Memaafkan Masa Lalu, Memaknai Hijrah Seutuhnya

Beberapa waktu lalu seorang kawan lama menemui saya dan berkata, “Zulfah, ****** (menyebutkan nama seseorang, yang tak lain adalah mantan pacar saya. Astaghfirullaahal’azhiimAmpuni saya Yaa ALLAH.. :’( )sekarang pacaran sama ***** yaa? (menyebutkan nama salah seorang teman yang juga saya kenal).”
Saat itu saya cuma tersenyum dan bilang, “Aduuuh.. nggak tau yaa. Hehee..”
Lalu dia tanya lagi, “Emang udah nggak pernah kontakan yaa sama kamu? Kamu nggak penasaran, gitu? Nggak pengen tau kabarnya dia sekarang?”
Lagi-lagi saya tersenyum dan cuma bisa menjawab dalam hati, “Ya kalaupun kontakan ya nggak ngomongin itu lah yaa.. Buat apa juga saya kepo-in hal-hal macem gitu?”

Itu bukan pertama kalinya saya ditanya tentang hal serupa. Mantan pacar yang punya pacar lagi?
Saya bukan sama sekali tak peduli. Jujur, selalu ada kesedihan terselip di hati saya kalau dengar itu.
Bukan sedih karena patah hati sejadi-jadinya gara-gara dia udah bisa move on, trus punya pacar dan kehidupan baru loh yaa..
Bukan sedih karena dia udah “laku”, sementara saya masih betah jadi single happy. Hehee.. :-D
Saya sedih karena itu berarti saya tak cukup bisa menjelaskan alasan saya berhenti memilih pacaran sebagai jalan hidup.
Saya sedih karena itu berarti saya tak cukup mampu membuatnya mengerti bahwa pacaran itu salah.
Saya sedih karena itu berarti saya tak berhasil mengajak dia yang dulu pernah menjadi orang terdekat saya untuk merasakan nikmatnya mengharap cinta ALLAH saja.

Masih kuat di ingatan saya, kata-kata saya yang mengawali berakhirnya masa pacaran saya dengan dia waktu itu.
“Pernah kepikiran nggak, kalau pas kita pacaran… misalnya lagi nonton bareng nih, atau lagi ke pantai berdua aja, terus tau-tau ALLAH nyabut nyawa kita? Terus mati deh kita. Kita pasti masuk neraka kan yaa? Nggak mungkin ke surga?
Pertanyaan sederhana dari mulut saya waktu itu yang membawa saya dan dia pada pemikiran yang lebih jauh.
Bahwa sebenernya kita sama-sama tahu bahwa apa yang kita jalani (pacaran) itu salah. Dosa. ALLAH nggak suka. Bahkan dilarang.
Hingga akhirnya pemikiran-pemikiran itu membuat kita mengakhiri pacaran saat itu (Alhamdulillaahirabbil’aalamiin).

diambil dari timeline photos-nya Page Hijab Alila

diambil dari timeline photos-nya Page Hijab Alila

Sejak berhenti pacaran, saya banyak belajar membenahi diri.
Mulai kembali merenovasi diri yang sudah terlalu banyak cacatnya.
Mulai kembali mendekat pada sahabat-sahabat shalihat saya, yang dulu sempat saya tinggalkan karena malu dan merasa nggak pantas.
Mulai menghadiri kajian-kajian keislaman yang semasa pacaran saya tinggalkan dengan alasan nggak ada waktu. Padahal sebenernya sih karena seringnya saya malu dan tersindir dengan dosa-dosa saya kalau denger materi kajian. Hehee… :-D

Tau nggak? Bahwa hingga saat ini, pernah pacaran tu masih saja meninggalkan berjuta penyesalan yang tak pernah habis saya tangisi.
Se-islami-islami-nya pacaran, tetep aja isinya dosa. Nggak ada berkahnya sama sekali.
Seminimal-minimalnya kontak antara lawan jenis dalam pacaran, selalu ada zina hati dan pikiran yang terlintas hampir di tiap detik, dan sedikit demi sedikit memenuhi hati dengan gumpalan hitam bernama dosa.

