Memaafkan Masa Lalu, Memaknai Hijrah Seutuhnya

Beberapa waktu lalu seorang kawan lama menemui saya dan berkata, “Zulfah, ****** (menyebutkan nama seseorang, yang tak lain adalah mantan pacar saya. Astaghfirullaahal’azhiimAmpuni saya Yaa ALLAH..😥 )sekarang pacaran sama ***** yaa? (menyebutkan nama salah seorang teman yang juga saya kenal).”
Saat itu saya cuma tersenyum dan bilang, “Aduuuh.. nggak tau yaa. Hehee..”
Lalu dia tanya lagi, “Emang udah nggak pernah kontakan yaa sama kamu? Kamu nggak penasaran, gitu? Nggak pengen tau kabarnya dia sekarang?”
Lagi-lagi saya tersenyum dan cuma bisa menjawab dalam hati, “Ya kalaupun kontakan ya nggak ngomongin itu lah yaa.. Buat apa juga saya kepo-in hal-hal macem gitu?”

Itu bukan pertama kalinya saya ditanya tentang hal serupa. Mantan pacar yang punya pacar lagi?
Saya bukan sama sekali tak peduli. Jujur, selalu ada kesedihan terselip di hati saya kalau dengar itu.
Bukan sedih karena patah hati sejadi-jadinya gara-gara dia udah bisa move on, trus punya pacar dan kehidupan baru loh yaa..
Bukan sedih karena dia udah “laku”, sementara saya masih betah jadi single happy. Hehee..😀
Saya sedih karena itu berarti saya tak cukup bisa menjelaskan alasan saya berhenti memilih pacaran sebagai jalan hidup.
Saya sedih karena itu berarti saya tak cukup mampu membuatnya mengerti bahwa pacaran itu salah.
Saya sedih karena itu berarti saya tak berhasil mengajak dia yang dulu pernah menjadi orang terdekat saya untuk merasakan nikmatnya mengharap cinta ALLAH saja.

Masih kuat di ingatan saya, kata-kata saya yang mengawali berakhirnya masa pacaran saya dengan dia waktu itu.
“Pernah kepikiran nggak, kalau pas kita pacaran… misalnya lagi nonton bareng nih, atau lagi ke pantai berdua aja, terus tau-tau ALLAH nyabut nyawa kita? Terus mati deh kita. Kita pasti masuk neraka kan yaa? Nggak mungkin ke surga?
Pertanyaan sederhana dari mulut saya waktu itu yang membawa saya dan dia pada pemikiran yang lebih jauh.
Bahwa sebenernya kita sama-sama tahu bahwa apa yang kita jalani (pacaran) itu salah. Dosa. ALLAH nggak suka. Bahkan dilarang.
Hingga akhirnya pemikiran-pemikiran itu membuat kita mengakhiri pacaran saat itu (Alhamdulillaahirabbil’aalamiin).

diambil dari timeline photos-nya Page Hijab Alila

diambil dari timeline photos-nya Page Hijab Alila

Sejak berhenti pacaran, saya banyak belajar membenahi diri.
Mulai kembali merenovasi diri yang sudah terlalu banyak cacatnya.
Mulai kembali mendekat pada sahabat-sahabat shalihat saya, yang dulu sempat saya tinggalkan karena malu dan merasa nggak pantas.
Mulai menghadiri kajian-kajian keislaman yang semasa pacaran saya tinggalkan dengan alasan nggak ada waktu. Padahal sebenernya sih karena seringnya saya malu dan tersindir dengan dosa-dosa saya kalau denger materi kajian. Hehee…😀

Tau nggak? Bahwa hingga saat ini, pernah pacaran tu masih saja meninggalkan berjuta penyesalan yang tak pernah habis saya tangisi.
Se-islami-islami-nya pacaran, tetep aja isinya dosa. Nggak ada berkahnya sama sekali.
Seminimal-minimalnya kontak antara lawan jenis dalam pacaran, selalu ada zina hati dan pikiran yang terlintas hampir di tiap detik, dan sedikit demi sedikit memenuhi hati dengan gumpalan hitam bernama dosa.

