Jadi Anak Tunggal?

Menghitung hari..
Dua hari menjelang keberangkatan kembali ke Jogja. Kembali ke rutinitas semula yang selama meliburkan diri ditinggalkan sejenak.
Dua hari menjelang kembali ke dunia “nyata”. Berjuang dengan penelitian tesis, mengurus kos titipan Mamah yang kedatangan penghuni-penghuni baru di tahun ajaran baru, bantu Mamah-Bapak-Abang jagain kakak yang lagi hamil enam bulan, etc…etc…
Kembali berpisah rumah dengan Mamah-Bapak. :-(

Kalau dulu sih yaa.. mungkin rasanya tak akan seberat ini.
Dulu, waktu komunikasi dengan Mamah-Bapak tak sebaik ini.
Dulu, waktu saya masih sebegitu tertutupnya terhadap anggota keluarga sendiri.
Dulu, waktu saya masih jauh lebih menikmati “kesendirian” di Jogja tanpa pantauan Mamah-Bapak.

Sekarang rasanya jauh berbeda.
Kepulangan saya ke Cirebon pun, ditambah memperpanjang waktu stay di sini memang saya rencanakan sejak jauh hari karena saya ingin berlama-lama menghabiskan waktu dengan Mamah-Bapak. Membayar hutang “ketidakhadiran” saya selama ini sedikit demi sedikit.
Biasanya kalau Lebaran kami lebih banyak ngumpul di rumah Jogja, karena toh keluarga besar Mamah biasanya ngumpul di Solo, nggak jauh dari Jogja.
Tapi kali ini lain. Saya ingin lebih lama menghabiskan waktu dengan mereka. :-)

Liburan Ramadhan-Syawal ini, bisa dibilang saya lebih sering jadi anak tunggalnya Mamah-Bapak.
Gimana enggak? Kumpul lengkap sama adik, kakak dan abang ipar cuma pas Lebaran hari ke-4. Kumpul berempat sama adik cukup lama sih..dari H-1 Lebaran sampai H+5. Selebihnya, sejak H-5 sampai dua hari ke depan saya lebih sering cuma bertiga sama Mamah-Bapak. :-)

Kalau dulu nih yaa.. saya nggak mungkin betah berlama-lama dengan mereka. Yang ada malah canggung. Nggak banyak yang bisa dilakukan dengan nyaman. (Terutama) di masa-masa saya pacaran dan (selalu) backstreet, saya lebih sering diam kalau bareng mereka. Yaa.. namanya juga nyembunyiin sesuatu, pasti nggak berani banyak cerita secara terbuka, takut keceplosan. Apalagi, selalu ada rasa nggak nyaman yang menyertai.

Sekarang, 24 jam sehari rasanya kurang.
Liburan di Cirebon ini memang saya rencanakan untuk banyak belajar dari mereka. Banyak belajar masak dari Mamah, dan belajar nyetir mobil sama Bapak. Tapi di luar itu, yang terpenting adalah belajar hidup dari mereka.

Jadi anak tunggal mereka kali ini, membuat saya semakin menyadari satu hal: Betapa ALLAH Maha Baik me”minjam”kan saya orang tua sebaik mereka..
..yang hampir tak pernah absen bangun malam untuk shalat..
..yang selalu merasa ada yang miss kalau meninggalkan shalat dhuha di pagi hari..
..yang (hampir) selalu punya jawaban tiap kali saya bertanya soal (ilmu) agama..
..yang selalu mengajarkan dan membiasakan hidup secukupnya dan jauh dari kata mewah, tapi selalu punya simpanan untuk pendidikan/kesehatan anak-anaknya..
..yang selalu sederhana dalam keseharian, tapi selalu punya sesuatu untuk diberikan pada orang lain yang membutuhkan..
..yang sangat peduli pada kondisi ketiga putrinya yang tinggal jauh dari mereka..

Mamah..
..yang nggak pernah absen dzikir pagi-sore..
..yang nggak pernah balas menaikkan suaranya dan hanya diam saat saya kesal dan meninggikan suara padanya..
..yang sering tidur larut karena masih asyik membaca tafsir, atau menyiapkan materi kajian untuk ibu-ibu kompleks..
..yang hingga kini masih menjadi sosok istri dan ibu panutan luar biasa di mata saya..

Bapak..
..yang telah banyak sekali menurunkan egonya dan berubah dari Bapak yang dulu sering mendahulukan emosi dan keinginannya, menjadi Bapak yang lebih mendahulukan “suara” istri dan anak-anaknya..
..yang tak pernah ragu meminta kritik dari istri dan anak-anaknya..
..yang selalu penuh persiapan kalau untuk urusan istri dan anak-anaknya..
..yang hingga kini masih menjadi sosok imam keluarga ideal dan luar biasa di mata saya..

Alhamdulillaah I have them. :)

Alhamdulillaah I have them. :)

Menjadi anak tunggal mereka kali ini, rasanya apapun yang saya lakukan tak akan mampu membalas segala kebaikan mereka.
Semoga ALLAH selalu menjaga mereka dengan penjagaan teristimewa-NYA.
Semoga ALLAH selalu memberikan yang terbaik dan membalas berjuta kebaikan mereka berkali-kali lipat! :-)

 

ALLAH, izinkan aku untuk terus berupaya menjadi yang terbaik bagi mereka..–

About these ads

4 thoughts on “Jadi Anak Tunggal?

  1. Saya terharu membacanya, bahkan hingga bagian terakhir.
    Semoga kita senantiasa bisa menjadi manusia-manusia yang berbakti pada orangtua, hingga akhir hayat (walaupun tidak kuasa membalas) namun dapat membahagiakannya.

    • Aamiin..
      Mari sama2 berupaya terus men-shalihat-kan diri dan tak henti mendoakan mereka, agar kelak bisa menjadi sumber pahala yg terus mengalir hingga ke surga. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s