Dear Akhwat Single…

nzulfah:

:-)

Originally posted on So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?:

head band flowers

Dear akhwat single…

Tahukah kalian?

Ikhwan-ikhwan genit banyak menjaring mangsa di sosial media.

Mereka bersembunyi di balik kata-katanya yang manis dan membius..

Mereka menebar pesona di balik nasehat-nasehat sarat ilmu dan hikmah..

Mereka merayu dengan janji-janji yang membuai dan melenakan..

“I love you for the sake of Allah, yaa ukhty.. Inginku, kau jadi bidadari yang mendampingiku, di sepanjang hidupku..”

Waspada yaa ukhty, jangan kalian terpedaya. Jerat itu kadang tak terlihat.

Berawal dari kekaguman, saling like, saling retweet, saling mention.. Berlanjut ke DM atau inbox. Pembicaraan yang sifatnya private dan tertutup.

Ikhwan sejati teguh menjaga kehormatannya, dimanapun ia berada, hatta di dunia maya.

View original 116 more words

Say Cheese..!! ^_^

Beberapa hari lalu, saya mengunjungi salah satu toko alat tulis legendaris (halah! Lebay..) di Jogja. Nggak perlu saya sebut merek, orang Jogja sih pasti tau lah yaa toko terkenal di daerah Gejayan ini. Heheee.. :-D

Nah, ceritanya saya mau beli cartridge baru karena cartridge saya yang tinta warna udah uzur, udah 12 kali isi ulang dan kata mbak-mbak Vene*a kemaren sih headnya rusak, tintanya masih banyak tapi udah nggak mau keluar.
Jadi lah saya ke toko ini, lalu nanya sama mbak pramuniaga yang jaga counter cartridge dkk., “Mbak, saya cari cartridge buat Canon IP ****.. ada?” Perlu digarisbawahi, tiap kali beli-beli gini dan ngomong sama penjual, saya selalu pasang tampang ramah dan senyum. Noted! :-)
Lalu si mbak dengan tampang jutek nggak ada senyumnya sama sekali, nyebutin jenis tinta yang (mungkin) saya maksud, “Nomer (sekian) dan (sekian).”
“Itu beda di kapasitasnya ya, mbak?” masih dengan senyum dooong saya tanya sama si mbak cantik tapi jutek ini.
Si mbak cuma ngangguk.
“Yang kapasitasnya lebih gede aja deh mbak.. bisa saya liat dulu? Harganya berapa ya?” saya masih sambil senyum, sodara-sodaraaaa..!!
Si mbak nyodorin cartridge item, nyebut harga, dan masih setia dengan tampang nyebelinnya.
“Oh, maaf maksud saya yang cartridge warna mbak, bukan yang item. Ada?”
Si mbak tampangnya makin jutek, mungkin sebel karena saya kurang jelas nyebut pesanan saya dari awal. Lalu nyodorin cartridge warna, “Yang warna beda harga, lebih mahal.” Dia nyebutin nominal harganya.
“Ya udah mbak, yang ini aja. Pake nota yaa?” masiiiih dengan senyum saya ngomong sama si mbak.
Si mbak cuma ngambil cartridge yang mau saya beli, lalu nulis nota. Masih betaaaaahhh banget dengan muka jutek bin nyebelin yang nggak ada senyum-senyumnya sama sekali itu.

Saya nungguin si mbak nulis nota sambil mencoba tetep sabar. Kalau ngikutin emosi sih yaa, pengen deh rasanya ngomelin si mbak atau bahkan nonjok muka nyebelinnya. Asli! Bikin emosi banget liatnya!
Saya noleh ke kiri. Adik saya yang ikut nemenin saya keliatan sebel juga. Raut mukanya mulai berubah keliatan sebel banget sama si mbak. Adik saya ini emang seringkali lebih ekspresif “menyuarakan” suara hatinya. Tipe yang nggak gampang nyembunyiin perasaannya. Saya bisikin aja. “Sabar Neng, si mbaknya laper kali belum makan. Hehee.. Emang nyebelin banget sih yaa mukanya..” Sekedar untuk saling meredakan emosi masing-masing. :-)

Kejadian macem ini.. ketemu sama mbak-mbak atau mas-mas pramuniaga atau bahkan owner toko yang pasang tampang jutek kayak gini tu bukan pertama kali, dan bukan hanya satu-dua kali saja. Bahkan, pasti bukan cuma saya aja kan yaa yang pernah ngalamin hal kayak gini?

senyum

Gambar diambil dari sini

Di lain waktu, saya pun pernah mengalami hal yang serupa dengan mbak-mbak pramuniaga toko di sekitar jakal yang bikin saya emosi. Waktu itu saya beli lampu Phil*ps dan percakapan yang terjadi kayak gini:
Saya: “Biasanya ada garansinya kan, mbak?”
Si mbak: “Nggak tau.” (mukanya sama sekali nggak ngeliat saya, nunduk sambil terus nulis nota dan tampang jutek luar biasa)
Saya: “Ini lhooo ada tulisannya ada garansi 1 tahun (sambil nunjukin tulisan yang jelas-jelas tertera di kemasannya).”
Si mbak: “Itu dari Phil*psnya, bukan sini.” (masih cuek, tetep nggak ngeliat muka saya)
Saya: “Terus kalau kenapa-kenapa saya tukernya ke mana, mbak?”
Si mbak: “Nggak tau.”
Saya: “Biasanya sih ya mbak, kalau beli lampu gini yang tanggung garansi ya tokonya. Jadi kalau lampunya rusak, saya bisa tuker ke toko nanti sambil bawa nota. Saya kan urusannya sama toko, toko yang punya urusan sama Phil*psnya langsung. Gitu bukan, ya?”
Si mbak: “Nggak tau.”
Saya: “Lah, terus kalau di sini biasanya gimana? Saya pernah beli di toko ini juga lhoo yang di Gejayan. Caranya gitu, tinggal bawa notanya aja.”
Si mbak: “Nggak tau.”

