Masih Misteri: Kenapa Saya Tak Kunjung Di-Kick dari 1M1C?

Tulisan ini saya dedikasikan untuk semua admin dan member 1 Minggu 1 Cerita
*yang legal dan diakui yaa btw, bukan yang statusnya โ€œmenyusupโ€ kayak saya.. hihii ๐Ÿ˜‰

Tentunya semua sudah tahu aturan main di komunitas blogger ini: Menulislah setidaknya 1x dalam 6 pekan berturut-turut, maka statusmu akan aman sebagai anggota.
Kamu masih bebas setoran via apps atau web, masih punya nomor member yang bisa dipake login ke web, masih sah berpartisipasi memilih tulisan favorit tiap pekannya,
dan privillege yang paling penting buat saya sih.. masih boleh โ€œnangkringโ€ di grup whatsapp buat ikutan haha hihi dan congkak urusan setoran tentunya.. ๐Ÿ˜€

Hmm.. Benarkah begitu?
Ternyata nggak berlaku buat saya. ๐Ÿ˜€

Baru kemarin saya nengok postingan terakhir di blog ini, tertanggal 22 April 2018.
Itu pula post terakhir yang saya setor di 1m1c.
Lama banget kan ya? Udah hampir 6 bulan. Setengah tahun!
Tapiii kok saya masih aja terdaftar sebagai member di grup whatsapp 1m1c?
Kok saya masiiiiih aja aman dari ancaman kick member yang berlangsung tiap pekannya?

Saya belum nyoba login lagi sebagai member di web sih..
Penasaran sebenernya. Tapiii saking lamanya absen setor, saya udah lupa nomer member dan passwordnya. ๐Ÿ˜€
Mungkin sebenernya saya udah nggak diakui member lagi sama sistem.
Keberadaan saya di grup whatsapp sampai sejauh ini, bisa jadi karena para admin masih nyimpen nomer whatsapp saya yang lama. Padahal, nomer saya udah lamaaaa banget ganti. Hihii.. maaf yaa mbak mas akang teteh admin yang baik hatii.. :-Dv

Kalau dipikir-pikir, โ€œnggak teladanโ€nya saya sebagai member di 1m1c udah berlangsung lamaaaa banget.
Bahkan โ€œdosa-dosaโ€ saya sebagai member bisa di-list nih:

  1. Sejak resmi jadi member per Januari 2017, saya baru 10 kali setoran. SEPULUH post itu pula tambahan tulisan saya di blog. Ish, dikit banget ya? Miris kan? ๐Ÿ˜ฆ
  2. Beberapa kali saya nulis blog cuma demi mempertahankan keberadaan di grup (whatsapp) aja. Jadii saya sering posting cuma 1x dalam 6 pekan.
  3. Kadang, kalau pas para admin sedang banyak ekskul dan nggak sempet mantengin siapa-siapa aja yang udah 6x bolos setor dan butuh di-kick, saya sering aman meskipun di web terdaftar udah 7x bolos. Buru-burulah saya setor, dan daftar jumlah bolos saya di sistem kembali 0. . to be honest, ini terjadi nggak cuma 1-2 kali. Hehee
  4. Pas nomer hp saya ganti, saya bahkan dapet tambahan 2 pekan di grup sebelum kembali setor. Nomer lama saya sudah di-kick 2 pekan sebelumnya, lalu saya kembali mendaftar 1m1c tanpa sempat dikeluarkan dari grup whatsapp karena saya pake nomor baru.
  5. Terakhir nih.. hingga detik ini saya masih aman di grup whatsapp padahal nggak pernah setor sejak 6 bulan lalu. Saya masih betah jadi silent reader, mengamati keseruan di grup, tanpa pernah lagi ikut nongol (karena takut para admin nyadar harusnya saya udah di-kick kali yaa.. :-P), dan nggak pernah ikutan vote tulisan favorit lagi (gara-gara lupa nomer member dan kayaknya sih udah nggak terdaftar member juga.. :-D)

Nah, postingan ini semacam temporary farewell dan pengakuan dosa sih buat semua admin dan member 1 Minggu 1 Cerita.
Setelah saya posting tulisan ini dan jumawa di grup dengan pamer tulisan, saya bakal leave group.
In syaa ALLAH saya bakal balik lagi ke komunitas ini.
Nanti, setelah saya membenahi konsistensi menulis saya.
Setelah saya bisa bener-bener posting rutin lagi di blog. Ngga cuma gabung 1m1c demi seru-seruan di grup whatsappnya aja.

