Etika Mengunggah Foto

nzulfah:

Postingan keren Mbak Tjetje yang perlu dibaca nih.. :-)
Mari biasakan “saring sebelum sharing”..

Originally posted on Ailtje Ni Dhiomasaigh:

Semenjak kehadiran media sosial dan telephone genggam pintar, fotografi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita (dan seringkali diasosiasikan dengan hobi mahal), berubah menjadi hobi yang bisa diakses semua orang. Fotografi menjadi media untuk berbagi, tak hanya momen baik dalam hidup, tetapi juga momen yang penuh kesedihan, dari kelahiran, kesakitan, hingga kematian. Sayangnya kemudahan mengambil foto tidak dibarengi dengan etika untuk menghormati orang lain.

Kelahiran di banyak negara, atau bahkan semua negara, dirayakan sebagai momen yang membahagiakan. Bagi orang tua baru (maupun tante baru seperti saya), mengabadikan setiap momen dan membaginya di sosial media kemudian menjadi hobi baru. Tak ada yang salah dengan berbagi foto bayi-bayi paling lucu sedunia tersebut, asal gak terlalu sering dan gak bikin orang muak, tetapi seperti pernah dibahas Mbak Yoyen disini, hobi baru ini membuat lahirnya sharent, sharing parent. Menurut pendapat saya, ada kecenderungan orang tua jaman sekarang kebablasan dalam mengunggah foto anaknya…

View original 705 more words

Cara-Nya Menguji Cinta

Featured Image -- 589

Originally posted on Febrianti Almeera:
Terasa nyeri di dada, khas seseorang yang sedang kehilangan. Seakan ada sesuatu yang pernah mengisi disana, kemudian hilang seketika, entah kemana. Begitulah.. sakit adalah reaksi wajar yang pasti terjadi jika ada yang hilang dari suatu…

Monolog: Butuh “Tamparan” Berapa Kali Lagi?

–karena saat menasehati orang lain, sejatinya kita sedang menasehati diri sendiri–

Tamparan pertama

Aku kok ngerasa kosong ya, ngapa-ngapain tuh kayak nggak ada nikmatnya. Padahal kuliah lancar-lancar aja, rizqi juga ngalir-ngalir aja.. kenapa ya?

Lalu satu kalimat meluncur dari mulut saya,

Sholatmu.. “kosong” nggak?

Tamparan kedua

Kak, tau obat anti depresi, nggak?

Satu kalimat terpampang di layar whatsapp saya. Tak perlu waktu lama untuk memahami bahwa “adik” di seberang sana sedang butuh didengarkan. Setidaknya, ia butuh pendengar saat ia menyuarakan bahwa ia sedang ada masalah.

Lalu satu kalimat yang saya ketikkan berikutnya,

Udah coba banyakin baca Qur’an?

Tamparan ketiga

Aku lagi futur, mbak. Rasanya kok males banget ya ngapa-ngapain. Aku inget sih, yang selalu mbak bilang: Yang berat itu mulainya. Tapi ya itu.. berakhir di niat doang. Mau mulai solat kok berat. Mau mulai banyakin doa dan zikir kok berat. …bla…bla,,,bla,,,

Keluhan seorang “adik” yang lain.

Lalu kalimat yang saya ucapkan setelahnya,

Nah, udah tau sendiri kan solusinya? Kita tu sering udah tau solusi dari masalah-masalah kita, tapi butuh orang lain untuk ngasih tau kita. Baru deh kita jalanin solusinya. Yuk ah, kalau nggak dimulai ya nggak akan selesai kan? :-)

Tamparan keempat

Sendiri menyepi tenggelam dalam renungan
Ada apa aku, seakan ku jauh dari ketenangan
Perlahan kucari mengapa diriku hampa
Mungkin ada salah, mungkin ku tersesat, mungkin dan mungkin lagi..

Oh Tuhan, aku merasa sendiri menyepi
Ingin ku menangis menyesali diri, mengapa terjadi
Sampai kapan ku begini, resah tak bertepi
Kembalikan aku pada cahayaMU yang sempat menyala
benderang di hidupku..

(Edcoustic – Sendiri Menyepi)

Tiba-tiba terngiang lagu ini, satu lagu yang selalu “menampar” saya berkali-kali. :-(

Hari ini, beberapa kali ditempatkan pada posisi mendengarkan masalah-masalah “mereka”.
Mereka bilang, kata-kata saya sering “menampar” mereka. Mengingatkan untuk mengembalikan semua masalah pada Sang Pemberi Kekuatan di atas sana.
Tanpa mereka tahu, ketika itu saya pun merasakan tamparan luar biasa berulang kali. :-(

Membuat saya terdiam, dan merepetisi retorika pada diri sendiri:

Berapa ayat Qur’an yang sudah kulafalkan hari ini?
Berapa banyak sujud yang kupersembahkan untukNYA saja?
Berapa detik waktu yang kuhabiskan untuk zikir menyebut asmaNYA?