Saya bersyukur ALLAH menyadarkan saya untuk berhenti berupaya menjemput cinta dengan cara yang IA tak suka.
Saya bersyukur ALLAH mengingatkan saya untuk mulai berupaya menjemput cinta dengan cara mencintaiNYA dengan lebih sempurna.
Dan saya bahagia. :-)

Tapi bagaimanapun, penyesalan itu menyakitkan.
Saya sendiri hingga kini belum bisa move on dari rasa sakit setiap mengingat masa-masa pacaran saya.
Mengingat betapa banyak waktu terbuang percuma untuk sekedar ngobrol atau telfonan sama pacar, padahal harusnya waktu itu bisa dipakai buat special date sama ALLAH.
Betapa setiap bangun tidur, yang teringat adalah ambil HP dan membangunkan pacar… padahal harusnya segera berdoa, ambil wudhu dan shalat fajar.
Betapa banyak waktu terbuang untuk nonton berdua, jalan-jalan berdua… tanpa tersisa waktu untuk sekedar hadir ke majelis ta’lim sekali sepekan.
Betapa minimnya komunikasi dengan orangtua karena malu dan takut ketahuan pacaran, malah justru intens sekali komunikasi dengan pacar.
Betapa banyaknya angan-angan tentang masa depan dengan si pacar, sampai terlupa bahwa masa depan sesungguhnya adalah surga atau neraka.
Betapa banyaknya waktu yang dihabiskan untuk menumpuk dosa…
Betapa tak tersisanya waktu untuk mengisi tabungan pahala…
Astaghfirullaahal’azhiim. :’(
Dan hingga kini, saya masih sangat keras berupaya memaafkan masa lalu saya sendiri, untuk fokus hijrah ke arah masa depan yang lebih baik.

Kalau menurut buku Jodoh Dunia Akhirat-nya Fufu sama Canun (ada yang pernah baca?), mungkin salah satu alasan kenapa saya masih belum dipertemukan dengan jodoh saya hingga saat ini adalah karena saya belum juga selesai di tahap cleansing. Belum tuntas saya memaafkan masa lalu saya, sehingga belum siap menjemput masa depan. :-(

 

“Kamu kenapa sih nggak pacaran lagi aja? Gimana mau dapet jodoh kalau milih single terus?”
“Padahal kalau kamu mau pacaran lagi, pasti kamu udah nikah deh sekarang..”
“Nggak sepi tuh hidup kamu, betah amat sih jadi jomblo?”
“Lo sok-sok-an deh. Bilang mau jemput jodoh dengan jalan nggak pacaran, buktinya sampai sekarang lo belum nikah juga?”

Beberapa ucapan teman-teman yang pernah mengenal saya sebagai orang yang punya prinsip pacaran untuk menikah.
Dan lagi-lagi, saya tersenyum.

Saya yakin kok, ALLAH sudah menyiapkan seseorang untuk jadi imam saya suatu saat nanti.
IA jauh lebih tahu siapa, dan kapan waktu terbaik untuk menyatukan kami kelak.
IA jauh lebih tahu kapan saya sudah pantas untuk menjadi seorang istri,
pun kapan jodoh saya sudah pantas menjadi suami saya.
Jelas-jelas ALLAH melarang pacaran. Maka sudah pasti, jodoh terbaik saya hanya bisa dijemput bukan dengan jalan pacaran.
Kalau sampai sekarang saya masih sendiri, saya tinggal berkaca sama diri sendiri. Berarti ALLAH menilai saya belum pantas. Saya masih harus terus berupaya keras memantaskan diri terlebih dulu.
ALLAH masih memberi kesempatan pada saya dan dia untuk terus memperbaiki dan memantaskan diri, untuk terus saling berkirim doa, agar kelak kami sama-sama pantas menjemput cinta yang ALLAH titipkan di hati-hati kami.
Kalau sampai sekarang beberapa laki-laki yang “datang” masih saja dirasa kurang baik, kurang shalih, kurang siap menjadi imam saya… berarti saya juga masih kurang baik, kurang shalihat, dan kurang siap menerima seorang pemimpin baru di hidup saya. Bukankah jodoh kita adalah cerminan diri kita sendiri? :-)

Ada yang pernah nanya juga:
“Emang sejak lo nggak pacaran gitu, lo nggak pernah jatuh cinta gitu? Lo nggak pernah patah hati kalau liat yang lo sayang pacaran lagi… atau nikah sama orang lain?”