Saya bersyukur ALLAH menyadarkan saya untuk berhenti berupaya menjemput cinta dengan cara yang IA tak suka.
Saya bersyukur ALLAH mengingatkan saya untuk mulai berupaya menjemput cinta dengan cara mencintaiNYA dengan lebih sempurna.
Dan saya bahagia.🙂

Tapi bagaimanapun, penyesalan itu menyakitkan.
Saya sendiri hingga kini belum bisa move on dari rasa sakit setiap mengingat masa-masa pacaran saya.
Mengingat betapa banyak waktu terbuang percuma untuk sekedar ngobrol atau telfonan sama pacar, padahal harusnya waktu itu bisa dipakai buat special date sama ALLAH.
Betapa setiap bangun tidur, yang teringat adalah ambil HP dan membangunkan pacar… padahal harusnya segera berdoa, ambil wudhu dan shalat fajar.
Betapa banyak waktu terbuang untuk nonton berdua, jalan-jalan berdua… tanpa tersisa waktu untuk sekedar hadir ke majelis ta’lim sekali sepekan.
Betapa minimnya komunikasi dengan orangtua karena malu dan takut ketahuan pacaran, malah justru intens sekali komunikasi dengan pacar.
Betapa banyaknya angan-angan tentang masa depan dengan si pacar, sampai terlupa bahwa masa depan sesungguhnya adalah surga atau neraka.
Betapa banyaknya waktu yang dihabiskan untuk menumpuk dosa…
Betapa tak tersisanya waktu untuk mengisi tabungan pahala…
Astaghfirullaahal’azhiim.😥
Dan hingga kini, saya masih sangat keras berupaya memaafkan masa lalu saya sendiri, untuk fokus hijrah ke arah masa depan yang lebih baik.

Kalau menurut buku Jodoh Dunia Akhirat-nya Fufu sama Canun (ada yang pernah baca?), mungkin salah satu alasan kenapa saya masih belum dipertemukan dengan jodoh saya hingga saat ini adalah karena saya belum juga selesai di tahap cleansing. Belum tuntas saya memaafkan masa lalu saya, sehingga belum siap menjemput masa depan.😦

 

“Kamu kenapa sih nggak pacaran lagi aja? Gimana mau dapet jodoh kalau milih single terus?”
“Padahal kalau kamu mau pacaran lagi, pasti kamu udah nikah deh sekarang..”
“Nggak sepi tuh hidup kamu, betah amat sih jadi jomblo?”
“Lo sok-sok-an deh. Bilang mau jemput jodoh dengan jalan nggak pacaran, buktinya sampai sekarang lo belum nikah juga?”

Beberapa ucapan teman-teman yang pernah mengenal saya sebagai orang yang punya prinsip pacaran untuk menikah.
Dan lagi-lagi, saya tersenyum.

Saya yakin kok, ALLAH sudah menyiapkan seseorang untuk jadi imam saya suatu saat nanti.
IA jauh lebih tahu siapa, dan kapan waktu terbaik untuk menyatukan kami kelak.
IA jauh lebih tahu kapan saya sudah pantas untuk menjadi seorang istri,
pun kapan jodoh saya sudah pantas menjadi suami saya.
Jelas-jelas ALLAH melarang pacaran. Maka sudah pasti, jodoh terbaik saya hanya bisa dijemput bukan dengan jalan pacaran.
Kalau sampai sekarang saya masih sendiri, saya tinggal berkaca sama diri sendiri. Berarti ALLAH menilai saya belum pantas. Saya masih harus terus berupaya keras memantaskan diri terlebih dulu.
ALLAH masih memberi kesempatan pada saya dan dia untuk terus memperbaiki dan memantaskan diri, untuk terus saling berkirim doa, agar kelak kami sama-sama pantas menjemput cinta yang ALLAH titipkan di hati-hati kami.
Kalau sampai sekarang beberapa laki-laki yang “datang” masih saja dirasa kurang baik, kurang shalih, kurang siap menjadi imam saya… berarti saya juga masih kurang baik, kurang shalihat, dan kurang siap menerima seorang pemimpin baru di hidup saya. Bukankah jodoh kita adalah cerminan diri kita sendiri?🙂

Ada yang pernah nanya juga:
“Emang sejak lo nggak pacaran gitu, lo nggak pernah jatuh cinta gitu? Lo nggak pernah patah hati kalau liat yang lo sayang pacaran lagi… atau nikah sama orang lain?”