Malu ah. Masaโ€™ gabung di komunitas blogger tapi terus-terusan jadi blogger abal-abal?
Hehee.. ๐Ÿ˜€

Terakhir..
Sebenernya, ada beberapa hal yang saya rindukan dari 1 Minggu 1 Cerita yang dulu.
Entah yaa.. bisa jadi juga karena akhirnya saya cuma jadi silent reader, tapi rasanya grup whatsapp 1m1c tak lagi seseru dulu saat saya pertama gabung.
Bisa jadi juga gegara sayanya aja yang makin kebanyakan grup whatsapp mamak-mamak yang lebih rame dan rempong! ๐Ÿ˜€

Banyak member (dan admin) seru yang tak lagi mewarnai 1m1c mungkin jadi satu alasannya. Obrolan di grup juga jadi sering serius betul. Heu.. Tetep asik dan manfaat sih, tapi kadang jadi bikin kurang cair gitu rasanya.ย Kadang butuh lebih banyak hal receh untuk dibincangkan. ๐Ÿ™‚
Trus.. Dulu juga kayaknya lebih sering saling ngomporin buat posting blog dan setoran nggak sih?
Oh iyaaa.. sama satu lagi: dulu tuh sering banget ada giveaway buat tulisan favorit! Somehow, ini bikin makin semangat nulis juga sih. Hehee.. ๐Ÿ˜€

Hmm..
Intinya..
Untuk semua admin dan member 1 Minggu 1 Cerita,
Terima kasih untuk kebersamaannya selama ini,
untuk semua cerita yang saling dibagi,
untuk semua semangat, obrolan ngalor ngidul dan haha hihi di grup,
untuk semua yang sadar nggak sadar sering ngasih saya inspirasi luar biasa untuk melakukan hal-hal baik,

Untuk kesempatan tetap berada di komunitas ini meskipun harusnya udah didepak dari jauh-jauh hari,
dan membuat temen-temen terpaksa mampir ke blog penuh sarang laba-laba ini untuk membaca farewell speech saya. Hahaa.. ๐Ÿ˜›

Maafkan saya yaa.. ๐Ÿ™‚

 

XOXO,
-niswatizulfah-

Advertisements

Keluarga A


Adi. Annisa. Aruna. Anezka.
Empat kesayangan dalam satu keluarga, yang huruf depan namanya A semua.
Keluarga kecil yang membuat saya memahami, bahwa kadang kedekatan hati justru semakin terasa dengan adanya jarak.

Dulu kami satu rumah.
Sebelum Anezka lahir.
Sebelum saya pun pergi membentuk keluarga sendiri.

Bukan tak ada cinta di sana.
Tapi kedekatan fisik, seringkali membuat kita lupa esensi saling memiliki.
Ada emosi yang kerap meninggi,
salah paham yang memicu ragam persepsi,
atau caci maki yang berakhir dengan hati-hati tersakiti.

Berpisah jarak dengan mereka membuat saya berulang merindu.
Meramu waktu, demi dua-tiga jam temu yang tak tentu.

Saya rindu..
pada obrolan mamak-mamak yang selalu singkat karena diselingi keriuhan empat balita,
pada kopi racikan abang yang hampir tak pernah alpa saya minta,
pada celoteh Aruna, gadis cerdas yang pintar bercerita,
pada tingkah Anezka, putri kecil yang tak henti membuat saya gemas luar biasa.

Semoga ALLAH selalu menjaga mereka.
Menyatukan mereka dalam cintaNYA, utuh.
Tak hanya di sini, tapi juga di surgaNYA kelak. ๐Ÿ™‚

 

*ditulis sebelumnya di instagram dalam event #MutterMenulis #MMApril1801 #hurufA

Surat untuk Anak-anakku

[Untuk Alula]

Dear, anak perempuanku..

Akan ada masanya, seorang lelaki shalih mendatangi papamu, memintamu menjadi wanitanya.
Jika saat itu tiba, kamu akan mendapat satu tempat terbaik bersuara.

Wanita senang bicara.
Wanita butuh bicara.
Kamu akan senang bercerita dengan lelakimu.
Menumpah kesah, membagi mimpi.
Memaksa telinganya mendengar segala kisah yang butuh kaubuncah.

Yang perlu kauingat, anak perempuanku..
Laki-laki tak seperti kita.
Ada kalanya ia tak mampu membagi perhatiannya pada dua-tiga laku.
Mendengarkan ceritamu, harus ia lakukan utuh.
Maka kamu harus lebih bersabar, jika ia sedang fokus pada gadgetnya, pada bukunya, pada aktivitasnya..
Jika kamu benar-benar butuh bicara, katakan saja. Lelakimu kelak lelaki yang baik, yang siap memasang telinganya penuh saat wanitanya butuh.

