Tepat Waktu

#27DaysWritingProject (Day 21)

Beberapa hari terakhir ini, saya mendapatkan broadcast message yang sama di 3 grup Whatsapp yang saya ikuti.
Saya tuliskan kembali di sini ya, sebelum saya tambahkan sedikit di akhir post. :-)

Pada suatu hari di awal-awal saat memulai bisnis dulu, saya ketemu masalah seperti ini:
Saya janjian dengan 3 orang di Jakarta. Saat itu posisi saya di Jogja tanpa banyak kenalan di Jakarta dan cekak banget dananya. Begini jadwalnya: Pak A janji ketemu hari Senin siang, Pak B hari Rabu pagi dan Bu C di hari Jumat sore.
Jika saya mau gampang, saya harus berangkat naik kereta Minggu malam dan menginap di Jakarta 5 hari dan pulang Jumat malam. Sayanya yang bingung: nginep di mana, biaya makannya di mana? Duh ribet, padahal janjiannya udah di-arrange lama dan posisi orang yang mau saya temui itu Boss-boss semua untuk penawaran kerjaan promosi.
Saya harus mengikuti jadwal mereka, saya tak kuasa menentukan jadwal karena saya yang butuh.

Pusinglah saya memikirkan jadwal yang mustahil itu. Sampai seminggu menjelang harinya, saya ketemu seorang teman yang ilmu agamanya lumayan.
Karena belum menemukan solusi, saya pun curhat padanya. Teman saya mengangguk-angguk lalu bertanya: “Jadwal shalatmu gimana?”

“Jadwal shalat? Apa hubungannya?” saya keheranan.
“Shalat subuh jam berapa?” tanpa menjawab pertanyaan saya, dia meneruskan pertanyaannya.
“Errr.. jam setengah enam, jam enam. Sebangunnya lah.. Kenapa?” jawab saya.
“Shalat zhuhur jam berapa?”
“Zhuhur? Jadwal shalat zhuhur ya jam 12 lah..” jawab saya.
“Bukan, jadwal shalat zhuhurmu jam berapa?” ia terus mendesak.
“Oooh, jam dua kadang setengah tiga biar langsung ashar. Eh, tapi apa hubungannya dengan masalahku tadi?” saya makin heran.

Teman saya tersenyum dan berkata, “Pantas jadwal hidupmu berantakan.”
“Lhooo.. kok? Apa hubungannya?” saya tambah bingung.
“Kamu bener mau beresin masalahmu minggu depan ke Jakarta?” tanyanya lagi.
“Lha iya, makanya saya tadi cerita…” saya menyahut.
“Beresin dulu jadwal shalat wajibmu. Jangan terlambat shalat, jangan ditunda-tunda, kalau bisa jamaah,” jawabnya.
“Kok.. hubungannya apa?” saya makin penasaran.
“Kerjain aja dulu kalau mau. Enggak juga gak papa, yang punya masalah kan bukan aku…” jawabnya.

Saya pun pamit, jawabannya tak memuaskan hati saya. Jaka sembung naik ojek, pikir saya. Nggak nyambung, Jek.

Saya pun mencari cara lain sambil mengumpulkan uang saku buat berangkat yang emang mepet. Tapi sehari itu rasanya buntu, buntu banget. Sampai saya berfikir, oke deh saya coba sarannya. Toh nggak ada resiko apa-apa.
Ternyata beratnya minta ampun. Shalat tepat waktu berat jika kita terbiasa malas-malasan, mengakhirkan pelaksanaannya. Tapi udahlah, tinggal enam hari ini.

Dua hari berjalan, tak terjadi apa-apa. Makin yakin saya bahwa saran teman saya itu tidak berguna.
Pada hari ketiga, hp berdering. Dari asisten Pak A, “Mas, mohon maaf sebelumnya. Tapi Pak A belum bisa ketemu hari Senin besok. Ada rapat mendadak dengan direksi. Saya belum tahu kapan bisa ketemunya, nanti saya kabari lagi.”

Di ujung telepon saya ternganga. Bukannya jadwal saya makin teratur, ini malah ada kemungkinan di-cancel. Makin jauh logika saya menemukan solusinya, tapi apa daya.
Karena bingung, saya pun terus melanjutkan shalat saya sesuai jadwalnya.