Hmm.. saya juga manusia lah.. Rasa suka, kagum, simpati, sayang, bahkan cinta sama seseorang (lawan jenis) itu fitrah. Beberapa kali menyukai seseorang, beberapa kali patah hati… wajar, kan?
Hanya saja, saya pun berulang kali mengembalikan rasa padaNYA. Selalu mempertanyakan rasa yang hadir padaNYA. Standar lah… memohon jika memang jodoh, maka dekatkan. Jika bukan, maka jauhkan.
Terus-menerus memohon petunjukNYA agar tidak memperturutkan rasa di jalan yang tidak IA ridlai.
Nggak pacaran kan bukan otomatis mengamankan hati dari zina? Maka jika ada rasa tak semestinya yang hadir, selayaknya kita mohon perlindunganNYA saja. Lebih intens mendekatiNYA, agar dijauhkan dari rasa yang tak seharusnya kita punya.
Menyukai seseorang dan patah hati karena ternyata belum atau bukan jodoh saya? Pernah. Sakitkah rasanya? Sangat. Tapi jika dengan demikian saya jadi lebih intens mendekat padaNYA, lebih betah berlama-lama menangis dan curhat di hadapanNYA, maka saya tak keberatan. Rasa sakit yang sama (bahkan mungkin lebih menyiksa) dengan patah hati saat jaman pacaran, tapi kali ini in syaa ALLAH berbuah pahala. :-)

gambar diambil dari bacotanghaley.blogspot.com

gambar diambil dari bacotanghaley.blogspot.com

Terakhir nih yaa.. masih ada yang suka nanya sama saya:
“Lo nggak kangen pacaran? Nggak pernah kepikiran sama sekali buat pacaran lagi?”

Untuk yang ini, saya mantep bilang: Nggak! Saya maunya pacaran sama suami saya aja, nanti setelah nikah! Hehee.. :-D

So… Buat yang nggak pernah pacaran, bersyukurlah! Kamu nggak perlu buang-buang banyak waktu untuk menangisi masa lalu, atau berupaya keras menghapus memori tentang dosa-dosa menduakan cintaNYA.
Nah, buat yang masih pacaran, putusin aja deh pacarnya! Toh kalau emang jodoh mah, ALLAH kelak akan menyatukan kalian lagi dengan cara yang jauuuuuuhhh lebih baik dan istimewa! :-)
Yang punya hati kita kan ALLAH. IA yang Maha Membolak-balik Rasa. Kalau ALLAH nggak ridla, bisa aja kan sekarang sayang-sayangan pas pacaran, ntar pas nikah tau-tau ALLAH bikin jadi saling benci? Na’uudzubillaahi min dzaalik.
Yang masih single happy kayak saya, atau yang pacaran tapi mau hijrah jadi single happy kayak saya, yuk puas-puasin pedekate sama ALLAH, puas-puasin berupaya menjemput cintaNYA, dan terus berupaya memaafkan masa lalu dan hijrah seutuhnya agar kelak IA kasih kita jodoh terbaik yang mencintai kita karenaNYA, dengan cara terbaik dan teristimewa. :-)

Wallaahu a’lam bishawab.

gambar diambil dari nanahidupku28.blogspot.com

gambar diambil dari nanahidupku28.blogspot.com

(Terjebak) Euforia ODOJ??

Sudah lebih dari seminggu saya ikutan program ODOJ yang lagi heboh-hebohnya dikampanyekan akhir-akhir ini.
Ada yang belum tau apa itu ODOJ??

ODOJ, atau One Day One Juz adalah program yang didesain untuk memudahkan kita memenuhi target minimal tilawah satu juz per hari. Sistemnya bisa lewat WhatsApp seperti yang saya lakukan, lewat BBM, atau sms. Info lengkap tentang apa dan bagaimana ODOJ bisa disimak di http://onedayonejuz.org/. Biar saya nggak kepanjangan jelasinnyaa.. hehe.. :D

odoj

Saya sendiri bukan termasuk yang awal-awal gabung program ini sih.. Grup ODOJ saya adalah grup ke 465 untuk akhwat. Jadi, setidaknya sudah ada 30 x 464 akhwat yang duluan gabung di program ini sebelum saya.

