(Terjebak) Euforia ODOJ??

Sudah lebih dari seminggu saya ikutan program ODOJ yang lagi heboh-hebohnya dikampanyekan akhir-akhir ini.
Ada yang belum tau apa itu ODOJ??

ODOJ, atau One Day One Juz adalah program yang didesain untuk memudahkan kita memenuhi target minimal tilawah satu juz per hari. Sistemnya bisa lewat WhatsApp seperti yang saya lakukan, lewat BBM, atau sms. Info lengkap tentang apa dan bagaimana ODOJ bisa disimak di http://onedayonejuz.org/. Biar saya nggak kepanjangan jelasinnyaa.. hehe.. :D

odoj

Saya sendiri bukan termasuk yang awal-awal gabung program ini sih.. Grup ODOJ saya adalah grup ke 465 untuk akhwat. Jadi, setidaknya sudah ada 30 x 464 akhwat yang duluan gabung di program ini sebelum saya.

Program ini luar biasa menurut saya. Penggagasnya mantap juga mengenalkan sistem semacam ini. Dan kalau dipikir-pikir, in syaa ALLAH pahala buat si penggagas akan terus mengalir seiring dengan semakin banyaknya yang mengikuti program ini. Berapa banyak, coba, saudara-saudari muslim-muslimah yang makin termotivasi tilawah setiap harinya dengan adanya program ini? :)

Sebelum ikutan ODOJ, saya sering merasa berat memenuhi target tilawah 1 juz per hari. Sepuluh lembar Al Qur’an rasanya terlalu panjang untuk dibaca, apalagi kalau udah pakai alasan kelelahan akibat padatnya aktivitas setiap hari.
3-4 hari setelah aktif ODOJ, target 1 hari 1 juz terasa jauuuuuuh lebih ringan. Bahkan, lelang juz di grup seringkali terasa sangat menggoda untuk diambil. Apalagi dalam grup ODOJ akhwat akan selalu ada lelang juz tiap harinya. Akan selalu ada minimal 1 dari 30 orang dalam 1 grup yang sedang berhalangan karena siklus bulanan.
Akhirnya, bagi ODOJers, satu juz per hari bukan lagi sekedar menjadi target yang harus dicapai, tapi target minimal. Karena pada kenyataannya, dengan adanya lelang juz, seorang ODOJer bisa membaca 1-5 (atau bahkan lebih) juz per hari. LUAAAAAARRR BIASA!! :)

Akan tetapi, di luar segala kelebihan dan kemudahan membiasakan tilawah dengan mengikuti ODOJ tersebut, tampaknya ada hal-hal yang juga harus kita perhatikan dan waspadai. Emang siiih, dengan ikut program ini kita jadi rajin dan terbiasa memperbanyak tilawah. Dengan ikut ODOJ, kita jadi termotivasi untuk berlomba-lomba tilawah lebih banyak. Fastabiqul khairat? Benarkah? Yakin?

Sudah benarkah niat saya dalam tilawah per harinya? Karena ALLAH kah? Dengan niat mendekatkan diri padaNYA kah? Atau sekarang tilawah justru sekedar rutinitas belaka karena harus mencapai target 1 juz per harinya?

Sudah benarkah niat saya dalam tilawah per harinya? Bergegas menyelesaikan jatah juz per hari demi berlomba-lomba mengambil tawaran lelang juz dalam grup? Untuk siapa? Karena apa? Yakin, karena ALLAH? Bukan sekedar demi mencapai khatam jama’i yang HARUS dicapai grup setiap harinya? Atau bahkan agar terlihat “baik” di depan teman-teman 1 grup?

