Pas Kena di Hati

#27DaysWritingProject (Day 24)

Baru saja membuka salah satu grup Whatsapp dan membaca ini:

Manusia akan masuk neraka melalui tiga pintu:

  1. Pintu syubhat, yang akan melahirkan keraguan pada agama ALLAH.
  2. Pintu syahwat, yang akan melahirkan (sikap) mendahulukan hawa nafsu di atas menaati ALLAH dan ridlaNYA.
  3. Pintu kemarahan (ghadlab), yang akan melahirkan permusuhan atas manusia.

(Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam al Fawa’id halaman 80)

Entah ya.. kadang kita tanpa sengaja membaca sesuatu yang memang lagi butuh untuk kita baca.
Kadang bukan “infonya” yang kita butuhkan, simply karena sedang butuh diingatkan.

Pas emosi nggak stabil dan ingin marah, lalu membacanya membuat saya perlahan menata hati agar rasa ingin marahnya memudar. Istighfar, istighfar… Yang salah orang lain dan saya yang dirugikan, makin rugi kalau saya memperturutkan rasa marah dan semakin mendekati pintu ketiga menuju neraka.
Padahal pesan itu sudah terkirim sejak pagi tadi. Kebetulan saja saya baru benar-benar membacanya sekarang. ALLAH memang tahu kapan waktu yang pas bagi saya untuk “menerima” pesan itu. 🙂

Sering kan ya hal-hal semacam ini terjadi?

ALLAH selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan hambaNYA. Meski seringkali, saya tak menyadari teguran-teguran indah itu.

Wallaahu a’lam bishawab.

Advertisements

Tepat Waktu

#27DaysWritingProject (Day 21)

Beberapa hari terakhir ini, saya mendapatkan broadcast message yang sama di 3 grup Whatsapp yang saya ikuti.
Saya tuliskan kembali di sini ya, sebelum saya tambahkan sedikit di akhir post. 🙂

Pada suatu hari di awal-awal saat memulai bisnis dulu, saya ketemu masalah seperti ini:
Saya janjian dengan 3 orang di Jakarta. Saat itu posisi saya di Jogja tanpa banyak kenalan di Jakarta dan cekak banget dananya. Begini jadwalnya: Pak A janji ketemu hari Senin siang, Pak B hari Rabu pagi dan Bu C di hari Jumat sore.
Jika saya mau gampang, saya harus berangkat naik kereta Minggu malam dan menginap di Jakarta 5 hari dan pulang Jumat malam. Sayanya yang bingung: nginep di mana, biaya makannya di mana? Duh ribet, padahal janjiannya udah di-arrange lama dan posisi orang yang mau saya temui itu Boss-boss semua untuk penawaran kerjaan promosi.
Saya harus mengikuti jadwal mereka, saya tak kuasa menentukan jadwal karena saya yang butuh.

Pusinglah saya memikirkan jadwal yang mustahil itu. Sampai seminggu menjelang harinya, saya ketemu seorang teman yang ilmu agamanya lumayan.
Karena belum menemukan solusi, saya pun curhat padanya. Teman saya mengangguk-angguk lalu bertanya: “Jadwal shalatmu gimana?”

“Jadwal shalat? Apa hubungannya?” saya keheranan.
“Shalat subuh jam berapa?” tanpa menjawab pertanyaan saya, dia meneruskan pertanyaannya.
“Errr.. jam setengah enam, jam enam. Sebangunnya lah.. Kenapa?” jawab saya.
“Shalat zhuhur jam berapa?”
“Zhuhur? Jadwal shalat zhuhur ya jam 12 lah..” jawab saya.
“Bukan, jadwal shalat zhuhurmu jam berapa?” ia terus mendesak.
“Oooh, jam dua kadang setengah tiga biar langsung ashar. Eh, tapi apa hubungannya dengan masalahku tadi?” saya makin heran.

