Keluarga A


Adi. Annisa. Aruna. Anezka.

Empat kesayangan dalam satu keluarga, yang huruf depan namanya A semua.

Keluarga kecil yang membuat saya memahami, bahwa kadang kedekatan hati justru semakin terasa dengan adanya jarak.

.

Dulu kami satu rumah.

Sebelum Anezka lahir.

Sebelum saya pun pergi membentuk keluarga sendiri.

.

Bukan tak ada cinta di sana.

Tapi kedekatan fisik, seringkali membuat kita lupa esensi saling memiliki.

Ada emosi yang kerap meninggi,

salah paham yang memicu ragam persepsi,

atau caci maki yang berakhir dengan hati-hati tersakiti.

.

Berpisah jarak dengan mereka membuat saya berulang merindu.

Meramu waktu, demi dua-tiga jam temu yang tak tentu.

.

Saya rindu..

pada obrolan mamak-mamak yang selalu singkat karena diselingi keriuhan empat balita,

pada kopi racikan abang yang hampir tak pernah alpa saya minta,

pada celoteh Aruna, gadis cerdas yang pintar bercerita,

pada tingkah Anezka, putri kecil yang tak henti membuat saya gemas luar biasa.

.

Semoga ALLAH selalu menjaga mereka.

Menyatukan mereka dalam cintaNYA, utuh.

Tak hanya di sini, tapi juga di surgaNYA kelak.๐Ÿ˜‡

.

ditulis sebelumnya di instagram dalam event #MutterMenulis #MMApril1801 #hurufA

Advertisements

Surat untuk Anak-anakku

[Untuk Alula] Dear, anak perempuanku.. Akan ada masanya, seorang lelaki shalih mendatangi papamu, memintamu menjadi wanitanya. Jika saat itu tiba, kamu akan mendapat satu tempat terbaik bersuara. Wanita senang bicara. Wanita butuh bicara. Kamu akan senang bercerita dengan lelakimu. Menumpah … Continue reading

Unconditional Love

Akhir-akhir ini fisik saya sering drop. Mungkin karena hamil semakin besar, badan semakin mudah lelah. Aktivitas domestik sedikit aja seringkali bikin eungap. Nyuci seember doang, atau sekedar masak satu menu masakan, istirahat setelahnya bisa satu-dua jam. Lebay. Hehee ๐Ÿ˜‚

Lalu soal makan. Dua kali kontrol ke SpOG terakhir, katanya berat badan janin masih saja kurang. PR besar saya satu: Makan! Yang banyak dan sering, apalagi nggak ada makanan apapun yang dipantang. Susahnya, balik lagi mungkin karena perut yang sudah makin besar, rasanya makan sedikit aja udah kenyang. Selera makan saya juga udah ngga kayak bulan-bulan lalu, yang tiap dua jam udah laper, liat atau denger makanan tertentu bisa tiba-tiba pengen, dan porsi makan bisa ngalah-ngalahin kuli!๐Ÿ˜‚ Sekarang rasanya perut gampang penuh. Diisi sedikit udah berasa kenyang, dan gampang eungap kalau makan terlalu banyak.

Bicara soal fisik yang sering drop, mau nggak mau jadi merasa bersalah juga sama Alula. Sejak awal hamil adeknya ini aja, otomatis perhatian yang biasanya fokus untuk dia jadi terbagi. Fisik saya yang drop membuat perhatian saya untuk dia semakin berkurang. Padahal, si calon kakak lagi aktif-aktifnya. Kalau nggak lagi tidur, nggak berhenti yang namanya latihan berdiri dan jalan ke mana-mana, eksplorasi segala hal yang ada di sekitarnya, dan terutama soal kosakatanya yang semakin banyak saja. Bicaranya memang masih jauh dari jelas, tapi celotehnya sudah luar biasa banyak, bahkan seolah sudah mampu merespon balik saat diajak bicara. Nah, kalau dia lagi asyik cerita tapi tak ditanggapi, Alula sudah mulai bisa protes. Ini dia yang sebenarnya butuh perhatian lebih.

