan Cendekia (IAIC). Gimana enggak? Ngaku blogger dan gabung komunitas, tapi sejak awal gabung blognya malah dibiarkanĀ nganggur! Huks.. šŸ˜„
Aktifnya cumaĀ nyumbangĀ tulisan di buku perdana komunitas aja. Ntar saya cerita banyak tentang bukunya ya.. sekalian promosi siapa tau ada yang mau order. HihiiĀ šŸ˜‰

Jadiii sebenarnya postingan kali ini nggak penting-penting amat buat dibaca. Tapi penting banget buat saya. Setidaknya jadi lecutan semangat untuk serius kembali menulis. šŸ™‚
Suami aja udah (entah sejak kapan) nyuruh saya rajin nulis lagi. Sayanya aja yang banyakĀ excuse.

Bismillaaah.. Ide-ide tulisan di benak saya udah banyak juga nih.
Mungkin saya perluĀ challengeĀ diri sendiri lagi kayak taun lalu, biar ide-ide ituĀ segera tertuang di sini. šŸ™‚

Semangat menulis!!
Keep blogging, keep writing.. šŸ™‚

 

Manajemen Rasa

#27DaysWritingProject (Day 2)

Maka jika kau memiliki rasa yang tak biasa, tanyakan pada Sang Pemilik Rasa.
Hanya IA yang tahu pasti, ke mana seharusnya rasamu bermuara..

Beberapa waktu lalu, berbagai media sempat riuh oleh isu LGBT. Pasca legalisasi pernikahan sejenis di Amerika Serikat, ramailah publik dengan pro kontra berkaitan dengan hal tersebut. Saya nggak mau bahas tentang pro kontranya sih..
Isu LGBT yang heboh di media kemarin sempat memperkenalkan saya pada sosok Ustadz Rey, penulis bukuĀ Tuhan Tak Pernah IsengĀ yang didasarkan pengalaman pribadinya. Bagi yang belum mengenal beliau, bisa dibaca di sini.

Mengenal sosok beliau, meskipun hanya dari beberapaĀ broadcast messageĀ ataupun artikel di internet, membuat saya memiliki pandangan lain tentang orang-orang dengan orientasi seksual yang tidak pada porsinya. Dulu saya termasuk orang yang mudah men-judgeĀ para LGBT adalah mereka yang tidak peduli pada aturan ALLAH, yang tidak mau berupaya keras melawan hasrat seksual menyimpang tersebut dengan cara mendekat pada ALLAH. Hal ini menyebabkan saya dengan mudah memandang sinis padaĀ mereka.

Keberadaan UstadzĀ Rey membuka mata saya. Orientasi seksual ke arah LGBT pada beberapa orang memang ada, entah karena anomali secara genetisnya, atau kondisi lingkungan yang mengarahkan demikian (atau keduanya).
Bukan berarti saya jadi pro dan membenarkan legalisasi pernikahan LGBT, atau setuju pada kondisi memperturutkan hasrat menjadi LGBTnya. Toh dalam Islam, ALLAH jelas-jelas melaknat hal tersebut.
Hanya saja,Ā saya menjadi tersadarĀ bahwa orientasi seksual yang tidak tepat itu memang hadir pada sebagian orang, dan menjadi ujian tersendiri yang sangat berat dihadapi. Tidak bisa dengan seenaknya saya men-judgeĀ orang dengan hasrat seksual ke sesama jenis pasti jauh dari ALLAH.Ā MerekaĀ hanyalah orang-orang yang ALLAH uji dengan nafsu, hasrat, dan rasa yang berbeda.

Berarti ALLAH gak adil dong sama orang-orang yang dikasih hasrat seksual menyimpang?

Pastinya tidak ya.. Masih percaya kan kalau ALLAH Maha Adil? šŸ™‚

Bicara soal ujian dalam bentuk rasa, sebenarnya ALLAH ngasihnya rataaaaa sama semua hambaNYA. Hanya berbeda dalam hal objek dan kadarnya.
Coba deh dipikir-pikir. Semua manusia pasti pernah dititipi rasa cinta, sayang, atau nafsu yang bisa dibilang salah tempat, salah waktu, atau salah sasaran.

Misalnya rasa suka atau cinta pada lawan jenis sebelum disahkan oleh pernikahan..
Mahasiswi yang tiba-tiba naksir sama dosen muda nan ganteng luar biasa..
Atau yang pernah merasa jatuh cinta pada pandangan pertama sama kakak kelas.. (kok berasa FTV? Hehee šŸ˜€ )
Rasa kagum dan simpati berlebihan sama teman kerja yang punya prestasi baik..
Udah mau nikah, tau-tau ada orang lain yang mendekat dan punya kualitas lebih baik dari calon istri/suami..
Bahkan untuk yang sudah menikah sekali pun, masih mungkin timbul rasa berbeda pada orang lain kan?