Teman saya tersenyum dan berkata, “Pantas jadwal hidupmu berantakan.”
“Lhooo.. kok? Apa hubungannya?” saya tambah bingung.
“Kamu bener mau beresin masalahmu minggu depan ke Jakarta?” tanyanya lagi.
“Lha iya, makanya saya tadi cerita…” saya menyahut.
“Beresin dulu jadwal shalat wajibmu. Jangan terlambat shalat, jangan ditunda-tunda, kalau bisa jamaah,” jawabnya.
“Kok.. hubungannya apa?” saya makin penasaran.
“Kerjain aja dulu kalau mau. Enggak juga gak papa, yang punya masalah kan bukan aku…” jawabnya.

Saya pun pamit, jawabannya tak memuaskan hati saya. Jaka sembung naik ojek, pikir saya. Nggak nyambung, Jek.

Saya pun mencari cara lain sambil mengumpulkan uang saku buat berangkat yang emang mepet. Tapi sehari itu rasanya buntu, buntu banget. Sampai saya berfikir, oke deh saya coba sarannya. Toh nggak ada resiko apa-apa.
Ternyata beratnya minta ampun. Shalat tepat waktu berat jika kita terbiasa malas-malasan, mengakhirkan pelaksanaannya. Tapi udahlah, tinggal enam hari ini.

Dua hari berjalan, tak terjadi apa-apa. Makin yakin saya bahwa saran teman saya itu tidak berguna.
Pada hari ketiga, hp berdering. Dari asisten Pak A, “Mas, mohon maaf sebelumnya. Tapi Pak A belum bisa ketemu hari Senin besok. Ada rapat mendadak dengan direksi. Saya belum tahu kapan bisa ketemunya, nanti saya kabari lagi.”

Di ujung telepon saya ternganga. Bukannya jadwal saya makin teratur, ini malah ada kemungkinan di-cancel. Makin jauh logika saya menemukan solusinya, tapi apa daya.
Karena bingung, saya pun terus melanjutkan shalat saya sesuai jadwalnya.

Di hari berikutnya, hp saya berdering kembali. Dari sekretaris Pak B, “Mas, semoga belum beli tiket yaa.. Pak B ternyata ada jadwal general check-up Rabu depan, jadinya nggak bisa ketemu. Tadi Bapak nanya bisa nggak ketemu Jumat aja, jamnya ngikut Mas.”

Yang ini saya bener-bener terkejut. Jumat? Kan bareng harinya sama Bu C?
Saya pun menyahut, “O iya, tidak apa-apa Pak. Jumat pagi gitu, jam 9 bisa ya?”
Dari seberang sana dia menjawab, “Oke Mas, nanti saya sampaikan.”

Syeep, batin saya berteriak senang.
Belum hilang rasa kaget saya, hp saya berbunyi lagi. Sebuah sms masuk berbunyi:
“Mas, Pak A minta ketemuannya hari Jumat setelah Jumatan. Jam 13.30. Diusahakan ya Mas, tidak lama kok. 1 jam cukup.”

Saya makin heran! Tanpa campur tangan saya sama sekali, itu jadwal menyusun dirinya sendiri. Jadilah saya berangkat Kamis malam, ketemu 3 orang di hari Jumat dan Jumat malam bisa balik ke Jogja tanpa menginap!

Saya sujud sesujud-sujudnya. Keajaiban model begini takkan bisa didapatkan dari Seven Habits-nya Stephen Covey, tidak juga dari Eight Habits. Hanya ALLAH yang kuasa mengatur segala sesuatu dari Arsy-NYA sana.

Sampai saya meyakini satu hal yang sampai sekarang saya usahakan terus jalani:
“Dahulukan jadwal waktumu untuk TUHAN, maka TUHAN akan mengatur jadwal hidupmu sebaik-bainya.”

Karena saya muslim, saya coba konfirmasikan ini ke beberapa teman nonmuslim dan mereka menyetujuinya. Jika dalam hidup ini kita mengutamakan TUHAN, maka TUHAN akan menjaga betul hidup kita. TUHAN itu mengikuti perlakuan kita kepadaNYA. Makin disiplin kita menyambutNYA, makin bereslah jadwal hidup kita.

Jadi, kunci sukses bisnis yang saya bisa share ke teman-teman:
“Shalatlah tepat waktu, usahakan jamaah. Jika mau lebih top, tambahi shalat sunnahnya: qabliyah, ba’diyah, tahajjud, dluha, semampunya.”

