our scene(s)

Untuk kesekian kalinya dalam beberapa waktu belakangan ini, air mata saya tertumpah karena teringat orang tua.

Tentang Mamah

Air wudhu selalu membasahimu
Ayat suci slalu dikumandangkan
Suara lembut penuh keluh dan kesah
Berdoa untuk putra-putrinya..
(Sakha – Ibu)

Mengingatmu selalu mengingatkanku pada berjuta salahku padamu, Mah. Terutama tentang satu hal: harapku atas ibu yang lain selain Mamah, karena merasa terlalu terkekang dengan banyaknya “aturan”mu atasku.

Nggak boleh nginep di rumah teman saat SD-SMP dulu.. Harus pulang cepat dari sekolah.. Nggak boleh jalan-jalan selepas jadwal ekskul.. Harus ini, harus itu.. Nggak boleh ininggak boleh itu.. Banyak sekali aturan Mamah di mataku saat itu.

Baru belakangan ini aku sadar makna aturan-aturanmu atasku, Mah. Kau hanya ingin yang terbaik untukku. Kau hanya ingin mendidikku menjadi muslimah yang baik, menyiapkanku menjadi calon istri dan ibu yang baik suatu saat nanti.. Menjadi..sepertimu..

Maafkan aku karena terlambat menyadari niat baikmu, Mah.
Maafkan karena sering membuatmu menangis karena sikapku.
Terima kasih karena kau tak henti bersabar atas sikapku.
Maafkan, maafkan, maafkan..

 

Tentang Bapak

Aku hanya memanggilmu, Ayah..
di saat ku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu, Ayah..
jika aku tlah jauh darimu
(Seventeen – Ayah)

Mengingatmu selalu mengingatkanku pada suatu malam di rumah kita di Bandung, Pak. Entah Bapak masih mengingatnya atau tidak. Tapi, entah kenapa momen itu selalu terputar kembali di benakku pada detik pertama aku teringat Bapak.

Aku juga tidak ingat sepenuhnya apa yang terjadi malam itu. Yang aku ingat, malam itu kau marah padaku karena suatu hal yang kulakukan, yang hanya mampu “kujawab” dengan diam dan menangis. Berulang kali kau minta penjelasan atas sikapku, tapi aku tak kunjung bicara. Lalu kau pergi, dan aku meneruskan tangis panjangku di kursi bambu panjang di ruang tamu.

Lama di sana sendiri, dan tiba-tiba kau datang dan langsung memelukku, Pak. Lama. Tanpa sepatah kata pun terucap, membuat tangisku makin deras. Lalu kau akhirnya bicara: “Apa kamu sebegitu takutnya sama Bapak sampai kamu nggak bisa bilang apa-apa, Nak? Maafkan Bapak, yaa..”

Malam itu kita menangis bersama, Pak. Kau tak pernah mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu padaku malam itu. Tanyamu saat kau marah, pun saat kau menangis. Karena hingga tangis kita berakhir malam itu, aku tak mengatakan apapun selain anggukan keras menahan tangis saat kau ucapkan kata maaf.

Aku yang seharusnya minta maaf karena membuatmu merasa seperti itu..
Maafkan aku, Pak..

Untuk Mamah-Bapak

Always love you all coz ALLAH..:*

Terima kasih untuk cinta dan sayang yang tak pernah habis untukku
Tak peduli betapapun buruk sikapku padamu, kau selalu berusaha ada.
Terima kasih untuk tiap bait doa yang kaupanjatkan untuk kebaikanku,
meskipun aku kerap lupa menyebut namamu usai sholatku.

Maafkan karena terlalu lambat ku hadirkan hati ini untukmu..
Tapi aku janji,
mulai sekarang hati kita tak akan pernah terpisah lagi. InsyaaALLAH.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s