Pernah merasa gagal menjadi ibu?

Saya pernah.

Dan beberapa waktu lalu, saat sedang down karena merasa demikian, saya membaca artikel ini.
It helps. Meskipun dibumbui nangis bombay dulu sih selesai bacanya. Hehee.. ūüėÄ
Plus berulang kali tetap saja mengatakan maaf pada Alula.

Terima kasih ya Nak.. Mama akan berjuang lebih keras untuk tak sekedar tidak gagal menjadi ibu buat kamu dan adik-adikmu nanti..¬†:’)

-*-*-*-*-

Sejak awal hamil mual hebat, di tengah kehamilan pun sempat beberapa kali pendarahan, dan terpaksa harus menjalani operasi caesar saat persalinan. Kemudian orang-orang sekelilingmu mulai meracau menyalahkan. Bahwa kau kurang ikhtiar, atau tak menjaga kesehatan selama kehamilan, bahkan ada yang bilang kau kurang iman.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil dan persalinan lancar, tapi entah kenapa begitu IMD ASI tak juga mau keluar, bahkan sehari dua hari hingga batas waktu terakhir ASI diberikan. Lalu susu formula pun menjadi alternatif yang terpaksa kau pilih dengan penuh pertimbangan. Tiba-tiba orang yang tak tahu apa-apa menghakimimu sebagai ibu yang tak sempurna karena tak menjalankan amanat Menteri Kesehatan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil, persalinan, hingga menyusui lancar. Tapi kau meninggalkan bayi mungilmu yang baru berusia 3 bulan itu untuk sebuah pekerjaan yang gajinya menjadi sandaran hidup emak bapak di kampung halaman. ASI yang susah payah kau perah demi bayimu itu mereka bilang tak bisa disamakan dengan ASI yang langsung disusukan. Pun ditambah komentar sinis bahwa anak-anak para ibu bekerja adalah anak yang terabaikan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil, persalinan, menyusui mu lancar, kau juga seorang ibu rumah tangga sejati yang menjiwai peran. Tapi kau tak mengilmui MPASI homemade ala-ala WHO atau BLW atau Food Combining yang sedang tenar. Kau lebih memilih membeli MPASI instan yang dijual di pinggir jalan agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu menemani anak bermain dan menstimulasi dengan berbagai kreasi seharian. Lalu berbagai komentar berdatangan akan nilai gizi, rasa, higenitas dan kemasan makanan. Mereka bilang, buat anak kok sembarangan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau ibu baru yang tak tahu centang perenang dunia parenting kekinian. Marah-marah menjadi kegiatan harian saat anak rewel tak keruan. Hingga akhirnya kau dipertemukan dengan pakar parenting terbarukan atau kau membaca buku parenting yang mengagumkan. Lalu kau berkaca diri, menghitung ratusan omelan dan bentakan yang sempat dikeluarkan. Tiba-tiba kau merasakan penyesalan menyesapi setiap ruang di hati dan pikiran.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau sungguh mengikuti setiap postingan pakar parenting kesayangan. Pun membaca berbagai buku parenting yang bertengger rapi di rak buku mu jejer-berjejeran. Tapi kau punya innercild yang belum berhasil kau taklukkan. Hingga bayang kelam pengasuhan masa lalu masih lebih mendominasi setiap perkataan dan perbuatan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau sungguh-sungguh mengerti segala teori parenting, pun semuanya telah kau praktekkan. Tapi anakmu sungguh menguji iman. Kau rasa seakan tak ada teori parenting manapun yang mempan. Padahal kau dan suami telah memberikan sebaik-baik teladan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

***

Hai para ibu kesayangan Tuhan

Pervaginam atau caesar, ASI atau susu formula, bekerja di luar rumah atau ibu rumah tangga, MPASI homemade atau instan, dan berbagai gaya parenting yang diterapkan sungguh tak bisa menjadi ukuran keberhasilan.

Setiap ibu menjalani kisah heroik pengasuhannya sendiri-sendiri. Yang unik, yang berbeda satu sama lain, yang mengagumkan, yang pada saatnya nanti meninggalkan kesan di memori.

Setiap ibu memiliki perjuangan dan jalan cerita dalam membersamai anak yang tak sama. Seorang ibu mungkin berhasil menerapkan teori parenting A, tapi bisa jadi teori yang sama tidak bekerja di kondisi keluarga yang berbeda.

Anak yang tak semontok anak lain yang seumuran, tak segesit anak tetangga depan, atau tak sepandai anak temen fesbukan barangkali pernah mengusik pikiran. Tapi ingatlah bu, itu bukan berarti kau ibu yang gagal.

Sungguh menjadi ibu bukanlah kompetisi siapa yang anak nya lebih sehat, lebih pintar, lebih shaleh. Menjadi ibu adalah semua perjalanan yang kau lalui bersama anakmu dengan segala jatuh bangunnya, suka dukanya.