Silakan dipraktekkan. In syaa ALLAH jadwal kehidupan kita (baik bisnis, keluarga maupun personal) akan nyaman dijalani.
Sampai hari ini, saya belum pernah berdoa lagi untuk menambah 24 jam sehari menjadi lebih banyak jamnya. 24 jam sehari itu sudah cukup, jika kita tidak hanya mengandalkan logika untuk mengaturnya. Tidak kemrungsung, tidak buru-buru tapi tanggung jawab terjalani dengan baik.

Jika suatu hari saya menemukan jadwal saya kembali berantakan, banyak tabrakan waktunya atau tidak jelas karena menunggu konfirmasi terlalu lama: segera saya cek jadwal shalat saya. Pasti di situlah masalahnya dan saya harus segera bereskan sehingga jadwal saya akan teratur lagi sebaik-baiknya.
Seperti teman-teman sekalian, istiqomah alias konsisten menjalankan ini tentu banyak godaannya. Jadi memang harus tough, kuat menjalaninya, jangan malas, jangan cengeng! 🙂

————————————————————-

Usai membaca tulisan tersebut, mau nggak mau saya merasa tertampar. Tersindir. Merasa dipaksa untuk ngaca dan bertanya pada diri sendiri:

Apa kabar jadwal shalatmu, Zulfah?
Tak cukupkah jadwal-jadwal hidupmu yang terasa tak tepat waktu itu menjadi peringatan tersendiri?
Jadwal penyelesaian tesis yang tak juga ada ujungnya?
Jadwal pertemuan pekanan yang beberapa kali terbengkalai karena sulitnya membagi waktu?
Jadwal kajian-kajian yang terabaikan karena alasan ini-itu?
Jadwal mimpi-mimpi yang belum juga terwujud? Menjadi istri? Menjadi ibu?
Jadwal kontribusi positif untuk masyarakat dan peradaban Islam?

Apa kabar jadwal-jadwal hidupmu?
Sampai kapan kaubiarkan jadwal shalatmu yang tak tepat waktu membuat segala visi hidupmu menyusul tak tepat waktu?

…Seberapa tepat waktu kautuju mimpi-mimpimu, tergantung seberapa tepat waktu kauambil wudlu dan menyempurnakan rakaat saat azan memanggilmu…

Wallaahu a’lam bishawab.

Sejenak Menikmati Kesedihan

#27DaysWritingProject (Day 12)

Postingan kali ini saya ambil dari salah satu materi kajian yang saya peroleh melalui grup Whatsapp. Sayangnya, saya lupa dari grup apa catatan kajian ini. Judul aslinya “Sepuluh Manfaat Kesedihan”, disampaikan oleh Ustadz Cahyadi Takariawan. Seperti biasa, saya tuliskan di sini dengan beberapa perubahan redaksi kalimat yaa.. 🙂

——————————————————–

Setiap manusia selalu berupaya meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Namun, tidak jarang obsesi mencapai derajat bahagia itu justru membuat kita menjadi bersedih.
Saat kesedihan hadir, cobalah untuk mengizinkan diri sejenak menikmatinya. “Jangan bersedih karena kita bersedih”, tapi cobalah untuk mencerna hikmahnya. 🙂

Beberapa alasan mengapa sesekali kita perlu menikmati kesedihan, antara lain:

  1. Orang yang tengah merasakan kesedihan cenderung lebih bisa bersikap empati, tidak egois, dan mampu menjadi pendengar yang baik.
  2. Orang yang tengah sedih cenderung lebih bisa memahami kelemahan dan kekurangan dirinya. Ini penting untuk pintu introspeksi bagi upaya perbaikan diri.
  3. Kesedihan membuat seseorang berpikir lebih mendalam, merasa memerlukan nasehat dan bimbingan orang lain, dan lebih bisa menerima banyak saran/masukan.
  4. Kesedihan membantu seseorang untuk mengenali apa yang penting dan apa yang tidak penting dalam kehidupan, sehingga mampu membuat prioritas dengan lebih baik.
  5. Kesedihan adalah penyeimbang dalam kehidupan seseorang. Kebahagiaan hakiki akan dirasakan oleh orang yang pernah merasakan kesedihan.
  6. Kesedihan memberi kesempatan bagi seseorang untuk bersikap lebih dewasa dan matang dalam kejiwaan. Ia akan menjadi lebih kuat dalam menghadapi benturan dalam kehidupan.
  7. Rasa sedih memberikan ruang bagi kepribadian untuk berkembang. Kepribadian yang terus-menerus berkembang dalam kebaikan menjadi salah satu kunci sukses dalam kehidupan.
  8. Kesedihan adalah sarana untuk lebih mendekat kepada ALLAH, memperbanyak amal ibadah, taubat, dzikir, dan berupaya meningkatkan ketaatan padaNYA.
  9. Kesedihan dapat menghilangkan sifat angkuh dan sombong. Banyak orang berupaya melawan kesedihan, tetapi membuatnya justru tidak rendah hati (tawadhu’).
  10. Kesedihan membantu seseorang untuk lebih mengenal dirinya sendiri, mengenali sisi-sisi emosinya, dan berupaya untuk mengendalikannya secara positif.