Program ini luar biasa menurut saya. Penggagasnya mantap juga mengenalkan sistem semacam ini. Dan kalau dipikir-pikir, in syaa ALLAH pahala buat si penggagas akan terus mengalir seiring dengan semakin banyaknya yang mengikuti program ini. Berapa banyak, coba, saudara-saudari muslim-muslimah yang makin termotivasi tilawah setiap harinya dengan adanya program ini? :)

Sebelum ikutan ODOJ, saya sering merasa berat memenuhi target tilawah 1 juz per hari. Sepuluh lembar Al Qur’an rasanya terlalu panjang untuk dibaca, apalagi kalau udah pakai alasan kelelahan akibat padatnya aktivitas setiap hari.
3-4 hari setelah aktif ODOJ, target 1 hari 1 juz terasa jauuuuuuh lebih ringan. Bahkan, lelang juz di grup seringkali terasa sangat menggoda untuk diambil. Apalagi dalam grup ODOJ akhwat akan selalu ada lelang juz tiap harinya. Akan selalu ada minimal 1 dari 30 orang dalam 1 grup yang sedang berhalangan karena siklus bulanan.
Akhirnya, bagi ODOJers, satu juz per hari bukan lagi sekedar menjadi target yang harus dicapai, tapi target minimal. Karena pada kenyataannya, dengan adanya lelang juz, seorang ODOJer bisa membaca 1-5 (atau bahkan lebih) juz per hari. LUAAAAAARRR BIASA!! :)

Akan tetapi, di luar segala kelebihan dan kemudahan membiasakan tilawah dengan mengikuti ODOJ tersebut, tampaknya ada hal-hal yang juga harus kita perhatikan dan waspadai. Emang siiih, dengan ikut program ini kita jadi rajin dan terbiasa memperbanyak tilawah. Dengan ikut ODOJ, kita jadi termotivasi untuk berlomba-lomba tilawah lebih banyak. Fastabiqul khairat? Benarkah? Yakin?

Sudah benarkah niat saya dalam tilawah per harinya? Karena ALLAH kah? Dengan niat mendekatkan diri padaNYA kah? Atau sekarang tilawah justru sekedar rutinitas belaka karena harus mencapai target 1 juz per harinya?

Sudah benarkah niat saya dalam tilawah per harinya? Bergegas menyelesaikan jatah juz per hari demi berlomba-lomba mengambil tawaran lelang juz dalam grup? Untuk siapa? Karena apa? Yakin, karena ALLAH? Bukan sekedar demi mencapai khatam jama’i yang HARUS dicapai grup setiap harinya? Atau bahkan agar terlihat “baik” di depan teman-teman 1 grup?

Terlalu sibukkah saya tilawah, sehingga lupa bahwa Al Qur’an punya hak yang lain selain dibaca? Bahwa ia pun butuh dihafalkan ayat-ayatnya, ditadaburi dengan mempelajari tafsirnya, diajarkan kepada yang lain, diamalkan dalam akhlaq?
Ketika satu hari berhasil membaca lebih dari satu juz, berapa ayat tambahan yang berhasil saya hafalkan? Berapa ayat yang sempat saya tadaburi? Berapa ayat yang membekas dalam hati dan ingatan saya untuk selanjutnya diamalkan?

Sudah baikkah bacaan Qur’an saya? Sibuk mencapai target sekian juz per hari… tapi ingatkah saya untuk juga mempelajari tahsin untuk menyempurnakan bacaan saya?

Adakah amanah lain yang terkesampingkan karena saya terlalu sibuk tilawah setiap harinya? Adakah hak orang lain yang terlupakan karena saya terlalu mementingkan tilawah sebanyak-banyaknya setiap harinya?

Setidaknya, itu adalah beberapa pertanyaan yang akhirnya sering saya tanyakan terlebih dahulu pada diri saya sendiri sebelum memulai tilawah setiap harinya. Ada kekhawatiran bahwa saya terjebak dalam euforia ODOJ, hingga terlupa akan niat awal saya mengikuti program ini.

Kenapa saya jadi terpikir menuliskan ini?

