Sabtu bersama Alula

Heiii.. I’m back!🙂
Hehee.. udah kayak apaan aja.

Setelah dormansi berkepanjangan di masa-masa kehamilan, menjelang dan setelah melahirkan kemarin, akhirnya posting di sini lagi nih.
Sooo many things to tell, actually. Sampai bingung rasanya mau cerita tentang yang mana dulu.

Jadi ceritanya, pas menjelang lebaran dan tahu film Sabtu bersama Bapak (yang novelnya adalah favorit saya) bakal tayang di bioskop, saya semangat sekali mau nonton. Tahu sih.. HPL saya juga sekitar sepekan setelah Lebaran dan sangat mungkin maju, tapi mengingat sampai hari H Lebaran belum juga merasa kontraksi, tadinya saya (dan adik saya) masih semangat 45 mengajak mamah bapak sekeluarga nonton bareng.
Well.. tapi akhirnya nggak jadi. Pada khawatir bayi di perut saya tiba-tiba minta keluar kali ya.. hehee..

Kekecewaan nggak jadi-jadi nonton akhirnya hilang setelah tanggal 16 Juli lalu saya resmi jadi ibu.
I’m officially a Mom! Yeaay.. alhamdulillaaah.. 🙂
Sedikit cerita, tiga hari sebelum HPL tiba-tiba SpOG saya keukeuh banget si bayi harus segera keluar. Padahal kondisi bayi dkk dalam rahim saya masih baik. Katanya udah mepet HPL, mending dikeluarkan saat kondisi masih baik. Karena kontraksi belum juga muncul, pilihannya cuma dua: coba diinduksi, atau mau langsung caesar.
Duh, rasanya bingung dan agak kesal sama dokternya. Masih ingin sekali lahiran normal soalnya. Lagipula, alasan SpOGnya maksa segera dilahirkan kok rasanya kurang kuat ya? Bukannya kalau anak pertama tu wajar telat-telat sedikit dari HPL asal kondisi janin dkk dalam rahim masih baik? Malah kalau saya baca-baca, lahir di minggu ke 41 (maksimal 42) juga masih aman.

Untungnya, SpOG lain yang saya kunjungi hari berikutnya untuk mendapatkan second opinion sangat menenangkan.
“Nggak papa Bu.. santai aja. Belum HPL juga kan? Kondisinya masih bagus semua kok. Kita coba tunggu kontraksinya aja ya.. masih memungkinkan bisa lahir normal kok. Kalau nggak kontraksi lagi sampai Senin (HPL+3) baru kita ketemu lagi..”

Alhamdulillaah nggak harus menunggu Senin untuk merasakan sensasi kontraksi alias mules-mules luar biasa itu.
Sabtu tanggal 16 pagi, jam 3.30 pas Mamah lagi sahur, tiba-tiba saya mules-mules. Suami saya pas lagi jaga malam di RS. Karena masih ragu itu kontraksi atau bukan, saya nggak langsung cerita ke mamah atau ngabarin suami.

Mencoba tidur lagi sampai subuh ternyata sudah tidak bisa. Mules-mulesnya muncul tiap 10-15 menit sekali. Akhirnya, pas shalat subuh saya cerita ke mamah. Pas mulai muncul flek juga.
Rasa mulesnya sakiiiiit, tapi I’m too excited soalnya memang itu yang lama ditunggu-tunggu muncul.🙂
Lepas shalat subuh, saya jalan-jalan pagi lagi bareng Mamah seperti hari-hari sebelumnya. “Memancing” agar kontraksinya semakin intens dan segera bukaan.

Singkat cerita, setelah mulai ashar saya akhirnya ke rumah sakit dan masih bukaan 1, selepas isya mulai bukaan 4-5, akhirnya si kakak lahir juga lewat persalinan normal jam 21.28. Alhamdulillaah.

Rasanya luar biasa bahagia dan penuh syukur.
Kata perawat yang membantu saya lahiran, dari 5 bayi yang lahir hampir bersamaan dengan kakak, hanya kakak yang lahir lewat persalinan normal. Selebihnya SC.
Pas lihat kakak keluar dari rahim saya pasca mengejan berulang kali yang rasanya luar biasa itu, saya dan suami speechless. Nggak nangis, nggak bisa ngomong apa-apa. Kami hanya saling melihat satu sama lain. Entah. Rasanya campur aduk. Bahagia luar biasa, haru, lega karena kakak lahir sehat dan selamat.. semua jadi satu.
Saya cuma sempat bilang sama suami: “Nggak kapok kok Mas.” Kakak bakal punya banyak adik. In syaa ALLAH. Hehee..😀

Jadilah hari itu menjadi Sabtu bersama Alula (panggilan yang kami berikan untuk kakak, artinya pertama).
Nggak jadi nonton Sabtu bersama Bapak nggak pa-pa deh.. Sabtu bersama Alula lebih precious!🙂

5 thoughts on “Sabtu bersama Alula

  1. Lagi inget ama mba zulfa…buka blognya pas baca ini…kaget bahagia….selamat yaa, semoga alula menjadi anak yg sholeha (eh perempuan kan?hehe)…aamiin

  2. ketika dulu mengetahui kamu menikah, aku cemburu dan marah. namun ketika sekarang mengetahui kamu mempunyai baby, aku ikut sangat senang. mungkin ini ya alasannya kenapa bayi sering disebut “malaikat kecil”. ya, karena dapat meluluhkan kebencian dari seorang dewasa. kemudian lebih jauh lagi karena akupun telah 7 tahun lebih dulu mempunyai bayi, jadi aku mengerti benar perasaan bahagia itu. selamat berbahagia dengan keluarga kecilmu dan akupun akan berbahagia dengan keluarga kecilku. bye🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s