Terlalu sibukkah saya tilawah, sehingga lupa bahwa Al Qur’an punya hak yang lain selain dibaca? Bahwa ia pun butuh dihafalkan ayat-ayatnya, ditadaburi dengan mempelajari tafsirnya, diajarkan kepada yang lain, diamalkan dalam akhlaq?
Ketika satu hari berhasil membaca lebih dari satu juz, berapa ayat tambahan yang berhasil saya hafalkan? Berapa ayat yang sempat saya tadaburi? Berapa ayat yang membekas dalam hati dan ingatan saya untuk selanjutnya diamalkan?

Sudah baikkah bacaan Qur’an saya? Sibuk mencapai target sekian juz per hari… tapi ingatkah saya untuk juga mempelajari tahsin untuk menyempurnakan bacaan saya?

Adakah amanah lain yang terkesampingkan karena saya terlalu sibuk tilawah setiap harinya? Adakah hak orang lain yang terlupakan karena saya terlalu mementingkan tilawah sebanyak-banyaknya setiap harinya?

Setidaknya, itu adalah beberapa pertanyaan yang akhirnya sering saya tanyakan terlebih dahulu pada diri saya sendiri sebelum memulai tilawah setiap harinya. Ada kekhawatiran bahwa saya terjebak dalam euforia ODOJ, hingga terlupa akan niat awal saya mengikuti program ini.

Kenapa saya jadi terpikir menuliskan ini?

Beberapa waktu lalu saya menonton video kajian di suatu tempat. Tampak di sana sang ustadz yang sedang menjelaskan materi kajian, lalu ketika kamera menyorot ke arah “penikmat” kajian, terlihat beberapa di antaranya justru sibuk tilawah. Jelas sekali terlihat bibir mereka melafalkan ayat-ayat Qur’an di tangan mereka. Bukan hanya satu-dua orang. Mungkin sekilas biasa saja. Atau bahkan ada yang menganggapnya positif. Keren yaa.. tilawah everywhere.. muraja’ah everywhere.. Hmm..
Tapi, entah kenapa menurut saya agak nggak pas aja. Bukankah ada hak ustadz sebagai pembicara untuk didengarkan dan diperhatikan?

Saya lalu merefleksikan terhadap diri saya sendiri. Sepertinya saya pun pernah melakukannya. Saat materi kajian yang saya datangi dirasa tak seru lagi, saat sudah memasuki sesi tanya-jawab, saya pun pernah mencari kesibukan lain seperti itu. Entah tilawah Qur’an, entah ngutak-atik ponsel.. Salahkah saya karena lupa menghargai orang lain? Bagaimana kalau saya yang berada di posisi pembicara dan orang-orang justru sibuk tilawah atau melakukan hal lain karena malas mendengarkan apa yang sedang saya coba sampaikan? Astaghfirullaah.

Tiba-tiba saya keingetan ODOJ aja. Jangan-jangan.. demi mengejar target tilawah harian, saya mengesampingkan hak-hak orang lain?? Jangan-jangan.. ada yang salah dengan niat saya??

Lewat tulisan ini, saya tidak bermaksud menuduh atau berprasangka buruk terhadap teman-temin/saudara-saudari yang ikutan ODOJ looooh.. Saya hanya bermaksud bercermin, lebih ke arah mengingatkan diri sendiri. Bahwa masalah niat adalah hal utama yang perlu jadi perhatian setiap kita akan melakukan sesuatu. Karena sebaik apapun amalan yang kita lakukan, jika niatnya salah, bisa jadi justru berakhir pada dosa.

Yuuk.. sama-sama luruskan niat kita. Tidak ada salahnya memperbarui niat kita setiap harinya, agar ODOJ dapat memberi manfaat yang terus mengalir sampai ke surga. Bukan sekedar menjadi rutinitas yang berakhir sia-sia, atau bahkan tabungan dosa karena niat yang tak semestinya. :)

Bismillaaah.. Tetap semangat tilawah yaa..!!
Semoga semangat tilawah ini juga menjadi awal semangat untuk terus berkontribusi bagi umat!! :)

Wallaahu a’lam bishawab.

akhi-ukhti vs teman-temin vs saudara-saudari

Sebenernya tergelitik menulis tentang ini sudah cukup lama. Saat itu, saya tak sengaja membaca postingan “beberapa” teman di fesbuk yang ngalir di news feed. Secara umum sih tentang perasaan “dibeda-bedakan”, “dikelompok-kelompokkan”, “digolong-golongkan”… dengan adanya perbedaan “jenis” panggilan di lingkungannya.