Mungkin kau rindu pada rumah yang selalu rapi. Padahal anakmu sungguh menikmati kesempatan yang kau berikan di setiap sudut rumah yang kau bolehkan menjadi tempat bermain dan bereksplorasi.

Mungkin kau merasa bersalah tak mampu memberikan ASI setiap hari. Padahal anakmu merasa nyaman saja berada dipelukmu sambil kau cium pipinya kanan kiri.

Mungkin kau merasa bodoh tak mengilmui berbagai teori parenting masa kini. Padahal instingmu sebagai ibu dan bonding yang kau bangun dengan bayimu sungguh lebih berarti.

Apapun kekurangan mu sebagai ibu. Bagaimana pun jatuh bangun kau rasakan kala menjadi ibu. Percayalah selalu ada tatapan kagum yang tulus di mata, hati, dan pikiran anakmu.

Yang memerhatikan kekhawatiran mu saat sakit menyerangnya.
Yang memedulikan rasa bersalahmu saat kau pamit berkerja.
Yang memaafkanmu saat kau masih perlu menata hati dan jiwa.
Yang melihatmu jatuh bangun mengurus rumah tangga dan dirinya.
Yang bahagia melihat senyummu merekah indah untuknya.
Yang tuluuuuus mencintaimu apa adanya.

Bangun, dan bangkitlah, ibu.
Hapus air mata dan kesedihanmu.
Buang resah dan khawatir yang ada di hatimu.
Buat segala lelahmu menjadi pahalamu.
Peluuk eraat, ciuum, katakan maaf dan terimakasih pada anakmu.
Dan dengan sungguh-sungguh, bisikkan di telinga anakmu itu
I love you

Because our children don’t need a perfect mom. They need a happy one for happy moms raise happy kids.

(Novika Amelia, dari broadcast salah satu grup parenting di whatsapp)

-*-*-*-*-

Awal hamil Alula, saya memang mengalami mual hebat. Lebay, bisa dibilang. Berat badan turun terus-menerus di awal kehamilan. Sulit sekali makanan masuk, itu pun seringkali diakhiri dengan muntah. Lemas luar biasa hampir tak bisa melakukan apapun, hingga akhirnya suami memasang infus cairan untuk saya di rumah demi nutrisi bisa masuk.

Tapi bukan itu yang membuat saya merasa gagal sebagai ibu.

Jatuh bangun di awal kehamilan terasa tak ada apa-apanya saat ALLAH memudahkan proses persalinan saya saat itu. Alula lahir normal spontan, dengan berat badan normal, sehat, cantik, tidak kurang suatu apapun.
Rumah sakit tempat saya melahirkan memfasilitasi IMD dengan sangat baik, sehingga Alula begitu mudah menyusu sejak pertama kali rooming in, tanpa perlu dibantu atau diajarkan oleh perawat yang saat itu hadir menawarkan bantuan.
ASI keluar sangat lancar sejak awal. Saya sama sekali tak perlu dirisaukan oleh perlu tidaknya menambah susu formula untuk Alula.
Saya bukan working mom. ALLAH memberi kesempatan bagi saya untuk 100% menemani Alula di rumah dan membersamai tumbuh kembangnya hingga saat ini. Membuat saya sempat memperkenalkan Alula MPASI-MPASI homemade sejak awal enam bulannya, tanpa perlu membeli MPASI instan di luar.

Mungkin saya tak terlalu update dengan dunia parenting kekinian.

Mungkin sesekali saya marah atau emosi saat kelelahan datang, dan Alula terus saja meminta perhatian saya atas segala tingkah polahnya.

Mungkin saya punya innerchild yang belum juga berhasil saya taklukkan, sehingga beberapa kali memunculkan sikap dan kata-kata yang tidak tepat untuk Alula.

Tapi, bukan itu semua yang membuat saya pernah merasa gagal menjadi seorang ibu.

Lalu mengapa saya sempat merasa gagal menjadi seorang ibu?
Untuk Alula?

-*-*-*-*-

Mungkin hal-hal yang ditulis dalam artikel tersebut tidak ada yang secara spesifik menunjukkan rasa gagal saya sebagai ibu.
Tapi, membaca artikel tersebut membuat saya menangis karena sempat merasa gagal menjadi mamanya Alula.

Sebelum punya Alula, bahkan sebelum menikah, saya punya sekian banyak kriteria ideal seorang ibu yang sangat ingin saya wujudkan.

Seorang ibu itu harus cerdas, punya pendidikan tinggi, supaya kelak punya cukup bekal untuk mendidik anak.
Seorang ibu harus punya pendidikan tinggi, supaya kelak anak-anaknya bangga dan punya semangat tinggi untuk menuntut ilmu.
Seorang ibu harus punya pendidikan tinggi, supaya anak-anaknya tidak malu ketika teman-temannya bertanya tentang orangtuanya.

Saya bahkan tak mampu menyelesaikan studi master saya.