Sholatku.. masih “kosong” juga kan?
Jiwaku.. masih jauh dari tenang kan?
Mengapa setiap kuluangkan waktu untukNYA, tak ada kata yang mampu kuucap?
Sudah sebegitu jauhnya kah aku dari Sang Maha Dekat?
Mengapa setiap kuhempaskan diri di atas sajadah, tak setetes pun air mata yang jatuh?
Sebegitu kerasnya kah hati ini di depan IA yang Maha Lembut, Maha Kasih dan Maha Sayang?

Berapa tamparan lagi yang kubutuhkan untuk seutuhnya menghadirkan hati.. hanya untukNYA?  :'(

Tarik aku kembali, Ya ALLAH.. sebelum azabMU yang menamparku..
Tarik aku kembali.. sebelum malaikat maut hadiahkan tamparan terakhir untukku.. :-(

Alarm Kematian

Lagi.
Untuk kesekian kalinya saya diingatkan tentang kematian.
Beberapa waktu lalu, saya mendapat kabar meninggalnya dua orang yang saya kenal.
Keduanya orang tua dari teman saya.
Ayah si A yang meninggal karena usianya yang memang sudah lanjut, dan ibu si B yang meninggal karena kanker.

Awalnya tak banyak yang spesial.

Gambar diambil di sini

Gambar diambil di sini

Sekedar ingat sesaat bahwa kita tak pernah tahu kapan ajal datang menjemput, dan betapa kita tak punya banyak waktu untuk bersiap-siap.
Sekedar merinding dan kagum sesaat saat melihat betapa banyak orang yang hadir menyalatkan jenazah, mengantarnya hingga ke peristirahatan terakhirnya, dan sejenak berpikir berapa banyakkah kelak yang mau menyalatkan dan mengantar jenazah saya ketika giliran saya tiba.
Sekedar sedih sesaat dan bertanya-tanya akan kesiapan saya jika yang “pergi” adalah orang tua saya..

Tapi kali ini ada yang sedikit berbeda.
Melihat kain putih ditutupkan ke tubuh almarhumah saat di rumah sakit kemarin, tiba-tiba membawa ingatan saya pada bocah berusia 11 tahun yang meninggal karena kanker (juga) sekitar dua tahun lalu.
Dimas kecil yang selama dua tahun saya mengenalnya, tak pernah sekali pun mengeluh tentang sakit kepala yang sering ia rasakan. Saya lebih sering melihatnya tersenyum, meskipun wajah pucatnya menunjukkan nyeri yang luar biasa.
Lalu kata-kata ayahnya yang selalu saya ingat sampai sekarang. “Ibunya Dimas dulu ya meninggal karena kanker, nduk. Penyakit itu cuma salah satu jalan menuju kematian kok. Sama seperti menjadi tua. Jadi biasa aja. Ndak ada yang perlu dikeluhkan.
Wong yang masih muda dan sehat aja bisa tiba-tiba mati tanpa tanda-tanda apapun kok. Kalau ALLAH mau manggil, ndak ada yang bisa nolak. Justru yang dikasih tanda berupa penyakit itu yang harus banyak bersyukur, karena bisa lebih sadar untuk terus mempersiapkan kematian. Kita yang sehat ini to malah yang repot?”

Ini yang seringkali kita lupa.

Penyakit, kecelakaan lalu lintas, usia yang menua… hanyalah segelintir jalan menuju kematian yang kita tahu. Kadang, ALLAH memanggil hambaNYA tanpa tanda apapun. Tanpa alarm peringatan apapun.
Bukan satu dua kali kan kita mendengar kabar seseorang yang meninggal begitu saja dalam tidurnya?
Atau seorang pemuda yang tiba-tiba diambil nyawanya ketika sujud dalam shalatnya?
Atau berapa banyak orang yang menemui ajalnya dalam tsunami, gempa bumi, bencana-bencana alam lain yang tak bisa diprediksi kapan datangnya?