Di hari berikutnya, hp saya berdering kembali. Dari sekretaris Pak B, “Mas, semoga belum beli tiket yaa.. Pak B ternyata ada jadwal general check-up Rabu depan, jadinya nggak bisa ketemu. Tadi Bapak nanya bisa nggak ketemu Jumat aja, jamnya ngikut Mas.”

Yang ini saya bener-bener terkejut. Jumat? Kan bareng harinya sama Bu C?
Saya pun menyahut, “O iya, tidak apa-apa Pak. Jumat pagi gitu, jam 9 bisa ya?”
Dari seberang sana dia menjawab, “Oke Mas, nanti saya sampaikan.”

Syeep, batin saya berteriak senang.
Belum hilang rasa kaget saya, hp saya berbunyi lagi. Sebuah sms masuk berbunyi:
“Mas, Pak A minta ketemuannya hari Jumat setelah Jumatan. Jam 13.30. Diusahakan ya Mas, tidak lama kok. 1 jam cukup.”

Saya makin heran! Tanpa campur tangan saya sama sekali, itu jadwal menyusun dirinya sendiri. Jadilah saya berangkat Kamis malam, ketemu 3 orang di hari Jumat dan Jumat malam bisa balik ke Jogja tanpa menginap!

Saya sujud sesujud-sujudnya. Keajaiban model begini takkan bisa didapatkan dari Seven Habits-nya Stephen Covey, tidak juga dari Eight Habits. Hanya ALLAH yang kuasa mengatur segala sesuatu dari Arsy-NYA sana.

Sampai saya meyakini satu hal yang sampai sekarang saya usahakan terus jalani:
“Dahulukan jadwal waktumu untuk TUHAN, maka TUHAN akan mengatur jadwal hidupmu sebaik-bainya.”

Karena saya muslim, saya coba konfirmasikan ini ke beberapa teman nonmuslim dan mereka menyetujuinya. Jika dalam hidup ini kita mengutamakan TUHAN, maka TUHAN akan menjaga betul hidup kita. TUHAN itu mengikuti perlakuan kita kepadaNYA. Makin disiplin kita menyambutNYA, makin bereslah jadwal hidup kita.

Jadi, kunci sukses bisnis yang saya bisa share ke teman-teman:
“Shalatlah tepat waktu, usahakan jamaah. Jika mau lebih top, tambahi shalat sunnahnya: qabliyah, ba’diyah, tahajjud, dluha, semampunya.”

Silakan dipraktekkan. In syaa ALLAH jadwal kehidupan kita (baik bisnis, keluarga maupun personal) akan nyaman dijalani.
Sampai hari ini, saya belum pernah berdoa lagi untuk menambah 24 jam sehari menjadi lebih banyak jamnya. 24 jam sehari itu sudah cukup, jika kita tidak hanya mengandalkan logika untuk mengaturnya. Tidak kemrungsung, tidak buru-buru tapi tanggung jawab terjalani dengan baik.

Jika suatu hari saya menemukan jadwal saya kembali berantakan, banyak tabrakan waktunya atau tidak jelas karena menunggu konfirmasi terlalu lama: segera saya cek jadwal shalat saya. Pasti di situlah masalahnya dan saya harus segera bereskan sehingga jadwal saya akan teratur lagi sebaik-baiknya.
Seperti teman-teman sekalian, istiqomah alias konsisten menjalankan ini tentu banyak godaannya. Jadi memang harus tough, kuat menjalaninya, jangan malas, jangan cengeng! :-)

————————————————————-

Usai membaca tulisan tersebut, mau nggak mau saya merasa tertampar. Tersindir. Merasa dipaksa untuk ngaca dan bertanya pada diri sendiri:

Apa kabar jadwal shalatmu, Zulfah?
Tak cukupkah jadwal-jadwal hidupmu yang terasa tak tepat waktu itu menjadi peringatan tersendiri?
Jadwal penyelesaian tesis yang tak juga ada ujungnya?
Jadwal pertemuan pekanan yang beberapa kali terbengkalai karena sulitnya membagi waktu?
Jadwal kajian-kajian yang terabaikan karena alasan ini-itu?
Jadwal mimpi-mimpi yang belum juga terwujud? Menjadi istri? Menjadi ibu?
Jadwal kontribusi positif untuk masyarakat dan peradaban Islam?

Apa kabar jadwal-jadwal hidupmu?
Sampai kapan kaubiarkan jadwal shalatmu yang tak tepat waktu membuat segala visi hidupmu menyusul tak tepat waktu?