Nah kan? Ujian berbentuk rasa itu ada banyaaaaak sekali ternyata. Dan semua orang pasti mengalaminya.
Yang perlu dipelajari lebih jauh, adalah bagaimana memanageĀ rasa itu.
Apakah segala bentuk rasa yang hadir itu salah? Mungkin iya, tapi ia fitrah. Ia ada, tapi perlu disikapi dan dikelola agar tidak mengarah pada hal yang ALLAH nggak suka. šŸ™‚

Ada yang bilang:

Desire cannot be heal, but it can be controlled.

Siapa yang mengontrol?
Kita sendiri, dengan terus memohon perlindungan, bantuan, dan kekuatan ALLAH tentunya. šŸ™‚

Karena rasa sepenuhnya milikNYA..
Mudah bagiNYA memutarbalikkan rasa..

Wallaahu a’lam bishawab.

Monolog: Butuh “Tamparan” Berapa Kali Lagi?

–karena saat menasehati orang lain, sejatinya kita sedang menasehati diri sendiri–

Tamparan pertama

Aku kok ngerasa kosong ya, ngapa-ngapain tuh kayak nggak ada nikmatnya. Padahal kuliah lancar-lancar aja, rizqi juga ngalir-ngalir aja.. kenapa ya?

Lalu satu kalimat meluncur dari mulut saya,

Sholatmu.. “kosong” nggak?

TamparanĀ kedua

Kak, tau obat anti depresi, nggak?

Satu kalimat terpampang di layarĀ whatsapp saya. Tak perlu waktu lama untuk memahami bahwa “adik” di seberang sana sedang butuh didengarkan. Setidaknya, ia butuh pendengar saat ia menyuarakan bahwa ia sedang ada masalah.

Lalu satu kalimat yang saya ketikkan berikutnya,

Udah coba banyakin baca Qur’an?

TamparanĀ ketiga

Aku lagi futur, mbak. Rasanya kok males banget ya ngapa-ngapain. Aku inget sih, yang selalu mbak bilang: Yang berat itu mulainya. Tapi ya itu.. berakhir di niat doang. Mau mulai solat kok berat. Mau mulai banyakin doa dan zikir kok berat. …bla…bla,,,bla,,,

Keluhan seorang “adik” yang lain.

Lalu kalimat yang saya ucapkan setelahnya,

Nah, udah tau sendiri kan solusinya? Kita tu sering udah tau solusi dari masalah-masalah kita, tapi butuh orang lain untuk ngasih tau kita. Baru deh kita jalanin solusinya. Yuk ah, kalau nggak dimulai ya nggak akan selesai kan? šŸ™‚

TamparanĀ keempat

Sendiri menyepi tenggelam dalam renungan
Ada apa aku, seakanĀ ku jauh dari ketenangan
Perlahan kucari mengapa diriku hampa
Mungkin ada salah, mungkin ku tersesat, mungkin dan mungkin lagi..

Oh Tuhan, aku merasa sendiri menyepi
Ingin ku menangis menyesali diri, mengapa terjadi
Sampai kapan ku begini, resah tak bertepi
Kembalikan aku pada cahayaMU yang sempat menyala
benderang di hidupku..

(Edcoustic – Sendiri Menyepi)

Tiba-tiba terngiang lagu ini, satu lagu yang selalu “menampar” saya berkali-kali. šŸ˜¦

Hari ini, beberapa kali ditempatkan pada posisi mendengarkan masalah-masalah “mereka”.
Mereka bilang, kata-kata saya sering “menampar” mereka. Mengingatkan untuk mengembalikan semua masalah pada Sang Pemberi Kekuatan di atas sana.
Tanpa mereka tahu, ketika itu saya pun merasakan tamparan luar biasaĀ berulangĀ kali. šŸ˜¦

Membuat saya terdiam, dan merepetisi retorika pada diri sendiri:

Berapa ayat Qur’an yang sudah kulafalkan hari ini?
Berapa banyak sujud yang kupersembahkan untukNYA saja?
Berapa detik waktu yang kuhabiskan untuk zikir menyebut asmaNYA?

Sholatku.. masih “kosong” juga kan?
Jiwaku.. masih jauh dari tenang kan?
Mengapa setiap kuluangkan waktu untukNYA, tak ada kata yang mampu kuucap?
Sudah sebegitu jauhnya kah akuĀ dari Sang Maha Dekat?
Mengapa setiap kuhempaskanĀ diri di atas sajadah, tak setetes pun air mata yang jatuh?
Sebegitu kerasnya kah hatiĀ iniĀ di depan IA yang Maha Lembut, Maha Kasih dan Maha Sayang?

Berapa tamparan lagi yang kubutuhkan untuk seutuhnya menghadirkan hati.. hanya untukNYA?Ā šŸ˜„

Tarik aku kembali, Ya ALLAH.. sebelum azabMU yang menamparku..
Tarik aku kembali.. sebelum malaikat maut hadiahkan tamparan terakhir untukku.. šŸ˜¦