Nah.. ternyata kesedihan pun ada positifnya, kan? 🙂
Mari sejenak berikan ruang dalam diri untuk merasakannya.

Wallaahu a’lam bishawab.

Hati-hati Jebakan Riya’ Terselubung!

#27DaysWritingProject (Day 3)

Kali ini saya ingin menyampaikan salah satu artikel dari whatsapp Grup Bimbingan Islam. Judul aslinya “Riya Terselubung”, diambil dari materi kajian oleh Ustadz Firanda Andirja. Redaksional atau pemilihan katanya agak saya ubah sih.. tapi in syaa ALLAH tidak mengubah isi materi kajiannya. Moga manfaat yaa.. 🙂

————————————-

Syetan tak akan berhenti berusaha membuat amalan anak Adam tidak bernilai di sisi ALLAH. Salah satunya adalah menjerumuskan manusia dalam berbagai bentuk riya’, yang seringkali tak disadari. Bentuk-bentuk riya’ ini sangat halus dan terselubung. So, kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak di dalamnya!

  • Riya’ Tipe 1:

Seseorang menceritakan keburukan orang lain, misalnya tentang pelitnya orang lain, malas shalat malamnya, dsb., dengan maksud agar yang mendengar tahu bahwa ia tidak seperti itu.
Pendengar akan menyimpulkan bahwa ia adalah orang yang dermawan, rajin shalat malam, dsb. Secara tersirat, ia ingin para pendengar mengetahui akan amal ibadahnya.

Tipe pertama ini adalah riya’ terselubung yang paling buruk. Kenapa? Karena ia telah terjerumus dalam dua dosa yang merupakan dosa besar, yaitu dosa ghibah dan dosa riya’. Demi memamerkan keshalihannya, ia mengumbar aib saudaranya sendiri.

  • Riya’ Tipe 2:

Seseorang menceritakan nikmat dan karunia yang banyak yang ALLAH berikan padanya, tetapi dengan maksud agar pendengar tahu bahwa ia adalah seorang yang shalih. Dengan demikian, ia berhak dimuliakan oleh ALLAH dengan memberikan karunia yang banyak padanya.

  • Riya’ Tipe 3:

Seseorang memuji gurunya dengan pujian yang luar biasa agar ia pun terkena imbas pujian tersebut. Menjadi murid seorang guru yang luar biasa hebat adalah sesuatu yang hebat juga, kan?
Pada hakikatnya, ia sedang berusaha memuji dirinya sendiri. Bahkan, terkadang ia memuji dirinya secara langsung tanpa disadari. Misalnya dengan mengatakan, “Ustadz Fulan itu luaaar biasa ilmunya, sangat tinggi mengalahkan ustadz-ustadz lain. Alhamdulillaah saya telah menimba ilmunya tersebut selama sekian tahun…”

  • Riya’ Tipe 4:

Seseorang merendahkan diri, tapi dalam upaya untuk riya’, agar dipuji bahwa ia adalah seorang yang mudah merendah, seorang yang low profile. Inilah yang disebut dengan “Merendahkan diri demi meninggikan mutu”.