Seorang ibu itu harus kreatif dan terampil dalam banyak hal, sehingga meskipun full time sebagai ibu rumah tangga, tetap mandiri secara finansial, tidak hanya bergantung pada suami.
Seorang ibu itu harus punya minat dan bakat yang jelas dan bisa dikembangkan, sehingga meskipun full time mengurus suami dan anak, tetap mampu terus meng-explore dan mengaktualisasi dirinya dalam bidang yang ia sukai.
Seorang ibu harus punya visi misi hidup yang jelas, mimpi yang terarah, sehingga dapat mendukung suami dan anak-anaknya mencapai cita-cita bersama.

Saya bahkan hingga kini masih sering bingung ditanya soal mimpi. Cita-cita. Hobi yang bisa dikembangkan untuk aktualisasi diri?
Lalu apa yang akan Alula dan adik-adiknya kelak lihat dan contoh dari seorang ibu yang seperti saya
?

Saya mungkin tak banyak mendapat tekanan dari omongan orang yang mengkritik saya sebagai seorang ibu, tapi bertubi-tubi kritik, kecewa dan rasa bersalah yang muncul dari diri saya sendiri rasanya sudah lebih dari cukup membuat saya merasa gagal menjadi seorang ibu.

Alhamdulillaah.. artikel Mbak Novika Amelia seolah menampar saya. Menyadarkan saya.
Begitu banyak kemudahan yang ALLAH hadirkan sejak hadirnya Alula di rahim saya.
Putri kecil saya itu tak banyak menyusahkan. Tak pernah sekalipun sakit yang merisaukan. Tak pernah rewel di luar batas wajar, dan relatif mudah ditenangkan.
Ia benar-benar harta yang luar biasa indah bagi keluarga kami.
Seharusnya saya fokus pada rasa syukur atas itu semua.
Tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan mendalam tak berkesudahan atas kegagalan-kegagalan saya pribadi dan ketidakmampuan saya untuk mengatasi kekecewaan terhadap diri sendiri.
Alula masih tetap butuh mama yang bahagia, yang siap menemaninya tumbuh, membimbingnya mencapai shalihah. Menuntunnya menjadi kakak yang baik dan mampu menjadi teladan adik-adiknya kelak.

Saya sangat sadar saya bukan seorang ibu yang sempurna. Sampai kapanpun demikian,
Tapi melihat senyum Alula setiap menyambut kehadiran saya, rasanya saya pun harus selalu siap menjadi seorang ibu yang bahagia.
Untuk Alula.
Dan adik-adiknya.

Because our children don’t need a perfect mom. They need a happy one for happy moms raise happy kids.

 

Wallaaahu a’lam bishshawab.

Namanya Kanza, Bukan Kansa

“Kansa..” setelah sekian lama mengantre, akhirnya (sepertinya) nama depan Alula dipanggil.

“Kansa?” ibu petugas puskesmas bagian pendaftaran itu mengulang memastikan saat saya mendekat ke mejanya, menyerahkan nomor urut antrean. Mukanya jutek.¬†Jauh dari kata bersahabat.

“Kanza Bu, pakai Z.” Saya meralat melihatnya menulis nama Kansa di borang rujukan untuk imunisasi.

“Halah! Nggak ngaruh apa2 mbak. Wong cuma buat gini. Nggak buat ijazah atau apa. Salah-salah ya nggak pa-pa. Tetep diimunisasi.” Mukanya masih kecut¬†sambil sibuk menulis di beberapa lembar lain. Tetap saja nama Kansa pakai S yang ditulisnya. ūüė¶

Rasanya kesal. Masih ingin keukeuh protes sekali lagi.
Hoalah Bu.. apa susahnya sih mengganti tulisan nama anak saya dengan benar? Nggak perlu juga tambah ngedumel segala, kan? Kalau nama anak ibu Andika terus ditulis Andita, pasti protes juga kan Bu?
Saya malah ngedumel dalam hati.

Saya urungkan untuk mengulang protes. Mengingat wajah si ibu yang nggak ada ramah-ramahnya sama sekali. Bisa makin panjang malah urusannya kalau saya protes lagi. Saya senyumin aja beliau jutek begitu, kan? Hmm..

Dan benar saja. Karena sejak awal nama yang ditulis salah, di daftar imunisasi, de es te.. de es te.. akhirnya nama Kansa-lah yang tertulis. Bukan nama anak saya. ūüė¶

Mungkin sepele buat sebagian orang.
Tapi bagi saya ini penting. Apa lagi menyangkut nama anak sendiri, yang perumusan dan penentuan namanya saja membutuhkan banyak pemikiran serius. Sarat makna dan doa yang terselip dari “sekedar” namanya itu. Salah satu huruf saja, maknanya akan jauh berubah.

