(Ngaku) Blogger tapi Nggak Ngeblog

Ini semacam pengakuan “dosa” sih..ūüėÄ
Masa’ postingan terakhir di blog ini udah November taun lalu??
Hwaaaa.. maafkan sayaaa.. para pembaca..!!ūüė¶
Kayak banyak yang mantengin blog kamu aja sih, Zulfah..ūüėõ

Jadi ceritanyaaa.. dari kemaren-kemaren (kemaren November maksudnya..) saya emang kebanyakan alasan nggak update2 blog. Banyak kerjaan lah.. masih sibuk adaptasi pascanikah lah.. lanjut adaptasi dengan hadirnya kehidupan baru di perut saya lah.. riweuh pindahan ke kontrakan lah.. di kontrakan nggak ada wifi lah.. de es be.. de es be..
Intinya sih emang saya aja yang kebanyakan alasan.
Sibuk atau enggak kan relatif. Lagian sesibuk-sibuknya, kalau emang niat ngeblog mah bisa-bisa aja kan?

Makin malu lagi saya sejak gabung di Komunitas Blogger Ikatan Alumni Insan Cendekia (IAIC). Gimana enggak? Ngaku blogger dan gabung komunitas, tapi sejak awal gabung blognya malah dibiarkan¬†nganggur! Huks..ūüė•
Aktifnya cuma nyumbang tulisan di buku perdana komunitas aja. Ntar saya cerita banyak tentang bukunya ya.. sekalian promosi siapa tau ada yang mau order. Hihii ;-)

Jadiii sebenarnya postingan kali ini nggak penting-penting amat buat dibaca. Tapi penting banget buat saya. Setidaknya jadi lecutan semangat untuk serius kembali menulis.:-)
Suami aja udah (entah sejak kapan) nyuruh saya rajin nulis lagi. Sayanya aja yang banyak excuse.

Bismillaaah.. Ide-ide tulisan di benak saya udah banyak juga nih.
Mungkin saya perlu challenge diri sendiri lagi kayak taun lalu, biar ide-ide itu segera tertuang di sini.:-)

Semangat menulis!!
Keep blogging, keep writing..:-)

 

Jahitan di Dagu

Hayolooo.. udah berapa lama blog ini dibiarkan nganggur? Udah hampir dua bulan yaa?
Hehee..
Maafkan, kemarin-kemarin masih rariweuh¬†seputar pernikahan saya 17 Oktober lalu (dan agenda-agenda setelahnya..ūüėÄ )
Alhamdulillaah berkat kasih sayang ALLAH dan doa kerabat dan teman-teman shalih/shalihat, serangkaian acaranya berlangsung lancar.:-)

Hmm.. rasanya buanyaaaaaakk sekali hal yang ingin saya tuangkan di sini. Tak sekedar tentang euforia menikah, tapi beberapa ide tulisan yang selama hampir dua bulan terakhir ini terpaksa tergeletak begitu saja di sudut-sudut otak.
Tapi kali ini, saya ingin sedikit berbagi tentang apa yang dihadapi di awal pernikahan.:-)

Menjelang hari H, saya banyak bersilaturahim dengan beberapa sahabat. Kebanyakan di antaranya adalah yang sudah lebih dulu menikah.
Tujuannya setidaknya ada 2, mengantarkan undangan dan meminta nasehat.
Nasehat yang paling banyak saya terima adalah seputar kendala yang umumnya dihadapi di awal pernikahan: ADAPTASI.

Yep. Dua insan dengan jenis kelamin berbeda, dari dua keluarga berbeda, dua daerah asal berbeda, dan tentunya dua kepala dengan watak dan kepribadian berbeda dipaksa bersinergi bersama sejak diikrarkannya akad nikah.
Tentu sangat jauh dari kata mudah.
Saya dan suami baru berkenalan April tahun ini. Interaksi di antara kami sangatlah terbatas sebelum menikah. Bisa dibilang, kami sekedar saling menerka watak masing-masing saja, di luar yang tertulis dalam biodata yang saling kami tukar sebelum ta’aruf.

