Kopi: Adiksi dan Sugesti

#27DaysWritingProject (Day 6)

Kalau ditanya tentang hal-hal yang paling menggambarkan diri saya, saya akan menjawab salah satunya adalah kopi.
Teman-teman dan kerabat saya juga hafal sekali kayaknya dengan minuman favorit saya itu.
Tiap ke rumah Tante di Tangerang, Bulek atau nenek di Solo, pasti akan keluar tuh kata-kata: “Kalau mau ngopi ambil sendiri di dapur yaa kayak biasa..” atau “Mau minum apa? Kalau Mbak Zulfah pasti kopi yaa?”
Ketemu teman lama atau saudara yang udah lama nggak ketemu, pertanyaan apa kabar biasanya ditambah dengan, “Masih suka ngopi?”
Hehee..😀

Entah sejak kapan saya menjadi sangat menggemari minuman sarat kafein itu. Kalau tidak salah ingat, kebiasaan minum kopi ini awalnya karena saya sering mengalami migrain. Pada kadar tertentu kan, kafein dapat membantu menghilangkan sakit kepala akibat migrain.
Sekarang sih, migrain ataupun tidak, rasanya saya tak bisa melewati satu hari tanpa kopi.🙂

coffee-break-43388

Beberapa orang menenggak kafein demi memaksa matanya tetap segar dan siap diajak begadang. Banyak tugas lah, harus lembur lah.. Kopi umumnya juga dikenal sebagai teman terbaik bagi orang-orang yang mau ronda keliling kampung, jaga malam di perkantoran atau rumah sakit, dan sebagainya.
Saya justru seringkali minum kopi sesaat sebelum tidur dengan alasan sederhana. Pengen aja. Atau.. malam ini belum minum kopi. Kurang afdol kalau belum ngopi.😀

Sugesti sih sebenarnya. Secara teori kan kafein memang membuat metabolisme tubuh lebih kencang, meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Jadi, minum kopi biar nyenyak tidur tuh nggak ada teorinya.
Tapi ya gitu. Kebiasaan minum kopi setiap hari membuat saya merasa aneh kalau melewatkan satu hari tanpa kopi. Jadi, kalau seharian belum minum kopi sementara sudah waktunya tidur, saya suka kepikiran dan malah nggak bisa tidur. Hahaa..😀

Ada yang addict sama kopi juga seperti saya?🙂

Hmm.. adiksi tidak apa, yang penting tahu batas.
Saat ini, saya juga selalu membatasi konsumsi kopi maksimal 2 cangkir sehari. Sebenarnya, batasan amannya bisa lebih dari itu sih..
Tapi saya tahu diri. Untuk yang tidak terlalu doyan dan cenderung minim konsumsi air putihnya seperti saya, kebanyakan minuman “berwarna” bisa berakibat buruk bagi kesehatan.🙂

Lagipula, apapun yang berlebihan tidak baik kan?🙂

Wallaahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s