Hmm.. saya juga manusia lah.. Rasa suka, kagum, simpati, sayang, bahkan cinta sama seseorang (lawan jenis) itu fitrah. Beberapa kali menyukai seseorang, beberapa kali patah hati… wajar, kan?
Hanya saja, saya pun berulang kali mengembalikan rasa padaNYA. Selalu mempertanyakan rasa yang hadir padaNYA. Standar lah… memohon jika memang jodoh, maka dekatkan. Jika bukan, maka jauhkan.
Terus-menerus memohon petunjukNYA agar tidak memperturutkan rasa di jalan yang tidak IA ridlai.
Nggak pacaran kan bukan otomatis mengamankan hati dari zina? Maka jika ada rasa tak semestinya yang hadir, selayaknya kita mohon perlindunganNYA saja. Lebih intens mendekatiNYA, agar dijauhkan dari rasa yang tak seharusnya kita punya.
Menyukai seseorang dan patah hati karena ternyata belum atau bukan jodoh saya? Pernah. Sakitkah rasanya? Sangat. Tapi jika dengan demikian saya jadi lebih intens mendekat padaNYA, lebih betah berlama-lama menangis dan curhat di hadapanNYA, maka saya tak keberatan. Rasa sakit yang sama (bahkan mungkin lebih menyiksa) dengan patah hati saat jaman pacaran, tapi kali ini in syaa ALLAH berbuah pahala.🙂

gambar diambil dari bacotanghaley.blogspot.com

gambar diambil dari bacotanghaley.blogspot.com

Terakhir nih yaa.. masih ada yang suka nanya sama saya:
“Lo nggak kangen pacaran? Nggak pernah kepikiran sama sekali buat pacaran lagi?”

Untuk yang ini, saya mantep bilang: Nggak! Saya maunya pacaran sama suami saya aja, nanti setelah nikah! Hehee..😀

So… Buat yang nggak pernah pacaran, bersyukurlah! Kamu nggak perlu buang-buang banyak waktu untuk menangisi masa lalu, atau berupaya keras menghapus memori tentang dosa-dosa menduakan cintaNYA.
Nah, buat yang masih pacaran, putusin aja deh pacarnya! Toh kalau emang jodoh mah, ALLAH kelak akan menyatukan kalian lagi dengan cara yang jauuuuuuhhh lebih baik dan istimewa!🙂
Yang punya hati kita kan ALLAH. IA yang Maha Membolak-balik Rasa. Kalau ALLAH nggak ridla, bisa aja kan sekarang sayang-sayangan pas pacaran, ntar pas nikah tau-tau ALLAH bikin jadi saling benci? Na’uudzubillaahi min dzaalik.
Yang masih single happy kayak saya, atau yang pacaran tapi mau hijrah jadi single happy kayak saya, yuk puas-puasin pedekate sama ALLAH, puas-puasin berupaya menjemput cintaNYA, dan terus berupaya memaafkan masa lalu dan hijrah seutuhnya agar kelak IA kasih kita jodoh terbaik yang mencintai kita karenaNYA, dengan cara terbaik dan teristimewa.🙂

Wallaahu a’lam bishawab.

gambar diambil dari nanahidupku28.blogspot.com

gambar diambil dari nanahidupku28.blogspot.com

32 thoughts on “Memaafkan Masa Lalu, Memaknai Hijrah Seutuhnya

  1. lama ga baca blog nih, akhirnya mampirlah ke sini hehe
    hidayah memang hanya “menyentuh” hati orang-orang yg memang dikehendaki Allah SWT ya mbak
    semoga postingan ini juga dapat “menyentuh” hati orang2 yg membacanya 😀
    baca postingan ini jd “kaget” akunya, gara2 mbk Zulfah pernah ******* hihi
    kalo kata orang, kita dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari pengalaman sendiri dan orang lain
    bisa jadi kalo bukan pengalaman sendiri, “nikmat taubatnya” ga sedalam ini mbak #susah nih nyari kata2 yg pas
    oiya mohon maaf lahir batin nih, lama gak ketemuan ya ;-D

    • Hihiii.. jadi malu sayaa.. :’)
      Iyaa.. masa2 kelam ituuu.. :p

      Moga disikapi positif dan manfaat buat yg baca yaa mbak Dinii..