Kanza.
Saya lebih dulu jatuh cinta dengan nama itu, bahkan sebelum kami cari artinya. Sejak nama itu terlintas di pikiran, saya baru bergegas mencari maknanya.
Kanza artinya harta yang tersembunyi. Kami (saya dan suami) menganggap putri kami adalah harta tak ternilai dari ALLAH. Kami berharap ia tumbuh sebagai putri shalihah yang pandai menjaga dirinya, yang sadar sepenuhnya bahwa ia adalah harta tersembunyi, perhiasan yang harus terus dijaga tersembunyi hingga kelak ia menemukan dan ditemukan oleh jodohnya.. suami yang akan turut menjaganya sebagai harta yang tak ternilai.

20170309_084014

Kanza Kamila Dafalula, nama penuh doa yang kami pilihkan untuk Alula

 

Lalu Kansa?
Kata engkong Google sih artinya keturunan.
Bukan arti yang buruk juga memang. Tapi bukan nama itu yang kami sematkan sebagai doa dalam rangkaian nama lengkap Alula.

Hufft.. jadi panjang ya? Hehee.. ūüôā

Saya jadi ingat semasa saya SMP dulu. Awal-awal munculnya panggilan Jupe untuk nama saya oleh beberapa teman. Mungkin Zulfah terlalu ribet dilafazkan ya? Lalu muncullah nama Jupe. Waktu itu si mbak artis dengan nama tenar serupa belum banyak dikenal.

Jadilah saya sama sekali tak keberatan dengan nama itu. Bahkan, yang memanggil saya Jupe justru teman-teman yang tergolong akrab. Panggilan itu berlanjut hingga saya SMA (MAN wooooiii.. MAN..), karena beberapa teman SMP saya juga satu SMA MAN dengan saya.

Semakin banyak lah yang memanggil saya dengan nama itu. Malah nama Jupe lebih sering terdengar daripada nama Zulfah. Kalau dulu awalnya hanya teman akrab saja yang memanggil saya demikian, akhirnya justru hanya yang tidak terlalu kenal saya yang masih memanggil dengan nama Zulfah.

Lalu, hal itu sampailah ke telinga Bapak. Ternyata, itu menjadi masalah krusial baginya. Apalagi saat itu mbak-mbak artis kontroversial dengan nama serupa juga sudah mulai famous.

“Nama bagus-bagus Zulfah kok mau dipanggil Jupe sih nduk?” protes Bapak.
Tidak hanya sekali beliau menyampaikan itu.
Tidak hanya sekali pula saya justru membela teman-teman saya yang memanggil saya Jupe.
Saat itu, saya merasa Bapak saya lebay. Gitu doang Pak.. saya yang punya nama aja nyaman-nyaman aja kok dipanggil gitu.

Beberapa kali saya ngeyel, akhirnya Bapak tidak pernah lagi mempersoalkan itu.
Sampai sekarang.

Masih banyak yang memanggil saya dengan nama Jupe, dan saya pun masih saja merasa tidak keberatan pada akhirnya. Apalagi Jupe sudah lekat sebagai nama akrab saya. Meskipun sejujurnya saya jauh lebih suka dipanggil Zulfah, sesuai nama saya.

Namun, sejak “insiden Kansa” di puskesmas itu, saya jadi sangat paham bagaimana yang dirasakan Bapak. Nama anaknya yang dengan sepenuh hati sepelik pikiran dirumuskan menjadi rangkaian doa indah dan penuh makna, dengan mudahnya diganti. Dan dianggap sepele.
Luar biasa tak nyaman ternyata rasanya. ūüė¶

Kemudian saya teringat penggalan ayat dalam Al Qur’an, dalam surat Al Hujurat ayat 11, “…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk…”

Mungkin konteksnya berbeda kalau dirunut secara asbaabun nuzul atau kajian tafsirnya. Tapi, sekilas ALLAH memerintahkan kita untuk saling memanggil dengan panggilan yang baik. Panggilan yang disenangi oleh yang dipanggil. Lebih jauh lagi, panggilan yang disenangi oleh orang yang memberikan nama.

Mungkin sampai kapanpun saya tak merasa keberatan dengan panggilan Jupe yang sudah terlanjur melekat. Mungkin Alula kelak juga tak masalah dengan orang-orang yang memanggilnya Kansa pakai S.
Tapi ternyata ada hati-hati yang tidak sepenuhnya rela. Ada Bapak yang merumuskan nama saya, dan saya yang juga sepenuh hati merumuskan nama Alula.

So..¬†Tidak ada salahnya belajar memanggil seseorang dengan nama yang benar, nama yang baik. Yang menyenangkan bagi telinga siapapun yang mendengar. Dan tentunya, secara tidak langsung terus meng-aamiin-kan doa yang terselip di dalamnya. ūüôā

Wallaahu a’lam bishawab.

 

ditulis untuk #1minggu1cerita pekan ke-7, dalam minggu tema “Arti Sebuah Nama”

1minggu1cerita

Hujan, aku tak selalu jatuh cinta

tumblr_nqoeru0nqr1uzdtkgo1_500

Mencintai hujan, pasaran katanya.