Satu lagi, anak perempuanku..
Lisanmu nanti tak hanya bertanggung jawab untuk dirimu, tapi juga untuk lelakimu.
Ada mesra yang harus dijaga,
ada cela yang harus ditutup sempurna.

Berinteraksi dengan tetangga perlu,
aktif berselancar di dunia maya tak apa,
tapi simpan rapi urusan rumah tangga.
Itu rahasiamu dengan lelakimu. Tak perlu semua orang tahu.
Berbagi boleh, jika ada manfaatnya. Selebihnya, biarlah menjadi ceritamu dengan lelakimu saja.

Semoga kelak kamu akan jadi wanita terbaik untuk lelakimu.
Penjaga terbaik hartanya di dunia,
dan teman terbaik hingga surgaNYA.
-*-*-*-*-

[Untuk Biru]

Dear, anak lelakiku..

Akan ada masanya, kamu meminta seseorang menjadi wanitamu.
Mendatangi papanya, hingga ijab qabul terselenggara.
Jika saat itu tiba, kamu akan menjadi tempat pertamanya berbagi cerita.

Wanita butuh menyuarakan banyak kata.
Tidak sepertimu, atau papamu, yang kadang diam cukup meredam beban yang kamu rasa.
Wanita butuh pendengar, maka jadilah telinga terbaik untuknya.

Simpan sejenak gadgetmu,
letakkan sejenak bukumu,
hentikan sejenak aktivitasmu.
Sempatkan telingamu mendengar utuh satu per satu ujarnya.

Tak perlu melulu kautanggapi,
tak perlu selalu kau beri solusi.
Terkadang wanita hanya butuh untuk tahu bahwa lelakinya peduli,
pada lelahnya memasak dan mencuci,
atau sulitnya menghadapi anak-anak yang sesekali menyulut emosi.
Terkadang wanita hanya butuh untuk tahu,
bahwa lelakinya pun rindu mendengar cerita-cerita sepelenya setiap hari.

Jadilah telinga terbaik untuknya, anakku..
agar kelak wanitamu tak butuh mencari telinga lain di luar sana,
karena keberadaanmu sudah cukup untuknya.

Semoga nanti kamu menjadi lelaki terbaik untuk wanitamu.
Imam terbaik di dunia,
pembimbingnya menuju surga bersama.

Gigi Pertama Alula

Pada umumnya, gigi pertama bayi tumbuh di usia 6-8 bulan. Sebagian malah sudah tumbuh sejak usia 3 bulan, bahkan yang sejak lahir sudah ada giginya juga ada!
Katanya sih begitu.

Tidak pada Alula.

Seperti orang tua lainnya, apalagi untuk anak pertama, saya juga excited sekali menunggu gigi Alula tumbuh.
Sejak memasuki usia 6 bulan dan beberapa kali menunjukkan gejala gusi gatal, atau rewel-rewel tanpa sebab, beberapa kali pula saya berhusnuzhan, “Ooooh.. Alula mau tumbuh gigi yaa”..

Begitu terus, hingga usianya 17 bulan.

Hingga akhirnya..
Alhamdulillaah beberapa waktu lalu, gigi pertama Alula benar-benar tumbuh!
Rasanya lega dan penuh syukur.
Setelah penantian panjaaaaaang. Hehee ๐Ÿ˜€

Sejak giginya belum juga tumbuh di usia 8 bulan, saya sempat bertanya kepada beberapa teman dokter gigi, dan mereka bilang “Belum tumbuh sampai 18 bulan itu masih normal kok. Kalau sampai 18 bulan belum tumbuh juga, baru coba ke dokter gigi”.
Makanya, secara pribadi saya cukup tenang. Apalagi, di luar pertumbuhan giginya, perkembangan Alula yang lain tergolong baik. Ia cepat belajar merangkak, merambat, dan berjalan. Kemampuan bicaranya berkembang sangat baik.
In syaa ALLAH tidak ada masalah di tumbuh kembangnya. Hanya perlu lebih sabar menunggu hingga giginya tumbuh.