Beberapa waktu lalu saya menonton video kajian di suatu tempat. Tampak di sana sang ustadz yang sedang menjelaskan materi kajian, lalu ketika kamera menyorot ke arah “penikmat” kajian, terlihat beberapa di antaranya justru sibuk tilawah. Jelas sekali terlihat bibir mereka melafalkan ayat-ayat Qur’an di tangan mereka. Bukan hanya satu-dua orang. Mungkin sekilas biasa saja. Atau bahkan ada yang menganggapnya positif. Keren yaa.. tilawah everywhere.. muraja’ah everywhere.. Hmm..
Tapi, entah kenapa menurut saya agak nggak pas aja. Bukankah ada hak ustadz sebagai pembicara untuk didengarkan dan diperhatikan?

Saya lalu merefleksikan terhadap diri saya sendiri. Sepertinya saya pun pernah melakukannya. Saat materi kajian yang saya datangi dirasa tak seru lagi, saat sudah memasuki sesi tanya-jawab, saya pun pernah mencari kesibukan lain seperti itu. Entah tilawah Qur’an, entah ngutak-atik ponsel.. Salahkah saya karena lupa menghargai orang lain? Bagaimana kalau saya yang berada di posisi pembicara dan orang-orang justru sibuk tilawah atau melakukan hal lain karena malas mendengarkan apa yang sedang saya coba sampaikan? Astaghfirullaah.

Tiba-tiba saya keingetan ODOJ aja. Jangan-jangan.. demi mengejar target tilawah harian, saya mengesampingkan hak-hak orang lain?? Jangan-jangan.. ada yang salah dengan niat saya??

Lewat tulisan ini, saya tidak bermaksud menuduh atau berprasangka buruk terhadap teman-temin/saudara-saudari yang ikutan ODOJ looooh.. Saya hanya bermaksud bercermin, lebih ke arah mengingatkan diri sendiri. Bahwa masalah niat adalah hal utama yang perlu jadi perhatian setiap kita akan melakukan sesuatu. Karena sebaik apapun amalan yang kita lakukan, jika niatnya salah, bisa jadi justru berakhir pada dosa.

Yuuk.. sama-sama luruskan niat kita. Tidak ada salahnya memperbarui niat kita setiap harinya, agar ODOJ dapat memberi manfaat yang terus mengalir sampai ke surga. Bukan sekedar menjadi rutinitas yang berakhir sia-sia, atau bahkan tabungan dosa karena niat yang tak semestinya. :)

Bismillaaah.. Tetap semangat tilawah yaa..!!
Semoga semangat tilawah ini juga menjadi awal semangat untuk terus berkontribusi bagi umat!! :)

Wallaahu a’lam bishawab.

akhi-ukhti vs teman-temin vs saudara-saudari

Sebenernya tergelitik menulis tentang ini sudah cukup lama. Saat itu, saya tak sengaja membaca postingan “beberapa” teman di fesbuk yang ngalir di news feed. Secara umum sih tentang perasaan “dibeda-bedakan”, “dikelompok-kelompokkan”, “digolong-golongkan”… dengan adanya perbedaan “jenis” panggilan di lingkungannya.

Satu tanya yang kerap muncul di beberapa “kepala” (termasuk kepala saya, mungkin) adalah: Adakah perbedaan “kasta” antara yang dipanggil akhi/ukhti dengan yang dipanggil dengan nama? Apa iya panggilan akhi-ukhti seolah menunjukkan tingginya pemahaman agama? :)

Sebelumnya, saya mau cerita dulu. Hehe.. :D

Dulu, saya juga sempet sensi (lebih tepatnya bertanya-tanya, sih..) sama orang yang manggil saya Zulfah, tapi manggil temen yang lain dengan “ukhti”. Emangnya saya segitu nggak sholehah-nya yaa sampai dia ngebeda-bedain panggilan ke saya? ;) Tapi terus saya mikir lagi: Emangnya saya mau dipanggil ukhti? Ih, malah aneh ah rasanya. Bahkan, dulu kalau ada temen yang manggil saya “ukhti”, saya suka risih sendiri. :p Dulu, ya… sekarang sih enggak. Hehe.. :D