…Seberapa tepat waktu kautuju mimpi-mimpimu, tergantung seberapa tepat waktu kauambil wudlu dan menyempurnakan rakaat saat azan memanggilmu…

Wallaahu a’lam bishawab.

Pertemuan Tanpa Rencana

#27DaysWritingProject (Day 20)

Waktu ke Bandung kemarin, kami menyempatkan mampir ke satu tempat yang juga spesial, Daarut Tauhiid.
Beberapa kali menghabiskan liburan masa kecil dengan pesantren kilat di sana, lalu ikut program Bimbingan Intensif Muslimah selama 40 hari (saya dan kakak), dan mamah yang juga sempat ikut program Bimbingan Muslimah Masa Keemasan di sana, membuat tempat ini memiliki porsi sendiri di hati-hati kami. :-)

Kalau kemarin, niat awalnya ke sana sih karena mamah-bapak mau cari-cari buku. Biasanya, di DT suka dijual buku-buku kecil ringan sarat manfaat yang mamah suka baca. Sekalian mampir karena memang searah dengan jalan kami menuju Cirebon.

Karena niatnya hanya sekedar mampir ke SMMnya (Super Mini Market, mini market depan masjid DT), kami sama sekali nggak meniatkan bertemu siapapun. Mamah dan bapak sudah lebih dulu masuk ke bagian buku-buku, sementara saya dan adik saya malah sibuk memilih-milih manset dan kaos kaki di kios sampingnya. Hehee.. :-D

Selesai belanja manset dan kaos kaki, kami pun menyusul mamah-bapak ke dalam SMM. Di pintu masuk, tiba-tiba saya melihat seseorang yang sangat saya kenal tapi sudah lamaaaa sekali tidak ketemu. Terakhir ketemu ya jaman saya SD belasan tahun lalu. Maa syaa ALLAH, saya ketemu Bu Ami!! :-)

Berfoto sejenak sebelum masuk SMM. Maafkan kekucelan muka saya. Hehee.. :-D

Berfoto sejenak sebelum masuk SMM. Maafkan kekucelan muka saya. Hehee.. :-D

Beliau adalah wali kelas pertama saat saya pindah sekolah ke SD Salman Al Farisi. Berdua dengan Pak Askus (Pak Asep Kusnawan), keduanya adalah “ayah-ibu” yang luar biasa baik dan sering saya repotkan dengan kebiasaan ngompol saat masuk kelas 2 SD dulu. Hehee.. :-D
Hal istimewa lain dari Bu Ami yang sangat saya ingat adalah rendang! :-) Karena beliau asli Padang, beberapa kali beliau memasakkan rendang untuk murid-muridnya di kelas, menambah spesial menu makan siang kami.

Alhamdulillaaah.. meskipun tidak sempat bersilaturahim ke sekolah tercinta di Tubagus Ismail VIII itu, ALLAH masih menyempatkan saya bertemu salah satu guru terbaik tanpa disengaja. Senaaaaang sekali rasanya!
Memang yaa.. pertemuan yang tidak direncanakan semacam ini pasti meninggalkan kesan yang tak biasa. :-)

Moga di kesempatan lain, saya bisa bersilaturahim dengan guru-guru lain yang juga sangat saya rindukan. Aamiin. :-)

Bandung: Saat Tak Lagi Ada Kata Pulang ke Kampung Halaman

#27DaysWritingProject (Day 20)

Wah, sudah 5 hari absen blogging nih.. padahal masih dalam rangka self challenge #27DaysWritingProject.
Hwaaa.. maafkan karena ternyata saya belum bisa konsisten yaa, teman-temiiiiin..!! :-)
Halah! Kayak ada yang merhatiin ajaa.. :-P

Jadi, dalam beberapa hari ke depan saya akan berusaha bayar utang-utang ngeblog nih..
Mudah-mudahan saat purna 27 hari projectnya, minimal ada 27 post yang saya tuliskan. Aamiin. :-)