Tuntutan untuk segera saling mengenal membuat kami berupaya terus menggali karakter, sifat, dan kebiasaan masing-masing sejak usai akad nikah hingga detik ini. Dan tahu nggak? Saya sempat stres sendiri karena ternyata.. kami berdua sangat berbeda! Sangat sulit rasanya menemukan persamaan di antara kami.

Suami yang terbiasa santai menghadapi apapun… Saya yang seringnya perfeksionis.
Suami yang suka Naruto dan segala bentuk film Jepang (dan kebanyakan film Asia) yang bagi saya nggak ada seru-serunya sama sekali… Saya yang suka hampir semua jenis film kecuali film Asia.ūüėõ
Suami yang nggak terbiasa minum minuman berwarna jenis apapun… ¬†Saya yang sulit sekali melewatkan satu hari tanpa satu-dua cangkir kopi, ditambah teh dan beberapa minuman lain.
Suami yang adiksi dengan air putih… Saya yang bisa dibilang nggak suka air putih, dan hanya terbiasa minum air putih dingin¬†fresh from refrigerator.
Lalu selera kami terhadap berbagai jenis makanan (dan masakan) yang seringkali bertolak belakang. Nah! PR banget kan buat jadi koki pribadinya? >_<

Maka, ketika pertama kali suami memegang dagu saya dan berkomentar: “Ini bekas jahitan ya?”
Lalu saya jawab: “Iya, waktu kecil pernah dijahit gara-gara kena pinggiran meja.”
Suami bilang lagi: “Aku juga punya loh, jahitan di dagu.”¬†Maafkan Mas, aku lupa alasannya.ūüėõ

There! Kami tertawa bersama. Finally we found our first similarities! Yeay!! ^_^

Mungkin sepele buat kebanyakan orang. Tapi, menemukan satu persamaan kecil di antara kami berdua seolah memberi harapan dan semangat baru.
Kali ini mungkin sebatas jahitan di dagu, tapi seiring perjalanan kami ke depannya nanti, kami yakin akan terus menemukan persamaan demi persamaan lain yang in syaa ALLAH akan menguatkan sinergi di antara kami.:-)
Setidaknya, persamaan semangat untuk terus berupaya mengolah perbedaan-perbedaan di antara kami menjadi kekuatan tersendiri.

Bismillaah..
Doakan kami ya! Perjalanan kami masiiiih sangat panjang..:-)

Dua puluh delapan

Tolong
Jangan dulu kaubagi binar itu
Bukan ku tak mau
Tapi
Ada degup tak menentu saat tatap beradu
Melupa malu, yang perlahan tersingkap satu-satu

Bantu aku bersabar
Masih dua puluh delapan yang harus kita jelang
dengan saling menutup pintu
menghijab rindu lewat doa setiap waktu
menitip pasrah pada Sang Pemilik Segala
agar hati tetap terjaga dari rasa yang belum saatnya

Sampai masanya nanti,
usai dua puluh delapan
Usai ikrar kausebut penuh.

Blank

Hwaaaaa.. kangen sekali rasanya blogging!ūüėÄ
Sudah berapa lama blog ini saya biarkan nganggur? *sapu-sapu sarang laba-laba*

Sejak kakak prajab dan dipasrahin babysit Aruna, belum nemu lagi nih waktu yang pas buat blogging. Malam yang biasanya cukup luang dan senggang untuk ngisi blog, tak lagi kosong karena berbagai urusan babysitter menanti dikerjakan.
Belum lagi persiapan acara bulan depan yang semakin menjelang deadline (iyaa..iyaa..saya belum ceritaūüėõ ).
Aktivitas pagi-sore kejar-tayang tesis dan beberapa agenda lain juga kadang membuat fisik menuntut waktu istirahat lebih di malam hari.

Akhirnya yaa.. blog ini terabaikan lagi dan lagi. Huhuu.. maafkan saya.ūüė¶
Nggak enaknya tuh, seringnya terlintas ide-ide menulis yang akhirnya tak bisa langsung dituangkan.
Terlalu lama mengendap di otak, turut berkontribusi mendorong otak mencapai titik jenuhnya.