Jadi, saya menyimpulkan sendiri. Mungkin dia nggak manggil saya dengan “ukhti” bukan karena ngebeda-bedain “kasta” dan tingkat ke”alim”an. Dia nggak manggil saya ukhti karena tahu kalau saya mungkin nggak belum nyaman dipanggil ukhti. Saya lebih nyaman dipanggil langsung dengan nama saya. :)

Nah, sekarang pun saya menerapkan itu. Ada beberapa teman yang saya panggil akhi/ukhti, ada beberapa teman yang saya panggil langsung dengan namanya, ada beberapa teman yang saya panggil dengan nama-nama tertentu. Sungguh, saya sama sekali nggak berniat membeda-bedakan tingkat pemahaman agama. Bagi saya, akhi/ukhti itu sebatas panggilan. Tidak ada yang istimewa. Hanya sebutan lain dari saudara(ku) /saudari(ku). Sama seperti panggilan brother atau sister yang diambil dari bahasa Inggris, akhi/ukhti (dari bahasa Arab) punya arti yang sama. Nggak lebih. :)

Kenapa saya membeda-bedakan panggilan? Karena beberapa teman lebih nyaman dengan panggilan akhi/ukhti, sementara yang lain lebih nyaman dengan namanya sendiri. Sesimple itu koq alasannya. :)

Emang sih, panggilan akhi-ukhti lebih umum didengar di kalangan aktivis dakwah. Tapi, menjadi aktivis dakwah tidak serta-merta menjadi orang dengan pemahaman agama yang lebih tinggi koq.. Belum tentu. :) Dan saya pun yakin, teman-teman aktivis dakwah saling memanggil dengan akhi-ukhti bukan untuk menunjukkan superioritasnya di bidang agama, atau eksklusifitasnya sebagai aktivis dakwah. Tapi seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, karena mereka sama-sama merasa lebih nyaman dengan panggilan itu. :)

Jadi.. Lewat tulisan ini, saya cuma pengen bilang: Jangan langsung berprasangka buruk dengan perbedaan panggilan di lingkungan kita. Kalau ngrasa nggak nyaman dengan panggilan orang lain ke kita, ngomong aja. Bilang langsung ke orangnya. Gampangnya, tinggal langsung bilang: “Saya juga mau loooh dipanggil akhi/ukhti. :) ” Atau sebaliknya: “Jangan panggil saya akhi/ukhti dong. Saya lebih nyaman dipanggil nama aja. :) ” Boleh, koq. ^_^

“… dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.  Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. al Hujurat:11)

Nah! ALLAH aja melarang kita saling memanggil dengan panggilan yang buruk. Berarti, ALLAH nyuruh kita saling memanggil dengan panggilan terbaik, yang paling nyaman di telinga yang dipanggil. :)

Jadi, buat teman-temin/saudara-saudari saya semuanyaaa.. secara pribadi  saya juga mau bilang, kalau ada yang nggak nyaman dengan panggilan yang saya “berikan”, bilang aja. In syaa ALLAH saya siap mengubah panggilan itu sesuai request! Asal masih dalam batasan “panggilan yang baik” yaa.. Hehe.. ^_^

Wallaahu a’lam bishawab.

Mau Dapet Apa? Tergantung Niatnya. :)

Mungkin bukan cuma saya yang pernah bertanya-tanya:
Bolehkah kita melakukan sesuatu (amalan akhirat) dengan tujuan dunia?
Misalnya memelihara shalat dluha dengan tujuan ALLAH melancarkan rizqi, bersedekah agar ALLAH menyembuhkan penyakit, berinfaq banyak supaya ALLAH mengembalikannya dalam nominal yang berlipat ganda.. etc.. etc..

Hmm.. sebenernya postingan ini nggak bakal bahas bener2 secara hukumnya sih. Saya belum punya kompetensi yang memadai untuk bicara ranah hukum syariat secara detail. Kalau memang dirasa perlu, silahkan bertanya ke yang lebih ahli. :) Hehe.. ngeles. :D

Lewat tulisan ini, saya hanya mencoba membagi sudut pandang saya yang sederhana.

