Mau Dapet Apa? Tergantung Niatnya. :)

Mungkin bukan cuma saya yang pernah bertanya-tanya:
Bolehkah kita melakukan sesuatu (amalan akhirat) dengan tujuan dunia?
Misalnya memelihara shalat dluha dengan tujuan ALLAH melancarkan rizqi, bersedekah agar ALLAH menyembuhkan penyakit, berinfaq banyak supaya ALLAH mengembalikannya dalam nominal yang berlipat ganda.. etc.. etc..

Hmm.. sebenernya postingan ini nggak bakal bahas bener2 secara hukumnya sih. Saya belum punya kompetensi yang memadai untuk bicara ranah hukum syariat secara detail. Kalau memang dirasa perlu, silahkan bertanya ke yang lebih ahli.🙂 Hehe.. ngeles.😀

Lewat tulisan ini, saya hanya mencoba membagi sudut pandang saya yang sederhana.

Pernah baca (atau bahkan hafal) hadits arba’in nomer 1 tentang niat kan?🙂

Berkaca dari hadits tersebut, setiap amal kita akan dinilai (dan dibalas) tergantung pada niatnya.🙂
Pemikiran sederhana saya mengartikannya begini: Kalau kita shalat karena ingin kaya, kita akan kaya. Kalau kita sedekah karena ingin disembuhkan penyakit, kita akan sembuh. Kalau kita berinfaq karena ingin dibalikin infaq kita dengan nominal berlipat ganda, ya itulah yang akan kita dapat. Tapi.. HANYA itu.🙂

Coba kita ubah niatnya jadi yang lebih “mahal”. Shalat biar kaya, biar cepet dapet jodoh, biar makin disayang orang tua. Hasilnya? In syaa ALLAH kita akan dapet 3 hal itu!!🙂 Atau mau di”naikkin” lagi level niatnya? Coba pikirkan suatu kenikmatan duniawi termahal, dan niatkan shalat kita untuk hal tersebut. Bakal dapet deh.. Hehe..😀 Tapi sekali lagi, HANYA itu yang kita dapet.

Sekilas sih enak banget yaa..? Betapa beruntungnya, kita bisa dapetin apa aja yang kita mau dengan (sekedar) melakukan satu amalan akhirat. Tapi tapi tapiii.. coba deh dipikir lagi. Benarkah dengan tujuan “berbau” duniawi (sebanyak apapun) dalam niat kita, kita beruntung??

Ternyata, nggak juga.

Coba bandingkan jika kita meniatkan amal kita untuk akhirat. Untuk ALLAH. Kita shalat dengan niat untuk ALLAH semata. Apa yang akan kita dapat? In syaa ALLAH kita akan makin dicintai ALLAH. Berhentikah sampai di sana? Tentu tidak!! Kalau ALLAH udah cinta sama kita, ALLAH bakal ngasih apapun yang kita mau. (Sekedar) “bekal” untuk mengantar ke surga? Pahala? Berbagai nikmat duniawi? Apa sih yang nggak ALLAH kasih kalau ridlaNYA udah berhasil kita raih? Apa sih yang nggak ALLAH kasih kalau cintaNYA udah tercurah untuk kita?🙂 Malah dapet semua kan, tu?🙂

Jadi, manakah yang lebih menguntungkan? Hehe.. ^_^

Oke, mungkin penjabaran pemikiran sederhana saya ini terkesan abstrak. Nggak riil. Bicara soal pahala atau niat untuk akhirat kan ghaib banget. Nggak bisa dilihat. Belum bisa dirasakan. Tapi, bukankah nikmat ALLAH juga gak semuanya bersifat inderawi? Bukankah nikmat-nikmat duniawi hanya keciiiiiil sekali nilainya dibandingkan nikmat-nikmatNYA yang masih “abstrak” di akhirat nanti?

Tapiii.. Bukankah itu berarti kita justru sangat merugi jika niat-niat dalam amalan kita hanya bervisi duniawi?

Pengetahuan manusia itu kecil banget. Kalaupun semua ilmu yang semua manusia miliki digabungin jadi satu, dilipatgandakan sejuta kali, tetep aja nilainya cuma setetes air di samudra kalau dibandingin dengan ilmu ALLAH. Atau malah lebih kecil lagi dari itu.

Jadi, kalau saya mikirnya, kenapa kita masih sering bervisi duniawi dalam niat-niat kita, itu karena manusia taunya cuma itu. Cuma tau kalau kaya itu enak, makanya minta kaya. Cuma tau kalau sehat itu nikmat, makanya minta sehat.🙂 Belum tahu (dan ngerasain) kalau pahala itu nikmatnya ngalah-ngalahin nikmat duniawi, jadinya nggak minta pahala.😀

Ilmu (inderawi) kita tentang kenikmatan itu masih sebatas duniawi, makanya kita “cuma” minta itu.🙂

Kalau ada yang masih bertanya: Jadi, hukumnya boleh apa nggak melakukan amalan akhirat dengan niat duniawi? Saya sendiri belum tahu jawabannya. Lebih tepatnya, nggak berani ngasih jawaban boleh atau nggak. (Hehe..nyesel yaa baca postingan ini?😀 )

Tapi setidaknya, jadi mikir dari segi mana yang lebih menguntungkan, kan? Pilih bervisi duniawi atau ukhrawi?🙂

Wallaahu a’lam bishawab.

 

*sekedar pemikiran sederhana dari seseorang yang ilmunya masih sangat sederhana*

3 thoughts on “Mau Dapet Apa? Tergantung Niatnya. :)

  1. Kalau namanya renungan, itu tidak ada salah benar.
    Yang ada kaidahnya adalah menafsirkan ayat al Quran, yaitu : ayat dengan ayat, ayat dengan hadits, ayat dengan atsar sahabat (salafush sholih).
    Yang perlu diwaspadai adalah menjaga renungan kita agar tidak ngelantur menjadi pengelamunan tanpa dasar.
    Great… Subhanallah. Lanjutkan !!!

  2. tapi maaf saya pernah denger kalo harapan yg baik it plg baik dtujukan kpd Allah swt. “Hanya kepada Allah lah tempatmu berharap…”jadi selama masih ngarep yg baik knp engga..kalo ngarep hal duniawi tp dtujukan untuk kemuliaan bersama knp engga..it just my opinion..hehehe maaf msh dangkal soalnya…sukron..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s