Alhamdulillaah.. Alula justru tidak banyak rewel. Sekecil itu sudah mau jadi kakak, ternyata ALLAH begitu memudahkan saya. Saat saya sibuk menyelesaikan perkerjaan domestik, tak jarang dia bisa anteng ditinggal main sendiri di kamarnya. Sesekali tetap saya tengok dan temani main sih.. Atau kadang dia ikutan main di dapur saat saya masak. Keponya luar biasa sih pada apapun yang saya lakukan, tapi masih cukup terkendali. So, tidak terlalu mengganggu laaah.. Biasanya, asalkan saya tak berhenti menanggapi saat dia bicara, suasana tetap aman tanpa rewel2 yang berarti.๐Ÿ˜‰

Satu hal dari sikap Alula yang sempat membuat saya surprise awalnya adalah responnya kalau melihat perut saya yang besar. Dia otomatis mendekat, mengelus-elus perut saya sambil tersenyum geli atau bahkan tertawa. Bahkan, kadang saya hanya bilang.. “Sini.. Elus-elus adek.. Adeknya kangen looooh sama kakaknya.. Pengen ikutan main..” Seringnya, Alula akan dengan semangat mendekat dan mengelus-elus perut saya.๐Ÿ˜

Terima kasih ya Nak.. Entah kamu benar2 paham atau tidak, tapi sikapmu selama ini sangat berarti buat Mama. In syaa ALLAH kamu akan jadi kakak yang hebat dan disayang adik-adikmu kelak.

Mama sayang Alula..๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

Our Moment

Tiap pasangan pasti punya waktu atau momen tertentu yang dianggap spesial. Istimewa untuk satu pasangan, bisa jadi biasa aja untuk pasangan yang lain. Kalau waktu yang dianggap buat sejuta umat mungkin malam Minggu kali yaa.. Kalau malam minggu, alun-alun pasti penuh sama orang pacaran. Hehee.. ๐Ÿ˜€

Saya sendiri punya satu momen spesial bareng suami yang pasti buat kebanyakan orang biasa banget. Malah mungkin dianggap aneh. Kayaknya orang-orang disuruh nebak juga ngga bakalan bisa deh. Heu..

Yap.. Motongin kuku suami!๐Ÿ˜…

Hahaa..

Entah sejak kapan, sampai sekarang itu resmi jadi salah satu hobi saya.๐Ÿ˜‚

Jadi, ceritanya dulu tuh awal mulanya saya gatel banget ngomenin kuku-kukunya suami yang menurut saya nggak banget. Dari yang potongannya kependekan, panjang pendeknya nggak seragam sama jari sebelahnya, sampai kuku-kuku jari kaki yang patah-patah atau mulai item-item ngga keurus. Duuuuuh..

Mungkin karena cowok emang ngga segitunya ribet sama urusan manicure pedicure kali yaa.. Hehee..

Lalu saya refleks menawarkan motongin kuku-kukunya untuk pertama kali. Suami juga awalnya agak-agak nolak. Entah karena dulu itungannya masih pengantin baru jadi malu-malu, entah karena emang aneh aja kalau sesepele potong kuku harus dibantuin istri. Tapi karena sayanya keukeuh, mau lah suami saya..

Eh, sekarang mah ketagihan! Bukan cuma suami, saya pun ketagihan motongin kukunya. Saya sampai request kalau tiap Jum’at atau kalau suami mulai ngerasa kukunya kepanjangan, saya diingatkan untuk motongin kukunya. Bahkan sering protes kalau suami malah duluan motong kukunya sendiri.๐Ÿ˜

Gitu deh. Sampai sekarang hal sepele dan remeh temeh ini jadi salah satu momen spesial kami. Kadang, bahkan motongin kuku suami bisa memperbaiki mood saya loh.. Termasuk saat lagi agak bete sama suami.๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ

Ngga penting ya? Hihii.. Maafkaaaan..๐Ÿ˜‰ Sekedar mau share bahwa ternyata hal sederhana pun bisa jadi istimewa kalau kita menganggapnya demikian. Bagi kami konteksnya sesederhana memotong kuku, mas mbak ibu bapak pembaca mungkin punya momen sederhana lain yang jadi istimewa saat dilakukan bersama pasangan.โ˜บ

So.. Apa momen spesialmu?๐Ÿ˜‰