(Ampun deeeeh.. saya nggak bisa sabar lagi. Akhirnya saya ngomong….)

Saya: “Mbak, lain kali tanya ya sama supervisornya. Masa’ mbak jaga di sini nggak ngerti apa-apa ditanya sama pembeli. Terus kalau diajak ngomong pembeli tu liat mukanya!” (dengan nada agak tinggi)

Baru deh tu si mbak ngangkat mukanya ngeliat muka saya, agak gelagapan terus bilang “Iya.”

Sekali lagi, perlu digarisbawahi, sebelum kalimat saya yang terakhir, saya ngomongnya ramah banget dan pake senyum. Noted!!

Saya sampai emosi sama si mbak bukan karena dia nggak tahu apa-apanya, tapi karena sikapnya yang menurut saya nggak pas ke pembeli. Bukannya saya minta dihormati berlebihan atau gimana sih sebagai pembeli. Atau saya pengen dianggep raja karena katanya “Pembeli adalah Raja”. Tapi please deh yaa.. senyum aja cukup kok. Meskipun misalnya jawabannya tetep nggak tahu, nggak ngerti, atau semacemnya, lawan bicara akan merasa lebih nyaman dan bisa nerima kalau jawabnya pake senyum. Bener nggak? :-)

Lagian nih yaa.. kalau dipikir-pikir, sebenernya energi yang kita pakai buat marah-marah atau sekedar pasang tampang jutek itu jauh lebih besar lhooo daripada energi yang dipakai buat (maksain) senyum. Lebih “adem” buat diri sendiri, dan bikin orang lain di sekitar kita lebih nyaman.
Buat selfie aja pada suka pasang tampang ramah dan penuh senyum luar biasa, masa’ pas berinteraksi sama orang lain susah banget berbagi senyum? :-P

Yuk ah, belajar untuk lebih menghormati orang lain yang berinteraksi dengan kita. Nggak perlu repot-repot bersikap berlebihan, cukup selipkan senyum ketika menyapa atau berbicara. Atau kalaupun nggak senyum, paling tidak jangan pasang tampang jutek atau nggak bersahabat. Ini jangan malah diartikan anjuran buat tepe-tepe alias tebar pesona ke mana-mana yang nggak semestinya juga loh yaa.. Hehee.. :-D

Gambar diambil dari sini

Gambar diambil dari sini

Selamat berlomba menebar kebaikan.. :-)

Wallaahu a’lam bishawab.

Jerat-Jerat Fitnah Dunia Maya

nzulfah:

#selfreminder

Originally posted on So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?:

love on the internet

Kemarin siang ketika membuka beranda Facebook, saya menemukan sebuah nasehat yang sangat bagus dari seorang kawan. Bunyinya kurang lebih seperti ini..

“Sudah berulang kali dibahas, dumay itu bagai pisau bermata dua. memisahkan yang bersisian, atau menyatukan jarak antara seberang lautan. bisa juga mencerai beraikan cinta kasih, atau menyatukan yang telah lama tidak berjumpa.

Akhwat fillah, mudah2an antunna bisa menjaga diri dari itu semua. menjaga muru’ah antunna, tidak bermudah mudah saling menyapa lawan jenis antunna, atau komen genit antunna. Karena bahkan hanya dengan tulisan antunna, para ikhwan itu bisa membayangkan bagaimana antunna.

Jaga hati antunna, jaga cadar antunna, jangan ketika di jalan tertunduk malu, memilih jalan terpisah jauh memutar daripada harus bersisian jalan dengan para ikhwan itu, atau memilih berdiri di bis daripada antunna harus duduk bersebelahan dengan para ikhwan itu.

Tapi di dumay, antunna umbar kata2 manis, foto2 bercadar antunna, menerima setiap pertemanan ikhwan atau bergaul dengan leluasanya.

Akhwat itu fitnah…

View original 1,258 more words

Tips Menghafal Al Qur’an Dalam Waktu X Tahun – Bagian 5/5: Tactics and Technical Stuffs

nzulfah:

Great post nih!
Tips oke buat yang akan memulai, sedang, dan akan terus menghafal Qur’an.. :-)

Originally posted on ollooo..:

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

Jreng!!!!!!!! (seriously, I have to find another sound effects for the opening of my article. X_x) Jumpa lagi sama saya di bagian yang ke-5: Tactics and Technical Stuffs. Di bagian ini saya akan berbagi tips tentang cara menghafalkan Al Qur’an yang saya lakukan. Mungkin (sejujurnya kemungkinan besar) ini bukan cara terbaik untuk menghafalkan Al Qur’an di luar sana, akan tetapi saya memilih untuk menjalankan metoda ini karena metoda ini relatif nyaman untuk saya yang punya keterbatasan di bahasa Arab dan (mirisnya) waktu. Dan alhamdulillah dengan menjalankan metoda ini, saya juga bisa menyerap seoptimal mungkin (dengan segala keterbatasan saya tentunya) kandungan dari Al Qur’an.

I – PREREQUISITE / PRASYARAT

Menurut saya pribadi, ada 2 buah persyaratan yang wajib untuk kita penuhi pada saat kita ingin menghafalkan Al Qur’an:

  1. Pastikan kita sudah bisa mengenali dan membaca huruf dan rangkaian kata Al Qur’an dengan baik.
  2. Pastikan kita sudah…

View original 4,419 more words