Menikmati Momen

Ramadhan udah mau habis. Kemungkinan besar dua malam lagi, gema takbir idul fitri akan mulai terdengar bersahutan di mana-mana. Hari-hari gini pusat perbelanjaan pasti udah makin penuh sama orang-orang yang kejar tayang beli baju Lebaran, atau preparasi bahan masakan untuk diolah jadi menu-menu spesial menyambut hari raya.
Semoga masjid-masjid besar juga nggak kalah penuh sama orang-orang yang berupaya mengoptimalkan i’tikaf di hari-hari terakhir. Masih ada kesempatan satu malam lagi untuk memaksimalkan harap menjemput lailatul qadr yang istimewa itu.

Saya, mungkin juga bersama para wanita yang belum beruntung bisa merasakan puasa (dan tarawih) hari pertama tahun ini, disibukkan oleh hal yang lain.
Harap-harap cemas.
Mudah-mudahan tahun ini disempatkan dulu ikut shalat ied, baru deh dikasih libur shalat lagi. Huhuu.. >_<

Padahal mah harusnya nggak pake acara kuatir atau cemas segala yaa?
Toh bisa dan boleh shalat atau enggak juga ALLAH yang ngasih dan pegang kendali. Hehee.. :-D

Jadi kepikiran kasus-kasus lain yang serupa tapi tak sama nih.

Misalnya kalau pas kita masbuq ke masjid, imam udah selesai baca al Fatihah.. pasti deh refleks kita lari-lari nggak santai menuju tempat makmum. Pakai mukena secepat kilat, dan sedapat mungkin segera takbiratul ihram sebelum imam rukuk atau i’tidal.
Demi dapet rakaat pertama bareng imam, kadang kita nggak peduli sama tenang dan siapnya hati dan tubuh kita dalam memulai shalat, atau lebih jauh lagi jangan-jangan makmum lain yang udah duluan shalat terganggu sama grusa-grusunya kita ngejar rakaat pertama? :-(
Dulu pernah dapet kajian soal ini juga sih. Kalau nggak salah yang ngisi materi Ust. Aris Munandar. Tentang kesalahan-kesalahan yang sering kita lakukan berkaitan dengan shalat. Salah satunya itu tadi, berlari-lari atau terburu-buru memasuki masjid ketika masbuq.

Hmmm..
Kita tuh seringkali gitu. Punya harapan tertentu dalam hidup kita, berupaya keras meraih harapan itu, tapi suka lupa menikmati prosesnya.
Ingin sekali mencapai suatu titik di masa depan, tapi jadi lalai menikmati setiap momen yang terjadi saat ini.
Padahal, semua yang terjadi dan kita lalui itu pasti sudah terangkum rapi dalam skenarioNYA.
Nggak ada yang bisa kita lakukan untuk membuat masa depan hadir lebih cepat atau sebaliknya.
Kalau emang udah jatahnya libur shalat mah, mau kita cemaskan atau tidak, ya tetep aja nggak bisa ikut shalat ied.
Kalau emang udah keburu telat dateng ke masjid, mending nggak dapet rakaat pertama bareng imam daripada nggak dapet khusyu’nya rakaat pertama gara-gara keburu-buru. Apalagi kalau malah mengganggu jamaah lain.

Nikmati saja saat ini. Maksimalkan momen yang ada untuk jadi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. :-)
Lagi jatahnya menikmati hari-hari terakhir Ramadhan, optimalkan saja untuk beribadah lebih giat, tilawah lebih banyak, shalat lebih khusyu’.
Ingin ikut i’tikaf tapi kondisi nggak memungkinkan karena disuruh pulang dan ketemu orang tua, nikmati saja. Maksimalkan birrul walidainnya, dan banyak bersyukur. Nggak semua orang bisa merasakan sahur dan buka bersama orang tua dan keluarganya.

Temen-temen seangkatan (bahkan adik kelas) udah pada nikah dan kita belum? Nikmati saja masa-masa single belum ada tuntutan ngurus suami. Puas-puasin ikut kegiatan-kegiatan ekstra sesuka hati, ikut kajian dan seminar sana-sini, jalan-jalan bareng temen-temen.. Belum tentu nanti setelah menikah bisa sebebas itu karena izin suami akan jadi syarat utama, kan? Hehee.. :-D

Yang udah nikah dan belum juga dikasih momongan, nikmati aja. Puas-puasin bikin acara-acara spesial dan pacaran bareng suami (atau istri). Kalau udah ada anak nanti, belum tentu bisa sebebas itu karena waktu kita akan tersita dengan ngurusin anak, kan? :-D

Nah kaaan, ujung-ujungnya nyerempet lagi soal nikah.. :-P

Intinya sih gitu. Nikmati saja momen yang ada saat ini. Lalui dengan senyum, nikmati proses memaksimalkan saat ini menjadi masa depan yang lebih baik.
Toh di waktu yang tepat dan teristimewa nanti, masa depan yang kita harapkan itu pun akan menjadi saat ini. :-)

Wallaahu a’lam bishawab.