Nah, yang membuat jadi kepikiran terus justru omongan-omongan orang.
“Giginya mana kok belum tumbuh?”
“Nggak diperiksain ke dokter mbak?”
“Anakku dulu belum 6 bulan udah 2 giginya loh mbak..”
“Itu anaknya mbak **** lebih kecil dari Alula aja giginya udah 4.. Alula mana ini?”
“Kurang kalsium kali anaknya. Ya ibunya nambah suplemen gitu biar tumbuh giginya cepet.”

Errrr..

Saya bukannya nggak aware, ibu-ibu..
Selain berulang kali konsultasi ke teman-teman dokter gigi, saya juga rajin baca-baca tentang ini.
Bahkan, saya sudah mempersiapkan mental jika ternyata gigi Alula memang “berbeda”. Katanya, ada kasus 1 dibanding sekian (jarang banget terjadi) di mana gigi anak benar-benar tidak tumbuh.

Alhamdulillaah sebelum usianya genap 18 bulan, gigi pertamanya benar-benar muncul.. ๐Ÿ™‚
Semoga semakin memudahkanmu makan ya Nak.. :-*

Unconditional Love

Akhir-akhir ini fisik saya sering drop. Mungkin karena hamil semakin besar, badan semakin mudah lelah. Aktivitas domestik sedikit aja seringkali bikin eungap. Nyuci seember doang, atau sekedar masak satu menu masakan, istirahat setelahnya bisa satu-dua jam. Lebay. Hehee ๐Ÿ˜‚

Lalu soal makan. Dua kali kontrol ke SpOG terakhir, katanya berat badan janin masih saja kurang. PR besar saya satu: Makan! Yang banyak dan sering, apalagi nggak ada makanan apapun yang dipantang. Susahnya, balik lagi mungkin karena perut yang sudah makin besar, rasanya makan sedikit aja udah kenyang. Selera makan saya juga udah ngga kayak bulan-bulan lalu, yang tiap dua jam udah laper, liat atau denger makanan tertentu bisa tiba-tiba pengen, dan porsi makan bisa ngalah-ngalahin kuli!๐Ÿ˜‚ Sekarang rasanya perut gampang penuh. Diisi sedikit udah berasa kenyang, dan gampang eungap kalau makan terlalu banyak.

Bicara soal fisik yang sering drop, mau nggak mau jadi merasa bersalah juga sama Alula. Sejak awal hamil adeknya ini aja, otomatis perhatian yang biasanya fokus untuk dia jadi terbagi. Fisik saya yang drop membuat perhatian saya untuk dia semakin berkurang. Padahal, si calon kakak lagi aktif-aktifnya. Kalau nggak lagi tidur, nggak berhenti yang namanya latihan berdiri dan jalan ke mana-mana, eksplorasi segala hal yang ada di sekitarnya, dan terutama soal kosakatanya yang semakin banyak saja. Bicaranya memang masih jauh dari jelas, tapi celotehnya sudah luar biasa banyak, bahkan seolah sudah mampu merespon balik saat diajak bicara. Nah, kalau dia lagi asyik cerita tapi tak ditanggapi, Alula sudah mulai bisa protes. Ini dia yang sebenarnya butuh perhatian lebih.

Alhamdulillaah.. Alula justru tidak banyak rewel. Sekecil itu sudah mau jadi kakak, ternyata ALLAH begitu memudahkan saya. Saat saya sibuk menyelesaikan perkerjaan domestik, tak jarang dia bisa anteng ditinggal main sendiri di kamarnya. Sesekali tetap saya tengok dan temani main sih.. Atau kadang dia ikutan main di dapur saat saya masak. Keponya luar biasa sih pada apapun yang saya lakukan, tapi masih cukup terkendali. So, tidak terlalu mengganggu laaah.. Biasanya, asalkan saya tak berhenti menanggapi saat dia bicara, suasana tetap aman tanpa rewel2 yang berarti.๐Ÿ˜‰

Satu hal dari sikap Alula yang sempat membuat saya surprise awalnya adalah responnya kalau melihat perut saya yang besar. Dia otomatis mendekat, mengelus-elus perut saya sambil tersenyum geli atau bahkan tertawa. Bahkan, kadang saya hanya bilang.. “Sini.. Elus-elus adek.. Adeknya kangen looooh sama kakaknya.. Pengen ikutan main..” Seringnya, Alula akan dengan semangat mendekat dan mengelus-elus perut saya.๐Ÿ˜

Terima kasih ya Nak.. Entah kamu benar2 paham atau tidak, tapi sikapmu selama ini sangat berarti buat Mama. In syaa ALLAH kamu akan jadi kakak yang hebat dan disayang adik-adikmu kelak.

Mama sayang Alula..๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