Lalu nasihat guru ngaji saya kemarin masih terngiang di telinga,
“Apa sih yang perlu kita persiapkan untuk kematian kita kelak?
Segera mencapai mimpi-mimpi duniawi agar tidak menyesal nanti?
Bagaimana dengan visi-misi ukhrawi? Sudah tercapai semua kah?
Atau jangan-jangan.. tujuan hidup kita selama ini masih sekedar bernilai dunia semua?”

Death pathway

Gambar diambil di sini

 

Wallaahu a’lam bishawab. 

Mengapa Menulis?

Bagi saya, menulis adalah proses melegakan pikiran. Manusia diciptakan dengan kerja otak yang luar biasa, yang membuat pikirannya penuh dengan hal-hal yang perlu diutarakan.
Ada yang senang menyampaikannya melalui ucapan,
Ada yang suka menyampaikannya melalui diskusi bersama orang lain,
Ada yang nyaman menyampaikannya melalui proses monolog pribadi (seperti saya, pada kondisi-kondisi tertentu),

Ada pula yang memilih menyampaikannya lewat tulisan.

Gambar diambil di sini.

Gambar diambil di sini.

Saya ingat sekali seorang guru bahasa Indonesia saya ketika SD dulu pernah menyarankan kami untuk selalu menyimpan pulpen (atau pensil) dan notes kecil di dalam saku, agar ke manapun kita pergi, dua benda sederhana itu selalu terbawa.
Untuk apa?
Untuk menuliskan pikiran-pikiran kita.
Menuliskan lintasan-lintasan kata yang tercetus begitu saja, frasa-frasa sederhana yang jika dikembangkan dapat menjadi sajak yang purna, atau kalimat-kalimat penuh makna yang tak sengaja kita dengar dan perlu segera dituliskan agar tak mudah terlupa.

Perkembangan teknologi informasi semakin memudahkan kita menuangkan pikiran-pikiran kita secara instan.
Tak perlu lagi membawa notes kecil atau pulpen pun, selalu ada handphone dengan berbagai macam media menulis di dalamnya. Tak sebatas aplikasi notes atau teks, tapi juga berbagai media penyampai pesan ataupun media sosial yang sangat mewadahi kita dalam bersuara melalui tulisan.
Saya punya teman yang sangat aktif menyampaikan quotes yang didengarnya melalui status singkat di BBM, Whatsapp, atau LINE. Kalau panjang, coba aja cek status Facebooknya. Jadi kalau pas mengikuti kajian atau seminar tertentu bareng beliau, nggak usah kuatir ketinggalan mencatat kata-kata pentingnya. Quote spesial yang kita dengar pasti masih bisa kita baca ulang lewat status-statusnya. Hehee.. :-D

Saya sangat bersyukur dengan adanya berbagai media sosial maupun platform blog yang memiliki kekhasan masing-masing, sehingga saya bisa memanfaatkannya untuk menulis sesuai kebutuhan.
Twitter, misalnya, untuk menuangkan pikiran-pikiran singkat yang sering terlintas tiba-tiba.
Kalau pikiran-pikiran panjang yang perlu disampaikan, ada banyak platform blog yang bisa dipilih untuk menyampaikannya.
Wordpress ini pun spesial bagi saya, karena tak semua pemikiran saya disampaikan di sini. Blog ini saya khususkan untuk pemikiran-pemikiran yang bisa saya gunakan sebagai cermin bagi diri sendiri.
Bukan sekedar kata-kata yang terlintas saja, tapi harus punya makna. Harus ada manfaat yang bisa diperoleh dari menuliskan (atau membaca) isi blog ini.
Setidaknya, manfaat bagi saya sendiri.

Seperti yang saya tuliskan di pembuka blog ini: …media berkaca dalam putaran masa…
Ya, blog ini memang saya buat untuk itu. Sebagai media saya berkaca.
Mengingatkan tentang hal-hal yang seharusnya saya lakukan,
Mengingatkan untuk meninggalkan hal-hal yang ingin (dan harus) saya hindari,
Merekam pengalaman-pengalaman yang telah saya pelajari hikmahnya, sehingga bisa menjadi pengingat di kemudian hari.

Jadi, kalau blog ini lama nganggur, lama saya biarkan tanpa tulisan,
Boleh banget loooh saya diingatkan.
Karena bisa jadi, itu adalah saat-saat saya malas berkaca, malas berintrospeksi..
Saat-saat saya malas mengambil pelajaran dari hari-hari yang saya lalui..
Saat-saat saya butuh sekali “ditampar” dengan teguran dan nasehat. :-)

Gambar diambil di sini.

Gambar diambil di sini.

Semoga tulisan ini pun, dapat menjadi penyemangat saya untuk terus menulis! ^_^