Etika Mengunggah Foto

nzulfah:

Postingan keren Mbak Tjetje yang perlu dibaca nih.. :-)
Mari biasakan “saring sebelum sharing”..

Originally posted on Ailtje Ni Dhiomasaigh:

Semenjak kehadiran media sosial dan telephone genggam pintar, fotografi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita (dan seringkali diasosiasikan dengan hobi mahal), berubah menjadi hobi yang bisa diakses semua orang. Fotografi menjadi media untuk berbagi, tak hanya momen baik dalam hidup, tetapi juga momen yang penuh kesedihan, dari kelahiran, kesakitan, hingga kematian. Sayangnya kemudahan mengambil foto tidak dibarengi dengan etika untuk menghormati orang lain.

Kelahiran di banyak negara, atau bahkan semua negara, dirayakan sebagai momen yang membahagiakan. Bagi orang tua baru (maupun tante baru seperti saya), mengabadikan setiap momen dan membaginya di sosial media kemudian menjadi hobi baru. Tak ada yang salah dengan berbagi foto bayi-bayi paling lucu sedunia tersebut, asal gak terlalu sering dan gak bikin orang muak, tetapi seperti pernah dibahas Mbak Yoyen disini, hobi baru ini membuat lahirnya sharent, sharing parent. Menurut pendapat saya, ada kecenderungan orang tua jaman sekarang kebablasan dalam mengunggah foto anaknya…

View original 705 more words

Monolog: Butuh “Tamparan” Berapa Kali Lagi?

–karena saat menasehati orang lain, sejatinya kita sedang menasehati diri sendiri–

Tamparan pertama

Aku kok ngerasa kosong ya, ngapa-ngapain tuh kayak nggak ada nikmatnya. Padahal kuliah lancar-lancar aja, rizqi juga ngalir-ngalir aja.. kenapa ya?

Lalu satu kalimat meluncur dari mulut saya,

Sholatmu.. “kosong” nggak?

Tamparan kedua

Kak, tau obat anti depresi, nggak?

Satu kalimat terpampang di layar whatsapp saya. Tak perlu waktu lama untuk memahami bahwa “adik” di seberang sana sedang butuh didengarkan. Setidaknya, ia butuh pendengar saat ia menyuarakan bahwa ia sedang ada masalah.

Lalu satu kalimat yang saya ketikkan berikutnya,

Udah coba banyakin baca Qur’an?

Tamparan ketiga

Aku lagi futur, mbak. Rasanya kok males banget ya ngapa-ngapain. Aku inget sih, yang selalu mbak bilang: Yang berat itu mulainya. Tapi ya itu.. berakhir di niat doang. Mau mulai solat kok berat. Mau mulai banyakin doa dan zikir kok berat. …bla…bla,,,bla,,,

Keluhan seorang “adik” yang lain.

Lalu kalimat yang saya ucapkan setelahnya,

Nah, udah tau sendiri kan solusinya? Kita tu sering udah tau solusi dari masalah-masalah kita, tapi butuh orang lain untuk ngasih tau kita. Baru deh kita jalanin solusinya. Yuk ah, kalau nggak dimulai ya nggak akan selesai kan? :-)

Tamparan keempat

Sendiri menyepi tenggelam dalam renungan
Ada apa aku, seakan ku jauh dari ketenangan
Perlahan kucari mengapa diriku hampa
Mungkin ada salah, mungkin ku tersesat, mungkin dan mungkin lagi..

Oh Tuhan, aku merasa sendiri menyepi
Ingin ku menangis menyesali diri, mengapa terjadi
Sampai kapan ku begini, resah tak bertepi
Kembalikan aku pada cahayaMU yang sempat menyala
benderang di hidupku..

(Edcoustic – Sendiri Menyepi)

Tiba-tiba terngiang lagu ini, satu lagu yang selalu “menampar” saya berkali-kali. :-(

Hari ini, beberapa kali ditempatkan pada posisi mendengarkan masalah-masalah “mereka”.
Mereka bilang, kata-kata saya sering “menampar” mereka. Mengingatkan untuk mengembalikan semua masalah pada Sang Pemberi Kekuatan di atas sana.
Tanpa mereka tahu, ketika itu saya pun merasakan tamparan luar biasa berulang kali. :-(

Membuat saya terdiam, dan merepetisi retorika pada diri sendiri:

Berapa ayat Qur’an yang sudah kulafalkan hari ini?
Berapa banyak sujud yang kupersembahkan untukNYA saja?
Berapa detik waktu yang kuhabiskan untuk zikir menyebut asmaNYA?