Satu tanya yang kerap muncul di beberapa “kepala” (termasuk kepala saya, mungkin) adalah: Adakah perbedaan “kasta” antara yang dipanggil akhi/ukhti dengan yang dipanggil dengan nama? Apa iya panggilan akhi-ukhti seolah menunjukkan tingginya pemahaman agama? :)

Sebelumnya, saya mau cerita dulu. Hehe.. :D

Dulu, saya juga sempet sensi (lebih tepatnya bertanya-tanya, sih..) sama orang yang manggil saya Zulfah, tapi manggil temen yang lain dengan “ukhti”. Emangnya saya segitu nggak sholehah-nya yaa sampai dia ngebeda-bedain panggilan ke saya? ;) Tapi terus saya mikir lagi: Emangnya saya mau dipanggil ukhti? Ih, malah aneh ah rasanya. Bahkan, dulu kalau ada temen yang manggil saya “ukhti”, saya suka risih sendiri. :p Dulu, ya… sekarang sih enggak. Hehe.. :D

Jadi, saya menyimpulkan sendiri. Mungkin dia nggak manggil saya dengan “ukhti” bukan karena ngebeda-bedain “kasta” dan tingkat ke”alim”an. Dia nggak manggil saya ukhti karena tahu kalau saya mungkin nggak belum nyaman dipanggil ukhti. Saya lebih nyaman dipanggil langsung dengan nama saya. :)

Nah, sekarang pun saya menerapkan itu. Ada beberapa teman yang saya panggil akhi/ukhti, ada beberapa teman yang saya panggil langsung dengan namanya, ada beberapa teman yang saya panggil dengan nama-nama tertentu. Sungguh, saya sama sekali nggak berniat membeda-bedakan tingkat pemahaman agama. Bagi saya, akhi/ukhti itu sebatas panggilan. Tidak ada yang istimewa. Hanya sebutan lain dari saudara(ku) /saudari(ku). Sama seperti panggilan brother atau sister yang diambil dari bahasa Inggris, akhi/ukhti (dari bahasa Arab) punya arti yang sama. Nggak lebih. :)

Kenapa saya membeda-bedakan panggilan? Karena beberapa teman lebih nyaman dengan panggilan akhi/ukhti, sementara yang lain lebih nyaman dengan namanya sendiri. Sesimple itu koq alasannya. :)

Emang sih, panggilan akhi-ukhti lebih umum didengar di kalangan aktivis dakwah. Tapi, menjadi aktivis dakwah tidak serta-merta menjadi orang dengan pemahaman agama yang lebih tinggi koq.. Belum tentu. :) Dan saya pun yakin, teman-teman aktivis dakwah saling memanggil dengan akhi-ukhti bukan untuk menunjukkan superioritasnya di bidang agama, atau eksklusifitasnya sebagai aktivis dakwah. Tapi seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, karena mereka sama-sama merasa lebih nyaman dengan panggilan itu. :)

Jadi.. Lewat tulisan ini, saya cuma pengen bilang: Jangan langsung berprasangka buruk dengan perbedaan panggilan di lingkungan kita. Kalau ngrasa nggak nyaman dengan panggilan orang lain ke kita, ngomong aja. Bilang langsung ke orangnya. Gampangnya, tinggal langsung bilang: “Saya juga mau loooh dipanggil akhi/ukhti. :) ” Atau sebaliknya: “Jangan panggil saya akhi/ukhti dong. Saya lebih nyaman dipanggil nama aja. :) ” Boleh, koq. ^_^

“… dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.  Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. al Hujurat:11)

Nah! ALLAH aja melarang kita saling memanggil dengan panggilan yang buruk. Berarti, ALLAH nyuruh kita saling memanggil dengan panggilan terbaik, yang paling nyaman di telinga yang dipanggil. :)

Jadi, buat teman-temin/saudara-saudari saya semuanyaaa.. secara pribadi  saya juga mau bilang, kalau ada yang nggak nyaman dengan panggilan yang saya “berikan”, bilang aja. In syaa ALLAH saya siap mengubah panggilan itu sesuai request! Asal masih dalam batasan “panggilan yang baik” yaa.. Hehe.. ^_^

Wallaahu a’lam bishawab.

Mau Dapet Apa? Tergantung Niatnya. :)

Mungkin bukan cuma saya yang pernah bertanya-tanya:
Bolehkah kita melakukan sesuatu (amalan akhirat) dengan tujuan dunia?
Misalnya memelihara shalat dluha dengan tujuan ALLAH melancarkan rizqi, bersedekah agar ALLAH menyembuhkan penyakit, berinfaq banyak supaya ALLAH mengembalikannya dalam nominal yang berlipat ganda.. etc.. etc..

Hmm.. sebenernya postingan ini nggak bakal bahas bener2 secara hukumnya sih. Saya belum punya kompetensi yang memadai untuk bicara ranah hukum syariat secara detail. Kalau memang dirasa perlu, silahkan bertanya ke yang lebih ahli. :) Hehe.. ngeles. :D

Lewat tulisan ini, saya hanya mencoba membagi sudut pandang saya yang sederhana.

Pernah baca (atau bahkan hafal) hadits arba’in nomer 1 tentang niat kan? :)

Berkaca dari hadits tersebut, setiap amal kita akan dinilai (dan dibalas) tergantung pada niatnya. :)
Pemikiran sederhana saya mengartikannya begini: Kalau kita shalat karena ingin kaya, kita akan kaya. Kalau kita sedekah karena ingin disembuhkan penyakit, kita akan sembuh. Kalau kita berinfaq karena ingin dibalikin infaq kita dengan nominal berlipat ganda, ya itulah yang akan kita dapat. Tapi.. HANYA itu. :)

Coba kita ubah niatnya jadi yang lebih “mahal”. Shalat biar kaya, biar cepet dapet jodoh, biar makin disayang orang tua. Hasilnya? In syaa ALLAH kita akan dapet 3 hal itu!! :) Atau mau di”naikkin” lagi level niatnya? Coba pikirkan suatu kenikmatan duniawi termahal, dan niatkan shalat kita untuk hal tersebut. Bakal dapet deh.. Hehe.. :D Tapi sekali lagi, HANYA itu yang kita dapet.

Sekilas sih enak banget yaa..? Betapa beruntungnya, kita bisa dapetin apa aja yang kita mau dengan (sekedar) melakukan satu amalan akhirat. Tapi tapi tapiii.. coba deh dipikir lagi. Benarkah dengan tujuan “berbau” duniawi (sebanyak apapun) dalam niat kita, kita beruntung??

Ternyata, nggak juga.

Coba bandingkan jika kita meniatkan amal kita untuk akhirat. Untuk ALLAH. Kita shalat dengan niat untuk ALLAH semata. Apa yang akan kita dapat? In syaa ALLAH kita akan makin dicintai ALLAH. Berhentikah sampai di sana? Tentu tidak!! Kalau ALLAH udah cinta sama kita, ALLAH bakal ngasih apapun yang kita mau. (Sekedar) “bekal” untuk mengantar ke surga? Pahala? Berbagai nikmat duniawi? Apa sih yang nggak ALLAH kasih kalau ridlaNYA udah berhasil kita raih? Apa sih yang nggak ALLAH kasih kalau cintaNYA udah tercurah untuk kita? :) Malah dapet semua kan, tu? :)