Pernah baca (atau bahkan hafal) hadits arba’in nomer 1 tentang niat kan? :)

Berkaca dari hadits tersebut, setiap amal kita akan dinilai (dan dibalas) tergantung pada niatnya. :)
Pemikiran sederhana saya mengartikannya begini: Kalau kita shalat karena ingin kaya, kita akan kaya. Kalau kita sedekah karena ingin disembuhkan penyakit, kita akan sembuh. Kalau kita berinfaq karena ingin dibalikin infaq kita dengan nominal berlipat ganda, ya itulah yang akan kita dapat. Tapi.. HANYA itu. :)

Coba kita ubah niatnya jadi yang lebih “mahal”. Shalat biar kaya, biar cepet dapet jodoh, biar makin disayang orang tua. Hasilnya? In syaa ALLAH kita akan dapet 3 hal itu!! :) Atau mau di”naikkin” lagi level niatnya? Coba pikirkan suatu kenikmatan duniawi termahal, dan niatkan shalat kita untuk hal tersebut. Bakal dapet deh.. Hehe.. :D Tapi sekali lagi, HANYA itu yang kita dapet.

Sekilas sih enak banget yaa..? Betapa beruntungnya, kita bisa dapetin apa aja yang kita mau dengan (sekedar) melakukan satu amalan akhirat. Tapi tapi tapiii.. coba deh dipikir lagi. Benarkah dengan tujuan “berbau” duniawi (sebanyak apapun) dalam niat kita, kita beruntung??

Ternyata, nggak juga.

Coba bandingkan jika kita meniatkan amal kita untuk akhirat. Untuk ALLAH. Kita shalat dengan niat untuk ALLAH semata. Apa yang akan kita dapat? In syaa ALLAH kita akan makin dicintai ALLAH. Berhentikah sampai di sana? Tentu tidak!! Kalau ALLAH udah cinta sama kita, ALLAH bakal ngasih apapun yang kita mau. (Sekedar) “bekal” untuk mengantar ke surga? Pahala? Berbagai nikmat duniawi? Apa sih yang nggak ALLAH kasih kalau ridlaNYA udah berhasil kita raih? Apa sih yang nggak ALLAH kasih kalau cintaNYA udah tercurah untuk kita? :) Malah dapet semua kan, tu? :)

Jadi, manakah yang lebih menguntungkan? Hehe.. ^_^

Oke, mungkin penjabaran pemikiran sederhana saya ini terkesan abstrak. Nggak riil. Bicara soal pahala atau niat untuk akhirat kan ghaib banget. Nggak bisa dilihat. Belum bisa dirasakan. Tapi, bukankah nikmat ALLAH juga gak semuanya bersifat inderawi? Bukankah nikmat-nikmat duniawi hanya keciiiiiil sekali nilainya dibandingkan nikmat-nikmatNYA yang masih “abstrak” di akhirat nanti?

Tapiii.. Bukankah itu berarti kita justru sangat merugi jika niat-niat dalam amalan kita hanya bervisi duniawi?

Pengetahuan manusia itu kecil banget. Kalaupun semua ilmu yang semua manusia miliki digabungin jadi satu, dilipatgandakan sejuta kali, tetep aja nilainya cuma setetes air di samudra kalau dibandingin dengan ilmu ALLAH. Atau malah lebih kecil lagi dari itu.

Jadi, kalau saya mikirnya, kenapa kita masih sering bervisi duniawi dalam niat-niat kita, itu karena manusia taunya cuma itu. Cuma tau kalau kaya itu enak, makanya minta kaya. Cuma tau kalau sehat itu nikmat, makanya minta sehat. :) Belum tahu (dan ngerasain) kalau pahala itu nikmatnya ngalah-ngalahin nikmat duniawi, jadinya nggak minta pahala. :D

Ilmu (inderawi) kita tentang kenikmatan itu masih sebatas duniawi, makanya kita “cuma” minta itu. :)

Kalau ada yang masih bertanya: Jadi, hukumnya boleh apa nggak melakukan amalan akhirat dengan niat duniawi? Saya sendiri belum tahu jawabannya. Lebih tepatnya, nggak berani ngasih jawaban boleh atau nggak. (Hehe..nyesel yaa baca postingan ini? :D )

Tapi setidaknya, jadi mikir dari segi mana yang lebih menguntungkan, kan? Pilih bervisi duniawi atau ukhrawi? :)

Wallaahu a’lam bishawab.

 

*sekedar pemikiran sederhana dari seseorang yang ilmunya masih sangat sederhana*