  • Riya’ Tipe 5:

Seseorang menyatakan kegembiraan akan keberhasilan dakwah. Misalnya banyaknya orang yang menghadiri kajian, atau banyaknya orang yang mendapatkan hidayah dan sadar. Akan tetapi, sebenarnya ia berniat menunjukkan bahwa keberhasilan tersebut semata-mata karena kepandaian dan keterampilannya dalam berdakwah.

  • Riya’ Tipe 6:

Seseorang menyebutkan bahwa orang-orang yang menentang atau menyelisihinya mendapatkan musibah. Ia ingin menjelaskan bahwa ia adalah wali ALLAH, sehingga siapapun yang mengganggunya akan disiksa atau diazab oleh ALLAH.
Ini adalah bentuk tazkiyah (merekomendasi) diri sendiri yang terselubung.

  • Riya’ Tipe 7:

Seseorang menunjukkan dan memamerkan kedekatannya terhadap para da’i/ustadz, seolah-olah dengan kedekatan tersebut ia adalah orang yang shalih dan disenangi para ustadz.
Padahal kemuliaan di sisi ALLAH bukan diukur dari dekatnya seseorang terhadap ustadz ataupun orang berilmu, tetapi dari tingkat ketaqwaannya.

  • Riya’ Tipe 8:

Seseorang berpoligami, lalu memamerkannya. Jika berkenalan dengan orang lain, ia menyebutkan bahwa istrinya ada 2 atau 3 atau 4. Ia berdalih ingin menyiarkan sunnah, tetapi ternyata dalam hatinya berniat pamer.
Poligami adalah bentuk ibadah, maka memamerkannya termasuk dalam riya’.

Semoga ALLAH melindungi kita dari bentuk-bentuk jebakan riya’ terselubung tersebut.
Tak perlu kita menuduh orang lain terjerumus dalam riya’, tetapi tujuan kita adalah untuk bermuhasabah dan mengoreksi diri sendiri.
Hanya kepada ALLAH lah tempat memohon hidayah dan taufiq.

————————————-

Bagi saya pribadi, riya’ adalah satu bentuk dosa yang tergolong sulit dikenali. Kenapa? Karena riya’ adalah sepenuhnya permainan hati. Seringkali saya sulit mendeteksi ketika ia hadir, meskipun hanya selintas.
Saya membagi artikel ini agar kita lebih berhati-hati aja sih.. jangan sampai niat baik kita melakukan ibadah tertentu malah tidak tercapai karena pahalanya habis oleh dosa riya’.

Tapi hati-hati juga.. jangan karena terlalu khawatir terjebak riya, kita malah meninggalkan berbuat baik.
Fudhail bin ‘Iyadh dalam Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah pernah berkata, “Meninggalkan amalan karena manusia termasuk riya’ dan beramal karena manusia termasuk syirik.” Lebih jelasnya bisa dibaca di sini.
Duh, yang nyerempet-nyerempet urusan hati ini emang susah yaa? Hehee.. 😀

Wallaahu a’lam bishawab.
Semoga ALLAH selalu menuntun langkah kita ke arah kebaikan. Aamiin. 🙂

Stop Ghibah Yuuuk..!! ^_^

Jaman sekarang menghindari ghibah sama sekali jauh dari kata mudah, ya?
Ada yang setuju sama saya? Hehe.. 😀

Beberapa waktu lalu, saya sempat mengikuti kajian di FKUGM, yang ngisi Ummu Qonita. Meskipun ghibah hanyalah bagian (sangat) kecil dari materi yang beliau sampaikan, tapi point ini tu nyangkut banget di otak saya. Mungkin karena saya masih sering banget ngomongin orang kali yaa? Astaghfirullaaah.. 😦

Dalam salah satu hadits riwayat Muslim, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda bahwa ghibah adalah “Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan apa yang ia tidak menyukainya.”

Kalau didengerin sekilas sih simpel. Dari dulu juga semua orang tau kalau ghibah tu ngomongin kejelekan orang lain. Ngomongin aib orang lain. Tapi pas kajian kemaren itu, Ummu Qonita ngasih contohnya (sesederhana) ini:
“Kayak misalnya kita cerita tentang si A ke si B. Nggak nyebutin langsung namanya sih, nggak nyebutin langsung (bentuk) aibnya sih, tapi kita bilang: Iya, dia kan emang gitu. Dan si B yang kita ajak ngomong sama-sama tahu bahwa maksud omongan kita adalah bilang kalau si A itu punya sifat/sikap yang buruk atau nggak menyenangkan di mata kita. Itu udah termasuk ghibah.”