      Samasamaa.. maaf lahir batin jg yaa..
      In syaa ALLAH masih disempatkan ketemuan kok.. sata kan masih berjuang tesis jg di jogja.. :’)

    • Wah, postingan2 saya masih kalah keren sama blognya mbak dini nih..masih harus byk belajar nuliiiis..!!🙂

      Yep. Keep writing, keep blogging..
      Semangat untuk terus berupaya mencerahkan!🙂

      • hiyaa.. aku udah lama ga ngeblog nih lgan postinganku galau gt mana bisa keren ;p
        ga kok, kerenan tulisannya dan prinsipnya dirimu, jarang bgt ada yg berani nulis prinsip hidup keyakinan dan pemikiran yg jarang bgt dipunyai org, apalagi yg berani bilang ga untuk sesuatu yg sudah dianggap lumrah oleh kebanyakan org, semoga tetap istiqomah dg prinsipnya ya🙂
        mungkin orang lain jg punya prinsip begitu, tp saat mereka dihadapkan/diuji sama Allah SWT, mreka malah ga berani buat bilang “ga”, ga berani menolak, bahkan malah menikmatinya
        Naudzubillah mindzalik

        oiya, aku mau crita jg lbh tepatnya nanya pendapatmu nih mbak Zul, hasil pengamatanku thdp org2 disekitarku
        semua perempuan muslim pasti berusaha untuk menjadi perempuan shalihah, dg memperbaiki hatinya, perilakunya dan penampilannya. berjilbab dan berpakaian sesuai syariat. umumnya perempuan yg berpakaian dan berjilbab yg sesuai syariat dianggap memiliki pemahaman agama lebih baik dibanding perempuan yg berjilbab “seadanya”. tp emang namanya jg manusia, pasti pernah khilaf, trmasuk mbak2 yg berjilbab besar, blm berjilbab, dan berjilbab seadanya. mereka punya prinsip yg menurutku “keren” salah satunya sesuai postingan ini
        berusaha untuk tidak pacaran, berkhalwat dst dg pria yg bukan mahramnya
        tp saat mereka diuji dengan sesosok pria yg mungkin menggetarkan hatinya #ciyee ;P mereka justru mengoyak sendiri prinsip mereka, emang sih ga pacaran, tapi ya gitu, rajin banget smsan, chatting, telponan, berbagi foto dan memberikan perhatian untuk pria yg bukan/blm jd mahramnya hihi

        ironis kan ya.. saat mereka bilang ke orang lain klo kegiatan itu dosa, tp disisi lain dia melakukan tindakan sprti itu, mungkin krn ga ada yg bakal tahulah, ironis lg saat ybs bilang klo dia nggota ini aktif ini itu rajin ini itu
        klo buatku yg pernah berpikir untuk menjadikannya sbg panutan, jd malah ilfil.. meski akunya jg sadar klo ga ada org yg sempurna, tp jujur kecewa berat deh akunya
        gimana pendapatmu mbk Zul? maaf klo ada pihak yg tersinggung nih, tp sejujurnya aku ga bermaksud menyudutkan pihak yg mungkin ngrasa tersinggung hihi tp yg seperti ini banyak lho aku amati disekelilingku hihi
        Semoga kita menjadi golongan orang2 yg dilindungi dan selalu ingat Allah SWT ya mbak dan bisa menjujung prinsip dan keyakinan kita sampai ajal termasuk saat Allah SWT menguji kita🙂 Aamiin

  2. cerita yang bagus mbak

    tapi, bukannya lebih baik ga di-post gitu ya ? soalnya ini menurut saya aib, hehe
    sedangkan aib itu kaidahnya adalah untuk ditutupi. membuka aib yang telah Alloh ta’ala tutupi justru akan mengundang murka-Nya bukan ?
    sedangkan di sisi lain, menulisnya akan cenderung mengingatkan kita pada masa lalu ya, hehe
    saya rasa, mbak ilmunya jauh lebih tinggi dari saya sehingga mesti lebih paham hal ini
    terakhir,
    Mbak, semoga segera menikah ya
    barakallohu fiik

    ohya komen saya ini kalau ga di-approve juga ga apa2🙂

    • Jazaakallaahu khairaa sarannya. Komennya tetep saya approve, kok. Saya malah senang ada kritik/saran semacam ini.

