Unconditional Love

Akhir-akhir ini fisik saya sering drop. Mungkin karena hamil semakin besar, badan semakin mudah lelah. Aktivitas domestik sedikit aja seringkali bikin eungap. Nyuci seember doang, atau sekedar masak satu menu masakan, istirahat setelahnya bisa satu-dua jam. Lebay. Hehee 😂

Lalu soal makan. Dua kali kontrol ke SpOG terakhir, katanya berat badan janin masih saja kurang. PR besar saya satu: Makan! Yang banyak dan sering, apalagi nggak ada makanan apapun yang dipantang. Susahnya, balik lagi mungkin karena perut yang sudah makin besar, rasanya makan sedikit aja udah kenyang. Selera makan saya juga udah ngga kayak bulan-bulan lalu, yang tiap dua jam udah laper, liat atau denger makanan tertentu bisa tiba-tiba pengen, dan porsi makan bisa ngalah-ngalahin kuli!😂 Sekarang rasanya perut gampang penuh. Diisi sedikit udah berasa kenyang, dan gampang eungap kalau makan terlalu banyak.

Bicara soal fisik yang sering drop, mau nggak mau jadi merasa bersalah juga sama Alula. Sejak awal hamil adeknya ini aja, otomatis perhatian yang biasanya fokus untuk dia jadi terbagi. Fisik saya yang drop membuat perhatian saya untuk dia semakin berkurang. Padahal, si calon kakak lagi aktif-aktifnya. Kalau nggak lagi tidur, nggak berhenti yang namanya latihan berdiri dan jalan ke mana-mana, eksplorasi segala hal yang ada di sekitarnya, dan terutama soal kosakatanya yang semakin banyak saja. Bicaranya memang masih jauh dari jelas, tapi celotehnya sudah luar biasa banyak, bahkan seolah sudah mampu merespon balik saat diajak bicara. Nah, kalau dia lagi asyik cerita tapi tak ditanggapi, Alula sudah mulai bisa protes. Ini dia yang sebenarnya butuh perhatian lebih.

Alhamdulillaah.. Alula justru tidak banyak rewel. Sekecil itu sudah mau jadi kakak, ternyata ALLAH begitu memudahkan saya. Saat saya sibuk menyelesaikan perkerjaan domestik, tak jarang dia bisa anteng ditinggal main sendiri di kamarnya. Sesekali tetap saya tengok dan temani main sih.. Atau kadang dia ikutan main di dapur saat saya masak. Keponya luar biasa sih pada apapun yang saya lakukan, tapi masih cukup terkendali. So, tidak terlalu mengganggu laaah.. Biasanya, asalkan saya tak berhenti menanggapi saat dia bicara, suasana tetap aman tanpa rewel2 yang berarti.😉

Satu hal dari sikap Alula yang sempat membuat saya surprise awalnya adalah responnya kalau melihat perut saya yang besar. Dia otomatis mendekat, mengelus-elus perut saya sambil tersenyum geli atau bahkan tertawa. Bahkan, kadang saya hanya bilang.. “Sini.. Elus-elus adek.. Adeknya kangen looooh sama kakaknya.. Pengen ikutan main..” Seringnya, Alula akan dengan semangat mendekat dan mengelus-elus perut saya.😍

Terima kasih ya Nak.. Entah kamu benar2 paham atau tidak, tapi sikapmu selama ini sangat berarti buat Mama. In syaa ALLAH kamu akan jadi kakak yang hebat dan disayang adik-adikmu kelak.

Mama sayang Alula..😘😘😘

Advertisements

7 thoughts on “Unconditional Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s