Bandung: Saat Tak Lagi Ada Kata Pulang ke Kampung Halaman

#27DaysWritingProject (Day 20)

Wah, sudah 5 hari absen blogging nih.. padahal masih dalam rangka self challenge #27DaysWritingProject.
Hwaaa.. maafkan karena ternyata saya belum bisa konsisten yaa, teman-temiiiiin..!!🙂
Halah! Kayak ada yang merhatiin ajaa..😛

Jadi, dalam beberapa hari ke depan saya akan berusaha bayar utang-utang ngeblog nih..
Mudah-mudahan saat purna 27 hari projectnya, minimal ada 27 post yang saya tuliskan. Aamiin.🙂

————————————————————

Selama beberapa hari kemarin, saya mengunjungi Bandung. Satu-satunya kota yang hingga saat ini masih saya akui sebagai kampung halaman. Sedihnya, saat ini berada di Bandung adalah kesempatan yang tergolong langka. Jaraaaang sekali bisa saya lakukan.
Rumah yang saya tinggali sejak kecil di daerah Antapani sana sudah sekitar 2 tahun lalu resmi dijual. Lama sebelum itu pun, terhitung sejak saya sekolah berasrama di Tangerang dan orang tua pindah kerja ke Makassar, rumah tersebut dikontrakkan. Beberapa kerabat dekat yang awalnya tinggal di Bandung pun sekarang sudah pada pindah ke kota lain.
Resmi sudah. Sejak sekitar sepuluh tahun lalu, tak ada lagi kata pulang ke kota kelahiran itu.😦

Saya ingat sekali. Keputusan menjual rumah di sana pun berat sekali diambil. Wacananya sih sudah bertahun-tahun lalu. Ditunda sekian lama karena berbagai pertimbangan, terutama karena itu adalah kampung halaman saya dan adik, yang sejak kecil lahir dan besar di sana. Melepaskan rumah itu, seperti merelakan berbagai memori di dalamnya lenyap.
Tapi mau gimana lagi?
Memelihara rumah di sana, sementara kemungkinan untuk kembali tinggal di sana semakin tipis saja setiap detiknya, membuat kami akhirnya merelakan rumah itu dan semakin meresmikan diri menjadi warga Jogja.

Maka, ketika kemarin akhirnya saya dan adik saya mendapatkan alasan untuk kembali ke sana, meski hanya dua hari, membuat kami bahagia luar biasa.🙂

Begitu menginjakkan kaki di kota tercinta dan mendengar orang-orang sekitar bicara dengan logat Sunda, refleks saya bergumam. “Aaah, rasanya seperti pulang!”🙂
Lebay kali yaa.. Tapi sungguh, saya sangat merindukan kota itu.

Dua hari di Bandung setelah sekiaaaaaaaan lama tidak ke sana membuat kami seperti wisatawan luar kota yang belum pernah mengunjungi Bandung. Tata kota dan bangunan-bangunan yang sudah jauh berubah, alur lalu lintas yang tampak berbeda dengan banyaknya one-way, membuat kami tak berhenti culang-cileung ke luar jendela mobil sepanjang jalan. Hehee..

Karena cuma dua hari di Bandung dan niatnya bukan jalan-jalan, agenda jalan-jalannya kami fokuskan ke nostalgia kuliner masa kecil. Heu.. Dua kali sarapan di 2 bubur ayam favorit jaman dahulu kala dan sekali makan malam di kedai baso andalan saja sudah membuat kami senang. Sayangnya belum sempat kembali mencicipi ayam goreng langganan (yang entah sekarang masih ada atau tidak) karena keterbatasan waktu.

Sarapan hari pertama kami lakukan di bubur ayam depan kantor Telkom Lembong.
Jadi, karena mamah dulu lama kerja di sana dan kami pas kecil sering ikut ke kantor, bubur ayam itu sering jadi sasaran sarapan pagi. Mamangnya aja masih hafal sama mamah pas kemarin kami ke sana. Dikasih diskon pula sama mamangnya! Hehee..😀 Sekarang sih jualannya udah dibantu sama anaknya, meskipun wujud gerobaknya masih sederhana a.k.a. gitu-gitu aja.
Kenapa buryam satu ini jadi favorit? Selain karena alasan pertama tadi, bubur ayamnya emang enak. Setidaknya pas dengan selera keluarga kami. Porsi oke, lengkap dengan irisan cakwe, ati-ampela, telur, dan pastinya potongan ayam yang besar-besar dan banyak!🙂

Bubur ayam di hari kedua adalah bubur ayam H. Udin dan H. Lili di Jl. Purwakarta Antapani.
Nah, kalau yang ini langganan kami tiap pekan jaman kecil dulu. Dulu, hampir tiap Sabtu atau Ahad kami sekeluarga sesepedahan keliling kompleks. Biasanya muterin Antapani, terus ke Arcamanik, balik lagi ke Antapani. Sebelum pulang ke rumah, pasti kami mampir dulu makan bubur ayam di sana.🙂
Yang bikin buryam ini spesial adalah karena di mejanya disediakan irisan daun bawang yang buanyaaaaak! Jadi, kami bebas ngambil daun bawang sepuasnya. Isinya pun lengkap dengan cakwe, ati-ampela, telur, dan ayam seperti buryam Bandung pada umumnya.
Tapi, terakhir ke sana kemarin itu sepertinya kualitasnya menurun dibanding jaman dahulu kala. Ati-ampelanya makin kecil-kecil, irisan ayam dan porsi buburnya pun makin sedikit. Mungkin karena harga kebutuhan pokok semakin meningkat dan penjualnya mempertahankan harga kali yaa..🙂
Selain alasan tadi, ada satu lagi yang bikin buryam ini nyangkut banget di ingatan kami. Namanya mirip kedua orang tua kami, Pak Qoharuddin dan Ibu Lilik. Hehee..😀

Wajah-wajah bahagia menginjakkan kaki di kota kesayangan. :-)

Wajah-wajah bahagia menginjakkan kaki di kota kesayangan. ^_^

Hmm.. Rasanya kalau ke Bandung, berapa lama pun tak akan pernah cukup.
Terlalu banyak tempat-tempat kenangan yang ingin kami datangi, terlalu banyak teman dan guru-guru tersayang jaman TK-SMP dulu yang ingin kami temui.
Dulu saya sempat berharap dapet suami orang Bandung aja, biar ada alasan “pulang” ke kota itu. Hehee..
Sekarang sih saya hanya berharap dilancarkan rizqi dan kesempatan agar bisa sering-sering ke sana lagi. Semoga. Aamiin.🙂

5 thoughts on “Bandung: Saat Tak Lagi Ada Kata Pulang ke Kampung Halaman

  1. Kota dimana kita dilahirkan dan mengecap awal pendidikan pasti bikin kangen karena ada yang mengikat kita disana: tempat, teman2 dan masakannya. Tahun 2005 saya beberapa kali ke Antapani, karena lagi kerjaan di Cicadas. Dulu deket2 griya toserba ada beberapa makanan enak, gak tau sekarang.

    • Bener banget mas..
      Udah sekian lama gak ke bandung aja tetep berasa ‘kenal’ kalau ke sana lagi..🙂

      Kalau dari makanannya, yg saya rindukan adalah rasa asinnya. Di jogja bahkan sambel aja rasanya manis! Heu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s