Katanya lagi,
Sudah terlalu banyak orang yang mengaku mencintai hujan,
tapi wajah berubah muram saat mendung berulang menggelayut sehingga jemuran tak kunjung kering.
Mengaku mencintai hujan,
tapi kesal saat turunnya hujan menunda rencana bepergian yang sudah lama dinantikan.
Mengaku mencintai hujan,
tapi menunda kepulangan karena enggan berbasah-basah saat hujan tiba di akhir jam kerja.
Mengaku mencintai hujan,
tapi tetap saja ngedumel tak berkesudahan saat kaki dan outfit of the day kesayangan terkotori becek jalanan.
Mengaku mencintai hujan,
tapi sebal luar biasa saat dinding-dinding rumah basah oleh rembesan, lantai tergenang air akibat hujan, membuat lelah mengepel berulang kali.

Namun, apapun katanya, saya tetap mengaku mencintai hujan.

Bagi saya, mencintai bukan berarti selalu menyukai segala hal tentangnya. Mencintai tak berarti tanpa benci sesekali.

Mencintai hujan berarti selalu menemukan alasan untuk jatuh hati berkali-kali,
pada petrichor.. kolaborasi minyak tetumbuhan dan aktivitas actinomycetes yang tak pernah usai dirindukan..
pada rintik yang menetes perlahan di dedaunan..
pada deras dan gemuruh yang menyamarkan air mata, membuat duka tak lagi sendiri. Ada semesta yang menemani..
pada pejamnya mata dalam gerimis yang mendamaikan diri..
pada bahagia tanpa kata saat menyengaja berbasah-basah dalam rinainya..

20160218103927

Karena hujan bukanlah Pencipta, ia hanya yang dicipta
Maka ia tak sempurna.
Ada sisi yang membuatnya sesekali ditakuti, sesekali dibenci, sesekali disalahkan..
Selama kamu masih menemukan alasan untuk jatuh hati berkali-kali padanya,
kamu tetap mencintainya.

*_*_*_*

Seperti itulah kita mencintai manusia.
Ayah, ibu, suami, istri, anak, kakak, adik, sahabat, teman..
Siapapun itu.

Mencintai mereka bukan berarti menyukai segala hal tentangnya.
Mencintai mereka bukan berarti dengan mudah menerima kekurangannya.
Karena seperti hujan, ia pun hanya yang dicipta.
Tak sempurna, selalu ada sisi yang berbeda denganmu. Selalu ada hal yang tak sesuai dengan harapmu.
Tapi selama kamu masih menemukan alasan untuk jatuh hati berkali-kali,
kamu tetap mencintainya.

untuk #1minggu1cerita, setelah tiga kali absen..^_^v

#1minggu1cerita: karena blogger harus aktif blogging

Ada yang punya blog tapi lama dianggurin tanpa postingan baru?
Ada yang ngaku blogger tapi entah sudah jutaan tahun lamanya ngga aktif blogging?
Ada yang semangat nulis blognya cuma muncul di awal, jadi semua blog post hanya berakhir di draft?
Ada yang butuh dipaksa-paksa dulu, ditagihin melulu, atau ditularin semangat nulis sama orang lain dulu baru bisa keluar ide buat blogging?

Saya ngacung tinggi sambil tutup muka! Hehee.. ūüėÄ

-*-*-*-*-

Ini pekan kedua saya ngeblog bareng #1minggu1cerita. Satu komunitas blogger yang secara konsisten memaksa para membernya untuk nulis minimal 1 postingan di tiap pekannya.

1minggu1cerita

#1minggu1cerita berawal dari inisiatif kakak-kakak kece seperti Rahyang, Anil, Guli, Selly, Agustina, Jessis, dan Shelly Asmauliyah pada pertengahan Juni 2014 untuk membentuk komunitas blogger. Tujuannya agar para blogger yang tergabung dalam komunitas ini punya komitmen menulis paling tidak satu cerita dalam satu pekan.
Grup¬†bikinan¬†para¬†founder¬†ini (ceileeeeh.. founder cyiiiin¬†ūüėõ ) ternyata berhasil memicu kreativitas para member dalam menulis blog. Disatukan dalam komunitas yang memiliki kesamaan minat, menulis, rupanya semakin memudahkan para member¬†untuk konsisten menulis. Lebih jelas tentang #1minggu1cerita dan segala macam¬†update-annya bisa dilihat di sini yaa.. ūüėČ

 

Saya ingat sekali bagaimana awalnya saya terjebak di komunitas ini. Ngga sengaja nemu #1minggu1cerita di Instagram sekitar tahun lalu, dan sukses dibuat tertarik dan penasaran untuk join. So, waktu ada pendaftaran member di akhir Desember kemarin, ikutlah saya daftar. Ngisi data di Google form, lalu katanya akan dihubungi lagi via email dan diajak gabung grup Whatsapp menjelang akhir Januari.