Salah satu titik jenuhnya mungkin kemarin.
Saya tergolong orang yang lebih suka memiliki agenda yang luar biasa padat, sampai tidak ada sedetik pun waktu berpikir: “Sekarang ngapain ya?”¬†karena banyaknya yang perlu diselesaikan, dibandingkan dengan kondisi memiliki terlalu banyak waktu luang.
Capek sih memang.
Tapi ketika setiap detiknya bisa dilalui dengan efektif melakukan sesuatu, saya merasa lega melewati hari itu.
Capek, tapi senang.:-)
Beda dengan jika saya terlalu santai sehingga godaan bermalas-malasan sering sekali muncul. Melewati satu hari tanpa melakukan hal yang berarti, malah nggak seru kan?

Tapi.. seperti saya bilang di awal tadi, setiap kita punya titik jenuhnya.
Sejak tanggal 6 September bisa dibilang (hampir) tidak punya waktu luang dan otak sangat tanggap menentukan “setelah ini apa”, kemarin¬†saya justru beberapa kali nge-blank.

Kemarin pagi setelah mengantar Aruna ke daycare dan pergi ke lab, konsentrasi saya seolah terjun bebas.
Entah karena ngantuk luar biasa, bosan setelah sekian lama menghitung jumlah dan panjang daun¬†Coelogyne pandurata, atau murni karena kejenuhan otak yang mencapai limitnya, mendadak saya seperti mbak-mbak di iklan air mineral¬†yang di akhir adegan berkata: “Ada Aqua?”ūüėÄ

Tiba-tiba nge-blank aja gitu.
Mendadak sibuk bertanya-tanya sendiri: “Eh, aku tu mau ngapain ya?”, “Eh, tadi ceritanya lagi ngapain¬†sih?”

Heheee..

Tapi, satu sisi positif yang bisa saya rasakan adalah.. Saya jadi benar-benar merasakan waktu shalat sebagai waktu beristirahat. Setiap azan terdengar, seolah jadi satu kebahagiaan dan excuse tersendiri karena itu artinya saya boleh berhenti bekerja sejenak. Untuk shalat, tentunya.
Kalau nggak ada subuh, mungkin saya lupa beristirahat dari kesibukan menyiapkan remeh-temeh persiapan Aruna sekolah setiap harinya. Saya biasa beres-beres urusan Aruna sesaat menjelang tidur dan 1-2 jam sebelum subuh.
Kalau nggak ada zuhur, mungkin sejak pagi sampai sore saya masih mantengin tanpa jeda penggaris dan sekian pot anggrek hitam yang harus diamati morfologinya.
Kalau nggak ada ashar, mungkin mata saya masih terus saja ngadepin komputer lab untuk input data tanpa sempat beristirahat.
Kalau nggak ada maghrib, mungkin jadwal tahsin saya sering bablas sampai malam.
Kalau nggak ada isya, mungkin saya terlena oleh rasa kantuk yang sering hadir sesaat sebelumnya.
Waktu shalat yang tak lebih dari 15 menit itu benar-benar terasa mengurangi penat. Bahkan gerakan-gerakannya jadi sekaligus termaknai sebagai peregangan otot.:-)

Meski demikian, bicara soal blank-nya otak, sebenarnya itu bagian dari alarm tubuh juga.
Namanya manusia kan nggak ada yang super. Sekuat dan setangguh apapun, pasti ada limitnya. Akan selalu ada puncak kelelahan fisik, titik jenuh pikiran, dsb., yang jika dibiarkan efeknya tidak akan baik juga.
Istirahat itu perlu.
Memaksakan aktivitas tertentu terus dilakukan tanpa mempedulikan hadirnya titik jenuh itu malah membuat waktu-waktu kita jadi nggak efektif juga. Banyak nge-blank-nya kan? Gimana mau maksimal optimalisasi waktu?:-)

Makanya, kalau saya pribadi sih, jika momen¬†blank¬†itu hadir, saya melakukan “pelarian” sejenak.
Kalau waktunya banyak, kadang saya “meliburkan diri” satu hari. Satu hari penuh tanpa urusan tesis, misalnya. Sekedar mengembalikan¬†freshnya tubuh dan pikiran agar bisa kembali optimal mengerjakan tesis esok harinya.:-)
Kalau waktunya sempit, pelariannya nggak perlu lama-lama. Satu-dua jam, atau bahkan 10-15 menit yang efektif digunakan untuk istirahat kadang ampuh juga kok untuk mengembalikan stamina dan fokus tubuh dan pikiran.:-)

Well.. Semoga semua urusan kita dimudahkan ALLAH yaa..:-)
Semangaaattt..!!