Sholatku.. masih “kosong” juga kan?
Jiwaku.. masih jauh dari tenang kan?
Mengapa setiap kuluangkan waktu untukNYA, tak ada kata yang mampu kuucap?
Sudah sebegitu jauhnya kah aku dari Sang Maha Dekat?
Mengapa setiap kuhempaskan diri di atas sajadah, tak setetes pun air mata yang jatuh?
Sebegitu kerasnya kah hati ini di depan IA yang Maha Lembut, Maha Kasih dan Maha Sayang?

Berapa tamparan lagi yang kubutuhkan untuk seutuhnya menghadirkan hati.. hanya untukNYA?  :'(

Tarik aku kembali, Ya ALLAH.. sebelum azabMU yang menamparku..
Tarik aku kembali.. sebelum malaikat maut hadiahkan tamparan terakhir untukku.. :-(

Alarm Kematian

Lagi.
Untuk kesekian kalinya saya diingatkan tentang kematian.
Beberapa waktu lalu, saya mendapat kabar meninggalnya dua orang yang saya kenal.
Keduanya orang tua dari teman saya.
Ayah si A yang meninggal karena usianya yang memang sudah lanjut, dan ibu si B yang meninggal karena kanker.

Awalnya tak banyak yang spesial.

Gambar diambil di sini

Gambar diambil di sini

Sekedar ingat sesaat bahwa kita tak pernah tahu kapan ajal datang menjemput, dan betapa kita tak punya banyak waktu untuk bersiap-siap.
Sekedar merinding dan kagum sesaat saat melihat betapa banyak orang yang hadir menyalatkan jenazah, mengantarnya hingga ke peristirahatan terakhirnya, dan sejenak berpikir berapa banyakkah kelak yang mau menyalatkan dan mengantar jenazah saya ketika giliran saya tiba.
Sekedar sedih sesaat dan bertanya-tanya akan kesiapan saya jika yang “pergi” adalah orang tua saya..

Tapi kali ini ada yang sedikit berbeda.
Melihat kain putih ditutupkan ke tubuh almarhumah saat di rumah sakit kemarin, tiba-tiba membawa ingatan saya pada bocah berusia 11 tahun yang meninggal karena kanker (juga) sekitar dua tahun lalu.
Dimas kecil yang selama dua tahun saya mengenalnya, tak pernah sekali pun mengeluh tentang sakit kepala yang sering ia rasakan. Saya lebih sering melihatnya tersenyum, meskipun wajah pucatnya menunjukkan nyeri yang luar biasa.
Lalu kata-kata ayahnya yang selalu saya ingat sampai sekarang. “Ibunya Dimas dulu ya meninggal karena kanker, nduk. Penyakit itu cuma salah satu jalan menuju kematian kok. Sama seperti menjadi tua. Jadi biasa aja. Ndak ada yang perlu dikeluhkan.
Wong yang masih muda dan sehat aja bisa tiba-tiba mati tanpa tanda-tanda apapun kok. Kalau ALLAH mau manggil, ndak ada yang bisa nolak. Justru yang dikasih tanda berupa penyakit itu yang harus banyak bersyukur, karena bisa lebih sadar untuk terus mempersiapkan kematian. Kita yang sehat ini to malah yang repot?”

Ini yang seringkali kita lupa.

Penyakit, kecelakaan lalu lintas, usia yang menua… hanyalah segelintir jalan menuju kematian yang kita tahu. Kadang, ALLAH memanggil hambaNYA tanpa tanda apapun. Tanpa alarm peringatan apapun.
Bukan satu dua kali kan kita mendengar kabar seseorang yang meninggal begitu saja dalam tidurnya?
Atau seorang pemuda yang tiba-tiba diambil nyawanya ketika sujud dalam shalatnya?
Atau berapa banyak orang yang menemui ajalnya dalam tsunami, gempa bumi, bencana-bencana alam lain yang tak bisa diprediksi kapan datangnya?

Lalu nasihat guru ngaji saya kemarin masih terngiang di telinga,
“Apa sih yang perlu kita persiapkan untuk kematian kita kelak?
Segera mencapai mimpi-mimpi duniawi agar tidak menyesal nanti?
Bagaimana dengan visi-misi ukhrawi? Sudah tercapai semua kah?
Atau jangan-jangan.. tujuan hidup kita selama ini masih sekedar bernilai dunia semua?”

Death pathway

Gambar diambil di sini

 

Wallaahu a’lam bishawab.