Email cinta dari admin #1minggu1cerita masuk pas saya lagi leyeh-leyeh di Kebonrojo Blitar awal Januari kemarin. Langsung excited dan sumringah bacanya. Ngga sabar segera diinvite ke grup Whatsapp buat ditagihin postingan tiap pekan. Hehee..

Mungkin buat para blogger yang udah rutin nulis, rajin posting dan konsisten ngeblog, ngga penting lagi ikutan komunitas semacam ini.
Tapi buat blogger abal-abal yang ngakunya blogger tapi jarang blogging kayak saya, #1minggu1cerita punya peran yang luar biasa biar saya ngga repot harus selalu bersih-bersih sarang laba-laba dulu tiap kali posting tulisan baru saking lamanya blog ini dianggurin.

Lagipula, #1minggu1cerita ngga cuma berperan memaksa saya menulis tiap pekan, tapi juga bikin saya kenal sama member-member –dan admin– keren yang blognya pada oke punya. Bikin makin semangat blogwalking! ūüôā

Yang saya luar biasa salut adalah para adminnya. Sembilan orang admin #1minggu1cerita ini rela meluangkan waktunya buat ngurusin 211 member yang ada. Mulai dari ngirim pesan-pesan cinta via email dan media-media sosial, saling kasih semangat menulis (yang ini sih antarmember juga yaa), baca dan ngasih penilaian buat tulisan member¬†yang sebanyak itu dan pastinya bikin mata jereng¬†kalau pas ada¬†event GA,¬†sampai rese’ nagihin yang pada belum setor atau hobi mepet-mepet deadline setoran kayak saya. Ups! >_<

admin

Terima kasih, admin-admin kece!! ^_^ (Ada satu admin baru yang belum dicantumin di sini).

Pekan kedua ini, saya masih betah jadi¬†deadliner nih. Hari terakhir batas waktu setor baru¬†posting. Pekan lalu lebih parah sih..¬†bener-bener¬†injury time¬†setornya beberapa menit menjelang ganti hari! ūüėõ
Mudah-mudahan, ke depannya saya makin semangat nulisnya. Biar bisa setor di awal pekan kayak member-member rajin lainnya dan ngga keburu ditagihin Bang Phadli. Hehee..

-*-*-*-*-

So..
Tertarik gabung di komunitas #1minggu1cerita seperti saya?
Join aja di periode pendaftaran berikutnya!
Kalau ngga salah, Mei ini mau dibuka lagi looooh..

Semangat menulis! ūüôā

 

Nostalgia Bandung Jaman Baheula

Kalau harus bercerita tentang Bandung, mungkin apa yang akan saya tuliskan ini tak lagi relevan dengan Bandung sekarang. Terlalu lama tak melewati hari-hari di kota tercinta itu sebagai rumah, membuat saya yang masih saja keukeuh menganggap Bandung sebagai kampung halaman, tak benar-benar mampu menggambarkan keseruan Bandung saat ini.

minggu-1-2017-tema

Tema kejutan di minggu pertama dari para admin. Padahal udah pernah nulis tentang kampung halaman juga sebelumnya di sini.

So, ketika #1minggu1cerita memaksa saya menuliskan keseruan Bandung, tak ada cara lain selain kembali bernostalgia dengan memori kanak-kanak dan remaja saya tentang Bandung jaman baheula. Biar lah orang lain bilang ini¬†ngga seru. Buat saya, hal-hal ini yang seringkali membuat saya merindukan pulang ke kampung halaman saya itu. ūüôā

SDN Cigugur
Meskipun cuma setahun lebih dikit jadi murid di sini, sekolah ini berkesan sekali buat saya.
Mungkin karena ini satu-satunya pengalaman sekolah di negeri kali yaa.. (MAN Insan Cendekia mah nggak terlalu berasa sekolah negeri. Hehee..)

Letaknya di Bandung¬†coret alias Cimahi. Mudah-mudahan sih ini sekolahnya masih ada ya sampai sekarang. Saya punya mimpi suatu saat akan¬†napak tilas¬†ke sana, ketemu guru-guru jaman kecil. Terutama Bu Kokom, guru satu-satunya yang mengajar saya di kelas 1 SD yang sekelas isinya 60 orang! Satu meja isinya 3-4 orang, duduknya di bangku kayu panjang yang biasa¬†dipake¬†di warung-warung makan tenda. ūüėÄ

Inget Cigugur¬†tuh bikin¬†inget¬†kalau dulu saya cuma bekel¬†uang 300 perak sehari buat pulang pergi naik angkot, becak¬†dan jajan.¬†Duh, ketahuan¬†banget¬†umur berapa ini¬†mah! ūüėõ
200 perak buat naik¬†angkot¬†dan becak dari rumah di Margaasih ke sekolah, sisanya buat jajan dan¬†nabung. Nah, biasanya sih suka sengaja jalan kaki pulangnya biar uang jajannya dobel. ūüėÄ