Jadi, manakah yang lebih menguntungkan? Hehe.. ^_^

Oke, mungkin penjabaran pemikiran sederhana saya ini terkesan abstrak. Nggak riil. Bicara soal pahala atau niat untuk akhirat kan ghaib banget. Nggak bisa dilihat. Belum bisa dirasakan. Tapi, bukankah nikmat ALLAH juga gak semuanya bersifat inderawi? Bukankah nikmat-nikmat duniawi hanya keciiiiiil sekali nilainya dibandingkan nikmat-nikmatNYA yang masih “abstrak” di akhirat nanti?

Tapiii.. Bukankah itu berarti kita justru sangat merugi jika niat-niat dalam amalan kita hanya bervisi duniawi?

Pengetahuan manusia itu kecil banget. Kalaupun semua ilmu yang semua manusia miliki digabungin jadi satu, dilipatgandakan sejuta kali, tetep aja nilainya cuma setetes air di samudra kalau dibandingin dengan ilmu ALLAH. Atau malah lebih kecil lagi dari itu.

Jadi, kalau saya mikirnya, kenapa kita masih sering bervisi duniawi dalam niat-niat kita, itu karena manusia taunya cuma itu. Cuma tau kalau kaya itu enak, makanya minta kaya. Cuma tau kalau sehat itu nikmat, makanya minta sehat. :) Belum tahu (dan ngerasain) kalau pahala itu nikmatnya ngalah-ngalahin nikmat duniawi, jadinya nggak minta pahala. :D

Ilmu (inderawi) kita tentang kenikmatan itu masih sebatas duniawi, makanya kita “cuma” minta itu. :)

Kalau ada yang masih bertanya: Jadi, hukumnya boleh apa nggak melakukan amalan akhirat dengan niat duniawi? Saya sendiri belum tahu jawabannya. Lebih tepatnya, nggak berani ngasih jawaban boleh atau nggak. (Hehe..nyesel yaa baca postingan ini? :D )

Tapi setidaknya, jadi mikir dari segi mana yang lebih menguntungkan, kan? Pilih bervisi duniawi atau ukhrawi? :)

Wallaahu a’lam bishawab.

 

*sekedar pemikiran sederhana dari seseorang yang ilmunya masih sangat sederhana*

Stop Ghibah Yuuuk..!! ^_^

Jaman sekarang menghindari ghibah sama sekali jauh dari kata mudah, ya?
Ada yang setuju sama saya? Hehe.. :D

Beberapa waktu lalu, saya sempat mengikuti kajian di FKUGM, yang ngisi Ummu Qonita. Meskipun ghibah hanyalah bagian (sangat) kecil dari materi yang beliau sampaikan, tapi point ini tu nyangkut banget di otak saya. Mungkin karena saya masih sering banget ngomongin orang kali yaa? Astaghfirullaaah.. :(

Dalam salah satu hadits riwayat Muslim, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda bahwa ghibah adalah “Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan apa yang ia tidak menyukainya.”

Kalau didengerin sekilas sih simpel. Dari dulu juga semua orang tau kalau ghibah tu ngomongin kejelekan orang lain. Ngomongin aib orang lain. Tapi pas kajian kemaren itu, Ummu Qonita ngasih contohnya (sesederhana) ini:
“Kayak misalnya kita cerita tentang si A ke si B. Nggak nyebutin langsung namanya sih, nggak nyebutin langsung (bentuk) aibnya sih, tapi kita bilang: Iya, dia kan emang gitu. Dan si B yang kita ajak ngomong sama-sama tahu bahwa maksud omongan kita adalah bilang kalau si A itu punya sifat/sikap yang buruk atau nggak menyenangkan di mata kita. Itu udah termasuk ghibah.”