WHAT?? Jujur aja, saya langsung introspeksi diri dan mikir. Rasanya jleb banget aja. Kalau ucapan sesimpel itu aja udah tergolong ghibah, berapa banyak ghibah yang udah pernah saya lakukan selama ini? Berapa kali saya udah “makan bangkai saudara saya yang udah mati”?? Astaghfirullaaah. Na’udzubillaahi min dzaalik. 😦

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik padanya. Bertaqwalah kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujuraat: 12)

Saya wanita, dan saya tau banget kebiasaan yang susah banget hilang dari wanita itu hobi ngerumpi yang pasti muncul kalau ketemu temen. Mulut tu rasanya gatel buat ngobrolin apaaaaa aja yang terlintas di otak (atau malah dipaksa2 lewat di otak??) Dan bukan satu dua kali, kebiasaan ngerumpi ini selalu dibumbui dengan ngomongin orang. Mending amat kalau yang diomongin yang baik-baik. Kalau yang jelek-jelek??
Entah pas ngobrol-ngobrol singkat a.k.a basa-basi pas ketemu di toilet, pas sama-sama lagi ngelab,, sampai pas acara reunian sama temen lama. Duh, celah buat ghibah itu ada di mana-mana!!

Belum lagi, dosa ghibah itu nggak cuma buat yang ngomong, tapi juga buat yang ikut dengerin. Bahkan ketika mulut kita udah dijaga sedemikian rupa buat nggak ngomongin aib orang, adaaaa aja orang yang ngegosip di sekitar kita, atau TV nyala yang kebetulan lagi nyiarin channel infotainment.. Acara berita di TV jaman sekarang aja banyak yang dibumbui dengan nada khas infotainment dan sarat ghibah. Duh! 😦

Dan seperti yang saya sebutkan di awal tadi, jaman sekarang tu (makin) susah buat menghindari ghibah. Lisan kita berbicara dan berkomentar tak hanya lewat mulut (baca post sebelumnya). Tanpa sadar, sekedar me-like status FB atau me-RT tweet teman yang “berbau” ghibah (sekalipun nomention), termasuk dosa ghibah juga nggak tuuu?? 🙂

“Tapi kan susah buat (sama sekali) nggak ngomongin orang…”
Memang, saya juga akui itu. Saya juga belum bisa melakukannya. Tapi susah dan belum bisa bukan berarti nggak bisa, kan? 🙂
ALLAH jelas-jelas melarang ghibah. Berarti selain dosa, hal itu juga nggak baik buat kita. Berarti kita pun pasti mampu menghindarinya. Selama kita melakukannya dengan niat karena ALLAH, ALLAH-lah yang akan memudahkan. Yakin, deh. ^_^

Lagi-lagi, tujuan utama saya menulis hal semacam ini adalah untuk mengingatkan diri sendiri. Juga untuk mengingatkan orang-orang yang tidak keberatan diajak merenung. 🙂 Yuuuk, sama-sama berupaya membersihkan lisan kita dari bentuk ghibah sekecil apapun..!!
Kalau suatu saat saya yang ngomongin orang, atau saya ikut mendengarkan (dan menikmati) orang lain yang sedang ghibah, tolong diingatkan yaa.. ^_^

Biar makin takut berbuat ghibah, niih saya sampaikan salah satu hadits shahih tentang hukuman bagi orang yang berghibah di neraka nanti. Hiiiiyyy..!! T__T
“Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda: ‘Ketika aku dimi’rajkan, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, yang mereka mencakar wajah-wajah mereka dengannya. Maka aku berkata: Siapakah mereka ini, wahai Jibril? Jibril menjawab: Mereka ini adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia…’ ” (HR Abu Dawud)
Kalau diartikan langsung sih, mungkin ini ditujukan untuk orang-orang yang kanibal kali yaa.. Tapi sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang berghibah yang diibaratkan memakan daging saudaranya yang sudah mati juga termasuk dalam golongan pada hadits tersebut.

Wallaahu a’lam bishawab.