Taman kecil di tengah Kompleks Pratista Antapani
Naik kelas 2 SD, saya pindah sekolah dan pindah rumah. Pindah sekolah dari Cigugur ke Salman, pindah rumah dari Margaasih ke Antapani.
Hobi saya dulu naik sepeda keliling kompleks sekitar rumah. Nah, salah satu spot favorit buat istirahat sejenak tu di taman kecil ini. Letaknya kalau dulu sih di tengah kompleks Pratista. Dari gerbang Pratista lurus terus, nanti ketemu deh taman kecil bentuknya lingkaran.
Biasanya, sepeda saya parkir di luar taman, lalu saya duduk-duduk santai sambil baca buku atau makan camilan odading, cakue, batagor, atau cilok¬†di sana. ūüôā

Angkernya Puri Pratista
Nah yang ini¬†hoax banget sebenernya.¬†Puri Pratista (gedung serbaguna di kompleks Pratista)¬†nggak¬†ada angker-angkernya¬†acan. Tapi, dulu saya dan beberapa sahabat kecil yang hobi main detektif-detektifan —gara-gara terinspirasi Lima Sekawan dan Trio Detektif—¬†sok-sokan¬†saling bilang kalau¬†liat¬†hantu di sana. Hantu cewek rambut panjang hitam yang¬†nggak¬†kelihatan mukanya. Hahaa..

Soalnya, dulu Puri Pratista jarang dipakai kegiatan warga. Jadi kelihatan agak-agak¬†spooky¬†gitu.¬†Nggak¬†lama setelahnya, Puri Pratista sering dipakai ibu-ibu buat senam¬†gitu. Hilang lah cerita horor yang kami buat-buat sendiri itu. ūüėÄ

Rumah hantu tengah sawah yang ada burung Garuda besarnya
Rumah ini masih ada nggak ya? Terakhir ke sana sih masih ada. Entah kalau sekarang.
Jadi, dulu rumah saya di Antapani tu mewah a.k.a. mepet sawah. Lalu di tengah sawah itu ada satu rumah besar. Nangkring sendirian di tengah sawah.
Dari jauh sih kadang suka lihat ada orang masuk ke rumah itu. Tapi anehnya rumah itu selalu dalam kondisi gelap gulita. Kalau lewat depan rumahnya, akan terlihat patung burung Garuda besar di tengah-tengah rumah.
Emang udah¬†terkenal horor sih kalau rumah yang satu ini. Kata orang-orang banyak¬†penunggunya. Saya sendiri pernah sesekali dengar suara ketawa¬†mirip suara ketawa kuntilanak di tipi-tipi¬†dari arah sawah kalau larut malam. Tapi bisa jadi itu hanya imajinasi saya saja. ūüėõ

Segala macam tukang jual makanan langganan yang lewat depan rumah
Nah, ini juga yang paling sering saya rindukan dari Bandung. Di rumah Antapani dulu, kayaknya tukang jualan jajanan apaaaaaa aja lewat di depan rumah.
Mulai dari¬†uli¬†bakar dan roti-rotian di jam sarapan, tukang sayur (ini sih bukan jajanan yaa? Nggak pernah beli juga..¬†ūüėÄ ), batagor, baso tahu, baso cuankie, baso malang, es cincau, bakpau, es krim keliling, tukang¬†peuyeum, tahu gejrot,¬†sampai tukang jamu yang rajin¬†saya beli! Hahaa.. Apalagi kalau¬†weekend yang dari siang saya bisa¬†mantengin¬†tukang apa aja yang lewat. Saya sampai hafal tuh beda bunyi¬†tong tong, tek tek, tok tok, ting ting,¬†dkk.¬†para tukang jualan itu.

Yang paling langganan sih tukang jamu. Dulu, tukang jamu yang lewat cuma satu. Yang jual suami istri gitu gantian. Atau Bapak-anak ya? Lupa. Jualannya pake sepeda, botol-botol jamunya bersiiiiih banget. Jamunya juga enak.
Karena dulu saya rutin minum jamu yang lewat itu, penjualnya sampai hafal pesanan saya. Nggak perlu pesan lagi, asal saya panggil, langsung dibuatkan jamu paitan sama beras kencur. Kalau lagi siklus bulanan, kadang beras kencurnya saya ganti kunir asem.
Lepas dari Bandung, belum nemu lagi tukang jamu oke yang bisa dijadikan langganan. Hmm..