————————————————————

Selama beberapa hari kemarin, saya mengunjungi Bandung. Satu-satunya kota yang hingga saat ini masih saya akui sebagai kampung halaman. Sedihnya, saat ini berada di Bandung adalah kesempatan yang tergolong langka. Jaraaaang sekali bisa saya lakukan.
Rumah yang saya tinggali sejak kecil di daerah Antapani sana sudah sekitar 2 tahun lalu resmi dijual. Lama sebelum itu pun, terhitung sejak saya sekolah berasrama di Tangerang dan orang tua pindah kerja ke Makassar, rumah tersebut dikontrakkan. Beberapa kerabat dekat yang awalnya tinggal di Bandung pun sekarang sudah pada pindah ke kota lain.
Resmi sudah. Sejak sekitar sepuluh tahun lalu, tak ada lagi kata pulang ke kota kelahiran itu. :-(

Saya ingat sekali. Keputusan menjual rumah di sana pun berat sekali diambil. Wacananya sih sudah bertahun-tahun lalu. Ditunda sekian lama karena berbagai pertimbangan, terutama karena itu adalah kampung halaman saya dan adik, yang sejak kecil lahir dan besar di sana. Melepaskan rumah itu, seperti merelakan berbagai memori di dalamnya lenyap.
Tapi mau gimana lagi?
Memelihara rumah di sana, sementara kemungkinan untuk kembali tinggal di sana semakin tipis saja setiap detiknya, membuat kami akhirnya merelakan rumah itu dan semakin meresmikan diri menjadi warga Jogja.

Maka, ketika kemarin akhirnya saya dan adik saya mendapatkan alasan untuk kembali ke sana, meski hanya dua hari, membuat kami bahagia luar biasa. :-)

Begitu menginjakkan kaki di kota tercinta dan mendengar orang-orang sekitar bicara dengan logat Sunda, refleks saya bergumam. “Aaah, rasanya seperti pulang!” :-)
Lebay kali yaa.. Tapi sungguh, saya sangat merindukan kota itu.

Dua hari di Bandung setelah sekiaaaaaaaan lama tidak ke sana membuat kami seperti wisatawan luar kota yang belum pernah mengunjungi Bandung. Tata kota dan bangunan-bangunan yang sudah jauh berubah, alur lalu lintas yang tampak berbeda dengan banyaknya one-way, membuat kami tak berhenti culang-cileung ke luar jendela mobil sepanjang jalan. Hehee..

Karena cuma dua hari di Bandung dan niatnya bukan jalan-jalan, agenda jalan-jalannya kami fokuskan ke nostalgia kuliner masa kecil. Heu.. Dua kali sarapan di 2 bubur ayam favorit jaman dahulu kala dan sekali makan malam di kedai baso andalan saja sudah membuat kami senang. Sayangnya belum sempat kembali mencicipi ayam goreng langganan (yang entah sekarang masih ada atau tidak) karena keterbatasan waktu.

Sarapan hari pertama kami lakukan di bubur ayam depan kantor Telkom Lembong.
Jadi, karena mamah dulu lama kerja di sana dan kami pas kecil sering ikut ke kantor, bubur ayam itu sering jadi sasaran sarapan pagi. Mamangnya aja masih hafal sama mamah pas kemarin kami ke sana. Dikasih diskon pula sama mamangnya! Hehee.. :-D Sekarang sih jualannya udah dibantu sama anaknya, meskipun wujud gerobaknya masih sederhana a.k.a. gitu-gitu aja.
Kenapa buryam satu ini jadi favorit? Selain karena alasan pertama tadi, bubur ayamnya emang enak. Setidaknya pas dengan selera keluarga kami. Porsi oke, lengkap dengan irisan cakwe, ati-ampela, telur, dan pastinya potongan ayam yang besar-besar dan banyak! :-)

Bubur ayam di hari kedua adalah bubur ayam H. Udin dan H. Lili di Jl. Purwakarta Antapani.
Nah, kalau yang ini langganan kami tiap pekan jaman kecil dulu. Dulu, hampir tiap Sabtu atau Ahad kami sekeluarga sesepedahan keliling kompleks. Biasanya muterin Antapani, terus ke Arcamanik, balik lagi ke Antapani. Sebelum pulang ke rumah, pasti kami mampir dulu makan bubur ayam di sana. :-)
Yang bikin buryam ini spesial adalah karena di mejanya disediakan irisan daun bawang yang buanyaaaaak! Jadi, kami bebas ngambil daun bawang sepuasnya. Isinya pun lengkap dengan cakwe, ati-ampela, telur, dan ayam seperti buryam Bandung pada umumnya.
Tapi, terakhir ke sana kemarin itu sepertinya kualitasnya menurun dibanding jaman dahulu kala. Ati-ampelanya makin kecil-kecil, irisan ayam dan porsi buburnya pun makin sedikit. Mungkin karena harga kebutuhan pokok semakin meningkat dan penjualnya mempertahankan harga kali yaa.. :-)
Selain alasan tadi, ada satu lagi yang bikin buryam ini nyangkut banget di ingatan kami. Namanya mirip kedua orang tua kami, Pak Qoharuddin dan Ibu Lilik. Hehee.. :-D