WHAT?? Jujur aja, saya langsung introspeksi diri dan mikir. Rasanya jleb banget aja. Kalau ucapan sesimpel itu aja udah tergolong ghibah, berapa banyak ghibah yang udah pernah saya lakukan selama ini? Berapa kali saya udah “makan bangkai saudara saya yang udah mati”?? Astaghfirullaaah. Na’udzubillaahi min dzaalik. :(

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik padanya. Bertaqwalah kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujuraat: 12)

Saya wanita, dan saya tau banget kebiasaan yang susah banget hilang dari wanita itu hobi ngerumpi yang pasti muncul kalau ketemu temen. Mulut tu rasanya gatel buat ngobrolin apaaaaa aja yang terlintas di otak (atau malah dipaksa2 lewat di otak??) Dan bukan satu dua kali, kebiasaan ngerumpi ini selalu dibumbui dengan ngomongin orang. Mending amat kalau yang diomongin yang baik-baik. Kalau yang jelek-jelek??
Entah pas ngobrol-ngobrol singkat a.k.a basa-basi pas ketemu di toilet, pas sama-sama lagi ngelab,, sampai pas acara reunian sama temen lama. Duh, celah buat ghibah itu ada di mana-mana!!

Belum lagi, dosa ghibah itu nggak cuma buat yang ngomong, tapi juga buat yang ikut dengerin. Bahkan ketika mulut kita udah dijaga sedemikian rupa buat nggak ngomongin aib orang, adaaaa aja orang yang ngegosip di sekitar kita, atau TV nyala yang kebetulan lagi nyiarin channel infotainment.. Acara berita di TV jaman sekarang aja banyak yang dibumbui dengan nada khas infotainment dan sarat ghibah. Duh! :(

Dan seperti yang saya sebutkan di awal tadi, jaman sekarang tu (makin) susah buat menghindari ghibah. Lisan kita berbicara dan berkomentar tak hanya lewat mulut (baca post sebelumnya). Tanpa sadar, sekedar me-like status FB atau me-RT tweet teman yang “berbau” ghibah (sekalipun nomention), termasuk dosa ghibah juga nggak tuuu?? :)

“Tapi kan susah buat (sama sekali) nggak ngomongin orang…”
Memang, saya juga akui itu. Saya juga belum bisa melakukannya. Tapi susah dan belum bisa bukan berarti nggak bisa, kan? :)
ALLAH jelas-jelas melarang ghibah. Berarti selain dosa, hal itu juga nggak baik buat kita. Berarti kita pun pasti mampu menghindarinya. Selama kita melakukannya dengan niat karena ALLAH, ALLAH-lah yang akan memudahkan. Yakin, deh. ^_^

Lagi-lagi, tujuan utama saya menulis hal semacam ini adalah untuk mengingatkan diri sendiri. Juga untuk mengingatkan orang-orang yang tidak keberatan diajak merenung. :) Yuuuk, sama-sama berupaya membersihkan lisan kita dari bentuk ghibah sekecil apapun..!!
Kalau suatu saat saya yang ngomongin orang, atau saya ikut mendengarkan (dan menikmati) orang lain yang sedang ghibah, tolong diingatkan yaa.. ^_^

Biar makin takut berbuat ghibah, niih saya sampaikan salah satu hadits shahih tentang hukuman bagi orang yang berghibah di neraka nanti. Hiiiiyyy..!! T__T
“Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda: ‘Ketika aku dimi’rajkan, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, yang mereka mencakar wajah-wajah mereka dengannya. Maka aku berkata: Siapakah mereka ini, wahai Jibril? Jibril menjawab: Mereka ini adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia…’ ” (HR Abu Dawud)
Kalau diartikan langsung sih, mungkin ini ditujukan untuk orang-orang yang kanibal kali yaa.. Tapi sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang berghibah yang diibaratkan memakan daging saudaranya yang sudah mati juga termasuk dalam golongan pada hadits tersebut.

Wallaahu a’lam bishawab.