Rumah Elsa, paling bagus seantero Margaasih ceunah mah
Dulu pas saya TK, ada teman TK saya namanya Elsa. Anaknya cantik, tinggalnya sekomplek tapi beda blok. Kalau mau keluar komplek atau ke pusat perbelanjaan di komplek, pasti lewat depan rumahnya. Hampir setiap yang lewat pasti bakal kagum sama rumahnya.
Sebenarnya hanya rumah tipe 36 baru direnovasi¬†aja sih..¬†tapi mungkin karena dulu rumah-rumah cantik tipe minimalis¬†gitu¬†masih jarang, rumah Elsa ini jadi menonjol banget bagusnya. ūüôā

Salman Al Farisi: Kerinduan yang tak akan ada habisnya
Mungkin ini yang paling saya rindukan dari Bandung. Sekolah yang paling meninggalkan kesan mendalam di hati saya. Tentang kegiatan harian di sana, program-programnya, ekstrakurikulernya, bangunannya, dan terutama guru-gurunya.
Di sini saya merasakan kedekatan luar biasa antara guru dan murid, antara guru dan orang tua murid.. yang rasanya belum pernah saya temukan di sekolah lain.
Saya merasakan sekolah di MAN Insan Cendekia yang saya dan para alumni akui sangat akrab antar guru-muridnya. Tapi bagi saya, untuk urusan itu¬†Salman masih juaranya! ūüôā
Duh.. kalau cerita tentang Salman, rasanya bakal panjang kali lebar kali tinggi ini¬†mah.¬†Next time¬†saya cerita lagi¬†aja¬†ya.. Ngga¬†bakal cukup di satu postingan! ūüėČ

Daarut Tauhiid, dan kenangan berkesan bersama BIM 11 di Muslimah Center
Bicara soal Bandung, rasanya tak lengkap kalau tak menyebut Daarut Tauhiid. Dari jaman DT belum sebesar sekarang, masjidnya belum senyaman sekarang, dan unit-unit usahanya belum sebanyak dan seberkembang ini, saya sudah berulang kali merasakan nikmatnya tinggal sesaat di sana. Beberapa kali ikut pesantren kilat yang diadakan tiap tahun, lalu ikut pesantren keluarga sakinah kerjasama DT dengan Telkom, dan yang terakhir adalah ikut Bimbingan Intensif Muslimah (BIM) selama 40 hari di Muslimah Center DT sekitar 6 tahun lalu.

Saya melihat sekali perubahan AaGym yang dulu senang dengan publikasi media, lalu menghilang sejenak dan kembali dengan kajian-kajian tauhidnya yang sederhana tapi mengena.
Lalu kesan mendalam tentang DT saya dapatkan saat mengikuti BIM angkatan 11. Tinggal di sana selama 40 hari bersama teman-teman shalihah dan merasakan suasana DT yang luar biasa nyaman dan kondusif, membuat saya tak mungkin tak merindukan DT. Sulit rasanya menemukan lingkungan sepewe DT di tempat lain.
Belum lagi deretan tukang¬†bandros, gehu jeletot, dan jajanan khas lain yang juga membuat perut saya kangen!! ūüėÄ

Sederet kuliner Bandung jaman baheula yang memorable
Tadinya mau saya bahas satu per satu nih kulinernya. Tapi apa daya, jari¬†udah pegel. Next¬†time¬†kalau niat¬†saya cerita lagi yaa.. hihii.. ūüėČ

Ada ayam goreng Jl. Indramayu yang enak banget dan jadi favorit keluarga.
Ada yoghurt Cisangkuy plus batagor di depannya yang selalu jadi langganan mampir tiap pulang tryout ujian nasional jaman kelas tiga SMP.
Ada Baso Mandeep yang sampai sekarang masih jadi baso paling enak versi lidah saya. Dulu sih masih warung tenda¬†gitu doang¬†bentuknya,¬†sampingan¬†sama warung soto. Kalau sekarang¬†mah udah¬†jadi restoran sendiri yaa? ūüôā

Dan.. Ada nasi timbel Istiqomah!! Ini nih yang saya kangen¬†pisaaaaaan. Beberapa kali ke Bandung¬†nggak¬†sempat mampir. Eh, masih ada kan ya? Dulu sih jualnya masih¬†pake¬†mobil¬†doang¬†di depan SD Istiqomah. Saya suka makannya di kursi depan mobilnya, atau dibawa ke mobil pribadi. Nasi timbel ini adalah nasi timbel paling¬†memorable¬†enaknya di otak dan perut saya.. ūüôā

 

Sebenarnya, kalau bicara Bandung sih buanyaaaaaaak¬†banget¬†rasanya yang masih ingin saya tulis. Tapi berhubung ini udah¬†mepet deadlinenya #1minggu1cerita (ah banyak alasan pisan kamu, Zulfah! ūüėõ ),¬†saya sudahi dulu lah ya ceritanya. Maafkan belum sempat¬†hunting-hunting¬†foto untuk melengkapi ilustrasi tulisan.

minggu-1-2017

Lagi ikutan ini nih biar blognya¬†nggak¬†berdebu. Hihii.. ūüėČ

Terima kasih admin-admin kece #1minggu1cerita yang sudah memaksa saya menulis tentang kampung halaman tersayang, membuat saya kembali memutar memori menyenangkan jaman¬†baheula. ūüôā
Semoga saya nggak bolos nulis tiap minggu ya setahun ke depan. Semangat blogging! 

Ah.. saya rindu Bandung!! >_<