      Postingan ini memang sempat saya endapkan lama karena pertimbangan soal aib tadi, tapi setelah mempertimbangkan berbagai hal khususnya maslahat yg in syaa ALLAH (diharapkan) lebih banyak, juga meminta petunjukNYA tentunya, tetap saya post dan publish pada akhirnya.

      Tak sedikit akhwat (ataupun ikhwan) yg ingin “hijrah” (dari dosa apapun) tapi masih saja ragu. Tak sedikit pula yg sudah hijrah tapi masih sering goyah dg prinsip barunya. Saya bermaksud membantu memantapkan hati2 mereka, dan share kisah sendiri mungkin cara yg paling mudah diterima (dg baik) oleh hati2 mereka.

      Kalau soal mengingatkan dengan masa lalu, bagi saya menuliskannya semacam ini justru memudahkan saya berdamai dengannya. In syaa ALLAH.

      Syukran doanya, semoga kembali pada yg mendoakan.
      Wabaarakallaahu fiik.

      Semoga ALLAH ridla dan selalu menjauhkan kita dari murkaNYA. Aamiin.🙂

  3. cerita yang bagus mbak

    tapi, bukannya lebih baik ga di-post gitu ya ? soalnya ini menurut saya aib, hehe
    sedangkan aib itu kaidahnya adalah untuk ditutupi. membuka aib yang telah Alloh ta’ala tutupi justru akan mengundang murka-Nya bukan ?
    sedangkan di sisi lain, menulisnya akan cenderung mengingatkan kita pada masa lalu ya, hehe
    saya rasa, mbak ilmunya jauh lebih tinggi dari saya sehingga mesti lebih paham hal ini
    terakhir,
    Mbak, semoga segera menikah ya
    barakallohu fiik

    ohya komen saya ini kalau ga di-approve juga ga apa2🙂

  4. Subhanallah. Cerita kakak sama persis yg saya alami sekarang, dan alhamdulillah allah membukkan hidayah pada saya memutuskan untuk tidak pacaran lagi. Semoga kita yg msh dalam tahap hijrah kepada allah selalu dalam petunjukNya dan di beri jodoh yg terbaik .amin

  5. Bagus banget tulisannya, saya kemarin2 agak aneh juga jadian sama seseorang yg kelihatannya alim. Tapi itu modus dia aja supaya bisa mensekati saya. Setelah itu dia pergi dan pacaran sama teman lain yang ngakunya pengen berhijrah tapi luluh juga sama gombalan2nya. Saya memang kehilangan perhatian2 romantis, tapi saya bersyukur dihindarkan dari dosa yg lebih jahat. Sekarang saya nersyukur sudah dihindarkan dan siberi jalan untuk tobat. Smga istiqomah.

  6. subhanallah.. bagus banget ceritanya ukhty seperti yg saya alami alhamdulillah allah telah membuka hati sya untuk tidak pacarn,dan alhamdulillah sya jg blum pernah, tapi teman@ sya bnyak udah pacarn putus terus move on trus pacrn lagi sya bingung mereka hampir setiap hari status nya galau sya gk tau knp..??

  7. Ceritanya jadi inspirasi banget ukhty. Moga ana bisa seperty ukhty yang mantap untuk hijrah tidak pacaran, karna sekarang ana masih aja luluh diajak pacaran dan ana mau menjauh dari dia supaya bisa menjaga hati ana seperti semula. Salam kenal ukhty.

  8. SubhanaAllah, ceritanya sama dengan kehidupan saya. Dan semoga saja kita tetap kuat berada di jalan Allah, walaupun hati ini sakit karena dikhianati. Saya yakin, Allah tidak pernah tidur. Tetap hijrah tujuan utama.. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s