Wajah-wajah bahagia menginjakkan kaki di kota kesayangan. :-)

Wajah-wajah bahagia menginjakkan kaki di kota kesayangan. ^_^

Hmm.. Rasanya kalau ke Bandung, berapa lama pun tak akan pernah cukup.
Terlalu banyak tempat-tempat kenangan yang ingin kami datangi, terlalu banyak teman dan guru-guru tersayang jaman TK-SMP dulu yang ingin kami temui.
Dulu saya sempat berharap dapet suami orang Bandung aja, biar ada alasan “pulang” ke kota itu. Hehee..
Sekarang sih saya hanya berharap dilancarkan rizqi dan kesempatan agar bisa sering-sering ke sana lagi. Semoga. Aamiin. :-)

Demi Sehat, Bukan Demi Kurus!

#27DaysWritingProject (Day 14)

Lagi-lagi dalam rangka bayar utang karena kemarin absen tulisan, hehee.. :-D
Mudah-mudahan ke depannya semakin konsisten menulis one day one post. Aamiin. :-)

———————————————————-

Karena di postingan saya tentang angkat galon kemarin ada yang komentar tentang olahraga, saya jadi kepikiran: “Kapan terakhir kali saya olahraga?”
Kapan terakhir kali saya lari pagi?
Sudah berapa lama dumbell, tali skipping dan sepeda statis di rumah nganggur?
Sudah berapa lama aplikasi daily workout di android tidak difungsikan?
Sudah berapa Rabu dan Jum’at saya lewatkan tanpa renang?

Hmm.. sepertinya sudah lamaaaaa sekali.
Sejak berat badan kembali stabil dan angka timbangan tidak membuat was-was lagi, sepertinya saya mulai berhenti rutin berolah raga. :-(

Padahal, dulu saya ini sangat menyukai olahraga. Sejak kecil rutin main bulutangkis, dan sampai akhir masa SMA (MAN wooooiii, MAN..!!) saya hobi sekali main basket.
Sejak awal kuliah S1, mulai beralih ke renang. Sesekali senam, dan hampir tiap hari rutin lari atau skipping. Latihan dumbell yang paling favorit.
Semakin banyak aktivitas di kampus membuat saya semakin jarang berolah raga. Belum ditambah alasan-alasan seperti kelelahan, kondisi kesehatan nggak oke, dan lain-lain.
Resmilah saya semakin meninggalkan kebiasaan berolah raga.

Sampai akhirnya timbangan menunjukkan angka yang cukup fantastis! Well.. setidaknya untuk ukuran keluarga kami.
Keluarga kami tergolong bertubuh kecil-kecil dan susah gemuk sejak lahir. Jadi, karena dulu saya ingin sekali punya tubuh yang agak berisi, mulailah saya makan dan minum sesukanya. Banyak dan nggak kenal waktu. Semakin malam, semakin banyak cemilannya. Hehee..
Eh, ternyata treatment itu kebablasan! Jadilah saya kelebihan 4 kilo dari berat badan ideal (versi saya.. :-) )
Nah, saat itulah saya bersemangat diet kecil-kecilan dan kembali rajin olahraga.
Jeleknya, setelah berat badan kembali stabil, kebiasaan olahraganya kembali hilang. :-(
Nggak lucu kan, kalau hanya mengandalkan ngangkat-ngangkat galon sebagai olahraga harian?

Hmm.. mudah-mudahan postingan ini bisa jadi self reminder untuk kembali rutin olahraga.
Demi sehat, bukan demi kurus!! :-)
Berasa juga sih.. sejak jarang olahraga, tubuh lebih sering nggak fit, perut lebih sering buncit, dan lebih sering kelelahan meskipun aktivitas sedikit.

Bismillaaah.. mari kembali rutin berolah raga!
Semangaaatt..!! :-)