*Curi-curi waktu blogging di komputer lab di sela input data penelitian. Hehee*

#21DaysBabysittingChallenge

Mulai sore nanti, kakak saya akan mengikuti program prajab CPNS selama tiga pekan ke depan. So, karena di rumah nggak ada ART, babysitter dan semacamnya, saya (dan adik saya) yang kebagian tugas menjaga dan mengurus Aruna, keponakan satu-satunya yang berusia 10 bulan.

Ponakan kesayangan bersama bundanya :-)

Ponakan kesayangan bersama bundanya:-)

Wacana tentang ini sudah dari sekian bulan lalu muncul sih. Meskipun kepastian waktu prajab baru diperoleh sekitar sepekan lalu, tapi sudah sejak lama kemungkinan ini dibahas. Adanya Aruna tanpa ART atau babysitter di rumah selama ini juga jadi tantangan tersendiri bagi kakak yang full kerja pagi sampai sore, dan libur hanya Ahad saja.
Biasanya, Aruna dititipkan di daycare tiap pagi, dan dijemput lagi sorenya.

Awalnya mamah yang mau¬†standby¬†jaga Aruna di rumah. Tapi kalau harus tiga pekan meninggalkan bapak sendirian di Cirebon selama itu, kok rasanya nggak tega juga. Hehee..ūüėÄ

Jadilah kami (saya dan adik saya) menyanggupi babysit Aruna selama bundanya prajab, meskipun sepekan ke depan masih dibantu mamah yang menemani di rumah. Biar adaptasinya lebih mudah.:-)

Babysit Aruna tiga pekan tanpa bundanya di rumah jelas jadi challenge tersendiri buat kami. Selama ini kan kami hanya bantu-bantu jaga Aruna sewaktu-waktu saja. Sesekali ngajakin main, atau bantu babysit saat bundanya kecapekan. Itu pun kalau pas kami luang saja. Selebihnya, kakak saya yang handle semua.:-)

Semalam sempat dibriefing singkat sama kakak saya, apa-apa saja yang perlu jadi perhatian. Mulai dari makanan-makanan apa saja yang perlu disiapkan setiap harinya (Aruna sudah mulai MPASI, jadi harus kreatif nyiapin makanan juga..:-) ), isi tas yang harus selalu dibawa tiap dia sekolah (daycare), rutinitas mencuci baju dan perlengkapan makan dkk., dan sebagainya.
Agak deg-degan juga nih saya. Buanyaaaaaak banget ya ternyata kerjaannya. Hehee..
Saya kan juga nggak bisa¬†standby¬†di rumah tiap hari. Masih ada aktivitas kejar tayang tesis, tahsin, dan beberapa agenda rutin lain. Belum lagi masih cukup¬†riweuh¬†persiapan¬†acara bulan depan (Yang¬†ini saya belum cerita ya? Ntar ya ceritanya, belum¬†launching¬†soalnya..¬†ūüėõ )
Tapi somehow saya semangat banget mau menghadapi tiga pekan ke depan.
Itung-itung latihan kalau nanti harus disibukkan dengan mengurus anak sendiri sementara aktivitas masih seabreg. Hehee..ūüėÄ

Sebagian

Sebagian “petuah” kakak hasil briefing semalam. Hehee

Bismillaaah..
Semoga saya bisa sukses membagi waktu dengan baik tiga pekan ke depan.
Mampu amanah babysit ponakan tersayang, tanpa harus mengesampingkan kejar tayang tesis dan agenda-agenda lain.
Doakan saya yaa..!! :-)
Semoga semua urusan teman-teman juga dimudahkan dan dilancarkan.
Aamiin.:-)